REMOTIVI/Eko Razaki
REMOTIVI/Eko Razaki
31/07/2018
Ramai-ramai Menyempitkan Makna Jihad
Istilah "jihad" kerap digunakan untuk aksi kekerasan yang dikaitkan dengan umat Muslim atau ajaran Islam. Apa dampak penggunaan istilah ini?
31/07/2018
Ramai-ramai Menyempitkan Makna Jihad
Istilah "jihad" kerap digunakan untuk aksi kekerasan yang dikaitkan dengan umat Muslim atau ajaran Islam. Apa dampak penggunaan istilah ini?

“The oppressed will always believe the worst about themselves,” -Frantz Fanon

Setelah penembakan brutal terhadap awak tabloid satire Charlie Hebdo yang menewaskan 12 orang dan melukai 11 lainnya di Paris pada 7 Januari 2015, berbagai media massa berbahasa Inggris memberitakan peristiwa yang mengguncang seantero Eropa tersebut dalam berbagai sudut pandang. Tak sedikit media massa yang melabeli tindakan teror Kouachi bersaudara tersebut sebagai “jihad”. Time mengunggah artikel dengan judul “Three Reasons France Become Target for Jihad” (Tiga Alasan Prancis Menjadi Sasaran Jihad), menyisipkan kelindan panjang masyarakat Prancis dengan kaum Muslim dari Afrika Utara sebagai latar belakang penyerangan Charlie Hebdo. Sedangkan Irish Times mengunggah berita berjudul “Charlie Hebdo: Why Jihad Came to Paris” sambil menekankan populasi Muslim yang besar di Prancis sebagai latar belakangnya. Tak ketinggalan pula blog islamofobik Jihad Watch yang langsung “memanfaatkan” kebrutalan di Paris tersebut dengan menerbitkan artikel opini berjudul “Charlie Hebdo Jihad Massacre: Time to Stand for Free Speech” (Pembantaian Jihad Charlie Hebdo: Saatnya Bangkit untuk Kebebasan Berbicara).

Selain istilah jihad, istilah blasteran Arab-Inggris “jihadist” juga banyak digunakan oleh situs-situs berita berbahasa Inggris untuk merujuk pada pelaku. Mirror misalnya, menerbitkan artikel yang seolah membunyikan tanda bahaya bagi warga Eropa: “We’re All at Risk as Jihadists Plot to Bring Carnage to Our Streets” (Kita Semua Dalam Ancaman Para Jihadis yang Merencanakan Kekacauan di Jalanan). Begitu juga dengan Washington Post yang menceritakan latar belakang Kouachi bersaudara dalam artikel berjudul “How a Suspected Charlie Hebdo Gunman turned into a Jihadist” (Bagaimana Terduga Pelaku Penembakan Charlie Hebdo Menjadi Jihadis).

Tiga tahun berselang setelah penembakan di Charlie Hebdo, laku teror terjadi di Surabaya dengan sasaran tiga gereja yang pada hari itu, 13 Mei 2018, sedang dipadati orang-orang beribadah.

Jika media massa berbahasa Inggris dengan sigap menandai laku teror Charlie Hebdo sebagai jihad, media massa berbahasa Indonesia tampaknya lebih berhati-hati dan cenderung menghindari menandai penyerangan gereja Surabaya sebagai jihad. Beberapa berita yang mencantumkan istilah jihad setelah penyerangan gereja Surabaya tidak menggunakan jihad untuk menadai penyerangan, melainkan untuk menunjukkan pandangan terhadap jihad yang berbeda dari tindakan teror yang sedang diberitakan. Vivanews misalnya, menulis komentar Aman Abdurrahman, terpidana teroris, yang menyebutkan laku teror terhadap gereja di Surabaya sebagai “tindakan keji berdalih jihad”. Okezone mengunggah artikel senada berjudul “Ulama Sebut Pelaku Bom Surabaya Salah Artikan Jihad”. Dalam artikel tersebut, Okezone memuat pernyataan dai kondang Arifin Ilham yang menyatakan bahwa jihad “harus sesuai tempat dan dilakukan secara mulia.” Sedangkan Detik memuat pernyataan Bambang Soesatyo yang menyerukan “jihad untuk membela negaramelawan terorisme. Memang ada pula situs berita berbahasa Indonesia yang menggunakan istilah jihad untuk menandai penyerangan gereja Surabaya. CNN misalnya, mengunggah artikel dengan judul “Doktrin Jihad Baru dan Peran Perempuan di Balik Bom Surabaya”.

Jadi, dapat dibilang media massa berbahasa Indonesia dalam kasus penyerangan gereja Surabaya tidak lantas latah dengan media massa berbahasa Inggris yang langsung menandai laku terorisme sebagai jihad. Ada semacam kewaspadaan yang barangkali berasal dari kelekatan pembaca dan pemirsa—begitu pula dengan para jurnalis—Muslim Indonesia dengan istilah jihad.

Meskipun begitu, kewaspadaan ini tak berlaku untuk istilah blasteran jihadist. Berbagai media massa mengadaptasikan istilah jihadist ini dalam pelafalan bahasa Indonesia dengan menghilangkan huruf terakhir “t” dan menggunakannya sebagai padanan teroris. Tirto misalnya, menulis berita berjudul “Bangkitnya Jihadis Perempuan” yang menuliskan secara cukup mendalam tren pelaku teror perempuan termasuk dalam penyerangan gereja Surabaya. VOA Indonesia juga memajang istilah ini dalam judul artikelnya, “Tangani Jihadis yang Kembali dari Suriah, Presiden Disarankan Keluarkan PERPU”. The Conversation bahkan dalam artikelnya, “Ketika Teroris Mengorbankan Anak dalam Aksi Bom Bunuh Diri—Apa yang Bisa Dilakukan?”, bukan hanya menggunakan berkali-kali istilah jihadis tetapi juga “jihadisme”.

Istilah  jihadist dalam Merriam Webster mulai digunakan pada 1967, tahun ketika negara-negara Arab dipermalukan Israel dalam Perang Enam Hari sekaligus menandakan tamatnya cita-cita nasionalisme Arab di bawah rezim-rezim sosialis yang dipimpin Gamal Abdul Nasser. Beberapa pengamat politik Timur Tengah berpendapat bangkrutnya nasionalisme Arab ini menjadi awal mula kebangkitan ideologi Islamis. Jadi dari awal mula digunakannya, istilah ini sudah sarat dengan konteks politik antagonisme Islam dan Barat.

Merriam Webster mendefinisikan jihadist sebagai “a Muslim who advocates or participates in a Jihad”. Sedangkan jihad dalam Merriam Webster diterjemahkan,“a holy war waged on behalf of Islam as a religious duty; also: a personal struggle in devotion to Islam especially involving spiritual discipline”. Jika merujuk ensiklopedia berbahasa Inggris tertua Britannica, kita dapat menemukan jihad didefinisikan sebagai “a religious duty imposed on Muslims to spread Islam by waging war”. KBBI menerjemahkan jihad dengan nuansa dan penekanan yang berbeda, yaitu pertama-tama sebagai “usaha dengan segala daya upaya untuk mencapai kebaikan”, kedua sebagai “usaha sungguh-sungguh membela agama Islam dengan mengorbankan harta benda, jiwa, dan raga”, baru terakhir sebagai “perang suci melawan orang kafir untuk mempertahankan agama Islam”.

Merriam Webster dan Britannica lebih menekankan dimensi kekerasan atas nama Islam (war on behalf/in devotion to Islam) dalam menerjemahkan jihad. Britannica bahkan juga menyertakan dimensi memaksa (imposed) dan ekspansionis (to spread) dalam memaknai jihad. Sedangkan KBBI lebih menekankan pada dimensi jihad sebagai usaha sungguh-sungguh mencapai kebaikan dan pengorbanan. KBBI juga menyertakan penekanan defensif “mempertahankan”saat menerjemahkan jihad sebagai “perang suci”.

Jurnalis media massa berbahasa Inggris cenderung lebih merujuk pada terjemahan versi Merriam Webster dan Britannica ketika menggunakan istilah jihad. Media massa berbahasa Indonesia memang masih cenderung enggan menggunakan istilah jihad untuk menandai aksi teror. Namun, ketika media massa berbahasa Indonesia turut mengadopsi istilah blasteran “jihadis” sebagai kata ganti teroris, media massa berbahasa Indonesia berarti juga menerima terjemahan yang menekankan dimensi jihad sebagai kekerasan ekspansionis oleh Muslim. Dalam perbincangan kita sehari-hari, diskusi akademik, hingga perumusan kebijakan pemerintah pun jihad menjadi kata ganti dari laku teror yang dilakukan oleh Muslim. Makna jihad sebagai kebiadaban yang hanya dapat dilakukan umat Muslim akhirnya menjadi semacam prima facie.

Kontestasi Pemaknaan Jihad

Memaknai jihad sebagai kekerasan ekspansionis oleh Muslim barangkali tidak sepenuhnya menyesatkan. Justru kita akan gagal memahami totalitas makna jihad jika menolak sama sekali dimensi kekerasan dan ekspansionis dari jihad. Dalam Al-Qur’an kata jihad diulang hingga 41 kali dan kebanyakan memang dilatarbelakangi situasi perang melawan kafir (Indrawan, 2014). Secara historis para ahli fiqih mulai menggunakan jihad menggantikan “futuh” (secara harafiah berarti pembukaan) seiring dengan makin meluasnya penaklukan imperium Muslim di semenanjung Arab (Krogt, 2014). Dimensi ekspansionis jihad dapat dilihat pada bagaimana jihad digunakan sebagai cara untuk memperluas darul-Islam (wilayah yang dikuasai Muslim) dengan menaklukkan darul-harb (wilayah yang dikuasai kafir). Pengamalan jihad oleh kelompok Islamis militan yang kita lihat hari ini mengaburkan batas darul-Islam dan darul-harb, lantaran teritori darul-Islam menjadi tak jelas setelah tak ada laginya imperium Muslim. Kita tidak mungkin mengesampingkan dimensi-dimensi ini dalam pemaknaan jihad.

Namun berulang-ulang mereproduksi jihad sebagai kekerasan ekspansionis oleh Muslim dapat menyempitkan makna jihad, dan penyempitan makna jihad ini dapat memunculkan konsekuensi-konsekuensi kontraproduktif khususnya bagi komunitas-komunitas Muslim di berbagai belahan dunia.

Pemaknaan jihad memang sarat dengan kontestasi yang dipengaruhi kepentingan politik. Berbagai “kategori” jihad pun muncul. Ada salah satu hadits dhaif (lemah rantai periwayatannya) yang mencatat Nabi Muhammad pernah berujar pada sahabat-sahabatnya saat kembali dari pertempuran, “kita telah kembali dari jihad ashghar ke jihad akbar”. Jihad akbar (secara harafiah berarti jihad yang lebih besar) merujuk pada jihad melawan hawa nafsu diri sendiri, sedangkan jihad ashghar (secara harafiah berarti jihad yang lebih kecil) merujuk pada perang melawan kafir. Sekalipun dikategorikan sebagai hadits dhaif, pesan dalam hadits ini senada dengan hadits lain berstatus shahih yang diriwayatkan dalam Musnad Ahmad, Sunan at-Tirmidzi, Sunan Abi Dawud, dan Sahih Ibn Hibban, “jihad yang paling utama adalah jihad melawan nafsu sendiri karena Allah,”. Istilah jihad akbar dan jihad ashghar juga digunakan oleh kalangan akademisi, kadang diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai greater jihad dan lesser jihad (Krogt, 2014).

Jihad ashghar seringkali secara lebih eksplisit disebut jihad militer/militeristik. Dalam konteksnya, jihad militer diinterpretasikan menjadi jihad defensif dan jihad global. Interpretasi jihad defensif membatasi jihad militer sebagai upaya mempertahankan diri atau membela darul-Islam. Interpretasi jihad defensif ini menurut Rudolph Peters (1979: 160), pakar keislaman University of Amsterdam, muncul pertama kali pada 1870-an dari ulama India yang ingin meredakan konflik antara Muslim India dengan penjajah Inggris. Sedangkan interpretasi jihad global muncul dari konteks yang lebih kontemporer, yaitu perang global melawan terorisme. Jihad global merujuk pada teror atas nama jihad yang dioperasikan di darul-harb dengan tujuan menyerang kaum kafir (Agiboa, 2014). Dua interpretasi jihad militer yang saling bertolak belakang ini sama-sama dipengaruhi konteks politik aras global pada zamannya masing-masing.

Penyempitan Makna dan Pelegitimasian Identitas

Ketika media massa secara berjamaah menyempitkan makna jihad sebagai jihad militer yang memaksa dan ekspansionis, media massa berarti menggeser makna jihad dari alam kehidupan sehari-hari ke alam gawat-darurat. Jihad yang sebenarnya relevan dalam kehidupan sehari-hari seolah-olah hanya relevan dalam kekerasan dan perang. Pemaknaan jihad sehari-hari yang dapat berlangsung demokratis turut berubah dalam pemaknaan jihad militer yang hanya berlangsung searah.

Penyempitan makna jihad ini sejalan dengan, meminjam konsep Manuel Castells, pelegitimasian identitas (legitimizing identity) oleh barat dan institusi-institusi dominannya yang memandang Islam sebagai liyan. Menurut Castells, pelegitimasian identitas bertujuan untuk merasionalisasi dominasi suatu golongan terhadap golongan yang lain melalui arena masyarakat sipil (Castels, 2010: 8). Institusi-institusi barat merasionalisasi dominasinya sebagai pembawa keberadaban, demokrasi, dan pasar bebas sambil terus memproyeksikan rasa bersalah dan rendah diri pada golongan-golonganliyan yang terdominasi. Golongan-golongan yang terdominasi bahkan mungkin saja menerima identitas yang diproyeksikan oleh institusi dominan melalui proses internalisasi (Castels, 2010: 7).

Dalam konteks penyempitan makna jihad, komunitas-komunitas Muslim digiring untuk meyakini jihad sebatas pada potensinya yang paling destruktif saja. Lantaran jihad sedemikian melekat dengan Islam sejak pewahyuan hingga dinamika sejarahnya, meyakini jihad pada potensinya yang destruktif membuat kaum Muslim secara tidak langsung juga mewaspadai keislamannya sendiri. Di titik inilah rasa bersalah dan rendah diri menyusup dan bersemayam dalam-dalam. Milyaran Muslim yang jumlahnya hampir seperempat dari total penduduk dunia harus merasa rikuh dan apologetik tiap kali tersiar kabar kebiadaban berlabel jihad, kebiadaban yang besar kemungkinan sama sekali tak ada hubungannya dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Komunitas-komunitas Muslim harus keluar dari kungkungan apologetik dan merebut kembali makna jihad. Kesungguhan dalam mempertimbangkan dan memilih jalan jihad yang paling sesuai untuk menjawab tantangan zaman merupakan bagian dari jihad yang paling krusial. Sebab Islam dan jihad bukanlah fenomena yang tunggal dan homogen, maka potensi jihad pun merentang dari kekerasan gawat darurat hingga welas-asih harian. []

Bacaan Terkait
Azhar Irfansyah

Bergiat bersama Forum Islam Progresif dan mengajar di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya.

Populer
Retorika dalam Kemasan Super
Mendukung Propaganda Orde Baru, TV One Memang Beda
Bolehkah Jurnalis Mengekspresikan Dukungan Politiknya di Media Sosial?
Kasus Dandhy dan Makna Ujaran Kebencian yang Cemar
Generasi Jurnalis yang Hilang