REMOTIVI/Eko Razaki
REMOTIVI/Eko Razaki
06/08/2018
Media Digital: Antara Konten Penting atau Menarik
Media digital tentu menghadirkan tantangan yang berbeda dari media konvensional. Namun, itu tidak berarti bahwa kualitas harus selalu jadi korban.
06/08/2018
Media Digital: Antara Konten Penting atau Menarik
Media digital tentu menghadirkan tantangan yang berbeda dari media konvensional. Namun, itu tidak berarti bahwa kualitas harus selalu jadi korban.

Saya berkenalan lebih mendalam dengan konsep trafik begitu masuk ke media yang fokus di daring. Beragam istilah terkait pun mewarnai waktu tenggat—yang hitungannya tak lagi mingguan atau harian, tapi jam, menit, bahkan detik. Sebut saja sebagian istilah itu seperti visitor, pageviews, bounce rate, OTR, hyperlink, dan istilah semacam yang sebelumnya asing buat saya. Sebelumnya saya di media cetak selama 11 tahun.

Pengertian spesifik istilah-istilah itu cek saja sebentar di Google. Untuk mudahnya, saya bungkus itu semua dalam pemahaman sederhana bernama “trafik”. Sederhananya, trafik itu soal seberapa banyak orang, pembaca, atau biasa disebut user mengakses konten berita, cerita, yang tayang di media daring.

Saat masih bergelut di media cetak, jujur saya sempat mencemooh soal trafik ini. Dalam pergaulan keseharian di antara wartawan, terdapat guyon populer: para praktisi media daring yang bergama Islam juga mengenal rukun iman ketujuh, yakni trafik. Dalam Islam dikenal Rukun Iman yakni meyakini enam hal mendasar ketauhidan.

Demi trafik, tak jarang sebagian wartawan membuat konten yang asal-asalan, yang penting banyak klik. Konten yang asal itu misalnya konten vulgar, sadis, atau info palsu.

Setelah berkenalan lebih intim dengan trafik, apakah penilaian saya berubah? Jawabannya, iya. Saya jadi ikut menganggap bahwa trafik itu penting. Pertimbangannya sederhana, kita membuat tulisan kan agar dibaca. Buat apa bikin tulisan kalau tidak untuk dibaca banyak orang, kecuali niat untuk pribadi, “dear, diary”.

Apakah kemudian saya juga menghalalkan segala cara untuk meraih trafik? Jawabannya, tidak. Masih banyak cara elegan meraih trafik tanpa mengorbankan informasi. Saya ceritakan sekilas yang sudah saya kerjakan begitu terjun di media daring.

Saya mendapat kepercayaan untuk mengembangkan pemberitaan daerah, dari Aceh sampai Papua. Awal masuk itu trafik kanal daerah sekitar seribu per minggu. Setelah tepat dua tahun, trafiknya sudah ratusan ribu per hari.

Bagaimana caranya megejar trafik tanpa mencederai semangat dasar jurnalisme? Bagaimana perjalanannya?

Semuanya berawal dari konten. Seperti diketahui, arus informasi begitu deras. Maka, kuncinya adalah kurasi. Kita harus benar-benar harus berani memilih.

Dalam proses kurasi, kualifikasi suatu informasi layak berita tentu masih digunakan, semisal faktor ketokohan, kedekatan, keunikan, aktualitas, dan sebagainya. Itu pedoman dasar yang melekat di benak para wartawan.

Pada laku sehari-hari, saya menyederhanakan standar proses kurasi ini. Saya bermain di kuadran penting dan menarik. Konten yang wajib tayang adalah konten penting sekaligus menarik. Tinggal merem saja, konten seperti ini pasti trafiknya tinggi. Trafik tercapai, misi pencerahan tak tercederai.

Selanjutnya adalah konten penting meski tidak menarik. Ragam konten ini tinggal dikemas sedemikian rupa sehingga jadi menarik. Pengemasan bisa dengan berbagai jurus, semisal memainkan angle, mainkan judul tanpa click bait, atau menuliskannya dengan memikat.

Ragam konten yang juga layak tayang adalah konten menarik meski tidak penting. Menayangkan konten seperti ini diniati saja untuk memenuhi salah satu fungsi media yakni memberi hiburan. Itu alasan formalnya, untuk menyembunyikan semangat berburu trafik.

Adapun konten dalam kuadran keempat tinggalkan saja, yakni konten sudah tidak penting, tidak menarik pula. Kalau ada reporter mengusulkan konten semacam ini, jawabnya, “Salam saja buat narasumbernya.”

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana menentukan sifat penting, terutama menarik tidaknya suatu konten? Pedoman dasar kelayakan berita tadi bisa dipakai. Jika suatu konten memenuhi banyak unsur kelayakan berita, maka dijamin penting nan menarik.

Cara mudah yang selalu saya ingatkan ke para editor dan reporter adalah jurus mengubah mindset. Sebelum konten itu ditulis, bahkan sebelum diliput, ubah sebentar mindset menjadi pembaca atau user. Jika kira-kira sebagai pembaca tidak akan mengakses konten yang akan dibuat, berarti tinggalkan saja. Tak usah diliput apalagi ditulis.

Dari Breaking News ke Feed

Dari sisi wujud informasi media daring, saya catat sekilas ada perubahan tren dari tahun ke tahun. Di era 2000-2009, informasi breaking news masih sangat dinanti. User mengandalkan media daring untuk mencari informasi atau isu terkini secepatnya.

Contoh informasi breaking news ini semisal dalam berita kira-kira: “Presiden Jokowi Sudah Tiba di Munas NU. Dia mengenakan sarung.”

Konten breaking news ini singkat-singkat saja. Informasi lanjutannya disajikan dalam rangkaian berita-berita singkat berikutnya. Dalam kurun ini konten breaking news masih juara. Berita daring ya berita breaking news.

Demi mengejar kecepatan menayangkan breaking news, pola konvensional kerap ditinggalkan. Tidak lagi reporter menulis, disunting editor, dan tayang. Kadang reporter laporan via telepon dan editor mengetik di kantor. Bisa juga saat narasumber bicara, reporter langsung menyodorkan ponselnya ke depan narasumber, dan ponsel itu dalam posisi terkontak dengan kantor.

Tren bergeser. Pada 2010-2015, konten yang juara tak lagi breaking news. Kecepatan informasi media daring sudah disaingi oleh mainan baru yang namanya media sosial. Atas suatu peristiwa atau isu, user sudah lebih tahu lebih dahulu dari media sosial. Informasi berseliweran di media sosial sebelum di media daring. Tak peduli informasinya akurat atau tidak.

Dalam kurun 2010-2015 itu juaranya bergeser jadi berita lengkap. User mengandalkan media daring untuk mendapatkan berita yang lengkap. Di sini media daring jadi rujukan, sekaligus berperan melakukan verifikasi informasi yang sudah beredar di media daring. Media arus utama jadi clearing house. Berita lengkap ini kurang lebih seperti berita koran.

Belum puas dengan cerita lengkap dari media daring, user punya permintaan lebih. Mereka menginginkan sebuah cerita dari media daring. Orang butuh dongeng. Konten yang juara adalah kemasan cerita dari sebuah peristiwa atau isu.

Cerita, ya cerita, itu yang menjadi favorit bagi user media daring di era 2015-2017. User tak cukup hanya mendapat berita lengkap, tapi juga menuntut cerita. Untuk mudahnya, cerita ini seperti halnya konten di majalah.

Di ujung ini tren bergeser cepat. Mulai era 2017, user memang masih mengakses breaking news, berita lengkap, dan cerita. Tapi ada lagi yang mengendap-endap menjadi juara selanjutnya, yakni info atau feed. User merindukan info-info dari media daring. Info apapun yang menarik, mulai dari lowongan kerja, destinasi wisata, kuliner, atau tempat memperbaiki sepatu.

Demikian tadi sekilas yag saya catat. Bisa jadi Anda punya pemetaan ragam konten media daring sendiri.

Apapun wujudnya, pada intinya konten memang kunci, meski bukan satu-satunya faktor. Ada faktor lain yang juga berpengaruh signifikan atas trafik suatu konten, misal aspek seberapa besar peluang konten itu nongol di mesin pencari, atau seberapa viral tersebar di media sosial.

Pengemasan konten “zaman now” juga berkembang. Teks saja tidak cukup, harus diperkaya dengan grafis dan video, selain foto tentunya. Terlebih jika mengincar generasi milenial. Kalau soal mencari info dan update berita, salah satu favorit rujukan bagi milenial saat ini adalah Line Today. Konten-konten hasil kurasi Line kebanyakan disantap oleh milenial.

Saya tanya pada teman saya Oktamandjaya Wiguna dari Line soal ini: “konten apa yang disukai milenial?” Dia menjelaskan panjang lebar, yang saya ingat hanya kisi-kisinya: milenial mintanya dikunyahkan dalam menelan info. Selain itu juga soal pengemasan.

“Apapun infonya, mereka suka foto, gambar, dan video.”

Ada satu masa orang meyakini bahwa “konten adalah raja”. Selanjutnya ada masa berikutnya yang meyakini bahwa, “dulu rajanya konten, sekarang percakapan”. Kalau saya berkompromi, “konten adalah raja, percakapan adalah ratunya”. Seorang teman berseloroh, jangan lupa, kadang raja takut sama ratu. []

Bacaan Terkait
Harun Mahbub

Koordinator daerah di Liputan6.com. Menulis buku #2jambisa Jadi Wartawan dan intensif keliling Indonesia menggelar diskusi media dan penulisan.

Populer
Retorika dalam Kemasan Super
Mendukung Propaganda Orde Baru, TV One Memang Beda
Bolehkah Jurnalis Mengekspresikan Dukungan Politiknya di Media Sosial?
Kasus Dandhy dan Makna Ujaran Kebencian yang Cemar
Generasi Jurnalis yang Hilang