03/11/2017
Begini Cerita Saya sebagai Wartawan Flora-Fauna
Sebuah berita yang saya banggakan karena berhasil menembus narasumber sulit dan menjadi laporan yang pertama ketika media lain belum menuliskan. Ternyata efeknya tidak saya duga. Saya merasa sangat bersalah telah memberitakannya.
03/11/2017
Begini Cerita Saya sebagai Wartawan Flora-Fauna
Sebuah berita yang saya banggakan karena berhasil menembus narasumber sulit dan menjadi laporan yang pertama ketika media lain belum menuliskan. Ternyata efeknya tidak saya duga. Saya merasa sangat bersalah telah memberitakannya.

Pembaca yang baik, bersamaan dengan terbitan berikut kami ingin memperkenalkan sebuah rubrik baru: Di Balik Layar.

Sejak 2010, remotivi.or.id menerbitkan artikel-artikel yang berfokus pada teks media beserta konteks yang melatarinya. Sepanjang itu, ada satu hal yang kami rasa luput atau jarang diketengahkan: perspektif para pekerja media. Sudut pandang mereka yang sehari-harinya bergumul dengan urusan media, kami pikir, perlu masuk dalam perbincangan tentang kajian media dan komunikasi. Karena itulah rubrik Di Balik Layar ini kami hadirkan.

Rubrik ini dikhususkan untuk diisi oleh mereka yang bekerja di media: wartawan, videografer, penulis naskah, produser, fotografer, editor, dan lainnya. Rubrik ini diharapkan dapat memberi kesempatan berbagi kisah seputar pengalaman mereka memproduksi teks media dari balik layar; dengan menghadirkan sudut pandang personal yang kerap tidak kita temukan di muka layar media. Selamat membaca artikel pertama Di Balik Layar ini. Salam.

Abbie Boudreau berangkat menjadi wartawan dengan satu keyakinan: jurnalisme bisa membuat perubahan positif. “Dosen-dosenku mengajarkan bahwa ada kebenaran dalam jurnalisme. [...] Dan aku sangat meyakini itu”. Maka melajulah ia membangun karir kewartawanannya di beberapa stasiun televisi ternama di Amerika Serikat. Mulai dari CNN hingga ABC, ia kerap menangani kerja jurnalistik paling bergengsi, yakni laporan investigasi. Namun, ketika sudah bekerja sebagai wartawanlah pandangannya yang mulia tentang jurnalisme justru berubah.

"Hate the media? So do I. And I'm a reporter", presentasi Abbie di forum TEDx Talks, menceritakan perubahan pandangannya terhadap media. Dari yang awalnya kagum dan menaruh harap, ia kemudian berbalik membenci media. Seorang reporter yang membenci media seperti seseorang yang membenci tubuhnya dirinya sendiri, pikir saya. Tapi begitulah pengalaman Abbie.

Semua itu berawal dari kasus Josh Powel yang ia liput. Keluarga Powel adalah selayaknya keluarga Amerika pada umumnya, hingga suatu hari Josh diduga terlibat dalam kasus istrinya yang menghilang. Oleh perusahaan media tempatnya bekerja, Abbie ditugasi untuk mengenal Josh dan kedua anaknya lebih dekat sebagai cara untuk merancang sebuah wawancara ekslusif. Ia berhasil membangun hubungan akrab dengan Josh dan dua anaknya. Bahkan bisa dikatakan, hubungan mereka menjadi teramat dekat. ”Aku peduli dengan anak-anaknya,” kata Abbie.

Suatu ketika sebuah pesan dari editornya masuk ke ponselnya: ia membunuh dirinya sendiri dan kedua anaknya. Ya, Josh menembak anaknya sebelum akhirnya membakar rumahnya dan menembak dirinya sendiri. Kedekatannya dengan Josh dan kedua anaknya membuat Abbie menjadi emosional menerima kabar ini. Tapi kemudian ia malah ditugasi untuk memberitakan siaran langsung peristiwa tersebut tepat di depan bangkai rumah Josh.

Abbie merasa bersalah ketika setuju melayani permintaan perusahaannya untuk mengejar rating dari tragedi tersebut. Ia merasa sedang melakukan pekerjaan kotor, yang membuatnya ingin berhenti menjadi reporter.

Penyesalan Abbie atas kerja jurnalistiknya ini mengingatkan saya pada pengalaman saya sendiri. Ketika itu tahun 2004, saya mewawancarai seorang penangkar jalak Bali. Ia adalah salah satu dari sedikit penangkar jalak Bali yang berhasil. Jalak Bali merupakan burung endemik yang nyaris punah. Sebagaimana pengakuan si penangkar, saya menulis bahwa harga sepasang burung ini bisa mencapai angka hingga 40 juta rupiah. Akibat pemberitaan itu, harga jalak Bali di pasaran meningkat tajam, bahkan membuat jalak Bali yang ada di habitat aslinya, Taman Nasional Bali Barat, ikut diburu. Padahal sebelum diberitakan, harganya tidak setinggi itu dan jalak Bali hidup aman di habitat aslinya.

Seperti Abbie, saya menyesal menulis berita tersebut.

Ada pengalaman lain yang juga saya sesali. Pernah saya hanya bisa terdiam ketika melihat puluhan peti berisi ular dikirim dari Kalimantan. Yang jadi masalah, pengepakannya dikerjakan asal-asalan sehingga membikin mati semua ular tersebut. Meski peti-peti tersebut bertumpuk-tumpuk di kaki, tapi saya tak bisa menuliskan itu semua lantaran saya sudah berjanji untuk tidak memberitakannya. Janji itu saya buat dengan perhitungan: yang penting saya bisa masuk ke penangkarannya demi mendapatkan berita lain yang saya kira punya kepentingan publik yang lebih besar. Meski begitu, sebagai seorang wartawan, saya merasa tak berdaya karena tak berkutik melihat ada masalah di depan mata.

Soal bagaimana mendapatkan narasumber “sulit” adalah cerita yang panjang. Bermula dari 2004 ketika saya bergabung di Forum Konservasi Satwa Liar (FOKSI). Anggota FOKSI terdiri dari wartawan, pecinta satwa, penangkar satwa langka, hingga para peneliti dengan keanggotaan yang bersifat cair. Melalui FOKSI saya bisa mendekati para pedagang satwa langka dan pehobi yang kebanyakan mengambil jarak terhadap wartawan sebab mereka kerap disudutkan dalam pemberitaan. Sementara itu, wartawan lain biasanya mengambil data dari lembaga swadaya masyarakat (yang biasanya mudah diwawancara) dengan pendapat generiknya: bahwa perdagangan dan hobi satwa langka dilarang. Tanpa bermaksud membela, justru para pehobi inilah yang kerap berhasil menangkarkan satwa langka. Meski kadang pedagang dan pehobi ini main curang: mereka mengoplos antara hasil tangkaran dan hasil tangkapan. Namun tanpa mendekati mereka dan melihat dengan mata kepala sendiri, wartawan tak akan pernah tahu apa yang sebetulnya terjadi.

Pengalaman sebagai wartawan flora dan fauna membawa saya pada cerita lain ketika memberitakan tentang tanaman Anthurium. Pada 2007 tanaman ini booming dengan harga ratusan juta rupiah seperti klaim pemiliknya. Sebetulnya kalau saya mau skeptis, bisa jadi pemiliknya sedang “menggoreng” harga. Sialnya, skeptitisme itu tak muncul.

Akibatnya, klaim harga tinggi tersebut meledakkan harganya di pasaran. Dan karena Anthurium mudah sekali dibiakkan, maka menjamurlah bisnisnya. Bukan saja pedagang besar, para pedagang kecil di pinggir jalan menjadi latah bermain di bisnis tanaman ini. Dengan harapan mendapat tetesan rezeki, gerai-gerai tanaman dibuka. Namun, seperti hukum ekonomi dasar, banjirnya stok tanaman ini otomatis membuat harganya turun.

Para pedagang dadakan tersebut sebenarnya bisa selamat kalau tak berharap lebih dengan menginvestasikan modal sekadarnya. Tetapi yang berharap lebih, mereka bisa kalang kabut karena menurunnya tren harga dari sebatang tanaman berharga ratusan juta ini. Celakanya, kerugian ini riil, kelihatan dari banyaknya gerai tanaman yang tutup.

Saya kemudian mempertanyakan diri: di mana tanggung jawab saya sebagai wartawan yang terlibat “menggoreng” harga? Perasaan bersalah saya bertambah ketika mendapat kabar bahwa Anthurium milik narasumber saya tersebut hilang dicuri orang usai dimuat di sampul majalah tempat saya bekerja.

Hal yang tak kalah menarik adalah ketika saya menulis tentang tanaman obat, khususnya penyakit berat seperti kanker. Ketika ada ”penemuan” satu tanaman yang bisa mengobati kanker, media akan ramai-ramai menulis. Saya ingat jenis-jenis tanaman yang sempat menjadi tren dan seolah merupakan obat ajaib. Ada mahkota dewa (Phaleria macrocarpa), buah merah (Pandanus conoideus), juga sarang semut (Myrmocodia). Lantas bagaimana dengan khasiat sebenarnya?

Sering kali klaim soal khasiatnya tidak dihadapi dengan skeptitisme yang seharusnya seorang wartawan miliki. Sebaliknya, pemberitaan sekadar menarik perhatian pembaca sebesar-besarnya. Alhasil, pemberitaan kadang diterbitkan tanpa adanya data ilmiah, tanpa riset, atau wawancara dari dokter dan tenaga ahli yang kredibel. Belum lagi soal mitos herbal (sebutan untuk tanaman berkhasiat) yang diangggap tidak menimbulkan efek samping sebagaimana obat yang diresepkan dokter. Dari sisi medis, tentu ini kurang tepat, sebab senyawa apapun bila berlebihan dalam tubuh akan menimbulkan efek samping.

Problem lain dari pemberitaan tidak kritis atas khasiat herbal adalah mendorong terjadinya eksploitasi besar-besaran, khususnya tanaman yang masih diambil dari alam. Sarang semut dan pandan, misalnya, sempat dieksploitasi dalam jumlah banyak dari hutan Papua.

Ada satu pengalaman yang membuat saya tidak ingin lagi menulis tanaman obat.

Suatu hari, bapak saya menelepon mengabarkan bahwa kakak sepupu saya meninggal karena kanker hati. Saya sangat dekat dengan kakak saya ini. “Padahal sudah aku carikan obat seperti yang kamu tulis,” kata bapak menyebutkan tanaman berkhasiat yang saya tulis. Padahal ketika saya menulis, sesungguhnya saya pun tak yakin dengan apa yang saya tulis, hanya berdasarkan wawancara dari orang-orang yang (ternyata) berkepentingan untuk sekadar memasarkan produknya. []

Bacaan Terkait
Titik Kartitiani

Menjadi wartawan majalah Flona milik Kelompok Kompas Gramedia pada 2003-2014. Kini menjadi kontributor untuk National Geographic Indonesia dan majalah Intisari. Juga menulis untuk media fesyen theactualstyle.com dan mengisi konten (foto, teks, dan video) untuk talaindonesia.com. Buku yang pernah terbit: kumpulan cerpen Perempuan Menjahit Hujan (KKK, Jakarta, 2007) dan kumpulan puisi Untuk Semeru (Penebar Media Pustaka, Yogyakarta, 2017).

Populer
Perjuangan Situs Kebencian Mengemas Omong Kosong
“Politainment” Gubernur Baru Jakarta
Tak Ada Kepentingan Publik Dalam Pernikahan Kahiyang
Denny Setiawan: Internet Indonesia Lelet Karena Infrastruktur yang Belum Optimal
Sandyakalaning Lawak Televisi Indonesia