REMOTIVI/dibalikbalik
REMOTIVI/dibalikbalik
05/12/2018
Bagaimana Kami Bergulat Menghidupi Magdalene
Sebagai media alternatif yang berfokus pada isu feminisme, kehadiran Magdalene penting dalam mempopulerkan isu kesetaraan gender. Salah satu pendirinya, Hera Diani, membagikan cerita mereka dalam mendanai media ini.
05/12/2018
Bagaimana Kami Bergulat Menghidupi Magdalene
Sebagai media alternatif yang berfokus pada isu feminisme, kehadiran Magdalene penting dalam mempopulerkan isu kesetaraan gender. Salah satu pendirinya, Hera Diani, membagikan cerita mereka dalam mendanai media ini.

Ketika saya dan rekan sesama jurnalis, Devi Asmarani, berpikir untuk membuat sebuah media daring kurang dari 10 tahun yang lalu, kami tidak tahu apa-apa soal bisnis. Masing-masing memiliki pengalaman jurnalistik lebih dari 15 tahun, termasuk pengalaman liputan bisnis, tapi tentu saja itu berbeda dengan membangun bisnis media. Yang kami tahu adalah kami senang melihat perkembangan dan membaca media-media daring di luar negeri seperti Huffington Post, Slate, atau Daily Beast, dan ingin membuat media serupa di Indonesia, terutama karena tugas jurnalistik yang kami jalani tidak terlalu memuaskan hati dan otak kami.

Ketika–setelah diskusi internal dan FGD kecil-kecilan—akhirnya kami memutuskan untuk fokus pada feminisme dan isu perempuan serta kesetaraan gender. Kami masih buta seperti apa model dan rencana bisnis media ini nantinya. Kami hanya merasa bahwa ada pasarnya, seberapa pun ceruknya untuk media seperti ini.

Sebagai perempuan dan pembaca, kami merasa tidak puas dengan apa yang kami temukan dalam media lokal. Di satu spektrum, media untuk perempuan isinya terlalu “ringan”, seperti pembahasan mode dan gaya hidup. Bukannya tidak suka dengan topik ini, tapi bukan ini yang melulu ingin kami baca—apalagi mode dan gaya hidup yang ditampilkan tidak merepresentasikan keragaman. Sementara itu di spektrum yang lain, pembahasannya terlalu “berat” dan akademis. Ini membuat kami yakin bahwa di luar sana barangkali ada perempuan-perempuan lain seperti kami, yang ingin membaca artikel-artikel populer tentang isu perempuan yang tidak mendapat tempat di media-media arus utama.

Kami kemudian mengajak satu teman jurnalis lagi, terutama untuk berfokus pada pencarian iklan, dan kami bertiga patungan kurang lebih Rp15 juta untuk membangun laman. Konten kami kumpulkan dari teman-teman dan penulis-penulis lain yang kami dekati, yang sama bersemangatnya dengan kami dan rela menulis secara pro-bono. Setelah artikel yang terkumpul kurang lebih bisa untuk mengisi laman selama tiga bulan, pada September 2013, Magdalene (www.magdalene.co) pun diluncurkan. 

Respons dari pembaca sangat baik, namun tentu saja tidak serta merta mendatangkan lalu lintas yang banyak. Karena kami tidak memiliki dana untuk promosi, yang seharusnya bisa mendatangkan lebih banyak pembaca, kami sangat bergantung pada promosi media sosial dan para pesohor yang kami kenal, terutama sahabat saya Joko Anwar, yang sejak awal setia membantu mendongkrak aliran pembaca dan pengikut Magdalene.

Uang pertama yang masuk adalah paket iklan untuk sebuah bar di Jakarta Pusat. Tidak sampai Rp. 20 juta, tapi kami girang bukan main. Kemudian ada honor konsultansi dari sebuah agensi di Singapura yang sedang melakukan riset pemasaran. Kami tambah bersemangat. Namun setelah itu, sulit sekali mencari pemasukan dari iklan. Mitra saya dan Devi kemudian juga mengundurkan diri dan kami berinisiatif mengembalikan modal awal bagiannya.

Seorang teman kemudian mengenalkan kami pada sebuah agensi digital yang mengatur adanya iklan di laman kami dengan menggunakan Google AdSense. Tapi jika lalu lintas pengunjung tidak seperti detik.com, penghasilan yang didapat sangat kecil, apalagi skema ini hanya menghitung pengunjung yang mengakses lewat komputer, sementara sebagian besar pembaca Magdalene membaca lewat ponsel. Pemasukan pertama dari Google AdSense ini adalah Rp. 6 ribu. Saya sampai harus menempelkan mata saya ke layar untuk memastikan jumlahnya, yang untuk membeli meterai saja masih kurang seribu perak.

Tahun berikutnya tidak lebih baik dari segi pemasukan, meski pembaca kami terus bertambah dan hampir semua merespons dengan positif. Sebagian besar pembaca adalah perempuan berusia 18-24 tahun yang sedang bergulat dengan identitas dan mendapati suara mereka terwakili oleh Magdalene. Fakta ini menyenangkan karena merekalah generasi masa depan negara ini. Fakta lain yang menyenangkan adalah, sekitar 30-40 persen pembaca kami adalah laki-laki.

Namun di luar pembaca dan popularitas yang bertambah, kami masih terus berjibaku dengan pendanaan, yang sebagian besar masih berasal dari kantong kami berdua, yang masih memiliki pekerjaan tetap di luar Magdalene. Ada sih satu-dua iklan hasil koneksi pribadi, tapi hal itu tetap saja tidak menutup biaya operasional.

Kami kemudian mencoba berbagai sumber pendanaan lain, seperti kemitraan dengan stasiun radio (tidak berhasil sama sekali), menjual suvenir khas Magdalene (lumayan, terutama jika ada bazar atau acara dengan pihak lain sebagai mitra media), serta sponsor acara. Yang terakhir ini sebetulnya sangat potensial, karena kami menemukan ada produk-produk yang tidak secara bebas bisa beriklan di media umum, seperti alat kontrasepsi dan mainan dewasa. Tapi untuk menyelenggarakan acara lagi, sumber daya dan energi kami terbatas karena kami masih punya pekerjaan sehari-hari. Selain itu, saya kemudian hamil dan melahirkan dan Devi ikut suami yang bertugas ke Amerika Serikat.

Titik Terang

Setelah empat tahun berjalan, kami mulai agak putus asa memikirkan bagaimana mendanai Magdalene. Saya sampai berpikir mungkin media ini memang akan terus menjadi “independen” sepanjang masa (selama belum tutup). Saya lihat media-media feminis lain di luar negeri, kecuali mungkin Jezebel yang milik grup media Gawker atau yang lebih baru The Lily punya The Washington Post, juga masih terus bergulat dengan pembiayaan. Salah satu media panutan, Bitch Media, sudah beberapa kali melakukan urun dana (crowdfunding) dalam setahun terakhir dan baru yang ketiga jumlahnya mencapai target. Padahal mereka sudah eksis selama 20 tahun. Dan mereka ada di Amerika Serikat, di mana diskursus soal feminisme sudah agak lebih maju dan meluas sampai masuk ke dalam budaya pop; bukannya masih berkubang dalam hal mendasar seperti kodrat wanita seputar dapur-kasur-sumur atau bahwa feminisme tidak sesuai dengan budaya Timur.

Missy Magazine di Jerman pun tidak lebih baik keadaannya. Setelah 10 tahun, sebagian besar staf dan jurnalis masih menyambi bekerja di tempat lain karena majalah itu tidak bisa membayar mereka secara penuh waktu. Tapi baik Bitch Media maupun Missy Magazine memang saklek dan idealis dalam memilih sponsor atau iklan. Yang pertama sama sekali tidak mau menerima iklan korporat karena takut idealisme terkompromikan, sementara yang kedua tidak akan menerima iklan/sponsor jika para sponsor ini tidak terlihat mendukung nilai-nilai yang diyakini seperti body image yang positif atau keberagaman seksualitas. Sulit juga kalau itu dipraktikkan secara kaku di sini.

Dalam mencari investor sebetulnya kami tidak malu-malu. Tanpa basa basi kami giat menawarkan Magdalene kepada pihak-pihak yang kira-kira sesuai. Ada media di Asia yang sangat tertarik berinvestasi, tapi mereka tidak memiliki cukup kapasitas finansial sehingga kemudian tidak ada kabar lebih lanjut. Sisanya tidak terlalu bersemangat berinvestasi, menganggap Magdalene bukan media yang cukup komersial. Kami tidak terlalu tertarik untuk mencari venture capitalist karena takut idealisme kami disetir. Skema lain seperti hibah tidak kami dapatkan meski sudah mengirim surel ke sana-sini.

Rasa frustrasi bertambah saat melihat beberapa media baru muncul dan terlihat sudah mentereng dan punya kantor serta pegawai tetap dan iklan. Padahal sampai lima tahun kami masih menyewa kantor virtual atau kantor cabutan di co-working space, dan hanya satu orang yang menjadi pegawai tetap dalam arti punya gaji bulanan dan asuransi serta THR. Lebih ngenes lagi kalau melihat konten media-media tersebut yang standar, malah cenderung asal.

Suatu kali saat duduk bareng, Devi kemudian muncul dengan ide bisnis sampingan yang kemudian kami namai Working Room. Setelah berkarier lama sebagai jurnalis di media berbahasa Inggris, kami sering mendapat pekerjaan sampingan untuk menjadi penulis, penerjemah, editor, atau konsultan. Tapi karena kesibukan mengurus Magdalene, beberapa pekerjaan itu harus kami tolak. Nah, daripada ditolak, bagaimana kalau diterima tapi yang mengerjakan orang lain dan kami mendapat komisi? Working Room kemudian menjadi semacam “toko kreatif” atau agen yang mengumpulkan penulis, editor, desainer, sampai strategis media untuk menciptakan dan memproduksi konten untuk individu dan perusahaan.

Ternyata divisi Working Room inilah yang menjadi titik terang pembiayaan Magdalene. Pada 2017 kami mendapat kontrak penulisan konten untuk sebuah laman selama setahun (dan akhirnya diperpanjang). Selain itu juga ada permintaan untuk mengajar kursus menulis bagi sebuah media nasional besar, penerbitan buku kumpulan esai, serta kontrak-kontrak lain. Dari bisnis ini kami akhirnya bisa menutup hampir semua biaya operasional termasuk untuk gaji reporter (meskipun belum bisa menggaji para pendiri).

Titik terang lainnya adalah saat kami didekati oleh Media Development Investment Fund (MDIF), sebuah konsorsium dari sejumlah lembaga dan pemerintah beberapa negara yang mendanai media-media independen di negara-negara transisi demokrasi. MDIF telah berinvestasi dalam beberapa media di Indonesia, dan menurut mereka Magdalene ini sangat menarik dan potensial. Selain itu media feminis belum ada dalam portofolio mereka.

MDIF tidak langsung memberikan pendanaan, namun dalam setahun terakhir kami diberi dukungan teknis untuk pembuatan rencana dan model bisnis serta pengembangan infrastruktur teknologi informasi. Selain itu ada juga dukungan dana untuk perekrutan sumber daya manusia untuk pengembangan bisnis, serta perombakan laman.

Bantuan yang akhirnya datang di tahun kelima ini sangat melegakan. Saya dan Devi akhirnya bisa berfokus pada Magdalene tanpa harus banyak mengambil pekerjaan lain. Kami akhirnya memiliki kantor fisik yang lebih memudahkan koordinasi dan kami juga jadi lebih leluasa lagi mengembangkan konten dan bisnis.

Working Room sepertinya masih akan menjadi sumber pemasukan andalan. Selain pembuatan konten, ada juga peluang-peluang bisnis lain yang ceruk pasarnya sama dengan Magdalene, seperti penyelenggaraan acara dan penerbitan buku, dan ini sepertinya lebih berkelanjutan dibandingkan dengan iklan. Pertumbuhan bisnisnya mungkin tidak akan sespektakuler jika ada investor yang langsung menggelontorkan uang, namun lebih baik pertumbuhan yang organik tapi berkelanjutan daripada yang pesat namun cepat mati.

Kami yakin sekali dengan potensi dan kekuatan Magdalene sebagai media bermutu bagi para perempuan kuat (serta gender lain), dan kami ingin terus mengembangkan media ini demi berkontribusi, sekecil apa pun itu, pada pembentukan masyarakat yang progresif di negara ini. []

Bacaan Terkait
Hera Diani

Hera Diani adalah jurnalis dan salah satu pendiri majalah daring feminis Magdalene.co.

Populer
Demokratisasi Media Melalui Jurnalisme Warga
Jurnalisme Bencana: Tugas Suci, Praktik Cemar
Media Cetak yang Berhenti Terbit Tahun 2015
Ketika Berita Palsu Menjadi Industri
Hierarki Pengaruh dalam Mediasi Pesan