Tanggal 28 Juni 2015, Harian Kompas akan berulang tahun ke-50. Seperti dijelaskan Frans Seda dalam tulisannya berjudul “Sepanjang Jalan Kenangan” (Kompas, 28 Juni 1990), nama surat kabar ini hampir saja bernama Bentara Rakyat. Nama yang sengaja dipilih untuk menunjukkan bahwa kata rakyat bukan monopoli Partai Komunis Indonesia dengan Harian Rakyat-nya.

Namun ketika Frans Seda menemui presiden Soekarno untuk melaporkan rencana penerbitan koran dari Partai Katolik, nama tersebut ditolak. Soekarno justru memberikan nama, “Aku akan memberi nama yang lebih bagus, Kompas! Tahu toh apa itu kompas? Pemberi arah dan jalan dalam mengarungi lautan atau hutan rimba!” 

Akhirnya harian Kompas resmi terbit perdana pada Senin 28 Juni 1965 dengan oplah 4.828 eksemplar. Motonya: Amanat Hati Nurani Rakyat. Ada 20 berita yang ditampilkan di halaman depan dengan laporan utama berjudul  KAA II Ditunda Empat Bulan. Harga langganannya dicantumkan Rp 500 per bulan dengan harga eceran Rp 25 per eksemplar.

Di awal-awal masa terbit, seperti ditulis J. Bestian Nainggolan dalam Kompas: Menulis dari Dalam (2007), Kompas kerap datang terlambat sampai ke pembacanya. Sementara sebagian besar koran terbit pagi hari dan langsung diedarkan, Kompas biasanya beredar siang hari. Di beberapa kota malah lebih parah, edisi hari ini bisa diterima pembaca keesokan harinya. Tak heran jika sempat muncul julukan komt pas morgen, koran yang datang esok hari.

Dalam relasinya dengan kekuasaan negara Orde Baru, Kompas mempraktikkan gaya jurnalisme kepiting. Istilah yang pertama kali dikeluarkan oleh Rosihan Anwar, pemimpin redaksi Pedoman, dalam sebuah acara Karya Latihan Wartawan Persatuan Wartawan Indonesia (KLW-PWI) itu sebenarnya bernada sindiran. Jurnalisme kepiting memiliki maksud bahwa, dalam pemberitaannya, Kompas tidak berani secara langsung mengkritik pemerintah. Ia seperti orang yang berjalan melintasi sungai dan tidak bisa melihat dasarnya. Karena itu, kakinya berjalan sambil meraba-raba apakah ada kepiting yang mungkin menggigitnya. Kalau ada kepiting menggigit kaki, orang tersebut akan mundur perlahan. Namun jika tidak ada kepiting, ia berani maju lagi.

Langkah pelan-pelan tersebut dipraktikkan dalam gaya bahasa yang berputar-putar ketika sedang mengkritik pemerintah.  Sebagaimana dicatat Sabam Leo Batubara dalam “Menganalisis Pergulatan Jakob Oetama di Dunia Pers” (2001) , Kompas  memang memilih “meramu kontrol sosialnya dengan bahasa eufimisme demi eksistensi”.

Jakob Oetama—seorang pendiri Kompas bersama PK Ojong—pada awalnya tidak terlalu senang dengan sinisme Rosihan tersebut. Rosihan sempat menyebut bahwa Jakob mangkel dengan ungkapannya. Namun gaya tersebut memang tidak bisa ditolak jika melihat berita-berita yang ditulis Kompas yang tidak berani terlalu keras kepada kekuasaan. Pada akhirnya Jakob Oetama menerima istilah tersebut, dan dalam buku  Dunia Usaha dan Etika Bisnis (2001), menyebutkan bahwa "ia (jurnalisme kepiting) hendaknya semakin dikembangkan jika mau dikatakan diikuti oleh pers Indonesia, suratkabar harian maupun mingguan."

Dalam perkembangannya, Kompas pernah mengalami dua kali diberedel. Pertama, pada 2-5 Oktober 1965 sebagai konsekuensi huru-hara politik. Dan pada 20 Januari 1978, setelah memberitakan aksi-aksi anti-Soeharto, Kompas dilarang terbit. Ijin terbit baru akan diberikan lagi kalau Kompas mau meminta maaf.  Beredel kedua ini sempat menimbulkan friksi internal. PK Ojong menolak untuk meminta maaf karena “mati dibunuh hari ini, nanti atau tahun depan, sama saja…”

Namun Jakob Oetama memiliki pandangan yang berbeda. Sebagai pemimpin redaksi, ia kemudian menandatangani pernyataan maaf dan janji tertulis yang diminta oleh pemerintah Orde Baru. Senin 6 Februari 1978, Kompas akhirnya terbit lagi. (REMOTIVI/Wisnu Prasetya Utomo)