REMOTIVI/dibalikbalik
REMOTIVI/dibalikbalik
21/11/2018
Memahami Selebritas Dalam Konflik Jerinx-Via Vallen
Jerinx mengkritik Via Vallen yang tidak menggunakan status selebritasnya untuk mendorong agenda progresif dari lagu yang ia bawakan. Namun, apa sesungguhnya makna dari "selebritas"?
21/11/2018
Memahami Selebritas Dalam Konflik Jerinx-Via Vallen
Jerinx mengkritik Via Vallen yang tidak menggunakan status selebritasnya untuk mendorong agenda progresif dari lagu yang ia bawakan. Namun, apa sesungguhnya makna dari "selebritas"?

Minggu kedua November, selesai keramaian mengenai soal penampilan Guns n’ Roses yang konon agak payah, kita kembali disuguhi kegaduhan dari dunia musik Indonesia. Jerinx, salah satu punggawa band Punk Superman Is Dead (SID), meradang. Ia memprotes Via Vallen, ikon dangdut koplo Indonesia, yang menurutnya bersalah telah merusak semangat lagu “Sunset Di Tanah Anarki” (SDTA). Via Vallen telah meminta maaf juga menjawab protes Jerinx sembari memprotes balik ucapan kasar Jerinx di media sosial.

Media dan publik bereaksi pula. Ada yang lari mempersoalkan “komersialisasi” lagu. Anji, salah seorang musisi Indonesia, turut mempersoalkan aspek ini. Gagasan ini juga diikuti pula oleh Tompi dan Glenn Fredly. Ada yang kemudian juga menyorot hal lain—yang saya lihat justru menjadi pokok dari marahnya Jerinx; apakah sah Via Vallen meng-koplo-kan lagu “STDA” yang menurut Jerinx sangat personal dan dipersembahkan untuk Gerakan Melawan Lupa? Aloysius Bram adalah salah satu yang mengarahkan gagasannya pada masalah ini.

Argumen yang dibuat Aloysius Bram menarik. Untuk masalah ini, ia, dengan menelisik sejarah dangdut koplo sebagai perlawanan, menganggap bahwa apa yang dilakukan Via Vallen adalah “perlawanan” itu sendiri. Tidak jauh dari perlawanan yang dilakukan Jerinx melalui SID. Hanya saja, Via Vallen menempuhnya dengan cara yang berbeda. Lalu, buat apa Jerinx marah-marah? Demikian barangkali pertanyaan Aloysius.

Tulisan ini tidak ingin menyelesaikan masalah. Tujuan tulisan ini adalah sebuah upaya untuk memperluas kasus ini dengan topik yang jarang disentuh (dan jarang diselamatkan) aktivis media/komunikasi Indonesia yakni budaya selebritas (celebrity) atau stardom (ke-bintang-an).

Apa itu selebritas?

Via Vallen dan Dangdut Koplo memang telah menjadi dua hal yang agak sulit dipisahkan. Dangdut Koplo boleh saja dimaknai sebagai genre music perlawanan, namun sosok Via Vallen adalah hal lain. Via Vallen, juga Jerinx sendiri, adalah produk media yang kita definisikan sebagai “selebritas” atau “public figure” (istilah generik, kalau bukan nyeleneh, yang sering ada dalam tayangan televisi kita dan media umumnya).

Oleh karena itu pula, Via Vallen sebagai selebritas harus kita pisahkan dari entitas Dangdut Koplo, genre music perlawanan “orang-orang yang dikalahkan” dalam industri musik. Jika tidak, kita akan terjebak menjadikan Dangdut Koplo hanya sebagai dramatisasi perjuangan orang-orang kere nan mengharukan sebagaimana acara “Kick Andy”.

Ada satu hal yang menarik dari teks Jerinx ketika ia marah-marah pada Via Vallen:

“…kekesalan ini muncul setelah melihat transformasi seorang VV. Di mana posisinya saat ini, VV harusnya sudah belajar jadi manusia, jangan bisanya hanya mengambil saja. Selama ini nyanyi SDTA ribuan kali, lirik lagu kami ga ada artinya bagi dia? Setelah sukses, apa yg kamu bisa lakukan utk mengapresiasi karya yg membawamu ke tempat yg lebih baik? Dengan followers berjuta, minimal berkontribusilah utk gerakan melawan lupa, atau pelurusan sejarah 65, perjuangan Kendeng, dll, ada banyak sekali hal yg bisa VV lakukan tanpa harus keluar duit”.

Teks Jerinx, dengan frase seperti, “transformasi seseorang VV”, “setelah sukses…”, “dengan followers berjuta”, terang membuat kita layak berpikir soal selebritas. Status selebritas yang kini melekat pada Via Vallen itulah yang sedang dipermasalahkan Jerinx, dan menurut saya, tidak boleh hilang dari diskusi kasus ini.

Apakah Via Vallen adalah bintang atau selebritas? Tentu saja. Sekarang ia tidak hanya manggung untuk dangdut Koplo dengan segmen terbatas. Ia bahkan telah menjelma menjadi objek dari institusi yang punya andil besar dalam “menciptakan” selebritas di media: acara gosip. Kita tentu masih ingat ketika ia digosipkan ketakutan ketika dilamar oleh seorang pengusaha atau ketika ia menerima pelecehan seksual. Lebih jauh lagi, Via Vallen juga didapuk menyanyikan lagu resmi Asian Games, sebuah perhelatan dibanggakan bangsa ini.

Status bintang atau selebritas bukanlah “pencapaian” seseorang. Status ini, apapun perspektif yang digunakan, adalah konstruksi dari media (Rojek, Chris. 2004). “Tanpa media, para selebritas tidak akan menjadi selebritas, mereka hanyalah individu yang sukses, dikenal, atau kondang,” demikian tulis Larry Z Leslie (2011). Ruth Penfold-Mounce (2009) bahkan menyatakan bahwa status selebritas kini tak lagi berhubungan dengan bakat atau kepiawaian, melainkan dengan kehadiran/penampilan (presence).

Selebritas, dalam studi media, kadang dianggap sebagai produk atau teks/isi media. Ia seperti isu yang menjadi jualan media. Selebritas di media tidak lagi jadi “seorang pribadi”, melainkan juga “sebuah identitas yang dimediasi”; persona yang diproduksi dan menyebar melalui bentuk-bentuk pertunjukan yang sangat bergantung pada media (Marshal, 2015). Via Vallen menjadi selebritas mula-mula karena ia adalah “konten YouTube”. Dengan cara yang berbeda, Irfan Darajat pernah menuliskan hal ini di Remotivi 2016 lalu.

Potensi Bintang di Era Tontonan

Budaya selebritas, menurut Penfold-Mounce, lahir karena menurunnya penghargaan pada “kehebatan” (greatness), sesuatu yang laik kita akui dan hormati. Kehebatan, oleh karenanya adalah elemen fundamental sehingga seseorang menjadi terkenal sebelum era media. Media modern, menurut Penfold-Mounce, telah mengubah dan mengurangi nilai dari “kehebatan” ini menjadi “asal terkenal” atau “dikenali orang”.

Dari sana kita mengenal istilah “famous for being famous”, terkenal karena terkenal. Menjadi terkenal, di era tontonan, tidak perlu dekat dengan kekuasaan, cerdas, berbakat, atau menunjukkan keberanian luar biasa. Anda hanya perlu menjadi tontonan yang baik, seperti Vicky Prasetyo ataupun Awkarin. Apa hebatnya Rosa Meldianti, kecuali ia terus-terusan tampil di media dengan konflik yang konyol dengan bibinya sendiri, Dewi Perssik yang sudah kadung popular?

Lebih jauh, Penfold-Mounce mengatakan bahwa apa yang ada dalam budaya selebritas adalah perayaan kesalahan-kesalahan, dan bahkan perayaan kriminalitas. Mark David Chapman, pembunuh John Lennon, berucap “Kukira dengan membunuh Lennon, aku akan memperoleh ketenarannya… Aku bukan siapa-siapa sampai aku membunuh orang besar di bumi ini” (Penfold-Mounce, 2009). Apa yang dilakukan Meldi, juga Young Lex yang mengunggah foto babak belur, barangkali dapat disandingkan Chapman. Mereka meraih presence di media dengan merayakan kekonyolan.

Ironisnya, konflik yang terjadi antara Jerinx dan Via Vallen ini juga direduksi menjadi perayaan kekonyolan yang biasa dalam budaya selebritas. Mungkin cara dan arogansi Jerinx dalam menyampaikan kritiknya mendistraksi kita, yang akhirnya memandang peristiwa ini seperti tontonan “konflik selebritas” biasa.

Cara pandang ini bisa merugikan publik. Pierre Bourdieu, Sosiolog Prancis yang terkenal itu, pernah mengeluh ketika selebritas medialah yang menuntun cara berpikir publik (Rojek, 2004). “Pembaca berita kita, host telewicara dan acara olahraga, selalu memberitahu kita apa yang ‘harus kita pikirkan’ mengenai apa yang mereka katakan sebagai ‘masalah-masalah sosial’…”  

Sayangnya, itulah realitas kita saat ini. Tepat di sinilah kemarahan Jerinx juga perlu mendapat perhatian. Ia menginginkan Via Vallen, dengan kuasa selebritasnya, bersuara mengenai “masalah sosial”. Diakui atau tidak, tak banyak aktivis media di Indonesia yang berseru soal ini. Entah karena putus asa dengan selebritas, atau menganggap selebritas hanyalah fenomena media yang sama sekali tidak penting. Padahal, kita tidak boleh menyerahkan peran selebritas hanya pada media yang terus mengkonstruknya sebagai “konten” atau “objek” yang sesuai kepentingannya. Mengatur fungsi selebritas bukan hanya hak Fenny Rose dan program tayangan gosip.

Institusi media adalah instrumen hegemoni kuasa di mana aktor-aktor di dalamnya, dapat menjadi alat kuasa atau sebaliknya; melawannya. Kita bisa lihat bagaimana suara selebritas di era ini berhasil menghadirkan narasi-narasi penting dalam diskursus populer. Childish Gambino, misalnya, berhasil melakukan hal yang nampaknya mustahil dilakukan LSM atau aktivis biasa: membawa swa-kritik terhadap “ke-bintang-an” kulit hitam menjadi viral dalam perbincangan budaya pop.

Masalah di media-media Indonesia semestinya tidak hanya pada dibebankan pada jurnalis tetapi juga selebritas. Selebritas adalah produk media yang seringkali lebih dipercaya dan dicinta orang ketimbang institusi media. Mungkin Anda merasa bahwa logika “selebritas”, yang hanya berkiblat pada “kualitas tontonan” dalam azas famous for being famous, bermasalah. Namun, kita tidak bisa memungkiri bahwa ada individu-individu yang berhasil menunggangi logika ini untuk mengatakan apa yang perlu dikatakan.

Tentu, bukan kewajiban Via Vallen untuk khatam Kekerasan Budaya Pasca-1965 dan terlibat dalam aktivisme. Tapi, daripada memaki dan saling nyinyir, akan lebih produktif seandainya mereka yang peduli mencoba melibatkan potensi selebritas dalam penyadaran publik. Barangkali, hanya untuk alasan naif itu, saya terpaksa turut menuliskan kasus ini, turut serta dalam perayaan kekonyolan. []


Daftar Pustaka

Leslie, Larry Z. 2011. Celebrity in 21st Century. California-Colorado-Oxford. ABC CLIO

Marshal, P David. 2016. The Genealogy of Celebrity dalam P David Marshal & Sean Redmond (ed) Companion to Celebrity. Wiley Blackwell. hal 15-19

Penfold-Mounce R. 2009. Celebrity, Fame and Culture. In: Celebrity Culture and Crime. Cultural Criminology. Palgrave Macmillan, London. https://doi.org/10.1057/9780230248304_2

Rojek, Chris. 2004. Celebrity. London, Reaktionbooks


Pembaca yang baik, kami sedang menggalang dana untuk kelanjutan kerja Remotivi. Kami ingin bisa terus bekerja membantu publik lebih kritis terhadap media. Kalau Anda berpendapat bahwa kerja-kerja semacam ini diperlukan di Indonesia, dukunglah kami dengan berdonasi di #DukungRemotivi.

 

Bacaan Terkait
Holy Rafika D

Mengajar di Program Studi Komunikasi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Berminat pada kajian komunikasi geografi, kolonialisme, dan studi media pada umumnya.

Populer
Demokratisasi Media Melalui Jurnalisme Warga
Jurnalisme Bencana: Tugas Suci, Praktik Cemar
Media Cetak yang Berhenti Terbit Tahun 2015
Ketika Berita Palsu Menjadi Industri
Hierarki Pengaruh dalam Mediasi Pesan