Rasanya pesan itu datang siang menjelang sore. Isinya singkat: “Ada album lokal yang mengkritik televisi, tidak?” Jawaban yang saya layangkan juga tak kalah irit: “Mungkin ada. Gue cari dulu!” Tak nyana, pesan singkat saya dibalas panggilan telepon bernada rayuan untuk menulis tentang kritik atas TV pada lirik lagu lokal. Tak lama, muncul surel tentang detail tulisan dan alasan saya ditunjuk untuk menyelesaikannya. Kompeten, kata empunya surel.

Menarik, dan tentunya menyenangkan dianggap kompeten.

Namun, sejatinya tak usah menjadi kompeten untuk menelusuri percikan kritik tentang TV di lirik lagu lokal. Yang dibutuhkan hanya kejelian mencari lagu yang pas. Pun, dalam zaman komputasi awan ini, mengumpulkan lagu yang menyitir sekaligus menyindir TV bukan perkara yang sulit. Hanya dengan membuka situs hosting file lokal, Anda bisa mengumpulkan berbagai kritik tentang TV dalam khazanah musik lokal, yang kentara dan tersembunyi.

Dengan metode ini, saya tidak menemukan album yang sepenuhnya bicara tentang TV. Yang saya temukan: lagu-lagu bertabur kritik kepada layar kaca yang digubah oleh Melancholic Bitch, Naif, Oppie Andaresta, The Upstairs, hingga Zeke and The Popo. Semuanya dari abad ke-21!

Lantas, tak perlu kompetensi khusus dan kerutan dahi untuk menyibak recurring theme dalam lagu yang saya temukan. Semuanya mencecar konsep TV sebagai idiot box, kotak penyuguh hiper-realitas, banalnya tayangan info, keberlimpahan informasi, serta kegagalan manusia mengendalikan TV.

Misalnya, Oppie Andaresta dalam TV Junkie (Hitam ke Putih, 2001) dengan santai menyindir betapa lemahnya kita di depan layar kaca. Berhias alusi pada kehidupan slackerlokal serta referensi musik dan budaya khalayak, Oppie berhasil menggambarkan betapa adiktifnya kotak kaca ini:

Banyak pekerjaan menumpuk
Tapi aku parkir dulu di depan TV
Seharusnya kusarapan pagi
Tapi tanggung ada Madonna di MTV

Kutahu kamu punya janji
Tapi kamu nonton Smack Down dulu di TV
Kini setelah hari berlalu
Kamu masih nonton Luis Vigo di TV

Dalam dua bait ini, televisi digambarkan sebagai seperangkat penyuguh budaya populer siap santap. Celakanya, ketika seharusnya televisi menjadi sebuah pelarian sesaat dari semrawutnya hidup atau aspirin modern bagi kepenatan hidup, televisi justru mekar menggurita menjadi hidup itu sendiri. Ide remote televisi sebagai kuasa manusia akan televisi luruh seketika. Ketika seharusnya manusia menudingkan remote dan mengontrol kotak kaca, yang terjadi justru sebaliknya: TV yang mendikte irama hidup kita. Lebih jauh, TV bahkan menjadi sumber segala perkara dalam hidup itu sendiri, root of all evil atau, dalam bahasa yang lebih lokal, jebakan Batman.

Aku nggak ingin tergantung pada TV
He.. He.. Aku nggak ingin terjebak oleh TV
He.. He.. Kita berdua kadang bertengkar cuma karna TV
He.. He.. TV Junkie

(Oppie Andaresta, TV Junkie)

Namun, tentakel TV yang menggerakan manusia juga banyak menyebar dari penyelang konten utama TV, yakni iklan atau pariwara. Walau iklan—yang baik tentunya—layak dinikmati sebagai seni menghantar pesan yang efektif dan subtle, pariwara di sisi lain bisa berubah menjadi remote hidup penonton TV. Alih-alih sekadar merayu sasaran guna melakukan suatu lelaku (dalam hal ini membeli, membeli, dan, sekali lagi, membeli), iklan malah kerap dimaknai oleh penonton sebagai kanon yang harus diamini. Walhasil, mereka yang sawo matang uring-uringan di depan iklan pemutih dan yang kerempeng makin rendah diri selepas iklan susu protein. Dus, lahirlah sekelompok pengkonsumsi reaktif; sekelompokyes generation; sekelompok korban iklan.

Lantas, lemahnya sekelompok manusia di depan iklan dan gamangnya korban iklan dicecar dengan cerdas oleh Jimmy Multhazam, pentolan The Upstairs dalam Frustasi (Energy, 2006).

Kami ingin rambut lurus
Kami terjangkit phobia dandruff
Semenjak saksikan pariwara TV
Dan kini frustrasi frustrasi

Kami ingin tambah ramping
Dambakan fisik yang lebih cling
Seperti standar cantik di televisi
Hingga frustrasi frustrasi

Tak cukup mendikte, televisi, setidaknya seturut lagu-lagu yang saya temui, juga menarik penonton ke dalam hiper-realitas yang diciptanya. Jadi, rasanya tak usah terlalu kaget jikaprime time stasiun TV lokal masih disesaki talent show dan reality show. Tak usah pula tercengang jika tayangan macam ini masih laris manis. Talent show menawarkan, lagi-lagi, pelarian berujud jalur cepat menjadi apa pun dari penyanyi, penari, pencetak rekor dunia, atau bahkan pelawak. Sementara, reality show memelihara anggapan bahwa siapa pun berhak masuk TV, serta ketenaran adalah hak publik. Lewat proses penyuntingan dan dramatisasi yang berlebihan, talent show dan reality show berusaha menarik penonton ke dalam dunia rekaannya. Masih ingat ‘kan prosesi ekstradisi pada talent show Penghuni Terakhir (ANTV) yang mati-matian membuat pesertanya—maaf saya pinjam sebuah judul tayangan—termehek-mehek?

Maka menarik ketika sebuah kolektif seni Melancholic Bitch asal Yogyakarta meminjam wacana ini dan menjungkir-balikkannya dengan sinikal. Dalam lagu Akhirnya Masup TV, salah satu lagu dalam album Balada Joni dan Susi (2009), Melancholic Bitch menyitir fenomena tentang kegilaan akan popularitas lengkap dengan alusi pada Andy Warhol (seorang seniman kontemporer asal Amerika Serikat pencetus Pop Art) . Uniknya, alih-alih menyambat talent show atau reality show, Ugoran Prasad, sang vokalis, justru beralusi pada suguhan berita kriminal. Sila simak liriknya:

Susi, aku masup TV, 15 detik, kerajaanku
Lebih baik, jauh lebih baik daripada seumur hidup tanpa lampu
Lihatlah, lihat segalanya nyata di TV
Lihat betapa nyata cinta kita kini
Lihatlah, Susi, aku ada di TV

Sejenak larik-larik ini hanya mengilustrasikan naifnya seseorang yang baru masuk TV. Namun dalam sebuah album konsep yang beralur cerita seperti Balada Joni dan Susi, setiap lagu memiliki kait di kedua ujungnya berupa nada, suara, atau tema. Maka, dengan meletakkannya kembali pada konsep Balada Joni dan Susi, akhirnya Masup TV bisa dibaca sebagai cibiran betapa hak untuk masuk TV juga berkasta.

Joni, tokoh sentral lagu ini, dijaring polisi setelah kedapatan mencuri apel di supermarket. Dalam lagu sebelumnya, Apel Adam, Joni harus rela menerima hukuman Tuhan: bogem mentah. Perkaranya, polisi yang menciduknya datang lebih lambat dari televisi. Mengutip satu larik dari lagu Apel Adam“Sementara televisi datang lebih cepat dari ambulans,” Joni lantas jadi bintang berita kriminal dalam 15 detik. Pun, kata “masup”, alih-alih “masuk”, jadi penanda bahwa ini memang dongeng tentang pasangan marjinal. Maka, jelas bahwa semua orang bisa masuk TV. Hanya caranya saja yang beda. Yang ganteng tak berperi jadi bintang iklan dan sinetron; yang dianggap kompeten jadi narasumber; yang marjinal masup tipilewat berita kriminal. Hah!

Dan menyoal berita kriminal, pembacaan lain akan lirik di atas menyingkap sesuatu yang lebih nyinyir: berita kriminal dipahami sebagai sebentuk hiburan. Joni—tenar sebagai pesakitan selama 15 detik di layar kaca—terdengar naif sekaligus bahagia. Kegirangan ini seakan mengejek kita (semoga tidak semua kita) yang menyimak berita kriminal, beserta gosip, atau sidang DPR tentang kenaikan BBM sebagai sekadar hiburan. Terlepas dari yang disebut terakhir memang menggelikan, ada keterlepasan emosional yang terekam. Berita kriminal tentang pembunuh berantai ditonton sebagai selingan makan siang; kabar perceraian ditonton untuk kemudian dicibir, dan sidang MPR ditonton untuk kemudian dijadikan kelakar dalam linimasa Twitter. Padahal nasib harga bensin yang diperdebatkan.

Intinya, selama bukan kita yang jadi korban, kita bisa menikmati dan mendapatkan thrill-nya. Mungkin,  I need to watch things die from a good safe distance, sepotong lirik dari lagu tentang TV Junkie berjudul Vicarious milik band misterius asal Amerika, Tool, ada benarnya. Kini, kita mafhum betapa riangnya Joni dalam lirik di atas. Joni, akhirnya,masup TV juga. Kita senang melihat berita kriminal. Joni gembira, kita pun demikian. Lumayan adil!

Dan emotional detachment ini makin menggejala seiring munculnya (paradoks) keberlimpahan informasi. Penonton seakan punya akses mengungkap apa pun lewat kamera TV dari kasus korupsi hingga rahasia dapur artis mana pun. Sayang, selaras derasnya informasi yang kerap tidak diimbangi variasi angle atau, setidaknya, jam tayang, kita bukannnya makin bernas. Alih-alih cerdas, kita malah makin frigid saja. Sontak, kasus perceraian yang dikuliti berkali-kali sehari, debat tentang isu yang serupa, atau kisah pembunuh sadis yang diekspos berlebihan, pada akhirnya kita nikmati sambil lalu saja. Toh, kita (setidaknya) tak ada yang jadi korban di dalamnya.

Jadi, keberlimpahan informasi di TV justru kerap membuat penonton gegar, bukannya awas. Ini yang disindir oleh Zeke and The Popo dalam Dukung Stasiun TV Lokal (Space In The Headline, 2007)

Polisi informasi sudah terjun ke jurang
Ereksi super informasi
 semua korupsi
Semoga
 kamu semua basi
Jemput pengobat minum komputer
Anak
 pejabat
Pulang
 ke rumah di atas bawah gangguin dia
Waktuku di 
TV

Beruntung, semuram apa pun wajah TV, Naif masih bernyanyi: “Menyenangkan punya televisi. Lihat dunia yang berwarna-warni. Asal jangan acaranya basi, cuma bikin keki”. Lagipula, jika TV mulai basi dan banal, jangan lekas uring-uringan; santai saja seperti Naif menyanyikan lagu Televisi di atas. Toh, kita masih memegang ekor TV (baca: remote). Dan, mengunakan remote itu—seperti menyelesaikan tulisan ini—tak butuh banyak kompetensi. []