REMOTIVI/dibalikbalik
REMOTIVI/dibalikbalik
25/10/2018
Yang Dihilangkan dari Temuan IndonesiaLeaks
IndonesiaLeaks membawa temuan berharga dalam upaya pengentasan korupsi. Sayangnya, liputan media membuatnya jadi drama sinetron.
25/10/2018
Yang Dihilangkan dari Temuan IndonesiaLeaks
IndonesiaLeaks membawa temuan berharga dalam upaya pengentasan korupsi. Sayangnya, liputan media membuatnya jadi drama sinetron.

Kalau Anda ingin tahu bagaimana sebuah temuan penting tentang korupsi “dihilangkan”, maka Anda perlu melihat kasus IndonesiaLeaks baru-baru ini.

IndonesiaLeaks adalah sebuah platform kolaborasi antara sembilan media dan lima LSM yang menyediakan sarana bagi informan publik yang ingin membagi bocoran kepada media massa. Bocoran ini kemudian akan di-verifikasi oleh jurnalis, dan diterbitkan sebagai produk jurnalisme investigasi. Dengan didukung teknologi enkripsi untuk memastikan kerahasiaan identitas whistle blower, IndonesiaLeaks merupakan inisiatif segar dalam memperkuat fungsi pengawasan media atas kekuasaan serta memberi ruang bersuara bagi mereka yang terpinggirkan di Indonesia.

Pada 8 Oktober 2018, temuan investigasi perdana IndonesiaLeaks diolah menjadi berita dan diterbitkan oleh Tempo.co, Jaring.id, Independen.id, Kbr.id, dan Suara.com. Temuan itu terkait perusakan barang bukti KPK oleh dua mantan penyidiknya. Kasus dugaan korupsi ini menyeret nama pejabat tinggi di republik ini: Tito Karnavian.

Liputan kolaboratif ini memenuhi seluruh unsur kaidah jurnalistik yang baik: menyediakan bukti, memverifikasi tiap keterangan, dan memberi ruang bagi pihak yang dituding untuk memberi penjelasan. Bukan hanya itu, liputan ini adalah temuan penting yang semestinya bisa jadi diskusi publik yang berharga.

Sayangnya, temuan penting ini dikaramkan oleh peliputan media yang berkutat dalam politik perkubuan.

Gelombang Distorsi Pemberitaan IndonesiaLeaks

Bola panas mulai digelindingkan ketika Amien Rais memenuhi panggilan Polda Metro Jaya terkait kasus “hoaks Ratna Sarumpaet”. Sebelum memasuki ruang pemeriksaan, Amien mengatakan akan mengungkap kasus korupsi yang “mengendap” di KPK. Ia juga meminta Presiden Joko Widodo untuk mencopot jabatan Tito Karnavian sebagai Kapolri. Tanpa menyinggung temuan IndonesiaLeaks, Amien menyuruh wartawan mempelajari alasannya sendiri.

Viva.co.id dan Jawapos.com memberitakan komentar Mahfud MD yang menjemput bola Amien. Dalam berita ini, Mahfud mengatakan bahwa temuan IndonesiaLeaks adalah hoaks. Anehnya, Mahfud justru menolak untuk memberikan komentar dengan alasan, “Itu bisa membuat tujuan dari penulisnya berhasil”. Alasan ini membingungkan. Bukankah menuding tanpa memberikan bukti jelas merupakan karakter utama dari hoaks?

Tanpa verifikasi, Mahfud juga menuduh IndonesiaLeaks tidak memiliki kejelasan secara formal dan hanya berasal dari desas-desus. Lebih lanjut lagi, Ia menjelaskan bahwa Tito Karnavian tidak mungkin bertindak melawan hukum. Bahwa, “Orangnya lurus. Oleh karena itu, saya tidak mempercayai hal-hal begitu”.

Dalam nada yang sama, Kumparan.com memuat pernyataan Hasto Kristyanto bahwa IndonesiaLeaks adalah bagian dari drama “hoaks Ratna Sarumpaet”. Hasto juga menyatakan bahwa leaks harus bisa diuji di depan hukum, jika tidak, “saya juga bisa membuat leaks-leaks yang lain”. Pernyataan ini, sebagaimana Mahfud, mengindikasikan bahwa IndonesiaLeaks adalah hal yang tak serius, yang mudah dibuat. Sebagaimana Mahfud pula, Hasto membela Tito Karnavian dengan rumusan wagu: Tito dipilih Jokowi, Jokowi adalah figur yang berintegritas, dan karena itu Tito pun berintegritas.

Baik Mahfud maupun Hasto tidak memberi bukti bagi tuduhan hoaks atas laporan IndonesiaLeaks. Mahfud justru menyerang balik, “Siapa yang mendalilkan, dia yang harus membuktikan”. Ironisnya, ia juga tidak memberi bukti dari dalilnya sendiri. Seperti menepuk air di dulang, serangan Mahfud memercik muka sendiri.

Segala pernyataan aktor politik ini adalah upaya sadar dalam memelintir temuan IndonesiaLeaks untuk kepentingan masing-masing kubu. Sialnya, media justru menggelar karpet merah dan membiarkan pelintiran-pelintiran itu berkembang biak. Media secara aktif menjadi pelaku yang turut menghidupkan politik perkubuan dengan cara mencari aktor baru, atau bahkan menunggu kelanjutan dari pertikaiannya sebagai bahan berita berikutnya. 

Kegagalan media dalam menaruh konteks temuan IndonesiaLeaks tidak semata-mata disebabkan oleh kemalasan atau ketidaksengajaan. Belajar dari apa yang terjadi di Amerika, apa yang kita saksikan ini adalah hasil dari hubungan mutualisme antara logika ekonomi media dan model politik ketokohan.

Tokoh Melampaui Substansi

Pada pertengahan 2017, Martin Montgomery menganalisis pendekatan retorika yang dilakukan Donald Trump semasa kampanye pemilihan presiden Amerika Serikat. Dalam salah satu temuannya, Montgomery menjelaskan adanya kesamaan antara cara kerja media daring dan retorika Trump. 

Selama kampanye pilpres Amerika Serikat, Trump cenderung menggunakan “pendekatan karakter” dalam orasinya. Pendekatan karakter ini ditunjukkan melalui pernyataan yang membesarkan diri seperti, “Tak ada yang memahami sistem lebih dari aku, dan karena itulah hanya aku yang bisa memperbaikinya,” “Tak ada yang menghormati perempuan lebih dari aku,” atau, “Kau tahu tidak, aku sangat sukses dan semua orang mencintaiku” (Montgomery, 2017: hal. 7).

Segala pernyataan tadi tidak membutuhkan pembuktian. Pembuktian memiliki fungsi dalam ranah kebenaran, sedangkan retorika Trump tidak bekerja di ranah tersebut. Retorika Trump bekerja di ranah karakter. Pernyataan-pernyataannya yang sederhana nan arogan mampu membuatnya menonjol dibandingkan kandidat lain. Dengan menciptakan karakter yang kontroversial, Trump mampu meyakinkan basis pendukungnya.

Montgomery melihat cara kerja retorika Trump sebelas-dua belas dengan media di era digital. Menurut Montgomery, segala klaim yang disampaikan di ruang publik digital harus berebut perhatian dari jutaan klaim lain yang bersirkulasi di waktu yang sama. Ini artinya, untuk memenangkan perhatian publik, media daring membutuhkan pernyataan yang unik dan menonjol. Media daring membutuhkan klaim dari seseorang yang “menonjol”. Yang bisa membuat berita terus bergulir, kontroversi tetap jalan, dan pada gilirannya, menjadi klik yang bisa dikonversi menjadi profit.

Dalam kasus pemilihan presiden Amerika Serikat, pernyataan-pernyataan Trump menjadi tambang emas yang bisa terus dikeruk bagi keuntungan media. Tentu media bukan satu-satunya penentu kemenangan Trump, namun ia punya andil besar dengan terus menerus menjadikan Trump pusat perhatian.

Saya melihat bahwa apa yang disaksikan Montgomery di Amerika terjadi dalam kasus IndonesiaLeaks di Indonesia. Media daring lebih sibuk mengejar pernyataan-pernyataan kontroversial tokoh politik ketimbang mendedahkan substansi temuan IndonesiaLeaks. Gairah media untuk mendapatkan pernyataan menarik telah mengubur substansi dari temuan IndonesiaLeaks dalam bising drama politik ketokohan.

Jonathan Woodier menjelaskan bahwa perkembangan kapitalisme yang menyuburkan publisitas dan televisi komersial, membuat ketokohan jadi lebih penting ketimbang gagasan. Konglomerasi media memaksa pemberitaan politik agar lebih menghibur dan menjual, dan sialnya, berdampak buruk pada kualitas informasi yang didapatkan publik. Ia menegaskan bahwa, “Ketika pertunjukan menggantikan substansi, audiens media disuguhi hidangan klise dan stereotipe yang tidak pernah dikritisi” (Woodier, 2008: hal. 299).

Retorika yang disampaikan Mahfud, Amien, ataupun Hasto juga bekerja sesuai dengan logika ini. Klaim-klaim mereka tidak memiliki dasar yang kuat, namun memikat.

Daya pikat ini misalnya terletak pada gaya retorika Mahfud yang mempersonalisasi kasus hukum dengan mengatakan bahwa Tito adalah orang yang baik. Atau pernyataan Hasto yang mengatakan bahwa kubunya dapat membuat leaks-leaks yang lain. Pernyataan Mahfud yang mempersonalisasi kasus hukum jelas tidak masuk akal. Sebagai pakar hukum Mahfud semestinya paham bahwa persoalan hukum tidak ada hubunganya dengan moral individu. Sedangkan pernyataan Hasto memiliki nada “mengancam”, seolah ia akan melakukan serangan balik pada kubu lawan. Membaca pernyataan-pernyataan semacam ini dalam sebuah berita membuat kita yang membaca merasa sedang menonton drama di televisi. Inilah mengapa media kecanduan retorika semacam itu, karena ia bisa membuat pembaca larut di dalamnya.

Masalahnya, retorika semacam ini justru menjauhkan pembaca dari apa yang sesungguhnya dibutuhkan: informasi yang berbasis data dan akal sehat. Demi profit, media menjelma sebagai penyelenggara pertunjukkan retorika yang diperankan oleh aktor-aktor politik. Pementasannya diselenggarakan di panggung politik perkubuan, sepetak lahan basah untuk mendulang untung.

Sayangnya, tiket pertunjukkan ini harus ditukar dengan pengabaian substansi dari temuan yang berharga. []


Daftar Pustaka

Montgomery, Martin. 2017. “Post-Truth Politics: Authenticity, Populism, and The Electoral Discourse of Donald Trump” dalam Journal of Language and Politics Vol. 16 Issue. 4 halaman 619-639.

Woodier, Jonathan. 2008. The Media and Political Change in Southeast Asia Karaoke Culture and the Evolution of Personality Politics. Massachusetts: Edwar Elgar Publishing.


Pembaca yang baik, kami sedang menggalang dana untuk kelanjutan kerja Remotivi. Kami ingin bisa terus bekerja membantu publik lebih kritis terhadap media. Kalau Anda berpendapat bahwa kerja-kerja semacam ini diperlukan di Indonesia, dukunglah kami dengan berdonasi di #DukungRemotivi.

Bacaan Terkait
Faris Dzaki

Belum selesai menjadi mahasiswa. Mengidamkan konser Rhoma Irama di Wembley Stadium. Kadang menginap di gorong-gorong Jalan Sudirman.

Populer
Perjuangan Situs Kebencian Mengemas Omong Kosong
Kepada Wartawan: Kenapa Tak Panggil Koruptor Maling Saja?
“Politainment” Gubernur Baru Jakarta
Tak Ada Kepentingan Publik Dalam Pernikahan Kahiyang
Denny Setiawan: Internet Indonesia Lelet Karena Infrastruktur yang Belum Optimal