Judul:
Televisi

Penulis:
Raymond Williams

Tahun:
2009

Penerbit:
Resist Book Yogjakarta
 

Judul:
Televisi

Penulis:
Raymond Williams

Tahun:
2009

Penerbit:
Resist Book Yogjakarta
 

Televisi ditulis Raymond Williams pada 1974. Buku ini ditulis ketika Williams menjadi salah satu punggawa The Birmingham Centre for Contemporary of Cultural Studies, sebagai profesor tamu di Departemen Komunikasi, Universitas Stanford. Di kalangan cultural studies, karya ini dianggap penting di samping karya Williams yang lain,seperti Culture and Society (1958), The Long Revolution (1961), atau Marxism and Literature(1977). Buku ini terutama penting dibaca untuk lebih memahami televisi “...sebagai teknologi dan televisi sebagai salah satu bentuk kebudayaan.” (hal. 2)

Televisi dibuka dengan anggapan bahwa televisi telah mengubah masyarakat. Williams melihat adanya sebuah keyakinan bahwa dengan lahirnya televisi, dunia tak lagi sama dengan dunia sebelumnya. Televisi sangat sakti pengaruhnya bagi perubahan sosial masyarakat. Dalam dunia akademis, keyakinan seperti ini misalnya terdapat dalam ide global village yang dikemukakan oleh Marshall McLuhan,dan barangkali juga jadi gagasan utama dalam Studi Efek televisi. Gagasan ini pula yang kemudian dikorupsi stasiun televisi: atas nama penyebaran informasi atau berdasarkan permintaan dan selera masyarakatmisalnya, televisi “sembarangan” mengolah konten siarannya.

Dalam buku ini, Williams mengkritik pandangan ”determinisme teknologi”, di mana teknologi dianggap mutlak mempengaruhi masyarakat. Pandangan tersebut dianggap tidak membedakan problem televisi sebagai teknologi dan problem penggunaan teknologi televisi. Lebih jauh, pendekatan itu tidak melihat televisi sebagai praktik sosial dalam dua permasalahan tersebut. Secara eksplisit, Williams memang menyerang gagasan McLuhan. Menurutnya, dalam karya McLuhan “...sebagaimana tradisi para formalis, media tidak pernah dilihat sebagai praktik. (hal. 130) ”Apa yang dimaksud Raymond Williams dengan melihat televisi sebagai praktik?

Sebagai teknologi, menurut Williams, televisi tidak lahir sendiri. Ia lahir dari banyak praktik. Penemuan televisi “...bergantung pada temuan dan pengembangan teknologi listrik, telegraf, fotografi, film, dan radio yang sangat kompleks.” (hal. 7) Ia adalah akibat dari banyak sebab. Penggunaan teknologi dalam masyarakat, menurut Williams, selalu berubah-ubah. Perubahan penggunaan ini bukan terjadi karena hadirnya teknologi itu sendiri, melainkan karena “kesadaran yang meningkat akan mobilitas dan perubahan.” (hal. 15) Misalnya, penggunaan fotografi yang merupakan salah satu elemen pembentuk televisi. Awalnya, fotografi digunakan untuk “merekam”. Namun, dengan meningkatnya mobilitas penduduk, penggunaannya berubah, yakni untuk membina hubungan personal yang melampaui jarak dan waktu. Demikian juga yang terjadi dalam penggunaan teknologi komunikasi lain seperti koran, film (motion picture), telegraf, dan telepon.

Inilah kira-kira yang dimaksud Williams dengan melihat televisi sebagai praktik. Praktik berarti membicarakan televisi secara material dan bukan abstraksi semata; sebuah pendekatan yang barangkali diperoleh dari semangat materialisme historis ala Marxis. Smith (2001) mengatakan bahwa gagasan Marx memang menjadi dasar argumen Williams, terutama pada karyanya Marxism and Literature.

Dengan melihat televisi sebagai praktik, televisi dan penggunaannya menjadi sebuah produk kultural yang terus berubah dalam sejarah. Apa yang diinginkan Williams dari bukunya ini tak lain adalah sebuah kesadaran bahwa dalam perkembangan televisi, agen (manusia) juga ikut mempengaruhi perkembangan teknologi, ketimbang menganggap teknologi sebagai penentu segalanya.

Banyak hal yang menarik dari karya ini, termasuk konsep flow. Konsep ini secara sederhana dapat dimengerti sebagai cara bagaimana televisi menahan pemirsanya untuk tetap menyaksikan siarannya dari satu tayangan ke tayangan lainnya. Flow, menurut Williams, adalah salah satu ciri khusus televisi yang dikembangkan dari pertemuan simultan antara teknologi dan perkembangan budaya masyarakat dalam menggunakan media komunikasi.

Sebelum kehadiran televisi dan radio, masyarakat memiliki lebih banyak kesempatan untuk memilah hal penting mana yang diperlukan. Sebuah buku atau pamflet hanya dibaca hal-hal pentingnya saja. Sebuah rapat hanya diadakan pada waktu-waktu tertentu. Pengalaman dan perhatian seseorang pada peristiwa-peristiwa tertentu terikat pada dimensi ruang dan waktu yang terbatas. Siaran (baik televisi maupun radio) yang menurut Williams mengambil banyak sistem komunikasi sebelumnya, dengan ditambah teknologi, membuat seseorang dapat menikmati semua hal itu di rumah,menggunakan apa yang disediakan teknologi: tombol power.

Konsep flow yang dilahirkan pada 1974 ini mungkin sudah terlampau lawas untuk digunakan dalam perkembangan televisi sekarang. Apalagi dengan tumbuhnya televisionline. Williams juga sadar bahwa konsep ini pun belum selesai dan tentatif sifatnya. (hal.96) Namun Williams mungkin benar; dengan memahami cara kerja flow, kita akan memahami mengapa orang lebih terbiasa mengatakan “menonton televisi” ketimbang “menonton berita”, “menonton tayangan kuliner”, dan seterusnya. Orang terbiasa menyebut “televisi” ketimbang menyebut judul atau jenis tayangan itu sendiri. Flow dari televisi mampu menyihir orang untuk mengalami banyak peristiwa yang ada di televisi sebagai satu dimensi peristiwa, yakni televisi itu sendiri.

Buku ini memang tak mudah dibaca, terlebih bagi pembaca yang cepat jengah dengan data sejarah dan kerumitan Williams dalam mengkategorisasi fenomena televisi. Namun dengan kerumitan itu, Williams mencoba mengingatkan kita bahwa fenomena televisi—dan juga komunikasi—tak sesederhana ungkapan Harold Laswell: who says what, how, to whom, with what effect. Dogma yang menjadi metode studi komunikasi tersebut, menurut Williams, lupa pada apa yang ia sebut sebagai “intensi” seseorang dalam fenomena komunikasi, dan oleh karenanya lupa pada keseluruhan proses sosial dan budaya yang riil terjadi.

Williams, melalui bukunya, mengingatkan para teoretisi media akan bahaya argumen determinisme teknologi McLuhan. Argumen tersebut cenderung naif karena memandang teknologi sebagai netral dan berkembang tanpa campur tangan ideologi. Williams menulis, “Kita harus berpikir bahwa determinasi bukanlah satu-satunya kekuatan, tetapi sebuah proses di mana faktor-faktor determinan yang riil—distribusi kekuasaan atau modal, hak sosial dan fisik, relasi skala, dan ukuran antar kelompok masyarakat—menata batas-batas dan memberi pressure. Tetapi hal inipun tidak (secara) keseluruhan mengontrol dan memproduksi kompleksitas tindakan dalam batas-batas tersebut.” (hal. 133)

Satu hal penting yang harus diingat pembaca Indonesia ketika menggunakan buku Williams ini adalah konteks pembicaraan Raymond Williams yang terbatas pada kondisi Eropa (utamanya Inggris) dan Amerika. Bukan maksud saya untuk menolak apa yang ditulis oleh orang non-Indonesia. Bagi saya, subtansi gagasan Williams adalah melihat apa yang riil terjadi dalam proses sosial dan budaya masyarakat dalam melihat fenomena televisi. Jika seseorang tidak melihat apa yang riil terjadi dalam sejarah, sosial dan budaya masyarakat Indonesia, maka boleh jadi ia—seperti yang Williams katakan—hanya membahas hal-hal abstrak, sekalipun ia membawa konsep-konsep Williams dalam melihat televisi. Barangkali ia malah gagal melihat televisi sebagai praktik. Barangkali. []


Daftar Pustaka

Smith, P. (2001). Cultural theory: An introduction. Malden, Mass: Blackwell.