REMOTIVI/dibalikbalik
REMOTIVI/dibalikbalik
30/10/2018
Mengeruk Untung dari Ramalan Bintang
Topik soal zodiak sudah menghiasi halaman media sejak dulu, tak terkecuali di era digital. Apa yang bisa dipahami dari sini?
30/10/2018
Mengeruk Untung dari Ramalan Bintang
Topik soal zodiak sudah menghiasi halaman media sejak dulu, tak terkecuali di era digital. Apa yang bisa dipahami dari sini?

Hari ini kira-kira peruntungan asmaraku bagaimana, ya? Duh, kira-kira aku cocok nggak ya sama dia, habisnya dia Aquarius dan aku Pisces, dan kayaknya nggak cocok, deh. Karirku sebulan ini bagaimana, ya? Aku ‘kan Gemini, emang labil dan muka dua. Dia mah Cancer, pasti baper-lah.

Telinga kita barangkali sudah tidak asing dengan percakapan yang berkenaan dengan zodiak. Media pun menjadi salah satu penyumbang khazanah wawasan horoskop para pembaca dengan ramalan harian, mingguan, bulanan, bahkan tahunan. Bukan hanya itu saja, berbagai petunjuk hidup tentang siapa saja yang akan ketiban rejeki juga dapat kita akses di beberapa media.  Artikel-artikel yang berkaitan dengan zodiak kerap kali digemari oleh pembaca. The Independent pun pernah memberitakan bahwa dalam Your Tango, majalah daring tentang cinta dan jalinan hubungan, predikat artikel yang populer seringkali diraih oleh artikel yang berkaitan dengan zodiak.

Ramalan Bintang dalam Media

Saat saya masih sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, saya sering menonton acara televisi “Planet Remaja” di ANTV. Salah satu segmen yang saya tunggu adalah ramalan bintang. Saya menunggu dengan khidmat, kira-kira apa yang akan terjadi pada hidup saya seminggu ke depan sembari ditemani Phill Collins dengan lagunya Another Day in Paradise sebagai musik latar.

Kalau kita mau jujur pada diri sendiri, tentu saya bukanlah satu-satunya orang yang pernah membaca laman yang berkaitan dengan astrologi. Saya yakin banyak di antara Anda yang kerap membaca ramalan bintang, atau paling tidak tahu zodiak masing-masing dan menebak karakter orang dari zodiak yang dimiliki. Entah karena sekadar didorong oleh rasa ingin tahu, atau memang meyakini bahwa itu benar.

Hingga kini, ramalan bintang pun masih dapat kita temui. Apalagi di tengah maraknya media digital, kita tidak perlu menunggu ramalan bintang seminggu sekali yang muncul di surat kabar edisi akhir pekan atau tayangan remaja di televisi. Kita tinggal membuka media daring seperti berikut ini:

Sumber: wolipop.detik.com/read/2018/09/03/101940/4194729/852/ramalan-zodiak-anda-hari-ini 

Sumber: jogja.tribunnews.com/2018/09/10/ramalan-zodiak-hari-senin-10-september-banyak-yang-akan-dapat-keberuntungan

Keberadaan ramalan bintang dalam media seperti tidak pernah padam. Akan selalu ada artikel yang berisi tentang ramalan, maupun saran yang disesuaikan dengan kondisi zodiak pembaca, entah itu mulai dari masalah asmara hingga ekonomi.

Media, Budaya Irasional, dan Ketidakberdayaan

Masa depan akan selalu menjadi pertanyaan bagi setiap orang. Ketika seseorang tidak dapat menemukan jawaban permasalahan atau menguasai keadaan yang dihadapi, ia akan cenderung untuk berlari atau menyerahkan dirinya terhadap hal yang di luar nalar, seperti astrologi.

Nicholas Champion melakukan studi pada sekelompok pelajar, kebanyakan pria, berusia 18 hingga 21 tahun. Ia menemukan bahwa 98% mengetahui apa zodiak yang mereka miliki. Sebanyak 45% responden meyakini bahwa zodiak tersebut menjelaskan kepribadian mereka. Sebanyak 25% menyatakan bahwa ramalan tersebut akurat dan 20% meyakini bahwa bintang mempengaruhi kehidupan di bumi. Ia juga menemukan bahwa 70% responden membaca kolom horoskop setiap sekali dalam satu bulan. 51% di antaranya menghargai nasihat ramalan yang mereka baca. Astrologi menjadi jawaban atas rasa stres dengan segala gambaran masa depan yang lebih baik. Khususnya bagi milenial, generasi yang dianggap memiliki daya stres paling tinggi.

Keberadaan ramalan bintang ini sebenarnya telah berlangsung lama dan mampu menembus segala jaman teknologi informasi, mulai penyampaian pesan secara lisan, media cetak, media elektronik seperti radio dan televisi, hingga media daring. Kate Darian-Smith dalam Media International Australia mengkaji bagaimana sejarah konten astrologi dan cenayang pada media di Australia sejak 1920 yang menghasilkan genre baru dan menantang keberadaan otoritas keagamaan serta pengetahuan ilmiah di arena publik. Siaran media menjadi penentu dalam keberhasilan astrolog dan cenayang dalam menyebarkan ajarannya. Penerimaan masyarakat atas ajaran mereka pun semakin membesar karena keberadaan media. Keberadaan para astrolog juga semakin terorganisir. Mereka memiliki program tersendiri di radio yang mampu menarik banyak pendengar.

Dalam perkembangan teknologi informasi terkini, di mana orang memiliki internet serta gawai yang makin canggih, orang pun semakin mudah dalam mengakses informasi astrologi. The Atlantic menyebutkan bahwa astrologi sangat cocok dengan era internet. Media daring turut menyumbang kemudahan publik dalam mengakses ramalan bintang. Dengan kemudahan akses dan dorongan daya stres, suguhan delusi massal tentang karakter serta tingkat keberuntungan individu mulai dalam hal asmara hingga karir yang diberikan oleh media dapat sampai dengan mudah ke tangan pembaca.

Soal itu saya jadi ingat salah satu dialog antara Sheldon Cooper dengan Penny di serial sitkom The Big Bang Theory musim pertama. Penny, sebagai tetangga baru mengenalkan dirinya saat diundang makan malam bersama Sheldon dan Leonard, “Saya Sagitarius, yang mungkin bisa menjelaskan tentang saya lebih dari yang kalian ingin tahu.” Kemudian Sheldon menjawab, “Ya, itu menjelaskan bahwa kamu turut serta dalam delusi budaya massal yang beranggapan bahwa posisi penampakan matahari berkaitan dengan kepribadian yang bisa diartikan semaunya.”

Delusi informasi atas ramalan karakter seseorang yang tersebar di berbagai media akan memberikan efek barnum atau efek forer. Efek barnum atau efek forer adalah kecenderungan individu untuk menerima atau melakukan validasi atas deskripsi kepribadian yang bersifat umum sebagai deskripsi yang akurat tentang dirinya.

Misal, pada zodiak Taurus disebutkan bahwa ia adalah seorang yang gigih dalam mencapai tujuan. Para Taurus pun akan memiliki kecenderungan untuk menerima anggapan ini. Padahal, deskripsi ini juga bisa saja terjadi pada banyak orang yang memiliki zodiak lainnya. Karakter umum semacam ini tentu tidak dibatasi oleh zodiak individu.

Tidak sedikit studi yang menyatakan bahwa keberadaan informasi ramalan ini hanyalah salah satu bentuk manipulasi pemikiran manusia. Validasi subyektif yang dilakukan individu semakin mengukuhkan anggapan bahwa ramalan atas karakter dan peruntungan tersebut benar. Meskipun demikian, keberadaan laman yang berkaitan dengan astrologi tidak akan pernah berhenti.

Adorno dalam buku kumpulan esainya, The Stars Down to Earth and Other Essays on the Irrational Culture, menyatakan hal tersebut dalam beberapa tesis utamanya yang menyatakan bahwa keberadaan hal-hal ajaib telah berasimilasi dengan bentuk kapitalisme akhir. Sehingga, astrologi telah menjadi bagian dari industri budaya dalam media. Keberadaan laman yang berkaitan dengan astrologi akan senantiasa memberikan keuntungan dan akan senantiasa diproduksi oleh media. Irasionalitas astrologi yang dikaitkan dengan konteks situasi terkini yang mampu menarik rasa ingin tahu pembaca, tentu akan menambah jumlah pengakses laman. Irasionalitas astrologi tampaknya telah menjadi pilihan rasional bagi media untuk mengeruk keuntungan.

Jadi, di tengah situasi kampanye calon anggota legislatif dan calon presiden beserta wakilnya seperti ini, apa sudah ada yang menganalisis karakter calon presiden atau calon anggota legislatif berdasarkan karakter zodiak?

Ternyata sudah ada, seperti yang dilakukan oleh CNN Indonesia. []


Pembaca yang baik, kami sedang menggalang dana untuk kelanjutan kerja Remotivi. Kami ingin bisa terus bekerja membantu publik lebih kritis terhadap media. Kalau Anda berpendapat bahwa kerja-kerja semacam ini diperlukan di Indonesia, dukunglah kami dengan berdonasi di #DukungRemotivi.

Bacaan Terkait
Estu Putri Wilujeng

Merampungkan studinya pada program Magister Sosiologi. Sesekali meneliti secara mandiri, sesekali meneliti bersama lembaga-lembaga lain. Tertarik pada isu lingkungan, kajian budaya khususnya konsumerisme, literasi dan media, serta sosiologi digital. Sedang berusaha untuk lebih produktif dalam menulis artikel ilmiah maupun ilmiah populer.

Populer
Perjuangan Situs Kebencian Mengemas Omong Kosong
Kepada Wartawan: Kenapa Tak Panggil Koruptor Maling Saja?
“Politainment” Gubernur Baru Jakarta
Tak Ada Kepentingan Publik Dalam Pernikahan Kahiyang
Denny Setiawan: Internet Indonesia Lelet Karena Infrastruktur yang Belum Optimal