REMOTIVI/dibalikbalik
REMOTIVI/dibalikbalik
19/12/2018
Cerita Pakai Data, Bukan Asal Bicara
“Data” mulai sering digaungkan dalam dunia jurnalisme. Apa yang dimaksud dengan “jurnalisme data”, dan apa pengaruhnya pada praktik jurnalistik hari ini?
19/12/2018
Cerita Pakai Data, Bukan Asal Bicara
“Data” mulai sering digaungkan dalam dunia jurnalisme. Apa yang dimaksud dengan “jurnalisme data”, dan apa pengaruhnya pada praktik jurnalistik hari ini?

Ketika serangan bom di MH Thamrin, Jakarta, terjadi pada 2016 lalu, saya turun ke lapangan. Saya menjadi saksi bagaimana aparat dan tim menyerbu teroris setelah ledakan untuk media tempat saya bekerja dulu, CNNIndonesia.com. Dua tahun berselang, ketika peristiwa bom serupa terjadi di Surabaya, saya tak lagi ada di lokasi kejadian.

Tapi bukan berarti saya tidak melaporkannya.

Dengan bantuan tim kecil, saya mencari pola peristiwa teror di Indonesia sejak 1977 hingga 2018. Kami menganalisis data yang dihimpun Global Terrorism Databese milik Universitas Maryland, Amerika Serikat, yang dilengkapi dengan riset mandiri Beritagar.id. Rangkaian analisis atas statistik kejadian, jenis target, korban, hingga dugaan pelaku ini saya tuangkan dalam artikel data bertajuk “Lain Paham Beda Sasaran dalam Terror di Indonesia”.  

Model pelaporan dengan melibatkan analisis dari sekumpulan data (dataset) ini disebut dengan jurnalisme data. Menurut Phillip Meyer, proses dari pelaporan jurnalisme data melibatkan dua level: 1) menganalisis data dan memahami konteks cerita; 2) memvisualisasikan data dan temuan. Lebih jauh lagi, Alexander Howard mendetilkan pelaporan jurnalisme data dalam proses seperti mengumpulkan, membersihkan, menganalisis, memvisualisasikan, hingga mengolahnya menjadi sebuah karya jurnalistik. Ia menyebut praktik ini sebagai implementasi dari data science dalam ruang redaksi.

Sejarah Jurnalisme Data

Laporan jurnalistik dengan menggunakan data bukanlah hal baru. Simon Rogers (2011: 12), mantan jurnalis data the Guardian yang kini bergabung dengan Google, menyebut perawat Inggris Florence Nightingale juga sebagai jurnalis data. Nightingale, yang bertugas dalam perang Inggris di Krimea—dulu Uni Soviet, sekarang Ukraina—merilis data jumlah kematian tentara Inggris dalam perang itu pada 1858. Kalau mau ditelusuri lebih jauh, The Manchester Guardian mempublikasikan liputan pertama dengan data mengenai biaya sekolah dan jumlah siswa di Manchester dan Salford, Inggris pada 1821.

Pada 1970an muncul istilah “jurnalisme presisi” untuk menjelaskan proses pengumpulan data secara ilmiah menggunakan statistik. Data tersebut dianalisis dan dijadikan narasi dalam sebuah artikel berita (Gray, 2012:19). Pada 2000an, terminologi “jurnalisme data” mulai berkembang untuk merujuk proses liputan berita berdasarkan statistik. Data inilah yang kemudian disajikan ke audiens melalui beragam bentuk seperti infografik, gambar, teks, video, peta atau bentuk apa pun yang sesuai dengan narasi data.

Panjangnya sejarah penggunaan data dalam karya jurnalistik ini membuat sejumlah pakar menganggap tak ada kebaruan praktik dari “jurnalisme data”, kecuali dalam visualisasi. Meski demikian, sejumlah pakar lainnya tak sependapat. Liliana Bounegru, merangkum pendapat sejumlah pakar lain, menyebutkan bahwa perbedaan praktik jurnalisme data terletak pada bagaimana data tersebut menjadi inti cerita dalam karya jurnalistik.

Dulu, seperti dikutip dari Bounegru, data bukan jadi poin inti utama cerita. Data hanya menjadi pelengkap cerita. Model semacam ini banyak ditemukan di kanal harian Beritagar.id, misalnya seperti artikel “Hakim Lasito dan rekor hakim terjerat korupsi”. Artikel tersebut menampilkan grafik berapa banyak hakim dan penegak hukum lainnya yang pernah terjerat kasus korupsi di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Data jumlah hakim bukan jadi inti cerita, tapi hanya pelengkap dari cerita bahwa ada penangkapan tangkap tangan oleh KPK terhadap Hakim Lasito. Model seperti ini mirip dengan praktik yang dilakukan Nightingale dulu.

Sementara itu, praktik jurnalisme data yang kini berkembang, sudah melibatkan teknologi tertentu dalam proses analisis dan publikasi karya jurnalistik. Jenis seperti ini banyak bermunculan dalam kanal artikel Lokadata di Beritagar.id. Contoh lain yang melibatkan proses investigasi mendalam, misalnya seperti liputan “Panama Papers” dan “Paradise Papers”. Dalam sebuah wawancara pribadi dengan mantan Head of Data di The Guardian, Helena Bengtsson, pengolahan data “Panama Papers” membutuhkan penyimpanan dengan enkripsi khusus dan dalam kapasitas yang besar. Pengolahannya pun melibatkan tim yang tidak sedikit. Peliputan seperti ini, tidak mungkin bisa dilakukan tanpa perkembangan teknologi dan keterampilan dari wartawan yang meliput.

Praktik di Ruang Redaksi

Di Indonesia, penggunaan data dalam karya jurnalistik sudah dimulai oleh Majalah Prisma, Harian Kompas, dan Majalah Tempo puluhan tahun yang lalu. Tim penelitian dan pengembangan Harian Kompas, misalnya, mulai melakukan polling Pemilu pada 1970an. Hingga penulisan ini, baik Tempo maupun Kompas masih mempraktikkan hal tersebut dengan struktur organisasi yang sama: tim riset dan tim redaksi.

Sementara itu, praktik jurnalisme data awalnya tidak diadopsi oleh media-media daring di Indonesia. Jurnalisme data dianggap bertentangan dengan “ruh” jurnalisme daring yang mengedepankan kecepatan. Padahal, proses pengumpulan dan analisis data membutuhkan waktu yang lebih lama. Alhasil, keduanya pun bentrok.

Namun, pesimisme ini ditantang oleh media baru Katadata.co.id yang berdiri pada 2012. Katadata.co.id punya tim redaksi dan tim data. Tim redaksi murni melakukan reportase lapangan dan penulisan berita, sementara tim data mengolah data menjadi beragam bentuk, baik dalam grafik yang muncul di dalam narasi berita, atau dalam rubrik khusus seperti Analisis dan Bicara Data. Tim data tidak dituntut untuk mewawancarai narasumber dan melakukan proses reportase. Meski terpisah, keduanya kerap bekerja sama dan mengawinkan liputan lapangan dengan analisis data, seperti dalam laporan mengenai waduk Kedung Ombo. Lebih jauh, Katadata.co.id punya portal agregasi data, yakni Databoks, yang mengompilasi beragam data dari berbagai sumber dan menyajikannya dalam bentuk grafik interaktif.

Pada 2016, muncul Tirto.id, yang berbasis artikel dan infografik. Sebagaimana Katadata, Tirto.id juga memiliki struktur tim riset dan redaksi. Tim riset menganalisis dan menulis data keras untuk tayang di rubrik Periksa Data. Mereka juga mengembangkan riset mandiri, seperti laporan visual mengenai generasi Z yang dirilis pada akhir 2017. Sementara itu, tim redaksi Tirto.id fokus pada liputan lapangan dan mendapat suplai data dari tim riset.

Beritagar.id, yang berdiri pada 2015, menerapkan struktur organisasi yang sedikit berbeda. Selain memiliki tim data dan redaksi, Beritagar.id juga memiliki jurnalis data. Jurnalis data, menurut standar sekolah jurnalistik di Universitas Columbia, perlu terampil dalam mengambil data (scraping), analisis, hingga visualisasi. Selain itu, berbeda dari analis data atau anggota tim data lainnya, jurnalis data juga perlu menguasai reportase seperti mewawancarai narasumber atau menulis berita. Menukil Scott Klein dari ProPublica, jurnalis data mesti bisa mengartikulasikan data menjadi narasi. “Kamu bisa mewawancarai orang, dan kamu juga bisa ‘mewawancarai’ spreadsheets (alat analisis data).”

Selain ketiga media tersebut, penggunaan data mulai menjamur pada 2018, seperti yang dilakukan oleh Kumparan.com atau CNBCIndonesia.com. bahkan detik.com juga mulai menambahkan analisis data ke dalam liputan dan artikel berita mereka.

Jurnalisme Duduk Perkara

Jurnalis data melakukan apa yang disebut sebagai “jurnalisme duduk perkara” dengan berusaha melihat sesuatu secara kritis berbasiskan data. Jurnalis data bisa memulai kerja dari dua metode: peristiwa atau data itu sendiri. Analisis atas kecelakaan pesawat Lion Air PK-LQP yang dimuat Beritagar.id pada akhir Oktober 2018 lalu misalnya, dimulai dari peristiwa. Sementara laporan yang dimulai dari data itu sendiri bisa dilihat dari artikel soal permainan tradisional Indonesia yang mengedepankan kecerdasan otak, film hantu yang kalah populer di box office Indonesia sejak 1976, atau antrian jemaah haji Indonesia yang mencapai 3,8 juta orang hingga 2055.

Dalam artikel data, keberadaan data menjadi hidangan utama. Kepiawaian memaknai data dan mencari cerita jadi penting bagi wartawan. Jika wartawan gagal memahami konteks di balik angka keras, atau membingkai data secara bias, maka laporan tersebut berpotensi menyesatkan publik. Karena itulah validasi hasil temuan dengan para pakar menjadi penting.

Saat saya menulis artikel data terorisme yang disebutkan di awal tulisan ini, saya harus paham lanskap aktor dan target terorisme di Indonesia. Menjadi kewajiban saya untuk tak sekadar memberikan narasi deskriptif atas data statistik yang diolah, melainkan juga memberinya konteks isu, sehingga data bisa bercerita. Jika tak paham garis waktu perubahan kelompok militan di Indonesia, maka tak dapat melihat data dengan jeli.

Misalnya, jika melihat data terror sebagai totalitas, tanpa mengkategorikannya berdasarkan garis waktu, maka bisa disimpulkan bahwa masyarakat sipil adalah target utama terror berdasarkan jumlah kasusnya. Namun, jika dibagi pembagian waktu per-2007, maka akan terjadi cerita yang berbeda. Sebelum 2007, target teror paling banyak adalah tokoh agama, rumah ibadah, dan sipil, karena pihak-pihak itulah yang menjadi musuh utama kelompok militan yang berkuasa saat itu, Jamaah Islamiyah (JI). Setelah organisasi ini tumbang, mulai masuk paham ISIS dan muncul Jaringan Ansharut Daulah dan Jaringan Ansharut Tauhid. Keduanya menyasar polisi yang dianggap sebagai pembantu pemerintah kafir atau anshor thogut.  

Kejelian dalam mengenali asumsi umum dan membandingkannya dengan data juga menjadi liputan yang menarik. Misalnya, ketika saya menulis soal anggapan bahwa pesawat baru lebih aman daripada pesawat lama. Lewat ribuan data kecelakaan pesawat yang didapat dari Aviation Safety Network, ternyata anggapan ini meleset. Terdapat 501 kecelakaan pesawat komersial untuk penumpang sejak 1928 hingga 28 Oktober 2018 dengan usia terbilang muda, di bawah dua tahun, yang terjadi di seluruh dunia. Nyatanya, usia bukan jaminan kecelakaan, melainkan perawatan. Temuan ini pun didukung oleh pakar penerbangan.

Wartawan perlu jeli memahami data, sehingga tak asal bicara. Perlu kritis pula untuk membaca data menjadikannya sebuah cerita dengan argumen yang bisa dipertanggungjawabkan. Pada akhirnya, seperti dinyatakan Simon Rogers, yang terpenting dalam penulisan atau penyajian berita berbasis data adalah bagaimana sang wartawan bisa memahami konteks dan menginterpretasikan data tersebut (Gray, 2012; Radcliffe, 2013). Selanjutnya, apa pun medium yang digunakan untuk menarasikan cerita: teks, video, gambar, infografik, grafik interaktif, atau bentuk lainnya, tak akan jadi masalah.[]


Referensi

Beleaga, Teodora. (2013) ‘In a decade or less, could not all reporters be required to be data literate?’ in Data Journalism: Mapping the Future. Suffolk: Abramis Academic Publishing, hal. 26-34.

Bradshaw, Paul and Rohumaa, Liisa. (2011) The Online Journalism Handbook: Skills to Survive and Thrive in the Digital Age. Harlow: Pearson Education Limited.

Burns, Lynette Sheridan. (2003) Understanding Journalism. 2nd edn. London: Sage Publications.

Felle, Tom. (2013) ‘Old reporting new methods: How data journalism is keeping an eye on government.’ in Data Journalism: Mapping the Future. Suffolk: Abramis Academic Publishing, hal. 133-148.

Gray, Jonathan, et al. (Ed). (2012) The Data Journalism Handbook. 2nd edn. Sebastopol, CA: O’Reilly Media Inc. Tersedia di https://datajournalismhandbook.org/handbook/one (Diakses pada 17 Desember 2018).

Hurrel, Bella and Walton, John. (2013) ‘How does that affect me? Making data personally relevant for your audience.’ in Data Journalism: Mapping the Future. Suffolk: Abramis Academic Publishing, hal. 19-25.

Mair, John et al. (ed.) (2013) Data Journalism: Mapping the Future. Suffolk: Abramis academic publishing, hal. 15-18.

Meyer, Phillip. (2011). Precision Journalism and Narrative Journalism: Toward a Unified Field Theory. Teks adaptasi dari seminar kuliah di Austrian Academy of Science di Vienna. Tersedia di https://niemanreports.org/articles/precision-journalism-and-narrative-journalism-toward-a-unified-field-theory/ (Diakses pada 17 Desember 2018).

Pelham, Guy. (2009) ‘Multimedia Reporting in the Field.’ in The Future of Journalism [Online]. Tersedia di http://www.bbc.co.uk/blogs/theeditors/future_of_journalism.pdf (Diakses pada 2 August 2017).

Rogers, Simon. (2011) Facts are Sacred: The Power of Data.

Rogers, Simon. (2013) ‘Why data journalism is a new punk?’ in Data Journalism: Mapping the Future. Suffolk: Abramis Academic Publishing.


Pembaca yang baik, kami sedang menggalang dana untuk kelanjutan kerja Remotivi. Kami ingin bisa terus bekerja membantu publik lebih kritis terhadap media. Kalau Anda berpendapat bahwa kerja-kerja semacam ini diperlukan di Indonesia, dukunglah kami dengan berdonasi di #DukungRemotivi.

Bacaan Terkait
Aghnia Adzkia

Jurnalis data Beritagar.id dan pendiri komunitas jurnalis dan pegiat data Journocoders Indonesia yang baru saja merampungkan Master of Science in Digital journalism di Goldsmiths College, University of London. Sebelumnya, Aghnia magang di tim data the Guardian di London, Inggris dan menjadi wartawan CNNIndonesia.com.

Populer
Bagaimana Tribunnews Membantu Terorisme?
Kuasa Rating dan Tayangan Tak Bermutu
Stereotipe Perempuan dalam Media
Berbahasa dalam Sosial Media
Premanisme Adalah Musuh Kebebasan Pers