REMOTIVI/Nidiansrafi
REMOTIVI/Nidiansrafi
06/08/2019
Apa yang Perlu Dipahami dari Kasus Narkoba Selebritas?
Nunung dan Jefri Nichol cuma dua nama dari daftar panjang selebritas yang mengonsumsi narkoba. Iklim kerja industri hiburan punya peran dalam situasi ini.
06/08/2019
Apa yang Perlu Dipahami dari Kasus Narkoba Selebritas?
Nunung dan Jefri Nichol cuma dua nama dari daftar panjang selebritas yang mengonsumsi narkoba. Iklim kerja industri hiburan punya peran dalam situasi ini.

Seorang perempuan terlihat tak sanggup menyembunyikan raut kesedihan ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan jurnalis di hadapannya. Kantung matanya menebal, tanda ia terlampau lelah. Air matanya terkuras, tak lagi bisa turun. Di ujung wawancara berdurasi 20 menit itu, ia berkata dengan suara serak. “Saya mohon, saya minta direhab. Itu permohonan saya yang terakhir untuk bapak polisi.”

Perempuan itu adalah Tri Retno Prayudati atau akrab disapa Nunung, komedian kelahiran Solo, 56 tahun silam. Ia dan suaminya ditangkap kepolisian di rumahnya pada 19 Juli lalu karena kasus penyalahgunaan narkoba. Tiga hari berselang, seorang aktor muda, Jefri Nichol juga ikut ditangkap. 

Sebelum Nunung dan Jefri, pekerja industri hiburan lain, seperti musisi dan aktor juga pernah mengalami kasus serupa. Untuk menyebut beberapa nama, siapa tak tahu kasus Roy Marten, misalnya, atau—yang cukup baru—Raffi Ahmad? Tak hanya terjadi di Indonesia, di luar negeri pun kita bisa jumpai sederet nama tenar seperti mendiang Whitney Houston, Robin Williams, atau Kurt Cobain yang diketahui pernah kecanduan narkoba. Melihat kasus-kasus penyalahgunaan narkoba ini, baik di Indonesia maupun luar negeri, semestinya menimbulkan pertanyaan besar: apa yang sebenarnya terjadi di dalam industri hiburan?

Meski tak semua kasus penyalahgunaan obat-obatan berakhir dengan kematian, riset milik Johannes M. Just, dkk. yang berjudul “Drug-related celebrity deaths: A cross-sectional study” menunjukkan terdapat 295 selebritas meninggal dunia dalam rentang waktu 1970-2015. Persisnya, terdapat 38,6% musisi, 15,5% aktor, dan 5% model yang hidupnya tamat karena konsumsi narkoba. Masih berdasarkan riset yang sama, alasan selebritas menggunakan obat-obatan adalah untuk meningkatkan stamina, melawan rasa sakit, dan menjaga kebugaran karena mereka berada di bawah tekanan terus-menerus untuk tampil prima, sehat, dan produktif. Ini pun belum memasukkan variabel lain: jadwal yang padat. 

Dalam survei yang melibatkan ribuan musisi di Inggris, riset University of Westminster pada 2016 berjudul “Can Music Make You Sick? Music And Depression” menemukan bahwa 71,1% musisi mengaku mengalami kecemasan parah dan 68,5% mengaku mengalami depresi. Berdasarkan riset tersebut, depresi dan kecemasan ini disebabkan karena beberapa faktor dalam kondisi kerja yang parah, namun yang paling krusial adalah bayaran rendah atau bahkan tak dibayar sama sekali. Salah satu kalimat dalam riset tersebut patut digarisbawahi: satu-satunya hal yang menyebabkan musisi mengalami depresi adalah industri musik itu sendiri.

Dalam kondisi industri hiburan yang sedemikan rupa, ketenangan tentu menjadi barang langka. “Kokain adalah tempat persembunyianku. Kebanyakan orang menjadi sangat aktif ketika menggunakannya, tapi bagiku ia justru menenangkan,” kata mendiang Robin Williams suatu waktu

Jagad K-pop punya getir yang sama. Pada 2017 lalu, Kim Jong-Hyun, personil SHINee ditemukan tak sadarkan diri di apartemennya, lalu meninggal beberapa saat kemudian di rumah sakit. Ia diduga bunuh diri setelah ditemukan catatan yang menggambarkan betapa depresi dan tersiksanya ia berada dalam dunia yang ia geluti. Di bawah sorotan lampu popularitas, ia justru merasa kesepian.

“Aku sangat kesepian. Mudah untuk mengatakan ‘aku akan mengakhirinya.’ Tapi sangat sulit melalui ini semua,” bunyi salah satu baris catatannya.

Industri K-pop merupakan salah satu industri hiburan dengan tingkat tekanan kerja tertinggi di dunia. Para artisnya menanggung beban kerja yang berat seperti jadwal latihan yang padat, bersaing dalam iklim yang kompetitif, dituntut menjaga penampilan fisik, belum lagi ditambah masalah kontrak yang tak adil. Saking kompetitifnya, ketika seorang selebritas K-pop tengah berada di puncak popularitas, ia bisa segera tergantikan oleh yang lain. Masa depannya begitu tak menentu. 

Dalam salah satu kolom di The Korea Times, diuraikan bahwa skandal penyalahgunaan narkoba di kalangan selebritas K-pop merupakan kegagalan sistematis. Kompetisi yang kejam dan beban kerja yang beratlah yang memungkinkan para selebritas K-pop menggunakan obat-obatan untuk mengatasi depresi, untuk relaksasi, dan agar tampil tenang di depan kamera, di samping ada faktor lain berupa kegagalan otoritas berwenang dalam menghentikan perdagangan obat-obatan. 

Dalam buku yang ditulis Pramod K. Nayar berjudul Seeing Stars: Spectacle, Society, and Celebrity Culture, disebutkan bahwa untuk tetap bertahan, industri hiburan sangat bergantung pada audiens sebagai konsumennya. Karenanya, relasi yang tercipta antara selebritas dengan audiens adalah relasi komersial, di mana audiens diharapkan untuk terus-menerus menyaksikan komoditas hiburan, yakni selebritas itu sendiri. Dari relasi itu, Nayar menulis bahwa seorang “selebritas sedari awal telah dikonstruksi sebagai objek hasrat dan objek konsumsi massal”. Objek hasrat di sini berarti bahwa fisik, gaya hidup, kesuksesan, dan tingkah-polah si selebritas adalah apa yang diinginkan oleh dan yang dijadikan norma standar untuk segenap audiensnya. Untuk mempertahankan relasi selebritas-audiens ini, selebritas tak hanya dipertontonkan (baca: dijual) dalam acara atau program saja, tapi aktivitas kesehariannya, fesyennya, dan lain-lain juga menjadi lumbung profit bagi industri. Selebritas dikonstruksi sedemikian rupa agar tetap “dekat” dengan audiensnya.  

Tuntutan untuk menjaga fisik dan stamina seorang selebritas tak hanya dimaksudkan agar ia terus tampil maksimal di layar kaca, melainkan juga karena tubuhnya telah menjadi objek yang harus selalu dapat hadir dan dilihat. Ini adalah kata kunci untuk melihat bagaimana industri hiburan beroperasi. Dalam “Celebrity Capital: redefining celebrity using field theory”, Driessens, mengutip Krieken, mendefinisikan selebritas sebagai “pembadanan dari bentuk kapital yang lebih abstrak, yakni atensi/perhatian”. Dengan kata lain, kehadiran si selebritaslah faktor utama dari apa yang dibutuhkan industri hiburan. Maka, dari sisi industri hiburan, menjadi wajar ketika selebritas dituntut untuk terus maksimal, misalnya tak boleh terlihat lelah. 

Dengan demikian, bisa dipahami pula jika selebritas kian tertekan agar dapat terus menjaga penampilannya. Ketika seorang selebritas sudah tertekan, lalu menggunakan obat-obatan untuk mengatasinya, industri hiburan juga tak memfasilitasi rehabilitasi. Di Amerika Serikat, misalnya, selebritas pengguna obat-obatan harus merogoh kocek dalam-dalam untuk menempati tempat rehabilitasi, salah satu yang terkenal adalah Malibu Mansion.

Di Indonesia sendiri tak jauh berbeda. Selebritas yang ditangkap tak jarang justru dipenjara, demikian pula dengan mereka para pengguna yang bukan selebritas. Dan kita tahu, jeruji besi bukanlah solusi karena tak terbukti membuat jera, apalagi pengedar narkoba justru mengendalikan bisnisnya dari dalam sana.

Barangkali dari sini kita bisa ambil sepetik-dua petik hikmah ihwal apa yang terjadi dalam dunia industri hiburan dan bagaimana hal itu memiliki dampak yang tak kecil pada selebritas. Seperti kata- kata Nunung dalam wawancara itu, “Fisik saya terlalu lelah sebenarnya, saya mengkonsumsi itu agar tetap kuat bekerja. Saya masih ingin membahagiakan keluarga, menyekolahkan anak-cucu saya di tempat terbaik,” ujarnya. 

Nunung jelas bukan yang pertama atau yang terakhir. Selama industri hiburan tak juga mengubah cara kerjanya, ke depan bukan tak mungkin kita akan mendapati Nunung-Nunung lainnya. []

Bacaan Terkait
Arlandy Ghiffari

Mahasiswa yang suka beribadah di warung kopi sambil baca-baca .pdf gratis.

Populer
Di Balik Tren Tayangan Impor
Kompas dan FPI: Kisah Usang Yang Terus Berulang
Spotify dan Tantangan Kajian Media Digital
Problem Etika dalam Jurnalisme Daring
Amplop untuk Jurnalis