REMOTIVI/Eko Razaki
REMOTIVI/Eko Razaki
01/08/2018
Praktik Jurnalisme Robot, Senjakala Jurnalis?
Sejak satu dekade terakhir media telah mulai menggunakan AI (Artificial Intelligence) untuk menulis berita. Apakah “kecerdasan buatan” merupakan pertanda akhir dari peran manusia sebagai pewarta berita?
01/08/2018
Praktik Jurnalisme Robot, Senjakala Jurnalis?
Sejak satu dekade terakhir media telah mulai menggunakan AI (Artificial Intelligence) untuk menulis berita. Apakah “kecerdasan buatan” merupakan pertanda akhir dari peran manusia sebagai pewarta berita?

Bagi penggemar film bergenre sains fiksi, Anda tentu akrab dengan sistem kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) Skynet di trilogi Terminator. Plot film yang dibintangi Arnold Schwarzenegger itu berbicara tentang ancaman terhadap eksistensi manusia akibat kecerdasan buatan yang tertanam dalam sistem komputer yang saling terhubung.

Pasangan suami istri James Cameron dan Gale Anne Hurd, yang menulis dan memproduksi Terminator pada 1984, bisa jadi terinspirasi dari tren perbincangan tentang potensi kecerdasan buatan dan semakin vitalnya informasi di masa mendatang.[1]

Seolah menjadi bukti kebenaran Hukum Moore, hanya butuh dua dekade untuk perkembangan AI yang mengambil alih banyak peranan yang secara tradisional dipegang oleh manusia--termasuk fungsi jurnalisme. Berkat peningkatan kecepatan mikroprosesor untuk mendukung kecanggihan algoritma AI, kini peran jurnalis sebagai produsen pesan mulai digantikan oleh robot.

Teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) ternyata mulai sanggup membuat robot atau sistem yang menulis artikel layaknya jurnalis manusia. Pada 2014, kantor berita Associated Press (AP) telah menggunakan AI untuk merilis artikel laporan keuangan, sementara LA Times menggunakannya untuk menulis peringatan gempa.

Dua tahun berselang, raksasa Washington Post menyusul dengan teknologi Heliograf, yang digunakan untuk memproduksi berbagai laporan singkat mengenai Olimpiade Rio de Janeiro. Sementara kantor berita Xinhua baru menyusul di awal 2018.

Penggunaan robot sebagai penyusun berita merupakan hal menarik, karena robot tidak lagi sekadar menjadi asisten bagi jurnalis dalam menyusun berita. Anda yang pernah menjadi jurnalis tentu sadar betapa repotnya memilah dan mengecek informasi. Terutama, jika data yang Anda olah bersifat historikal, seperti laporan keuangan atau data beberapa pertandingan olahraga. 

Riset Reuters Institute of Journalism pada 2018 mengakui penggunaan robot untuk menulis berita akan menjadi tren di masa mendatang. Tak hanya sebagai asisten; melalui perkembangan Neuro-Linguistic Programming (NLP), robot akan mampu menulis berita yang sama kualitasnya dengan manusia.

Perkembangan kecerdasan buatan memampukan robot untuk mempelajari bagaimana cara menanggapi umpan komunikasi yang diterima. Makin sering Anda memberikan umpan pada robot tersebut, makin pintar robot memberikan umpan balik.

Dalam dunia medsos, wujud robot yang mampu berkomunikasi kerap kita kenal sebagai akun bot yang bisa diprogram untuk menanggapi ocehan atau topik unggahan di medsos. Jenis ini umumnya beroperasi pada platform Twitter.

Karena mekanis, akun bot mampu beroperasi untuk meningkatkan percakapan terhadap topik atau produk. Ini diterapkan pada marketing produk hingga marketing politik. Selain bekerja pada platform medsos, teknologi ini juga digunakan sejumlah korporasi besar sebagai virtual assistant via chat board untuk menanggapi pelanggan melalui aplikasi pesan instan seperti Line, Facebook, atau Telegram.

Seperti halnya akun bot atau chat board, jurnalis robot di Indonesia dengan sederet bahasa kode pun telah sanggup menyusun berita seperti halnya yang sudah dilakukan sejumlah korporasi media di belahan Barat.

Situs kurasi Beritagar memulai dengan Robotorial, rubrik bagi artikel yang 100% ditulis oleh robot. Robotorial mulai perdana 25 Februari 2018 dengan laporan pertandingan Liga Inggris di antara Leicester vs Stoke City yang berakhir imbang. Sepak bola dipilih karena pola data yang konsisten di setiap pertandingan: berapa gol, siapa mencetak gol, berapa jumlah umpan, hingga pemenang pertandingan. Dan yang terpenting, ada penyedia data dan data tersebut bisa dibeli.

Sisanya, menjadi tugas manusia untuk menyusun pola berita yang kemudian akan ditulis dan dilengkapi data oleh robot. Karena merupakan pola yang telah ditentukan maka artikel yang dihasilkan pun belum sehalus berita yang disusun jurnalis (manusia) yang sanggup menangkap makna peristiwa.

Dalam robotorial, terutama pada versi awal, banyak ditemukan pengulangan kata. Keterbatasan robot memang tidak bisa dimungkiri. Jangan berharap terlalu tinggi menyandingkannya dengan manusia yang memiliki kekayaan parafrase.

Namun sebagai sebuah kerja awal, karya robotorial yang dihasilkan jurnalis robot Beritagar masih lebih baik dari karya jurnalistik di awal karir saya yang harus belajar pola menyusun berita, memilih kata, hingga parafrase agar berita tidak membosankan.

Wakil Pemimpin Redaksi situs berita kurasi Beritagar, Rahadian P Prajnamu, mengakui kekakuan karya Robotorial. Meski demikian saya sepakat dengan Rahadian, bahwa seiring perkembangan waktu tim produksi Beritagar akan belajar agar Robotorial menulis semakin lentur. Terutama, dalam varian frasa pada judul artikel.

Pemimpin Perusahaan Beritagar Didi Nugrahadi dan Pemimpin Redaksi Yusro M. Santoso optimistis bahwa di masa mendatang akan semakin banyak produk Robotorial yang dihasilkan. Tidak hanya sepak bola dan saham, dalam waktu dekat akan muncul produk Robotorial berbasis data cuaca, kebencanaan hingga laporan balap MotoGP dan Formula One.

Yang menjadi pertanyaan: Apakah dengan adanya jurnalis robot maka peran manusia sebagai pewarta berita akan tergantikan? Petinggi Beritagar kompak menampik kekhawatiran tersebut.

Justru dengan Robotorial, jurnalis (manusia) akan sangat terbantu karena waktu yang tersita ketika mengerjakan hal bersifat klerikal dapat dialokasikan untuk menyusun karya yang lebih in-depth (mendalam) dan investigatif dalam bentuk laporan panjang dan lengkap (long form).

Peran sumber daya manusia yang mendukung terwujudnya robotorial pun masih besar. Mulai dari programmer, data scientist, hingga jurnalis. Mereka bekerja bersama agar robot mampu mengerjakan sejumlah tahapan seperti cloud computing, Internet of Things, hingga mengolah Big Data.

Dengan kode program hingga susunan (template) berita yang ditentukan oleh manusia, jurnalis robot dapat mengotomatisasi dan melakukan optimalisasi setiap tahapan dalam proses produksi berita: mengumpulkan bahan berita, pencarian lead tulisan, pembuatan berita, penyuntingan, menyortir perilaku hingga menganalisis umpan balik pembaca.

Pertanyaan berikutnya, apakah dengan presisi robot masih akan memunculkan kesalahan berita? Saya melihat hal tersebut masih mungkin terjadi. Dalam kasus LA Times, robot penulis berita peringatan gempa, Quakebot, merilis informasi keliru akibat kesalahan data yang dirilis pegawai Badan Geologi Nasional AS (USGS).

Artinya, robot yang mekanis pun mutlak membutuhkan manusia, yakni jurnalis dan ilmuwan komputer. Peranan manusia masih tidak tergantikan. Setidaknya, hingga tiba saatnya robot semakin pintar sehingga mampu berinisiatif mencari berita, melakukan verifikasi dengan menelepon narasumber, menyusun logika, dan menulis berita secara otomatis. Itulah senjakala jurnalis sebenarnya! []

*Terima kasih atas kesediaan jajaran perusahaan dan redaksi Beritagar dan jurnalis Harian Kompas Wisnu Dewabrata yang membantu terwujudnya artikel ini.

Bacaan Terkait
Algooth Putranto

Pengajar Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie sejak 2013. Lulus dari Paramadina Graduate School of Communication. Pernah bekerja sebagai wartawan di Bisnis Indonesia dan Bloomberg Businessweek Indonesia, serta sebagai analis konten pemberitaan di Komisi Penyiaran Indonesia. Kini sedang menempuh program Doktor Ilmu Komunikasi di Universitas Sahid.

Populer
Perjuangan Situs Kebencian Mengemas Omong Kosong
Kepada Wartawan: Kenapa Tak Panggil Koruptor Maling Saja?
“Politainment” Gubernur Baru Jakarta
Tak Ada Kepentingan Publik Dalam Pernikahan Kahiyang
Denny Setiawan: Internet Indonesia Lelet Karena Infrastruktur yang Belum Optimal