Judul
Dosa dosa Media Amerika

Penulis:
Jerry Duane Gray

Tahun:
2006

Penerbit:
Ufuk Press                      

Penyunting:
Leinovar

Judul
Dosa dosa Media Amerika

Penulis:
Jerry Duane Gray

Tahun:
2006

Penerbit:
Ufuk Press                      

Penyunting:
Leinovar

Pernahkah Anda mendengar berita atau ulasan mendalam media mainstream Amerika yang kerap di-relay TV lokal Indonesia? Topik-topik mengenai motif serangan 9/11, keuntungan AS dari perdagangan opium di Afghanistan, hingga keengganan Pentagon mengakui lima tindakan pelecehan Al Qur’an, tentu tidak akan kita jumpai.

“Media Amerika Serikat berdusta,” begitu kira kira pesan yang ingin dikatakan oleh Gray dalam buku ini.  Melalui riset mendalam, Gray menemukan banyak peristiwa dunia yang mengemuka dalam berita televisi Amerika telah dipelintir sedemikian rupa sehingga penuh dengan kebohongan dan tipuan.

Kebohongan, sebagaimana hasil penelusuran Gray, bisa saja hadir dalam kebenaran parsial, fakta yang diseleksi, kutipan dan informasi yang ditempatkan di luar konteks, data sejarah yang terpotong potong, hingga pembingkaian fakta agar sesuai dengan agenda media. 

Yang paling fenomenal sekaligus mencengangkan adalah ihwal keterkaitan Irak dan Osama Bin Laden dengan serangan 11 September. Tampak betul bagaimana jaringan berita televisi seperti CNN, Fox News, CNBC, BBC, serta media barat lainnya, memborbardir khalayak dengan informasi sepihak agar publik percaya bahwa sebagai “sponsor”, Irak harus bertanggung jawab atas penyerangan gedung WTC. Perang di Irak tidak lain adalah demi melindungi kepentingan AS di kawasan teluk. 

Pada sisi lain, media Barat tidak pernah sedikit pun mengulas kejanggalan yang ada seputar peristiwa 11 September dan tidak memberi ruang bagi narasi di luar narasi resmi AS yang mendukung invasi militer terhadap Irak. Pada akhirnya, pembicaraan kritis yang seharusnya muncul menguap bersama kebohongan yang mereka bangun.

Provokasi Gray muncul dalam berbagai pertanyaan: “Mengapa presiden Bush menahan laporan sebanyak seratus halaman pada Agustus 2001 berisi peringatan kemungkinan serangan oleh Osama bin Laden?”; “Mengapa ada yang mengatur agar anggota keluarga bin Laden dan kelaurga Saudi lainnnya meninggalkan AS setelah 11 September, sebelum FBI memeriksa mereka?”; “Mengapa selama lebih dari 18 bulan, presiden menentang investigasi independen terhadap serangan 11 September?”; dan sederet pertanyaan lain yang melingkupi  keanehan peristiwa itu.

Gray menunjukkan bahwa alih-alih menjadi sarana melaporkan berita aktual, perusahaan media AS malah menjadi mesin propaganda yang setia mendukung presiden dan pemerintah Amerika Serikat. Terlepas keliru atau benar datanya. Nyaris setiap hari publik melihat corong-corong pemerintah semacam CNN, MSNBC, hingga FOX News, melansir berita sepihak.  Reportase semacam itu jelas menyesatkan cara pandang pemirsa terhadap isu tertentu. Celakanya, individu atau jurnalis yang berusaha lebih objektif dalam membuat produk jurnalistik biasanya akan dideskreditkan melalui serangan yang dilancarkan  berbagai agen media sekaligus.

Karya-karya Grey yang lain, seperti Bayang Gurita: Mengungkap Pergerakan Freemason dan Organisasi Anti Islam Dunia (2005), Deadly Mist: Upaya Amerika Merusak Kesehatan Dunia (2009), serta Art of Deception: Mereka Menipu Dunia (2011), berkonsentrasi untuk memblejeti kebijakan politik Amerika Serikat. Dosa-Dosa Media Amerika Serikat merupakan bagian dari upaya tersebut.

Gray adalah mantan tentara Amerika dan mantan jurnalis yang kemudian jadi mualaf dan tinggal di Indonesia. Kisahnya menjadi mualaf banyak diglorifikasi media online seperti eramuslim.com. Pandangan-pandangannya tentang Islam serta Amerika Serikat pun beberapa kali dilansir oleh voa-islam.com dan arrahmah.com. Latar belakang tersebut berpotensi mendudukkan analisis Gray sebagai sebuah propaganda. Namun, nilai dari buku ini bukan berasal dari latar belakang ideologi yang mungkin dibawa oleh Gray, melainkan dari data dan analisisnya atas jurnalisme Amerika kontemporer. Gray pun bukan satu-satunya penulis yang mengkritisi pemerintahan Amerika. Jauh sebelum buku ini muncul, Noam Chomsky sudah memberi peringatan perihal perilaku media Barat (baca: Amerika) dalam hal pemberitaan.

Jurnalisme Dagelan

Jurnalisme televisi, sebagaimana diamati Gray dalam buku ini, telah menjadi sesuatu yang bisa disebut “dagelan”. Berita tak ubahnya permainan gulat profesional. Tak berlebihan jika Carl Bernstein, mantan reporter Washington Post yang tenar karena menulis laporan tentang skandal Watergate, menyatakan bahwa media dewasa ini lebih banyak memuat gosip dan sampah dibandingkan berita. Menurutnya, kebanyakan berita dewasa ini telah memburuk menjadi gosip, sensasionalisme dan kontroversi yang direncanakan. Penyampaian berita semacam itu sama saja mencemooh dan menghina kecerdasan publik, di samping menghilangkan konteks kehidupan yang sesungguhya (Hal: 5).

Melalui hasil penelusuran dan pengalamannya meliput langsung di lapangan, Gray tidak hanya berhasil membongkar kebohongan jaringan televisi di Amerika Serikat. Dengan cerdas, ia juga menunjukkan bagaimana jaringan berita televisi seperti Fox News Channel memanipulasi informasi, sehingga apa yang disajikan sungguh tidak pantas dikatakan sebagai berita.

Selain mengamati konten, Gray pun mengupas tuntas perihal bukti-bukti etika non-jurnalistik beberapa pembawa acara jaringan berita televisi di Amerika Serikat seperti, Sean Hannity dari Fox News atau Wolf Blitzer dari CNN yang menjuluki dirinya sebagai “Manusia Besi Jurnalisme”. Jerry juga menguraikan beberapa etika non-jurnalistik yang biasa dilakoni para presenter tersebut: penggunaan kutipan di luar konteks, mereduksi atau bahkan menghilangkan sama sekali fakta fakta atau data yang bertentangan dengan sudut pandang mereka hingga menyerang pembawa pesan.

Dalam hal menyerang pembawa pesan, mungkin hal tersebut menjadi taktik yang paling sering digunakan kelompok sayap kanan sejak presiden Nixon berhasil menggunakannya. Modus seperti ini digunakan untuk mencari aspek-aspek kontroversial dari orang yang diwawancara atau siapa pun yang menjadi sasaran, sehingga mereka dapat dengan mudah mendiskreditkannya. 

Dari “Persatuan” Pers hingga “Bangkai” Pers

Selama tahun 1970an, pers Amerika Serikat berada di garda terdepan jurnalisme berkat integritas yang didasari sistem persnya yang bebas. Insan pers dunia bahkan kagum dengan kebebasan pers Amerika Serikat yang turut menentukan layak atau tidaknya tindakan pemerintah. Tayangan berita CBS yang begitu berani mengungkap skandal Pentagon Papers serta dan laporan investigatif Bob Woodward dan Carl Bernstein tentang skandal Watergate membuat dunia sadar akan kedahsyatan kebebasan pers. Kala itu, persatuan pers turut memantau kinerja pemerintah.

Era itu dapat dikatakan sebagai era keemasan jurnalisme di Amerika Serikat. Pada era tersebut, media Amerika Serikat berani mengungkap skandal yang terjadi di level pemerintahan tertinggi sekali pun. Dalam kasus-kasus tersebut, jurnalisme memungkinkan informasi tersedia secara jelas, dan yang paling penting: benar. Tidak ada manipulasi, distorsi, kebohongan atau kesalahan informasi dalam pemberitaan Watergate. Mereka (baca: para jurnalis pada era itu) adalah para jurnalis dengan integritas dan dedikasi yang tinggi terhadap tanggungjawab mewartakan peristiwa peristiwa dunia secara benar kepada publik (Hal: 44). Bukan hanya data dalam pemberitaan Watergate yang bisa dipertanggungjawabkan secara jurnalistik, namun lebih dari itu: kebenaran faktual mengenai skandal Watergate itu sendiri.

Namun pada era sekarang, Gray menyindir kesatuan wartawan gedung putih (White House Press Corps) sebagai bangkai pers gedung putih (The White House Corpse). Definisi bangkai yang dipergunakan pun diperjelas sebagai jasad (khususnya manusia) yang telah mati. Bahkan ketika menengok ke Gedung Putih secara dekat, kita tidak akan bisa lagi menemukan jurnalis sejati. Jurnalis yang melaporkan berita berita penting dan menginvestigasi isu yang mempengaruhi Amerika Serikat dan dunia. Jurnalis independen sejatinya merupakan pemegang kebenaran dan keadilan di AS. Sayangnya pengabdian seperti ini tidak lagi bisa ditemukan. Kini, publik tidak memiliki lagi sumber informasi lain kecuali melalui perusahaan media.

Berakhirnya Era Keemasan

Era Keemasan pers Amerika Serikat, menurut Gray, sejatinya telah berakhir seiring dimatikannya keberagaman isi (diversity of content) dan keberagaman kepemilikan (diversity of ownership). Meski tidak menyebut angka tahun yang merujuk pada berakhirnya era keemasan yang dimaksud Gray, memori kita akan langsung terhubung dengan era kepemimpinan George Bush Jr (2001-2009). Sayangnya, Gray tidak memberikan ilustrasi riil terkait hilangnya keragaman kepemilikian dan isi tersebut. Gray pun tidak menjelaskan mengapa fenomena ini terjadi. Absennya penjelasan “mengapa” dalam buku ini sangat berpotensi memotong alur argumentasi yang hendak dibangun Gray.

Bagaimana mungkin nyaris seluruh media massa menayangkan liputan yang sama, padahal ada ribuan peristiwa terjadi di dunia ini setiap harinya? Bagaimana bisa bahkan sekuens di media televisi pun sama? Jika kesamaan isi melibatkan dua jaringan televisi berita “dagelan”, mungkin masih ditolerir. Yang sulit diterima akal sehat, menurut Gray, adalah ketika kesamaan itu melibatkan ratusan program TV berita “dagelan”, baik lokal maupun nasional setiap hari.  Namun, tidak adanya data ikhwal jumlah stasiun TV di buku ini menjadi salah satu kelemahan. Gray mereduksi televisi dengan hanya menyebut beberapa jaringan berita televisi, seperti CNN, Fox News, MSNBC, ABC dan CBS. Gray pun tak secara detail menyebutkan bagaimana program berita TV komunitas.

Citra media pasca Era Keemasanmenurut Gray, telah berubah. Berita televisi “dagelan” itu tidak memiliki kepribadian. Mereka hanyalah wajah-wajah  menarik atau tampaknya bisa dipercaya. Hal itu hanya sekadar tren yang diikuti sebagian media Barat (mungkin pula media di Idonesia) yang membuktikan betapa pentingnya faktor pemnampilan dalam jurnalisme.

Alih-alih membangun kesadaran kritis publik dalam menyikapi sebuah pemberitaan, gaya seperti ini tidak lain hanya untuk memberi kesan tertentu kepada pemirsa, khususnya ketika menyampaikan hal yang tidak semestinya. Pemirsa menjadi lebih fokus pada bagaimana penyiar melaporkan berita (dibanding isi beritanya sendiri).

Beberapa Kekurangan  

Dengan membangun tesis yang lumayan berat, bahwa (semua) media Amerika telah berbohong kepada publik, argumen Gray masih memiliki beberapa celah. Ia tidak menjelaskan faktor ekonomi-politik yang menentukan pilihan ideologi sebuah media. Bagaimana pun, konteks ekonomi-politik merupakan dimensi yang penting dan inheren dalam membedah media.  Konkritnya, tidak ada penjelasan yang bisa menuntun pembaca untuk memahami bagaimana dimensi ekonomi politik ikut bermain dibalik pemberitaan media yang cenderung bias. Sejauh pengamatan saya, belum ada argument dalam buku ini yang menunujukkan bagaimana “kongkalikong” terjadi antara media dengan pemerintah.

Ketika mengacu pada Era Keemasan pers Amerika Serikat pada awal dekade 1970an, Gray seperti melupakan konteks ekonomi, politik dan sosial budaya, baik yang terjadi dalam lingkup Amerika Serikat. Gray lupa bahwa keberhasilan media mengungkap mega skandal seperti The Pentagon Papers, atau keberanian Bob Woodward dan Carl Bernstein dalam membongkar kasus Watergate, hingga aksi brilian jurnalis CBS News, Lowell Bregman, yang membuka aib industri rokok di Amerika Serikat, berlangsung pada kurun di mana isu konvergensi, strukturasi dan spasialisasi media belum semasif era presiden Bush.  

Singkatnya, era pers ideal yang disanjung-sanjung Gray dalam buku ini tidak konstekstual lagi jika dibawa pada era media kekinian. Kini media telah bertransformasi menjadi sebuah industri yang dijalankan sepenuhnnya dan berdasarkan pada logika modal (kapitalisai media), bahkan ketika Gray mengutip Sembilan Elemen Jurnalisme (2001) Bill Kovach yang dijadikan rujukan buku ini. Pandangan Gray yang cenderung mengagung agungkan era keemasan pers Amerika dekade 70an merupakan sesuatu yang problematis. Namun satu hal yang perlu dicermati adalah performa media yang begitu “garang” ini diapresiasi positif oleh publik Amerika. Media pada era tersebut begitu dipercaya mampu menjadi corong dan membela kepentingan publik.     

Tanpa menafikan informasi dan data yang ada dalam buku ini, argumen yang dibangun Gray memunculkan kesangsian akan adanya agenda tersembunyi korporasi media yang selama ini dituding telah menebar kebohongan kepada publik. Ketika Gray menjamin pembaca bisa langsung memverifikasi kebenaran tersebut, bukankah media bersangkutan bisa saja telah menghapus jejak yang bisa mengantarkan kita pada kebohongan yang dimaksud? Gray mengakui bahwa sebagian besar kebohongan itu barangkali telah dihapus setelah buku ini terbit. Namun, menurut Gray, pembaca masih dapat memverifikasi perihal kebohongan tersebut dengan melacaknya melalui mesin pencari google, hanya dengan mengetik kata kunci.

Di luar semua itu, buku yang ditulis ketika Gray telah menetap di Indonesia ini, bisa menjadi refleksi bagi kita semua. Harapannya, buku ini dapat menumbuhkan daya kritis dan analitis sebagai warga negara sekaligus publik yang setiap hari terpapar oleh pemberitaan media. Apalagi, narasi media ideal di Indonesia seringkali merujuk pada media-media di negara Paman Sam. Boleh jadi, fenomena pembohongan oleh media Amerika Serikat yang diuraikan Gray, sebenarnya juga menjadi ancaman bagi kita. Atau bahkan sudah terjadi tanpa kita sadari. []