REMOTIVI/Darth Vader (CC0)
REMOTIVI/Darth Vader (CC0)
13/12/2017
Seperti Kita yang Fana, Kejayaan Kabar Bohong Mustahil Bertahan Selamanya
Pengalaman redaktur Vice mengelola rubrik kurasi hoax “Can’t Handle The Truth”
13/12/2017
Seperti Kita yang Fana, Kejayaan Kabar Bohong Mustahil Bertahan Selamanya
Pengalaman redaktur Vice mengelola rubrik kurasi hoax “Can’t Handle The Truth”

Wartawan yang hidup di dunia serba ruwet akibat membanjirnya ragam informasi, agaknya harus ikhlas menerima satu fakta ini: hoax adalah inspirasi menulis tiada putusnya. Berkat hoax, saya berkesempatan mengelola satu kolom di VICE Indonesia, didedikasikan untuk membedah serta mengolok-olok kabar bohong yang sedang populer di masyarakat. Kolom ini dinamai “Can’t Handle the Truth”. Tugas macam ini tak terbayangkan selama berkarir di dunia media. Aspirasi awal saya menjadi wartawan adalah mengabarkan kebenaran, fakta, yang suci. Kini, sebagian waktu saya saban minggu tersita memantau kebohongan, yang palsu, yang nista dalam dunia jurnalistik.

Selama tujuh bulan terakhir, kolom tersebut mengulas puluhan hoax: “kabar” peredaran narkoba lewat paket kilat, pembelian senjata yang konon dilakukan instansi tertentu tanpa izin, simpang siur keberadaan habib kondang pendiri ormas intoleran, modus perampokan pengendara motor ”pocong tidur”, hingga risiko penyadapan ponsel bila mengikuti registrasi sim card sesuai anjuran pemerintah. Kebohongan yang warna-warni.

Sejak lama saya penasaran dengan pesan berantai, jenis hoax yang relatif purba. Misalnya surat yang wajib difotokopi jika kalian ingin terhindar dari azab (populer pada dekade 90an), sampai broadcast yang isinya makin variatif di era BlackBerry Messenger dan WhatsApp. Benarkah hanya kepuasan saja yang didapat si pembuatnya setelah sukses menebar paranoia? Benarkah mereka tak mendapat imbalan materi? Dugaan itu belakangan punya kaki, setelah jaringan penebar kebencian dan hoax, Saracen, dibekuk polisi. Keuntungan produsen hoax amat fantastis. Satu postingan Saracen yang bisa viral dapat meraup 100 juta rupiah. Media digital kredibel belum tentu bisa meraup nominal sebesar itu hanya dari satu iklan banner.

Obrolan segera digelar redaksi VICE Indonesia sejak awal tahun ini. Kayaknya perlu nih bikin liputan khusus soal hoax dan berita palsu yang makin membanjiri gawai kita, entah itu dari layanan pesan instan ataupun media sosial.

Terlontar ide membuat kolom kompilasi hoax yang kadar bohongnya enggak ketulungan. Gagasan ini direalisasikan setelah Mike Pearl, editor VICE US—situs induk kami di Amerika Serikat—awal April lalu menulis esai soal kemenangan hoax dalam menyetir opini publik memakai judul  Can’t Handle the Truth. Judul bikinan saudara tua ini pun kami pinjam sebagai nama kolom.

Kehadiran perdana kolom ini disokong momentum. Sepanjang April 2017, persebaran hoax kami catat meningkat pesat. Tiap hari ada saja berita palsu atau editan foto bernuansa fitnah yang mencuat di media sosial. Itu momen yang sedang panas-panasnya menjelang pemungutan suara Pilkada DKI.  

Siasat kami menyusun kolom ini adalah dengan memakai gaya penulisan ringan (bahkan cenderung nyinyir serta penuh canda). Pendekatan ini diambil, mengingat VICE bukan yang pertama di Indonesia yang menyediakan ruang khusus analisis hoax dan berita palsu. Di lanskap media digital Indonesia, VIVA, Detik, dan Kumparan melakukannya lebih dulu sejak awal 2017 lewat sistem tagar, mengelompokkan berita dalam topik yang sama.

Begini contoh proses kami menghasilkan satu rangkuman hoax. Sempat muncul beberapa cuitan di Twitter pertengahan Oktober, memprotes pemerintah yang dituding mengizinkan beredarnya “whiskey berlabel halal”. Cuitan tadi kemudian diamplifikasi situs-situs penebar kebencian sehari sesudah ramai di media sosial. Redaksi VICE bergegas mengontak kawan yang bekerja di salah satu perusahaan minuman alkohol di Jabodetabek . Dia memastikan tak ada produk seperti itu diedarkan oleh pabriknya (yang juga bergerak dalam bisnis impor minuman keras). Majelis Ulama Indonesia (MUI) tak lama kemudian membantahnya lewat jumpa pers. Begitu pula Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin lewat akun Twitter pribadinya. Kami melacak foto botol whiskey dan anggur halal di media sosial, nampaklah bila foto yang beredar sumbernya berasal dari gambar colongan dari akun bot @boxshow2 yang mencuit dalam Bahasa Arab—yang juga tak jelas mendapatkan foto botol tersebut dari mana.

Selesai tahap verifikasi. Bisa dipastikan whiskey halal cuma kabar bohong. Kami bisa saja merangkum cerita whiskey ini dalam bentuk tulisan hard news, tapi itu sama saja memberi bobot berlebihan bagi cerita yang tak masuk di nalar tadi. Makanya, diselipkan sekalian komentar betapa whiskey halal adalah konsep yang menakutkan bagi kalangan agamis sekaligus pemabuk; sebab pemabuk pun tak akan sudi minum berbotol-botol yang hanya memberinya kembung tanpa pening sedikitpun.

Demikian pula saat sekelompok orang menyebar pamflet harta Sukarno (konon disimpan di Swiss) di Kalimantan Timur, Jawa Barat, dan Sumatra Barat. Kelompok bernama Swissindo ini menjanjikan siapapun yang bergabung, dengan membayar sejumlah “biaya administrasi”, akan lunas semua utangnya di bank setelah diberi surat jaminan dari bank Swiss. Setelah kami lacak, Swissindo memiliki markas pusat di Cirebon. VICE kemudian mendatangi Otoritas Jasa Keuangan dan bank swasta, memastikan tak ada sama sekali amnesti utang dari Swiss dalam sistem perbankan Indonesia. Saat muncul pemberitaan kalau warga di Samarinda mengusir agen Swissindo karena merasa janji mereka “tidak realistis”, kami tuliskan pujian sinis, “ah seandainya mayoritas pengguna internet di Indonesia bisa secerdas warga Samarinda. Kita tentu tak akan mudah dikibuli oleh mimpi siang bolong baik itu dalam bentuk harta Sukarno, MLM gelap, ataupun arisan bodong.”

VICE melakukan kurasi manual untuk mengumpulkan hoax ataupun berita palsu buat kolom ini. Caranya dengan bergabung ke sebanyak mungkin grup WhatsApp, juga grup Facebook yang partisan (baik anti maupun pro-Jokowi) mengingat banyak sekali postingan tendensius dari sana, serta memantau situs penebar kebencian (sudah dibahas lengkap modus operandinya oleh Remotivi dalam artikel ini). Atau, dengan iseng kami mengetik kata kunci bombastis di kolom pencarian media sosial, misalnya “heboh” atau “warga digegerkan…”, yang sesekali bisa membantu memberi petunjuk membiaknya hoax dari wilayah tertentu.

Dari belasan hoax yang diperoleh, biasanya kami perah lagi menjadi tiga saja untuk dirangkum di kolom. Sebisa mungkin tiap edisi ada satu hoax yang bernuansa politis (skala perbincangannya nasional). Selain itu, berita palsu atau broadcast yang bernuansa kebencian terhadap etnis dan agama tertentu menjadi prioritas pantauan kami. Bisa dibilang, inilah jenis hoax paling mudah diverifikasi. Misalnya seperti ramainya postingan soal bentrok warga Dayak dengan ormas Islam di Pontianak yang terbantu klarifikasi real-time dari akun-akun Facebook warga setempat.

Meningkatnya kesadaran gerakan swadaya via internet melawan hoax turut membantu kerja kami. Di Amerika Serikat, misalnya, ada Snopes.com yang bisa menolong wartawan maupun pembaca memeriksa kesahihan berita atau ucapan narasumber. Sementara di Indonesia, walaupun belum komprehensif dan hanya terbatas pada media sosial, serta bergantung pada daya tahan relawan, kerja keras Masyarakat Anti-Fitnah Indonesia (MAFI) patut kita acungi jempol. Analisis MAFI membantu bolong-bolong analisis dari internal redaksi kami saat memverifikasi suatu informasi. Sisanya tentu pekerjaan saya dan rekan-rekan VICE, terutama bila belum ada keterangan tertulis ataupun jumpa pers dari otoritas terkait. Caranya tentu saja dengan menelepon pakar, atau bertanya pada kenalan dari institusi yang jadi subyek hoax.

Sepengalaman kami, yang lebih sulit dibedah adalah disinformasi. Terutama jika asalnya adalah ucapan pejabat, pesohor, atau malah situs media yang seharusnya kredibel. Misalnya ucapan Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo mengenai pembelian ribuan senjata api oleh instansi yang ingin melampaui wewenang TNI, diamplifikasi media tanpa sikap kritis sama sekali. Berkali-kali kami memeriksa berbagai pemberitaan, sekaligus memeriksa sendiri transkrip pidatonya, minim sekali elaborasi temuan lapangan kecuali pernyataan Gatot. Begitu pula kegilaan media berulang kali membiarkan purnawirawan seperti Kivlan Zen membualkan adanya 60 juta pengikut Partai Komunis Indonesia (PKI) yang siap bangkit kapan saja.

Setidaknya yang bisa kami bagi kepada pembaca adalah benang merah dari berbagai disinformasi: “data” yang disampaikan bombastis, berlebihan, serta tak ada elaborasi data dari tulisan atau ”berita” yang menyampaikannya. Kalau dimuat media massa, itu hanya talking news alias berita cangkem saja. Setelah PT Pindad dikontak rekan-rekan media, ternyata senjata itu pesanan Polri dan Badan Intelijen Negara, jumlahnya pun tak sebesar yang disampaikan Gatot. Begitu pula soal pengikut PKI seperti digembar-gemborkan Kivlan. Sedihnya, tetap ada orang yang percaya hanya karena yang menyampaikan “informasi” tadi dianggap punya otoritas, yang diasumsikan tidak mungkin berbohong.

Setidaknya untuk menyiangi disinformasi, pegangan kami hanya arsip. Jumlah pengikut PKI yang berubah-ubah pasti membuat siapapun yang masih memiliki akal sehat mempertanyakan kebenarannya.

Karenanya, kolom ”Can’t Handle the Truth” kami bayangkan bisa berfungi sebagai arsip buat pembaca. Bukan arsip yang “netral” tentu saja, karena ada opini di dalamnya. Setidaknya ini rangkuman hoax yang dapat mengingkatkan publik, apa saja berita yang dipastikan palsu, pernah beredar di masyarakat.

Perlu kami sampaikan, tak sedikit hoax di Indonesia sebetulnya cuma pengulangan peristiwa tahun-tahun sebelumnya yang digoreng lagi. Misalnya hoax nikah gratis (pernah terjadi di Yogyakarta dua tahun lalu, tapi dikesankan terulang di Bandung dan Surabaya tahun ini), atau modus pengiriman narkoba lewat paket yang sepanjang 2017 berulang kali tersebar di WhatsApp, sekadar diganti nama lokasi dan instansi yang seakan-akan menyebarkannya. Padahal isu ini berakar dari satu modus pengiriman narkoba tahun 2013 yang dibongkar Badan Narkotika Nasional—dan belum pernah terjadi lagi setelah kami kontak humas mereka).

Hoax, kami prediksi, akan kembali marak mendekati Pilkada serentak pada 2018, atau setiap terjadi bencana alam yang ramai diliput media (terbukti dari longsor Pangandaran serta ancaman letusan Gunung Agung).

Belakangan, gejala lain soal hoax membuat kerja saya dan tim bertambah dua kali lipat. Orang cenderung mudah ngeles, menyebut hasil kerja media sebagai hoax. Atau, membuat suasana makin keruh dengan memberi label hoax untuk setiap informasi yang tak sesuai preferensi ideologinya. Simak saja cuitan pendukung maupun pembenci Rizieq Shihab, lima bulan lalu, yang saling melabeli musuh politik sebagai tukang sebar hoax. Terutama selama pekan-pekan awal kaburnya pendiri Front Pembela Islam itu ke Arab Saudi dari masalah hukum yang sedang membeli. Bagi saya pribadi, inilah yang dinamakan banjir hoax sesungguhnya. “Comment is free,” kata C.P Scott, mantan pemimpin redaksi The Guardian. Begitu pula hoax masa sekarang, Pak Scott. Murah sekali diumbar. Asal tak suka terhadap sebuah kabar, pengguna internet kini tergesa-gesa melabelinya hoax. Menepis hoax kecenderungannya kini bukan berbasis verifikasi fakta, tapi berdasar perasaan.

Bicara soal verifikasi, kami tentu memiliki banyak kelemahan. Mengingat sifat kolom ”Can’t Handle the Truth” ini adalah kurasi yang dilengkapi opini, titik beratnya masih pada pengemasan opini. Kami beberapa kali tak melakukan kerja jurnalistik secara lengkap. Seringkali kompilasinya cuma mengandalkan pemberitaan media lain, yang sekadar mengulang ucapan narasumber pemerintahan atau yang dianggap otoritatif.  Apabila tidak berhati-hati, ”Can’t Handle the Truth” bisa saja menjadi corong disinformasi baru, hanya karena malas melakukan prinsip dasar verifikasi.

Perang melawan hoax ibarat maraton. Garis akhir memang masih jauh, sama sekali tak kelihatan ujungnya. Dibutuhkan upaya tak kenal lelah untuk terus menerus belajar dan bekerja. Untuk itu kami bersedia menemani siapapun yang masih peduli pada kesucian fakta berlari bersama—baik itu sesama media massa, mediawatch, ataupun warga (sekaligus pembaca) yang sudah muak pada kibul-kibul yang membanjiri hidup mereka.

Kabar baiknya, hoax adalah buatan manusia. Seperti kita yang fana, kejayaan kabar bohong mustahil bertahan selamanya. []

Bacaan Terkait
Ardyan M Erlangga

Sempat bergiat bidang literasi bersama Indonesia Buku Yogyakarta dan mengelola radiobuku.com selama kuliah. Pada 2011, mulai berkarir sepenuhnya sebagai wartawan, baik untuk radio, kontributor majalah LSM, lalu ke media daring. Sejak November 2016 bertugas sebagai redaktur pelaksana VICE Indonesia. Karya jurnalistik maupun opininya tayang pula di situs in-depth reporting Pindai.org (almarhum), Jakartabeat.net, dan Mojok.co.

Populer
Habis Iklan Meikarta, Gelaplah Berita
Ketika Rosi Izinkan Gatot Nurmantyo Menyebar Disinformasi
Kebohongan Dwi Hartanto, Kebohongan Media?
Peluit Anjing Anies Baswedan
Persoalan Kesenjangan Digital di Indonesia