REMOTIVI/dibalikbalik
REMOTIVI/dibalikbalik
01/11/2018
Azab, Bencana, dan Hasrat Akan Dunia yang Adil
“Azab” menjadi narasi yang kerap muncul di media untuk menjelaskan tragedi, seperti dalam gempa Palu dan kecelakaan pesawat Lion Air. Kenapa ini terjadi?
01/11/2018
Azab, Bencana, dan Hasrat Akan Dunia yang Adil
“Azab” menjadi narasi yang kerap muncul di media untuk menjelaskan tragedi, seperti dalam gempa Palu dan kecelakaan pesawat Lion Air. Kenapa ini terjadi?

Tak lama setelah kabar jatuhnya pesawat Lion Air jatuh 29 Oktober lalu, perhatian pengguna media sosial disedot oleh tweet seorang politisi Partai Amanat Nasional. Dalam cuitannya, ia mengaitkan berbagai bencana yang belakangan terjadi dengan lengsernya Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Meski ia tak menyebutkan apa persisnya hubungan antara pergantian pemerintahan politik dengan bencana alam, konteks komunikasi politik di media sosial belakangan cukup memberi gambaran: azab.

Narasi bahwa berbagai tragedi ini adalah “hukuman tuhan” atas pemerintahan Joko Widodo beredar lebih gencar lagi dalam konteks gempa di Palu, mulai dari pesan berantai WhatsApp hingga laman trending YouTube.

Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Sobri Lubis menghubungkan gempa Palu dengan dipenjaranya Gus Nur, “Gus Nur tersangka, Palu langsung gempa bumi. Dibayar tunai.” Selain itu terdapat pula kisah tentang Lili Ali, seorang calon legislatif dari partai Nasdem yang menjadi korban gempa, yang pernah menyatakan dalam status Facebook-nya bahwa ia akan tetap memilih Jokowi walau gempa menggoyang Palu. Cerita ini belakangan ketahuan merupakan hoaks dan penyebar utamanya dipidana polisi.

Bukan hanya soal politik, azab juga dihubungkan dengan narasi-narasi lain. Mulai dari  “peningkatan” jumlah LGBT di Palu, maraknya praktik perjudian, hingga perayaan festival Nomoni yang dipandang syirik.

Penyintas bencana Palu dan keluarga korban kecelakaan Lion Air tentu tengah menempuh masa-masa yang sulit selepas rentetan tragedi ini. Akan tetapi, mengapa seolah ada dorongan kuat untuk mengklaim bahwa mereka “pantas” mengalaminya? Apa peran media dalam berkembangnya pola pikir ini?

Mengimani Dunia yang Adil

Ketika Melvin Lerner, seorang psikolog ternama, bekerja di klinik, ia sering melihat rekannya mengejek dan menyalahkan pasien yang sedang menderita. Setelah menjadi pengajar, ia juga merasakan kecenderungan mahasiswanya untuk mengejek dan menghakimi orang miskin sebagai pemalas, terlepas dari aspek struktural yang menopang kemiskinan mereka.

Ia penasaran; kenapa orang-orang yang sesungguhnya baik dan terdidik itu cenderung menyalahkan dan menghina orang yang ditimpa ketidakberuntungan?

Pada 1966, bersama Carolyn Simmons, Lerner melakukan sebuah percobaan. Beberapa orang diminta menonton kuis yang memiliki dua peserta. Pada akhir kuis, salah seorang dari dua peserta kuis akan dipilih secara acak untuk mendapatkan hadiah, tanpa menimbang ketepatan jawaban mereka. Metode penghadiahan yang acak ini sudah diberitahukan kepada para penonton.

Menariknya, ketika diminta menilai kualitas kedua peserta kuis, penonton secara konsisten merasa bahwa peserta yang beruntung memperoleh hadiah adalah individu yang lebih cerdas, berbakat, dan produktif, sementara peserta yang tidak mendapat hadiah dipandang rendah.

Dalam percobaan lain, para penonton dihadapkan dengan video seorang perempuan yang diberi kejutan listrik karena melakukan kesalahan dalam sebuah tes ingatan. Para penonton memilih untuk menyudahi kejutan listrik ketika mereka diberi pilihan itu. Namun ketika pilihan itu tak ada, dan mereka tidak berdaya menyaksikan perempuan tersebut menderita, mereka justru menyalahkan dan merendahkan perempuan itu.

“Melihat orang lain menderita tanpa kemungkinan imbalan atau kompensasi mendorong orang untuk menilai rendah sikorban, sehingga mereka merasa bahwa nasib yang diterima korban sesuai dengan karakter mereka,” simpul Lerner dan Simmons.

Lerner dan Simmons berargumen bahwa bias ini terjadi karena manusia memiliki dorongan mendasar untuk mengimani sebuah dunia yang adil. Dalam perspektif sosio-psikologis, bias kognitif ini akhirnya kita sebut sebagai just-world hypothesis (hipotesis dunia-adil). Semua orang ingin percaya bahwa kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, dan sama halnya dengan keburukan. Orang ingin percaya bahwa usaha dan kualitas positif akan selalu berujung pada kesuksesan, dan inkompetensi akan berujung pada kegagalan.

Bias ini bisa dipahami. Kenyataan bahwa kemalangan bisa terjadi pada siapa saja dapat membuat siapa pun merasa tidak berdaya. Bias ini kita miliki agar kita tetap merasa punya kendali atas konsekuensi dari tindakan kita, dan membantu kita merasa nyaman dengan keputusan-keputusan yang telah kita buat. Mungkin juga, untuk memupuk rasa superioritas kita dari orang yang ditimpa kemalangan.

Ia menjadi bermasalah ketika ia digunakan secara terbalik: orang malang pastilah melakukan sesuatu yang salah, sehingga ia pantas menerima kemalangan tersebut. Sementara logika ini sering menjadi mekanisme pertahanan bagi mereka yang beruntung dan berkuasa: entah dengan cara yang adil ataupun tidak, pastilah mereka pantas menerima kemewahan yang mereka punya. Bias ini membuat orang menyalahkan korban dalam sebuah peristiwa, sebagai akibat--sebagai azab. Ia dapat membutakan kita dari realita dan struktur, serta membuat kita mereduksi isu kompleks seperti kemiskinan dan maraknya kekerasan seksual.

Bias ini juga memengaruhi cara kita memaknai bencana.

Azab Dalam Lensa Media

Just-world hypothesis telah lama terjalin dalam logika media. Kapan terakhir kali Anda melihat jagoan Anda kalah dan merana dalam sebuah karya fiksi? Atau kisah orang jahat yang tidak pernah dihukum dan tidak perlu menebus segala keburukan yang ia lakukan? Kita menginginkan dunia yang adil, dan media menyuguhkan fantasi itu.

Di Indonesia, mungkin tak ada manifestasi dari just-world hypothesis yang lebih gamblang daripada serial FTV “Azab” di Indosiar dan “Dzolim” di MNC TV. Program-program populer ini terinspirasi oleh majalah Hidayah, sebuah majalah agama yang juga mengeksploitasi imajinasi publik tentang keadilan.

Dengan judul-judul seperti “Jenazah Mandor Kejam Terkubur Coran Beton dan Tertimpa Meteor”, “Perebut Suami Orang Mati Dengan Perut Membengkak Disengat Ribuan Tawon, Keranda Jenazahnya Terkena Badai, dan Tercebur ke Adukan Semen”, dan banyak lagi. Program-program ini belakangan viral sebagai lelucon di media sosial.

Program-program ini nampaknya secara konsisten mengeruk rating. Bahkan, tim produksi program mengakui bahwa mereka didorong untuk mengisahkan “azab” sekejam mungkin untuk meningkatkan rating. “(Penonton) emak-emak itu lebih suka kalau azabnya kejam-kejam,” ungkap asisten sutradara MNC Randi Pratama dalam sebuah wawancara dengan Kumparan.com.

Apakah masyarakat yang menggemari tayangan semacam ini kejam? Tidak mesti. Sebagaimana partisipan dalam penelitian-penelitian Lerner, bias just-world hypothesis seringkali justru merupakan alat bantu bagi orang untuk memahami nestapa. Ia membantu orang percaya pada keadilan.

Narasi-narasi yang digunakan program-program ini datang dari tempat yang sama, dan hadir untuk menggaruk rasa gatal yang sama, dengan narasi-narasi “azab bencana Palu” yang ramai di internet. Sulit untuk mencerna bahwa bencana alam bisa menimpa orang-orang tidak berdosa. Maka, dibangunlah narasi bahwa korban-korban ini tidak benar-benar tak berdosa. Entah bagaimana, nasib buruk yang mereka terima adalah kesalahan mereka sendiri.

Namun kita jangan sampai lupa: butuh kelalaian dan kesalahan struktural untuk membuat bencana ini berdampak begitu kuat. Sebagai sebuah negara yang berada di “cincin api” tempat berbagai lempeng tektonik bertemu, Indonesia selalu berada dalam risiko gempa dan gunung berapi. Berbagai tempat serupa di dunia, seperti Jepang dan San Fransisco, telah diatur dengan berbagai regulasi tata kota dan arsitektur yang bertujuan untuk meminimalisir dampak bencana. Di Indonesia, penegakan aturan-aturan semacam ini masih sangat-sangat lemah.

Peringatan mengenai risiko likuifaksi sesungguhnya telah disampaikan oleh Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral kepada pemerintahan daerah sejak tahun 2012. Ironisnya, pemerintah daerah tidak memberikan tanggapan apapun. Belum lagi menimbang sistem peringatan dini tsunami yang tidak berjalan dengan alasan keterbatasan bujet. Padahal, belum 15 tahun yang lalu negara kita diguncang oleh salah satu gempa-tsunami paling destruktif sepanjang sejarah.

Just world hypothesis, selayaknya bias kognitif lainnya, adalah kekeliruan yang disebabkan oleh ketidaksempurnaan otak manusia. Karena itu narasi azab begitu populer. Namun di media, ia begitu rawan dimanfaatkan oleh elit dan penguasa untuk membingkai kemalangan dan ketimpangan sesuai dengan kehendak mereka. Entah untuk menjaga status quo, atau mendorong agenda politik tertentu.

Jauh lebih mudah untuk mereka yang dominan dan berkuasa untuk mencoba membentuk bingkai pemaknaan terhadap peristiwa. Dalam konteks ini, pembebanan narasi Islam yang dominan digunakan untuk menjelaskan musibah. Korbannya seringkali adalah mereka yang lemah, yang sedikit, dan yang terpinggirkan.

Narasi bahwa bencana, seperti gempa-tsunami Palu dan kecelakaan pesawat, merupakan hukuman tuhan mungkin lebih mudah dicerna. Namun penyederhanaan itu mengesampingkan fakta bahwa para korban tersebut sesungguhnya adalah korban dari struktur yang ceroboh dan tidak adil. []


Pembaca yang baik, kami sedang menggalang dana untuk kelanjutan kerja Remotivi. Kami ingin bisa terus bekerja membantu publik lebih kritis terhadap media. Kalau Anda berpendapat bahwa kerja-kerja semacam ini diperlukan di Indonesia, dukunglah kami dengan berdonasi di #DukungRemotivi.

Bacaan Terkait
Populer
Perjuangan Situs Kebencian Mengemas Omong Kosong
Kepada Wartawan: Kenapa Tak Panggil Koruptor Maling Saja?
“Politainment” Gubernur Baru Jakarta
Tak Ada Kepentingan Publik Dalam Pernikahan Kahiyang
Denny Setiawan: Internet Indonesia Lelet Karena Infrastruktur yang Belum Optimal