REMOTIVI/dibalikbalik
REMOTIVI/dibalikbalik
10/11/2018
Kenapa WhatsApp Menjadi Lahan Subur Bagi Hoaks?
Lagi-lagi WhatsApp menjadi kanal viralnya sebuah berita palsu; kali ini tentang isu penculikan. Kenapa kanal pesan singkat ini begitu sering menyemai hoaks?
10/11/2018
Kenapa WhatsApp Menjadi Lahan Subur Bagi Hoaks?
Lagi-lagi WhatsApp menjadi kanal viralnya sebuah berita palsu; kali ini tentang isu penculikan. Kenapa kanal pesan singkat ini begitu sering menyemai hoaks?

Malang benar nasib AK, pria berusia 40 tahun. Ia dihakimi warga saat sedang berjalan-jalan di dekat sebuah taman kanak-kanak sambil menggendong kucing di Cilodong, Depok. Gelagatnya dianggap mencurigakan, sehingga ia ditangkap dan dihajar warga karena disangka penculik. Belakangan, ia terindikasi mengalami gangguan jiwa.

Kenapa masyarakat menjadi begitu paranoid?

Kejadian ini dipicu oleh kepanikan yang dibakar oleh berbagai pesan viral di WhatsApp tentang penculikan anak. Pesan ini hadir dalam berbagai variasi narasi, beberapa di antaranya memiliki nada konspirasi. Logo Kepolisian—yang tentunya sangat mudah dimanipulasi secara digital—juga kerap terpasang untuk memberi kesan “resmi” dan otoritatif.

Beberapa pesan itu disertai foto brutal mayat anak-anak yang dikisahkan sebagai korban penculikan dan pencurian organ. Foto-foto ini ternyata diambil dari korban kasus pembunuhan, pencurian, dan kecelakaan yang tidak berhubungan, sementara kisah penculikan yang menyertainya adalah fabrikasi.

Contoh pesan hoaks viral di WhatsApp

Contoh pesan hoaks viral di WhatsApp

Peristiwa serupa sempat terjadi di India beberapa bulan yang lalu. Sebuah video layanan masyarakat dari Pakistan, yang ditujukan untuk mendidik masyarakat tentang bahaya penculikan, disunting dan dikisahkan ulang sebagai insiden penculikan nyata, dan viral melalui WhatsApp. Setidaknya 20 orang tewas dihakimi massa akibat pesan hoaks tentang ancaman penculikan ini. Para korban yang dicurigai penculik ini ternyata hanyalah orang-orang biasa yang tengah berhenti untuk menanyakan jalan atau sekadar menyapa anak-anak.

Bukan hanya hoaks kriminalitas yang subur di WhatsApp. Pada 2018, WhatsApp juga menimbulkan kontroversi sebagai lahan subur tersebarnya berbagai hoaks dan berita palsu dalam pemilihan presiden Brazil. Keluhan ini sangat familiar bagi kita menjelang tahun politik 2019.

Survei Kementerian Komunikasi dan Informatika menunjukkan bahwa 84,76% masyarakat Indonesia mengandalkan WhatsApp untuk komunikasi sehari-hari. Namun kanal WhatsApp tampaknya begitu rawan dieksploitasi dalam penyebaran informasi-informasi menyesatkan. Pihak WhatsApp sendiri mengakui bahwa aplikasi mereka didesain untuk komunikasi privat, bukan untuk persebaran konten viral seperti Facebook atau Twitter. Mereka pun bingung, mengapa aplikasi mereka justru menjadi lahan subur bagi persebaran hoaks?

Antara Sumber dan Penyebar

“Lihatlah apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan.”

- Ali bin Abi Thalib

Pada era serba digital ini, media sosial menjadi sumber penting bagi masyarakat dalam mencari informasi. Orang-orang tidak lagi mengandalkan wartawan profesional sebagai sumber informasi; mereka kini lebih sering mendapatkan informasi dari sesama: keluarga, rekan kerja, atau teman sepergaulan. Konten jurnalistik tradisional seperti televisi atau portal berita memang masih memegang peranan, namun ia kerap diolah dalam bentuk “jarkom” (jaringan komunikasi) melalui kontak personal.

Dalam kondisi yang relatif baru ini, American Press Institute (API) ingin menjawab sebuah pertanyaan: apakah otoritas sumber informasi masih memiliki peran penting?

Dalam survei API, mayoritas pengguna media di Amerika Serikat masih mengaku bahwa sumber (source) berita lebih penting bagi mereka dibandingkan dengan identitas penyebar (sharer) berita. Namun, penelitian eksperimental API yang lebih dalam justru menunjukkan hasil yang berbeda.

Pada praktiknya, di media sosial, khalayak menunjukkan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi pada berita yang disebarkan oleh orang yang ia percaya, daripada berita dengan sumber yang kredibel. Para partisipan bahkan seringkali tidak menyadari betapa pentingnya identitas penyebar informasi bagi diri mereka sendiri.

Singkatnya, dalam mencerna informasi di media sosial, orang lebih melihat siapa yang membagikan informasi daripada dari mana ia mendapat informasi. Temuan ini menunjukkan satu kondisi: “kebenaran” di media sosial kini cenderung bersifat relasional, tergantung siapa yang menyampaikannya.

Ekosistem privat dan tertutup WhatsApp ini mendorong penggunanya untuk semakin tidak mempedulikan kredibilitas dari sumber informasi dan semakin bersandar pada penyebar informasi.

Sebagaimana dalam media sosial, pesan hoaks yang viral di WhatsApp seringkali berbentuk teks atau gambar yang menyebar dari satu pengguna ke pengguna lain. Pesan-pesan ini tidak memiliki sumber jelas—atau, dalam berbagai kasus, mencatut nama sumber “resmi” atau kredibel. Dengan demikian, satu-satunya penjamin kesahihan informasi adalah kepercayaan pada si pengirim pesan.

Berbeda dari media sosial seperti Facebook atau Twitter yang merupakan jaringan sosial yang relatif terbuka, persebaran konten di WhatsApp lebih tertutup. Dalam rantai persebaran “jarkom” dan “forward-an” WhatsApp, situasi bisa dengan cepat menjadi runyam. Sangat sulit untuk melacak sumber dari hoaks viral di WhatsApp, terlebih dengan komitmen perusahaan tersebut dalam menjaga privasi penggunanya. Dengan demikian, WhatsApp menjadi tempat yang “lebih aman” bagi penyebar hoaks. Ditambah lagi, siapa pun bisa menambahkan narasi atau menyunting gambar dan video dari hoaks yang sudah terlebih dahulu viral di WhatsApp.

Selain itu, sifat komunikasi WhatsApp yang personal dan tertutup juga mempersulit intervensi. Ekosistem media sosial yang relatif lebih terbuka memungkinkan adanya intervensi dari pengguna lain pada unggahan konten hoaks—misalnya dengan berkomentar dan memberi tahu bahwa konten tersebut adalah hoaks. Hal ini lebih sulit dicapai dalam ekosistem tertutup WhatsApp, yang berupa komunikasi privat antar dua pengguna, atau dalam grup kecil yang tertutup dan seringkali homogen.

Membangun literasi?

Setelah hebohnya berbagai kasus penghakiman massa, barulah pemerintah India menekan WhatsApp untuk melakukan pertanggungjawaban. Pemerintah India bahkan mendesak WhatsApp untuk membuka akses pemerintah untuk memantau isi perbincangan masyarakat untuk melacak alur persebaran berita palsu.

Solusi tersebut tentu sangat bermasalah. WhatsApp menolak tuntutan pemerintah tersebut, dan menyatakan bahwa mereka berniat untuk berfokus pada pendidikan literasi pengguna.  Mereka iklan satu halaman penuh di Koran-koran India, yang berisi panduan mengidentifikasi hoaks dan berita palsu, serta membuka hibah penelitian bagi akademisi yang ingin mempelajari isu misinformasi.

Selain itu, WhatsApp juga menyadari permasahan distingsi antara “penyebar berita” dan “sumber berita”. Salah satu upaya mereka adalah dengan melabeli pesan yang di-forward. Mungkin fitur ini tampak sederhana, namun ia adalah sebuah ikhtiar untuk membantu pengguna memilah antara pesan personal dan pesan viral.

Mungkin upaya WhatsApp ini telah berada di arah yang benar, namun hasil konkrit belum tampak. Hal ini barangkali berhubungan erat dengan kondisi adopsi media digital dalam masyarakat Indonesia.

Dengan perkembangan teknologi digital, peredaran informasi tak lagi dimonopoli media; semua orang yang memiliki akses pada internet pun bisa menjadi produsen informasi. Namun dengan kekuatan yang besar, datang tanggung jawab besar pula. Hari ini, media massa konvensional tak lagi berperan sebagai satu-satunya gatekeeper yang mencari, memilah, dan melakukan verifikasi informasi untuk publik. Dalam ekosistem informasi yang makin terbuka dan “demokratis” ini, kita dituntut untuk memiliki kemampuan yang sama.

Sayangnya, tanggung jawab ini seringkali tidak disadari oleh warga karena lemahnya literasi media di Indonesia.

Hal ini menjadi dilema bagi WhatsApp. Pengguna internet di negara berkembang tentu merupakan pasar menggiurkan untuk mereka garap. Namun kasus-kasus di India, Indonesia, dan Brazil menunjukkan bahwa adopsi teknologi digital dalam masyarakat dengan tingkat literasi rendah juga rawan bencana informasi.

Sebagai perusahaan bernilai 19 juta Dollar, WhatsApp tentu memiliki banyak sumber daya yang mampu membantu pendidikan literasi. Mungkin sudah waktunya bagi kita untuk lebih mendorong mereka bertanggung jawab terhadap situasi yang—meskipun tanpa sengaja—mereka ciptakan dalam mencari untung.

Atau kita perlu menunggu ada orang yang dibunuh gara-gara hoaks? []


Pembaca yang baik, kami sedang menggalang dana untuk kelanjutan kerja Remotivi. Kami ingin bisa terus bekerja membantu publik lebih kritis terhadap media. Kalau Anda berpendapat bahwa kerja-kerja semacam ini diperlukan di Indonesia, dukunglah kami dengan berdonasi di #DukungRemotivi.

Bacaan Terkait
Firman Imaduddin

Editor dan peneliti di Remotivi. Meminati isu media, antropologi, budaya, dan perfilman. Kerap ditemukan main catur di warung kopi sekitar Rawamangun.

Populer
Demokratisasi Media Melalui Jurnalisme Warga
Jurnalisme Bencana: Tugas Suci, Praktik Cemar
Media Cetak yang Berhenti Terbit Tahun 2015
Ketika Berita Palsu Menjadi Industri
Hierarki Pengaruh dalam Mediasi Pesan