REMOTIVI/dibalikbalik
REMOTIVI/dibalikbalik
15/11/2018
Logika Zalim di Balik Tayangan Azab
Dari abang-abang tahu bulat sampai panitia kurban, semua kena azab. Kapan giliran pemilik media yang menzolimi pekerjanya?
15/11/2018
Logika Zalim di Balik Tayangan Azab
Dari abang-abang tahu bulat sampai panitia kurban, semua kena azab. Kapan giliran pemilik media yang menzolimi pekerjanya?

Jika Korea Selatan punya Seoul Rage Room, tempat orang melampiaskan kemarahan dengan merusak barang, maka televisi Indonesia punya FTV “Azab” (Indosiar) dan “Dzolim” (MNCTV). Fungsinya sama: sarana pelampiasan amarah atas ketidakadilan sehari-hari. Bedanya, orang Indonesia tidak harus membayar 20 ribu hingga 150 ribu won (Rp240.000 - Rp1.700.00). Kita hanya perlu menyalakan televisi.

Dua judul FTV ini menawarkan suatu katarsis atas dunia yang penuh ketidakadilan ini; bahwa setiap tindakan bejat akan menemui karmanya (Baca: Azab, Bencana, dan Hasrat akan Dunia yang Adil). Apa yang lebih melegakan dari pada koruptor yang menerima azab dengan mayat dipenuhi tikus ketika mati? Sementara panitia kurban yang culas pada akhirnya akan mati diseruduk domba?

FTV semacam ini mengajarkan kita untuk mengelus-elus dada ketika ketidakadilan terjadi, dengan keyakinan bahwa di suatu saat, suatu tempat, orang “jahat” itu akan kena azab. Dan ketika orang itu ketiban sial, kita tinggal berkomentar ala anak Jakarta Selatan: “karma is a bitch”.

Tapi saya tidak akan menulis soal hal-hal konyol dari dua FTV ini. Saya akan lebih membahas soal paradigma yang bersembunyi di balik narasi “Azab” dan “Dzolim”, serta kenapa preskripsi moral yang ditawarkan FTV semacam ini berbahaya bagi kewarasan kita.

Moral Sebagai Penggerak Cerita

Alkisah, hiduplah Wahyu, seorang bapak beranak satu. Wahyu adalah orang miskin yang hidup dalam rumah kontrakan. Satu-satunya kendaraan yang ia miliki adalah motor yang cicilannya belum lunas. Karena Wahyu menganggur, ia tidak mampu membayar kontrakan rumah dan cicilan motor. Di tengah himpitan finansial, Wahyu mendapat kesempatan untuk menjadi panitia kurban, ia jadikan peluang ini untuk mendulang untung pribadi. Uang yang dikumpulkan warga untuk membeli hewan kurban ia korupsi untuk membiayai kontrakan rumah dan cicilan motor. Akhir cerita, Wahyu tewas diseruduk domba saat panitia masjid mengejarnya untuk meminta pertanggungjawaban. Selanjutnya, dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal, Wahyu dikuburkan di kandang kambing.

Kisah ini berasal dari salah satu episode “Azab” yang berjudul, “Penyalur Daging Kambing Culas Terpaksa di Makamkan di Tanah Kandang Kambing”. Formula yang sama juga ditemui dalam FTV “Zalim” bertajuk “Mandor Kejam! Jenazah Terkubur Cor Coran dan Tertimpa Meteor”, atau episode lain, “Juragan Tahu Bulat Mati Digoreng Dadakan dan Dikubur Hangat-hangat”. Cukup membaca judulnya saja, Anda sudah tahu garis besar dua cerita di atas.

Dalam dunia sastra, formula ini dikenal sebagai “keadilan puitis” (poetic justice). “Keadilan puitis” adalah bentuk idealisasi keadilan yang meyakini setiap perilaku baik dan buruk akan mendapat ganjaran yang setimpal. Dalam plot cerita, ganjaran ini biasanya berlaku dalam sebuah plot yang berbalik, orang baik awalnya tertindas, pada akhir cerita akan menang, sementara orang jahat yang awalnya berkuasa, akhirnya kalah di akhir cerita. Formula ini seringkali dibumbui dengan kejutan yang ironis; misalnya koruptor, yang sering disimbolkan sebagai tikus, mati membusuk dan dikerubungi tikus.

Supremasi moral adalah inti dari struktur narasi yang bersandarkan pada keadilan puitis. Moralitas diposisikan sebagai sumber sekaligus obat bagi berbagai persoalan di dunia. Mulai dari anak durhaka pada orang tua, sampai masalah korupsi, semua adalah masalah moral yang rusak. Karakter-karakter dalam “Azab” dan “Zolim” pun dengan mudah bisa dibagi menjadi dua: punya atau tidak punya moral.

Kisah Wahyu tadi misalnya. Ia digambarkan sebagai seseorang yang culas dan hanya mementingkan diri sendiri. Semua tindakannya hanya didasari oleh keinginan untuk lepas dari kemiskinan. Wahyu bersedia menghalalkan segala cara untuk menjadi orang kaya. Termasuk korupsi dana kurban. Anehnya, tidak ada penjelasan yang memadai mengapa sikap-sikap tersebut melekat pada diri Wahyu. Secara sosiologis, kita tahu bahwa seseorang tidak mungkin terlahir culas—pasti ada konteks sosial yang melatarinya.

Menariknya, kampung tempat Wahyu hidup dipenuhi dengan warga yang super baik—kecuali Wahyu. Anak Wahyu sendiri bahkan digambarkan sebagai perempuan solehah dan kerap menasehati Wahyu agar kembali ke “jalan yang benar”. Dalam narasi ini, Wahyu adalah setitik noda yang mengotori kain putih dan bersih. Karenanya, ia terasa asing. Anomali. Sialnya, tak ada penjelasan yang bisa membantu penonton memahami mengapa karakter Wahyu bisa muncul di tengah masyarakat yang demikian bermoral. Tak ada sejarah di sana. Seolah Wahyu sudah culas sejak dalam kandungan. Wahyu dihadirkan hanya untuk memberi pelajaran moral bagi penontonnya.

Dengan menempatkan moral sebagai penggerak narasi utama dan satu-satunya, kedua FTV ini juga mengajarkan kita untuk mengabaikan persoalan di luar moral. Tayangan semacam ini  tidak bisa melihat korupsi sebagai masalah absennya transparansi atau sistem pengawasan yang bisa meredam penyelewengan, melainkan adanya orang-orang yang tidak bermoral. Karakter dilepaskan dari konteks sosialnya. Perilaku korupsi Wahyu tidak dihubungkan dengan kondisi kemiskinan yang melingkupinya.

Sebagaimana sinetron religi pada umumnya FTV “Azab” dan “Dzolim” adalah ceramah yang membosankan. Tidak ada ketegangan. Tak ada kompleksitas yang diketengahkan. Semua tampak jelas, yang hitam adalah hitam dan yang putih adalah putih.

Jadilah Orang Miskin yang Bermoral

Dalam sebuah wawancara dengan Kumparan.com, penulis naskah “Dzolim” Henny Puspita dan Nazaruddin Thamrin mengaku membayangkan penonton kelas B C D dan E ketika berkarya. Artinya, mereka menulis untuk masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Karenanya, naskah-naskah “Dzolim” berusaha “menyamakan pola pikir dengan penontonnya”.

Apa yang dimaksud dengan “menyamakan pola pikir”?  Henny dan Nazaruddin menjawabnya dengan, “mengangkat kisah mengenai orang-orang menenangah ke bawah”. inilah mengapa profesi-profesi yang dipilih dalam penceritaan pun profesi menengah ke bawah. Dari 194 episode FTV “Azab” dan “Dzolim”, pedagang dan pengangguran adalah orang yang paling banyak kena azab. Pedagang yang dikisahkan pun pedagang kecil, seperti penjual tahu bulat, tukang ikan, atau pedagang pasar.

Artinya, ada anggapan bahwa cara pikir moralis yang abai pada struktur adalah pola pikir masyarakat miskin. Cara pikir ini umum kita temukan pada pekerja televisi. Dalam tulisannya, Roy Thaniago menceritakan pengalamannya mengikuti sebuah diskusi mengenai rating yang digelar oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Diskusi yang dihadiri oleh para pekerja televisi tersebut menyimpulkan bahwa, “selera pekerja rumah tangga (mereka pakai istilah “pembantu”) membentuk wajah televisi kita hari ini”.

Namun bagi saya, apa yang dianggap sebagai “pola pikir orang miskin” oleh kebanyakan pekerja televisi, adalah pola pikir pekerja televisi dalam memandang orang miskin. Ien Ang, menyatakan bahwa, “Lembaga-lembaga yang merencakan, memproduksi, dan menyiarkan  pesan-pesan televisi dan lembaga-lembaga yang membentuk dan mengatur arusnya bekerja dengan suatu konsepsi mengenai ‘massa yang tak kelihatan’ pemirsa televisi…” (Ang, dalam Kitley, 2001, hal: 77).

Bagi Ang, kategorisasi kepermirsaan berserta segala atributnya, yang diproyeksikan oleh stasiun televisi dan lembaga rating seperti AC Nielsen, bukanlah refleksi atas kenyataan sesungguhnya. Sebaliknya, proyeksi tersebut adalah hasil konstruksi atas apa yang dianggap sebagai penonton. Sebuah kategori yang dibangun atas hasil abstraksi statistik yang kemudian dilabeli “selera penonton”. Penyusunan kategori tersebut tidak pernah mempertimbangkan perspektif publik. Satu-satunya aspirasi dari varibel-varibel perhitungan rating dan share adalah hasrat ekonomi media, perusahaan periklanan, dan lembaga rating itu sendiri.

Dalam kata lain, klaim bahwa sinetron seperti “Azab” juga “Dzolim” sebagai representasi dari selera orang miskin adalah klaim yang lemah. Apalagi, kalau kita pertimbangkan bahwa tontonan semacam ini adalah satu-satunya pilihan yang memenuhi layar kaca kita hari ini, kita bisa dengan mudah membantah. Tayangan-tayangan ini populer bukan karena selera orang miskin, melainkan karena tak ada pilihan hiburan yang lain. Bagaimana mungkin kita menuntut tumbuhnya selera publik akan tayangan berkualitas bila televisi membombardir publik dengan konten “sampah” secara terus menerus?

Karenanya, bagi saya klaim ini hanya menunjukkan arogansi pekerja televisi. Hasratnya adalah “menyalahkan” warga kelas bawah sebagai “orang-orang dengan selera rendah”, yang membuat mereka terpaksa memproduksi konten murahan. Argumen ini tidak lebih dari apologi, kambing hitam atas buruknya selera dan kemampuan industri televisi itu sendiri. []


Daftar Pustaka

Kitley, philip. 2001. Konstruksi Budaya Bangsa di Televisi. Jakarta: Institut Studi Arus Informasi.


Pembaca yang baik, kami sedang menggalang dana untuk kelanjutan kerja Remotivi. Kami ingin bisa terus bekerja membantu publik lebih kritis terhadap media. Kalau Anda berpendapat bahwa kerja-kerja semacam ini diperlukan di Indonesia, dukunglah kami dengan berdonasi di #DukungRemotivi.

Bacaan Terkait
Muhamad Heychael

Sejak 2011, Muhamad Heychael aktif menulis dan meneliti media di Indonesia bersama Remotivi. Ia juga mengajar kajian media di Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Multimedia Nusantara (UMN).  Minat utamanya dalam kajian media adalah "Representasi Islam" dan "studi jurnalisme".  Anda bisa menyapanya di Facebook dan Instagram untuk diskusi soal kajian media atau sekedar mengajaknya ngopi dan main catur.

Populer
Demokratisasi Media Melalui Jurnalisme Warga
Jurnalisme Bencana: Tugas Suci, Praktik Cemar
Media Cetak yang Berhenti Terbit Tahun 2015
Ketika Berita Palsu Menjadi Industri
Hierarki Pengaruh dalam Mediasi Pesan