REMOTIVI/dibalikbalik
REMOTIVI/dibalikbalik
12/02/2019
Para Ibu yang Terabaikan Dalam Pusaran Hoaks
Dalam pengalamannya melakukan pendidikan literasi media pada kelompok ibu-ibu, Karlina menyadari bahwa masalah literasi mereka lebih mendasar dari yang sering diduga.
12/02/2019
Para Ibu yang Terabaikan Dalam Pusaran Hoaks
Dalam pengalamannya melakukan pendidikan literasi media pada kelompok ibu-ibu, Karlina menyadari bahwa masalah literasi mereka lebih mendasar dari yang sering diduga.

“Facebook itu kan kantor berita yang terpercaya,” ujar seorang ibu setelah menceritakan hoaks dari grup Facebook tentang kandidat politik.

2016 itu, Pilkada sedang memanas. Warga dan ibu-ibu kader kelurahan kerap mampir ke rumah dan berbagi cerita karena ayah saya Ketua RT. Mereka mengurus surat dan laporan sembari membagi hoaks yang dijaring dari media sosial Facebook dan WhatsApp. Kadang saya tidak tahan menimpali dengan verifikasi dari informasi yang mereka terima.

Sebagai anak Ketua RT, saya ditugaskan untuk mengikuti Pelatihan Dasawisma untuk bisa membantu pengelolaan data kependudukan tingkat RT. Tugas lainnya tentu untuk melatih Ibu di komplek untuk menjalankan tugas pendataan. Persyaratan pelatihan itu hanya memiliki ponsel pintar Android. Ternyata, pelatihan itu berubah menjadi kericuhan.  

Browser itu apa, neng?”

Pertanyaan yang mencengangkan. Saat itu, saya dikerubuti sekitar 30 ibu-ibu yang tak henti bertanya di ruang pertemuan terbuka rumah susun Jakarta. Pelatihan ini bertujuan untuk melatih para kader ibu untuk mengisi formulir daring melalui website. Saya hanya sekadar peserta. Sebagai mantan wartawan teknologi, bagi saya mengisi formulir daring untuk pendataan itu biasa saja.

Ketika mulai instruksi menuliskan alamat situs ke kolom peramban (browser) untuk menuju alamat tiny.cc, para peserta kebingungan. Ada yang tidak tahu peramban, tidak mengerti paket data, cara koneksi WiFi kelurahan, sulit mengetik di layar sentuh, hingga tidak mengetahui ada menu internet selain media sosial. Mereka datang kepada saya meminta diketikkan, dicarikan peramban, hingga dikoneksikan ke internet. Badan saya habis dicolek ibu-ibu dari segala penjuru. Saya pun lebih kaget terhadap ketidaktahuan mereka. “Ini kan di Jakarta,” pikir saya naif sambil makan nasi kotak yang menjadi alasan saya senang datang.

Setelah menjadi pelatih dadakan yang berkeliling mengajarkan peramban, saya merumuskan tiga temuan: para ibu tidak mengerti peramban, tidak memahami konsep dasar internet, dan hanya mengetahui fitur ponsel berdasarkan ajaran anaknya. Jika anaknya perlu menghubungi ibu untuk antar-jemput ojek, maka mereka akan mengajarkan WhatsApp. Jika sang ibu ingin terkoneksi dengan teman lamanya, maka anak akan mengajarkan Facebook. WhatsApp dan Facebook menjadi kanal informasi dan komunikasi utama mereka dalam dunia maya. Terlebih para ibu ini senang “nongkrong” di grup WhatsApp pengajian.

Saat itu saya baru selesai kuliah S2 Antropologi Digital dari Inggris, dan langsung dihadapkan dengan kerasnya realita kesenjangan literasi digital di Jakarta. Survei APJII pada 2016 mencatat sekitar 86,3 juta orang atau 65 persen dari total pengguna internet Indonesia tahun ini berada di Pulau Jawa. Belum lagi kesenjangan pemanfaatan internet oleh perempuan. Menurut Womenwill, 52 persen perempuan Indonesia merasa kesulitan melakukan pencarian di internet.

Bersama praktisi komunikasi dan pengajar Dwi Ajeng Widarini dan Citra Lestari, saya tergerak untuk mendirikan Indonesia Voice of Women (Invow). Target awal Invow adalah pelatihan literasi media digital kritis untuk perempuan. Untuk permulaan, kami memilih kelompok ibu-ibu kader Kotaku (Kota Tanpa Kumuh) di Jakarta, Bandung, dan Tangerang Selatan, hanya dengan berbekal 2 sesi pelatihan berdurasi 2 jam per kelompok.

Jurang Literasi Antar-Generasi

Saat melakukan survey awal, pemeriksaan memasuki rusun berlangsung ketat, tidak seperti biasa. Para ibu pun bercerita bahwa pengamanan tersebut disebabkan oleh maraknya isu penculikan anak. Dalam pola komunikasi rusun, informasi yang dibahas di grup WhatsApp Rukun Tetangga beredar luring dengan cara memperlihatkan pesan teks kepada ibu lain yang tidak memiliki ponsel pintar. Rantai hoaks akhirnya cepat beredar melampaui jaringan internet hingga menimbulkan kepanikan. Ironisnya, berdasarkan pemeriksaan Mabes Polri, penyebar hoaks penculikan anak didominasi Ibu rumah tangga. 

Isu disinformasi memang menjadi salah satu aspek literasi yang dianggap genting. Memang banyak hoaks politik, agama, dan kesehatan yang beredar dalam lingkar ibu-ibu. Namun isu tantangan literasi digital dalam pandangan ibu-ibu ternyata lebih luas dari itu. 

Ibu-ibu Tangerang Selatan memiliki fokus literasi belanja daring. Peserta memanfaatkan media sosial untuk berjualan gorengan hingga tanaman kepada tetangga terdekat. Tapi, mereka juga kerap mengalami penipuan dalam transaksi toko daring. Di Bandung, peserta mengalami dilema dalam pola asuh anak dan keamanan data dengan kasus penipuan serta penculikan melalui media sosial. Sementara di Jakarta, kendala yang dihadapi terkait kecanduan game daring dan komunikasi dengan anak.

Seperti semua lapisan masyarakat yang lain, internet sesungguhnya berpotensi menghadirkan nilai guna yang besar bagi ibu-ibu. Internet mempertemukan para ibu dengan teman lama, membuka sesi curhat, membuka peluang bisnis, dan membuka ragam informasi resep masakan, kesehatan, tempat wisata, hingga materi pengajaran untuk guru Paud.

Namun, jurang literasi yang ada menjadi rintangan bagi mereka. Jangankan bicara keamanan data, kontrol atas akses media sosial pun seringkali bukan di tangan ibu sebagai pemilik akun. Para ibu kerap dibuatkan akses masuk ke Facebook oleh sang anak. Solusi singkat anak “mengajarkan ibu literasi digital” di tengah kesibukan mereka bekerja dan bergaul. Ketika mengakses ulang atau saat Facebook bermasalah, mereka tidak mengetahui email dan kata kunci yang digunakan. Kebingungan perlindungan data diceritakan salah satu ibu ketika temannya kehilangan ponsel; Facebook-nya disalahgunakan untuk menerbitkan foto koleksi pribadi tanpa dia tahu cara mengendalikannya.

Kisah ini menegaskan satu aspek lagi yang menonjol di dunia digital: proses sosialisasi terbalik ketika generasi muda memiliki pemahaman lebih tinggi dari generasi atasnya.  Dalam mendampingi anak berinternet, para ibu pun mengakui anak saat ini lebih pintar dalam penggunaan internet akibat terpaan terus-menerus.  Kesenjangan literasi digital ini mengganggu rasa percaya diri ibu dalam menghadapi anak.

Kendali orang tua semakin sempit terhadap informasi yang diakses anak karena kegagapan dalam teknologi digital. Salah seorang anak peserta “menipu” ibunya dengan memberikan akun media sosial bayangan, yang berbeda dengan akun media sosialnya sehari-hari. Seorang ibu mengeluhkan anak yang kecanduan game online hingga bertengkar ketika meminta kata kunci media sosial. Bahkan, ada yang kebingungan ketika anaknya menghilang setelah bertemu dengan laki-laki asing yang dikenal di Facebook. Dunia maya menjadi ruang di luar kendali orangtua dan dilema batas kepercayaan anak terhadap orangtua untuk melihat ruang interaksi luar rumah.

Memperbaiki Jurang Literasi

Sebagai perempuan yang belum berkeluarga, saya merefleksikan hubungan dengan ibu saya yang juga mengalami kesulitan dalam menggunakan internet. Perlu waktu, kesabaran besar, dan konsentrasi penuh menemani ibu-ibu menjadi pilar informasi penanggulangan hoaks dan memiliki kemandirian akses informasi. Dalam sebuah diskusi publik Invow bersama aktivis digital, banyak yang mengungkapkan para ibu ini belum menjadi target literasi digital. Mereka berefleksi dari pengalaman mereka kesulitan mengajarkan ibu mereka untuk melek digital. Banyak yang mengutamakan anak muda yang lebih dekat dengan teknologi.

Mungkin seperti saran ibu peserta pelatihan di Tangerang Selatan, “Kegiatan seperti ini harus sering disiarkan dan disampaikan untuk ibu-ibu di zaman sekarang.” Selayaknya mengajarkan membaca, kita tidak tahu potensi para ibu ini jika mereka masih buta huruf.

Sebelum mencapai cita-cita luhur pemberdayaan e-government, ternyata kesenjangan literasi digital yang masih jauh ini perlu dibenahi. Bermodal buku panduan aplikasi yang tebal, dana insentif, dan pelatihan penggunaan aplikasi, pemerintah berpikir mengisi data lewat aplikasi itu memudahkan tugas para ibu di era tren otomasi dan pertukaran data, Industri 4.0. Aplikasi dan teknologi informasi seakan menjadi panasea untuk masalah urban modern.

Kelompok ibu-ibu nampaknya tidak dianggap dalam narasi besar perkembangan teknologi negara kita. Mereka kerap dituduh gaptek dan disalahkan sebagai penyebar hoaks, padahal ini terjadi karena kelompok ibu yang terabaikan berada dalam jurang literasi digital yang semakin sulit dilintasi.

Bagi para ibu, mempelajari literasi digital mendasar masih kusut bercampur dengan tantangan beban domestik kehidupan. Waktu ibu untuk bisa duduk dan belajar mengejar kemajuan teknologi sangat sempit.

Namun ketika teknologi tumbuh semakin cepat, akselerasi literasi digital dengan pendekatan kritis tidak cukup hanya dalam 2x2 jam. Karena itu, mungkin kalian semua perlu turut berperan. Apakah kalian gusar karena orang tua kalian begitu doyan menyebarkan berita hoaks? Atau pernahkah kalian khawatir orang tua kalian rawan penipuan daring? Atau kalian lelah berseteru di WhatsApp Group keluarga? Mungkin, rajin membantu orang tua mempelajari perkembangan teknologi perlu dijadikan salah satu syarat terbaru anak yang berbakti.[]

Unduh Modul Literasi Digital Invow I dan II


Pembaca yang baik, kami sedang menggalang dana untuk kelanjutan kerja Remotivi. Kami ingin bisa terus bekerja membantu publik lebih kritis terhadap media. Kalau Anda berpendapat bahwa kerja-kerja semacam ini diperlukan di Indonesia, dukunglah kami dengan berdonasi di #DukungRemotivi.

Bacaan Terkait
Karlina Octaviany

Co-Founder Indonesia Voice of Women (Invow). Konsultan Komunikasi Digital di bidang pembangunan dan advokasi gender. Antropolog Digital dari University College London, Inggris yang suka diskusi teknologi, film, dan musik rock.

Populer
Di Balik Tren Tayangan Impor
Kompas dan FPI: Kisah Usang Yang Terus Berulang
Spotify dan Tantangan Kajian Media Digital
Problem Etika dalam Jurnalisme Daring
Amplop untuk Jurnalis