Judul Film
The Truman Show

Sutradara:
Peter Weir

Produser:
Scott Rudin dan Andrew Niccol

Produksi:
Paramount

Durasi:
1 jam 42 menit

Judul Film
The Truman Show

Sutradara:
Peter Weir

Produser:
Scott Rudin dan Andrew Niccol

Produksi:
Paramount

Durasi:
1 jam 42 menit

The Truman Show merupakan sebuah film yang mengisahkan kehidupan sebuah dunia panggung. Panggung yang merupakan sebuah set terbesar yang pernah diciptakan untuk sebuah produksi reality show. Jika selama ini kita membayangkan studio sebagai sebuah ruang persegi empat yang luasnya kurang lebih sebesar kamar atau rumah, maka saran saya, lupakan itu semua. The Truman Show mengajak kita melampaui imajinasi itu: bagaimana jika ternyata hidup ini tidak lebih dari sebuah skenario, dan kota di mana kita tinggal adalah studionya? Kemungkinan itulah yang diolah oleh Peter Weir, sutradara The Truman Show.

Film ini berkisah tentang Christof, seorang produser televisi ternama, yang berambisi membuat reality show dengan memfilmkan kehidupan seseorang sejak lahir hingga meninggal. Kehidupan yang dapat diisolasi dan sepenuhnya diketahui, seperti ikan dalam akuarium. Demi mewujudkan ambisinya, ia mengangkat seorang bayi, yang kemudian dinamai Truman. Semenjak Truman belajar merangkak, semenjak itulah “Truman Show” dimulai.

Realitas hidup Truman adalah skenario. Ayah, ibu, sahabat, istri, dan teman kantor dalam hidup Truman merupakan aktor profesional yang ditentukan Christof. Singkatnya, Christof bukan sekadar ayah adopsi, melainkan “Tuhan” dalam hidup Truman. Christoflah yang menentukan dengan siapa Truman menikah, dengan siapa Truman bertemu dalam perjalanan pulang ke rumah, bahkan, kapan hujan turun. Dalam panggung itu, selama bertahun-tahun Truman menjadi tontonan jutaan orang di dunia dalam sebuah program televisi bernama “ Truman Show”. Dan satu-satunya orang yang tidak tahu kenyataan tersebut adalah Truman seorang diri. Naif, memang.

Banyak hal yang dipantulkan film ini seusai menontonnya. Spekulasi cerita dan gaya penceritaannya unik. Dan satu hal yang paling membekas adalah gagasan mengenai realitas yang dibangun televisi. Bagaimana jadinya bila kita adalah Truman dalam sebuah dunia panggung?

Sebagian dari Anda mungkin akan beranggapan bahwa The Truman Show tidak lebih dari sebuah film. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari imajinasi semacam itu. Toh kenyataanya, tidak mungkin mengisolasi hidup orang seperti ikan dalam akuarium. Benarkah? Bukankah hal itu juga dilakukan berbagai tayangan infotaimen dan reality show? Meski mungkin tidak merekam kegiatan seseorang dalam dua puluh empat jam, namun dalam kurun waktu yang sama, televisi menyuguhkan pada kita hidup berbagai cerita kehidupan orang dalam bingkai yang mereka sebut sebagai “reality show”.

Menyaksikan The Truman Show seperti merefleksikan keseharian kita. Bukan hanya soal bagaimana nafsu orang untuk mengintip keseharian orang lain, yang bagi saya tidak lebih dari ciri kemunafikan sosial (kita selalu butuh mengetahui sisi buruk orang lain agar bisa merasa lebih baik atau normal), tapi juga soal bagaimana gagasan mengenai “realitas” dibentuk dan membentuk kita.

Truman lahir dan besar di dalam televisi. Karenanya, bagi saya, ia tidak lebih dari sebuah ide daripada individu. Dalam dunia Christof, semua hal berputar di sekeliling Truman. Semua kejadian, peristiwa, dan relitas dunia Truman diciptakan Christof. Truman, dengan kata lain, adalah karater yang lahir dari kolektivitas harapan para penontonnya. Melalui berbagai cara, Truman dijadikan refleksi harapan ideal peradaban kita: seorang pria ramah, jujur, mencintai istri, dan punya pekerjaan tetap untuk menghidupi keluarga. Pertanyaannya, di mana realitas kita yang menontonnya? Benarkah kita hanya “penonton” The Truman Show, atau jangan-jangan kita justru berada di dalamnya?

Ketika kita terus menerus memenuhi harapan televisi untuk memaknai cantik sebagai putih, tinggi, berambut panjang, dan keturunan Eropa, apakah kita masih dapat dikatakan hidup dalam dunia tanpa skenario? Benarkah kita adalah kenyataan, dan rekayasa hanya ada dalam televisi? Nyatanya, apa yang kita bicarakan di warung kopi berawal dari televisi, dan pengetahuan kita akan dunia yang  penuh kejahatan ada setelah televisi memberitakannnya. Bahkan, banyak dari kita hanya mau menggunakan produk yang diiklankan di televisi. Sama halnya dengan Truman, mungkin kita juga dibesarkan oleh televisi (Oya, saya tidak bermaksud mengatakan televisi sebagai satu-satunya artefak budaya yang menentukan cara berpikir ataupun realitas kita).

The Truman Show membantu kita melihat dengan skeptis terhadap apa yang selama ini kita pahami sebagai “realitas”. Dengan caranya sendiri kita diajak untuk meragukan kata “reality” dalam “reality show”, atau kata “fakta” dalam “berita”. Film ini berupaya menawar kembali otoritas televisi untuk menentukan apa yang baik dan tidak, apa yang layak dan tidak, serta apa yang benar atau salah dalam hidup kita.

Akhir kisah, Truman memilih untuk bebas dari dunia Christof, meski ia harus meninggalkan dunia penuh harmoni dan keindahan yang pernah ditinggalinya. Pada akhirnya, kita juga selalu punya pilihan untuk menjadi individu di tengah peradaban yang kian menenggelamkan subjek dalam industri budaya televisi. Pertanyaannya kini, adakah kita memiliki keberanian untuk memilih seperti Truman? []