REMOTIVI/dibalikbalik
REMOTIVI/dibalikbalik
12/12/2018
Bolehkah Saya Menjumpai Difabel di Media dengan Layak?
Kelompok difabel masih merupakan kelompok yang terpinggirkan. Memperbaiki representasi media bisa jadi langkah penting untuk memperbaiki benang kusut ini.
12/12/2018
Bolehkah Saya Menjumpai Difabel di Media dengan Layak?
Kelompok difabel masih merupakan kelompok yang terpinggirkan. Memperbaiki representasi media bisa jadi langkah penting untuk memperbaiki benang kusut ini.

Perpustakaan adalah tempat yang saya kunjungi hampir saban hari ketika menempuh studi master di Lund, Swedia. Entah itu perpustakaan kota atau perpustakaan milik kampus, satu pengalaman yang kerap berulang adalah perjumpaan saya dengan penyandang disabilitas.[1]

Ada hari ketika saya duduk membaca buku di sebelah seseorang dengan kursi roda atau skuter medis elektrik. Ada hari di mana saya berpapasan dengan warga dengan gangguan penglihatan ketika hendak memasuki gedung perpustakaan. Di hari yang lain, di antara rak buku sebelum memasuki ruang baca, saya melewati seseorang dengan gangguan kesehatan mental bernyanyi-nyanyi di depan layar komputernya.

Dibanding pengalaman 30an tahun hidup di Jakarta, perjumpaan saya dengan warga difabel selama hidup di Swedia yang tidak sampai dua tahun ini menjadi begitu intens. Awalnya saya berpikir lugu: di kota saya tinggal, yang populasinya tidak sampai 100 ribu penduduk ini, berangkali jumlah warga difabelnya cukup tinggi, sehingga sering saya jumpai. Belakangan saya baru sadar: bukannya jumlah warga difabel yang lebih banyak, melainkan kota ini tidak menyembunyikan mereka; kota ini mengizinkan mereka hadir dalam keseharian hidup warga lainnya.

Sebaliknya di Jakarta, saya jarang menjumpai warga yang hidup dengan disabilitas. Sejak TK sampai kuliah, saya tak pernah memiliki satu teman pun yang difabel di lingkungan sekolah. Ruang perjumpaan saya dengan penyandang disabilitas hampir tak ada. Sekalinya ada, ruang perjumpaan itu hampir selalu monolitik: ketika difabel menjadi pengemis.

Saya rasa saya tidak memonopoli pengalaman ini. Ada jutaan warga Indonesia lain yang minim interaksi dengan penyandang difabel. Padahal, menurut PUSDATIN dari Kementerian Sosial, pada 2010 setidaknya ada 11 juta masyarakat Indonesia yang memiliki disabilitas. Perkiraan World Health Organization malah lebih tinggi lagi: 24 juta orang. Sekitar 10 persen dari populasi Indonesia. Pertanyaannya, di mana mereka?

Di Indonesia, struktur masih menghalangi warga difabel beraktivitas dengan leluasa dan mandiri. Itulah sebabnya ruang yang mempertemukan warga difabel dengan non-difabel menjadi hampir tidak ada. Maka, sementara ruang perjumpaan itu masih belum terfasilitasi, barangkali media massa-lah yang menjadi ruang perjumpaan dominan kita semua dengan penyandang disabilitas. Media telah menjadi jendela bagi kita untuk menjumpai yang lain. Ia memediasi perjumpaan yang tak terjadi.

Lantas, bagaimana media merepresentasikan penyandang disabilitas?

Representasi Difabel di Media Kita

Bicara soal representasi difabel di media—atau kelompok yang termarginalkan pada umumnya—dua masalah yang mengemuka adalah underrepresentation dan misrepresentation.

Representasi kehadiran difabel di media sangat sedikit (underrepresented) sehingga menjauhkan kita dari realitas kehidupan penyandang disabilitas. Dalam drama TV di Jepang, misalnya, karakter difabel hanya berjumlah 1,7% (Saito dan Ishiyama, 2005). Dari persentase yang sedikit itu, representasinya pun tidak beragam, karena kebanyakan anak muda. Modus representasi yang monolitik tentu menjauhkan kita dari kompleksitas dunia disabilitas yang lintas-usia, kelas, etnis, profesi, dan sebagainya.

Representasi difabel yang minim di media juga terjadi di negara-negara lain (Baca: Ross, 1997; Wilkinson dan McGill, 2009). Sayangnya, tidak ada data yang saya temui bicara tentang persentase representasi difabel di media Indonesia. Dan ini juga menggambarkan bahwa bukan cuma media yang minim perhatian pada isu difabel, tapi juga kalangan akademisi.[2]

Kemudian, selain representasi yang sedikit, representasinya pun kerap keliru (misrepresented). Ada penggambaran yang tidak tepat atau bahkan tidak adil pada penyandang disabilitas yang berdampak pada posisi sosial mereka (Zhang dan Haller, 2013) dan kebijakan publik terkait pemenuhan hak mereka.

Dalam studinya pada 1991, Paul Hunt mencatat ada 10 jenis stereotip yang digambarkan media terhadap difabel: the disabled person as pitiable or pathetic, an object of curiosity or violence, sinister or evil, the super cripple, as atmosphere, laughable, his/her own worst enemy, as a burden, as non-sexual, being unable to participate in daily life.

Saya merasa stereotip tersebut juga bisa dijumpai dalam media di Indonesia. Misalnya karakter pelawak Bolot yang menjadi objek tertawaan (laughable) atau beban sosial (burden). Atau karakter Cecep (diperankan Anjasmara) dalam “Wah Cantiknya” (SCTV, 2001) yang selain menjadi objek tertawaan (laughable), dikasihani (pitiable),dan dipandang aseksual. Dalam talkshow, selain kerap menjadi objek rasa penasaran (misalnya dalam “Hitam Putih”, Trans 7), penggambaran disabilitas paling dominan adalah sebagai objek inspirasi (misalnya dalam “Kick Andy”, Metro TV).

Mengenai yang terakhir, barangkali banyak orang yang merasa bahwa difabel yang inspiratif adalah cara penggambaran terbaik yang bisa dilakukan oleh media. Saya sendiri punya pendapat berbeda, karena dalam konteks itu penyandang disabilitas semata-mata hanya menjadi objek; objek inspirasi.

Dalam objektivikasi, seseorang atau sekelompok orang adalah semata bersifat instrumental. Ia semacam alat yang disposable seiring masa nilai gunanya. Mereka menjadi inspirasional semata karena mereka memiliki disabilitas tapi mereka tidak menyerah atau tetap bisa melakukan suatu pekerjaan layaknya orang non-difabel. Stella Young, seorang aktivis difabel dan pelawak tunggal, menyebut hal itu sebagai inspiration porn. Buatnya, menjadikan penyandang disabilitas melulu sebagai objek inspirasi telah mendehumanisasi karena dimensi hidupnya ditunggalkan. Sebab, mereka tidak hidup semata ditugaskan untuk menginspirasi orang.

Tentu orang bisa punya pendapat yang berbeda. Beberapa penyandang disabilitas menganggap itu tidak masalah. Seperti ketika beberapa hari lalu saya mampir dalam sebuah diskusi bertajuk “Minggu Bersama Difabel” dan menanyakan pendapat saya tadi. Ada penyandang disabilitas yang berpendapat bahwa penggambaran inspirasional tidak masalah. Tapi, ada juga yang mengatakan bahwa modus inspirasional yang telah diputar bertahun-tahun oleh media nyatanya tidak pernah berdampak pada kebijakan publik maupun posisi sosial mereka.

Disabilitas yang Menubuh

Satu paradigma dasar yang saya duga telah menyumbang pada kelirunya cara media merepresentasikan (isu) disabilitas adalah pandangan bahwa disabilitas itu menubuh. Pandangan ini menganggap bahwa ketidakmampuan atau keterbatasan (disabilitas) seseorang itu bersifat alamiah dan menempel pada diri individu. Keterbatasan tidak dilihat sebagai sebuah konstruksi sosial atau dampak dari sebuah lingkungan atau kebijakan yang tidak inklusif.

Padahal, gedung yang tidak ramah kursi rodalah yang membuat seseorang menjadi penyandang disabilitas; sekolah yang tidak mau menerima siswa dengan gangguan pendengaranlah yang membuat mereka menjadi difabel. Seseorang mengalami disabilitas karena lingkungannya. Kita semua bisa menjadi difabel ketika mal-mal tidak memiliki tangga dan membuat kita harus memanjat dinding untuk mencapai bioskop yang biasanya terletak di lantai atas. Disabilitas harus dilihat terpisah dari diri individu.

Pendapat saya, paradigma disabilitas yang menubuh inilah yang mendorong media berkubang dalam modus yang reduktif dalam merepresentasikan difabel. Karena disabilitas dilihat menempel dalam diri individu, maka individu difabel yang “berhasil” atau “tak menyerah” dianggap inspiratif. Penyederhanaan ini membuat kita luput menimbang struktur dan faktor-faktor yang sejak awal membuat kelompok difabel kesulitan mencapai keberhasilan tersebut. Alih-alih membantu kelompok difabel menagih hak-haknya sebagai warga negara, media lebih senang mengasihaninya, kalau-kalau tidak ditertawakan.

Kalau media bisa mengubah perhatiannya terhadap difabel dari pendekatan charity-based menjadi right-based, bukan tidak mungkin suatu hari nanti di sebelah tempat saya menyelesaikan tulisan ini, duduk seseorang pengguna kursi roda. []


Catatan Kaki

1. “Disabilitas” dan “difabel” adalah istilah yang digunakan untuk mereka yang hidup dengan keterbatasan fisik, mental, intelektual, dan sensorik. Penggunaan istilah mana yang diinginkan masih menjadi perdebatan. Kelompok pendukung istilah “difabel” berpendapat bahwa mereka tidak disabled atau “cacat”; mereka hanyalah manusia dengan kemampuan berbeda (dari kata “difable” yang berarti different ability). Sedangkan kelompok pendukung istilah “disabilitas” berpendapat bahwa istilah ini bertujuan untuk menekankan bahwa mereka memang disabled, dan disabilitas mereka disebabkan oleh lingkungan atau kebijakan yang tidak inklusif. Di dalam tulisan ini, saya memakai kedua istilah ini secara bergantian dengan intensi yang sama.

2. Studi mengenai disabilitas dan media dalam konteks Indonesia, misalnya bisa dilihat pada Antoni (2016) dan Nastiti (2013).


Daftar Pustaka

Antoni, Tsaputra. (2016). “Portrayals of People With Disabilities in Indonesian Newsprint Media (A Case Study On Three Indonesian Major Newspapers). Indonesian Journal Of Disability Studies (IJDS), 3(1), 1-11.

Nastiti, Aulia Dwi. (2017). “Identitas Kelompok Disabilitas dalam Media Komunitas Online: Studi Mengenai Pembentukan Pesan Identitas Disabilitas dalam Kartunet. com”. Jurnal Komunikasi Indonesia, 31-42.

Ross, Karen. (1997). "But where's me in it? Disability, broadcasting and the audience." Media, Culture & Society 19(4), 669-677.

Saito, Shinichi dan Ishiyama, Reiko. (2005). “The invisible minority: under-representation of people with disabilities in prime-time TV dramas in Japan”. Disability & Society, 20(4), 437-451.

Wilkinson, Penny dan McGill, Peter. (2009). "Representation of people with intellectual disabilities in a British newspaper in 1983 and 2001." Journal of Applied Research in Intellectual Disabilities, 22(1), 65-76.

Zhang, Lingling dan Haller, Beth. (2013). “Consuming Image: How Mass Media Impact the Identity of People with Disabilities”. Communication Quarterly, 61:3, 319-334.


Pembaca yang baik, kami sedang menggalang dana untuk kelanjutan kerja Remotivi. Kami ingin bisa terus bekerja membantu publik lebih kritis terhadap media. Kalau Anda berpendapat bahwa kerja-kerja semacam ini diperlukan di Indonesia, dukunglah kami dengan berdonasi di #DukungRemotivi.

Bacaan Terkait
Roy Thaniago
Roy Thaniago menulis dan meneliti hal seputar media, budaya, dan masyarakat. Ia mendirikan Remotivi pada 2010 dan menjadi direkturnya hingga 2015. Studi masternya diselesaikan di Lund University, Swedia, pada bidang Kajian Media dan Komunikasi. Di Jakarta, ia tinggal dengan Plato, seekor pug.
 
Populer
Selamat Datang di Era Post-Truth
Efek Plasebo Jiwa-Jiwa Cantik (Bagian I)
Simbiosis Media dan Terorisme
Jurnalisme Teror, Teror Jurnalisme
Kedangkalan Berpikir dalam Ruang Maya