REMOTIVI/Eko Razaki
REMOTIVI/Eko Razaki
27/07/2018
Bahaya Bagi Kesehatan Jiwa dalam Berita Bunuh Diri
Pemberitaan bunuh diri yang bermasalah berpotensi memicu orang yang rentan melakukan bunuh diri susulan. Bagaimanakah jurnalis seharusnya bersikap?
27/07/2018
Bahaya Bagi Kesehatan Jiwa dalam Berita Bunuh Diri
Pemberitaan bunuh diri yang bermasalah berpotensi memicu orang yang rentan melakukan bunuh diri susulan. Bagaimanakah jurnalis seharusnya bersikap?

PERHATIAN : BEBERAPA SUMBER BERITA DALAM ARTIKEL INI MEMILIKI KONTEN BUNUH DIRI, HARAP TIDAK MEMBACA LEBIH LANJUT SUMBER BERITA TERKAIT APABILA ANDA DALAM KONDISI DEPRESI/MEMILIKI KECENDERUNGAN BUNUH DIRI

Pemberitaan bunuh diri di Indonesia masih berada dalam tahap yang sangat memprihatinkan. Kematian bunuh diri, yang masih dipenuhi stigma oleh masyarakat, seringkali ditampilkan seperti rentetan drama. Contoh paling jelas baru-baru ini adalah kasus kematian bunuh diri EPA, seorang siswi SMP di Blitar. Alih-alih memberikan informasi dan pengetahuan yang akurat mengenai bunuh diri dengan cara yang sehat, berbagai media berfokus pada asumsi dan metode bunuh diri serta ranah pribadi kehidupan EPA.

Dalam pemberitaan bunuh diri EPA, terdapat banyak berita yang menjabarkan metode dan asumsi penyebab tunggal bunuh diri di tajuk berita daring, misalnya dalam artikel Jatim Times, serta artikel Tribunnews ini dan ini. Kanal berita daring juga banyak menjelaskan detail kronologis dan informasi pribadi terkait bunuh dirinya, dipenuhi dengan asumsi tunggal yang ditanyakan dari orang sekitar, ditambah dengan dramatisasi tanpa memperhatikan privasi yang bahkan sudah diminta di dalam surat wasiat bunuh diri korban.

Pemberitaan bunuh diri juga sering dibungkus dalam narasi sensasional. Hal ini dapat dilihat dalam berita kematian bunuh diri selebritas. Salah satu contoh yang paling jelas adalah munculnya pemberitaan berdasarkan rumor di media sosial terkait percobaan bunuh diri tiruan dari fans setelah kematian Jong Hyun bulan Desember lalu. Tanpa adanya bukti yang cukup mengenai kejadian ini, media bersangkutan melaporkannya tanpa mempertimbangkan dampaknya pada komunitas penggemar yang sedang berduka.

Praktik pemberitaan bunuh diri seperti ini bukan hanya menyebarluaskan informasi yang salah tentang bunuh diri, tapi juga berbahaya bagi kesehatan jiwa pembacanya. Menurut Stack (2003), pemberitaan bunuh diri yang tidak sehat ini dapat memicu pemikiran bunuh diri dan bunuh diri tiruan pada kelompok rentan berusia remaja. Fenomena ini disebut sebagai efek Werther.

Menurut Stack (2003), setidaknya terdapat tiga penjelasan mengapa banyak bunuh diri tiruan terjadi setelah pemberitaan bunuh diri yang tidak sehat. Penjelasan pertama, adalah seorang individu mengalami pembelajaran sosial bahwa ada orang lain yang mengalami masalah tertentu dan menyelesaikan masalahnya melalui cara bunuh diri. Pembelajaran sosial membuat orang dengan masalah yang dijadikan asumsi tunggal penyebab bunuh diri dari kasus tersebut (seperti masalah romansa, kesulitan ekonomi, penyakit kronis, perundungan, pemerkosaan dan hal lainnya) menganggap bahwa bunuh diri adalah solusi terbaik untuk masalahnya.

Penjelasan kedua adalah adanya proses identifikasi yang lebih kuat dengan jenis berita bunuh diri tertentu. Kasus bunuh diri selebritas dianggap mempengaruhi lebih banyak orang untuk berpikir bahwa jika mereka yang terkenal, sukses dan berkarier baik saja tidak kuat menjalani hidup, apalagi mereka sebagai orang awam yang menjalani hidup lebih berat. Hal ini akhirnya menyebabkan kematian bunuh diri selebritas lebih berdampak pada penerimaan tindakan bunuh diri dibandingkan, katakanlah, bunuh diri orang awam. Sebuah studi di Korea (Kim, Park, Nam, dkk, 2013) menunjukkan adanya risiko bunuh diri tiruan lebih lama pada selebritis penghibur dengan durasi sekitar 6 minggu sedangkan kematian bunuh diri politisi mempengaruhi sekitar 4 minggu. Penggunaan metode bunuh diri yang sama juga meningkat sepanjang durasi ini.

Penjelasan ketiga berfokus pada kondisi dari konsumen media. Jika sebuah berita bunuh diri muncul dalam kondisi masyarakat berisiko tinggi (seperti krisis ekonomi, tingkat perceraian tinggi, kesulitan lapangan kerja), maka ia akan memiliki efek bunuh diri tiruan yang lebih tinggi karena adanya lebih banyak orang yang memiliki risiko bunuh diri.

Bagaimanakah Memberitakan Bunuh Diri Secara Lebih Sehat?

Untuk mengatasi masalah bunuh diri tiruan, berbagai negara telah berupaya mengembangkan pedoman pemberitaan bunuh diri yang sehat. Salah satu praktik terbaik dari penerapan pedoman pemberitaan bunuh diri terdapat di Austria. Pada tahun 1987, Austrian Association for Suicide Prevention memulai kampanye media untuk mengubah jumlah dan cara peliputan media dari kasus bunuh diri di subway mereka. Kampanye media ini merupakan respons terhadap peningkatan drastis jumlah bunuh diri di subway yang berhubungan dengan peningkatan peliputan di media mereka pada tahun 1983-1986. Tercatat setidaknya ada sembilan aksi bunuh diri di subway per-enam bulan di masa-masa ini. Setelah Juni 1987, media Austria berhenti melaporkannya atau hanya melaporkannya dalam bentuk laporan pendek di halaman dalam koran. Hasilnya, hanya terdapat satu hingga empat kasus bunuh diri di subway per enam bulan setelah adanya pedoman ini. Penurunan tingkat bunuh diri di subway sebesar 75% terjadi setelah peluncuran pedoman pada tahun 1987 (Sonneck, dkk, 1994). Ditemukan bahwa angka bunuh diri di subway pun tetap rendah hingga lima tahun berikutnya.

Terlepas dari efektivitas pedoman pemberitaan bunuh diri untuk mengurangi angka bunuh diri, bukan berarti pedoman ini dapat mudah diterima oleh para jurnalis. Hasil studi dari Collings & Kemp (2010), menunjukkan bahwa jurnalis menganggap bahwa masyarakat umum memiliki kepentingan untuk mengetahui adanya berita bunuh diri yang “layak diberitakan” dan bahwa tindakan melarang pemberitaan ini memperkuat tabu sekitar bunuh diri. Para jurnalis juga menekankan pentingnya hak dari media untuk bicara bebas dan menekankan peran mereka dalam mendidik publik dan memulai pembicaraan. Dengan demikian perlu disadari bahwa pedoman ini adalah tata cara untuk peliputan yang mendidik publik mengenai bunuh diri dengan cara yang sehat, bukan alat pengekangan kebebasan pers.

WHO di tahun 2008 telah meluncurkan pedoman pemberitaan bunuh diri yang dapat diadopsi sesuai dengan konteks masing-masing negara. Situs reportingonsuicide.org juga dapat dijadikan acuan untuk pedoman pemberitaan bunuh diri. Keduanya memberikan tips mengenai apa saja yang perlu dan tidak perlu dimasukkan dalam pemberitaan bunuh diri.

Pemberitaan bunuh diri yang sehat dapat dimulai dengan memperhatikan beberapa aspek konten dalam berita. Tajuk berita yang besar, sensasional dan menggunakan metode bunuh diri (“Akibat Patah Hati, Pemuda ini Gantung Diri”) dapat diganti dengan tajuk berita yang tidak menonjolkan metode dan asumsi penyebab tunggal bunuh dirinya (“Seorang Pemuda Ditemukan Meninggal di Kamar”). Di bagian awal, berita perlu menampilkan peringatan bahwa berita mengandung konten bunuh diri sehingga orang yang dalam kondisi rentan dengan kecenderungan bunuh diri tidak dianjurkan untuk membaca berita tersebut.

Di dalam badan berita bunuh diri, informasi pribadi seperti identitas lengkap (nama dan alamat), foto dalam kondisi meninggal/video lokasi bunuh diri, dan isi dari catatan bunuh diri tidak perlu ditampilkan dalam berita. Sebagai gantinya, jurnalis dapat menggunakan foto/video yang lebih netral seperti foto/video di masa hidup, serta melaporkan ditemukannya catatan bunuh diri tanpa perlu mendetailkan apa isinya. Foto/video dari pihak keluarga yang sedang berduka juga berpotensi mendramatisir kematian bunuh diri.

Jika keluarga tidak siap untuk diwawancara terkait kematian bunuh diri, maka keluarga juga perlu diberikan ruang dan waktu privat untuk berduka. Dalam banyak kasus, penggunaan narasumber ahli yang memang memiliki keahlian dan riwayat kajian mengenai bunuh diri lebih produktif daripada mewawancarai keluarga. Wawancara dengan pihak ahli yang kompeten dapat memberikan lebih banyak ruang untuk edukasi publik mengenai bunuh diri.

Informasi yang tepat mengenai bunuh diri yang kompleks dari interaksi faktor biopsikososial perlu disebarluaskan, daripada menyebarkan asumsi tunggal penyebab bunuh diri. Berita bunuh diri juga perlu dilengkapi dengan informasi mengenai tanda peringatan bunuh diri yang dapat dikenali oleh orang sekitarnya. Selain itu, pemberitaan bunuh diri juga perlu menekankan betapa pemikiran bunuh diri dapat diatasi dengan perawatan yang tepat dan bagaimana bunuh diri dapat dicegah. Penggunaan istilah seperti “pelaku bunuh diri” dan kata-kata berkonotasi negatif seperti “konyol/nekat” juga perlu dihindari. Selain itu juga perlu menghindari istilah seperti “wabah bunuh diri” dan “meroket tajam” serta penggambaran dramatis mengenai tingkat bunuh diri yang terjadi. Alih-alih menggunakan istilah ini, istilah “peningkatan/kenaikan angka bunuh diri” dianggap lebih aman dalam menggambarkan kejadian bunuh diri.

Pesan yang harus disampaikan dalam konten berita adalah bunuh diri merupakan masalah kesehatan masyarakat, bukan masalah kriminal atau moral. Penyampaian pesan yang tepat penting untuk mengurangi stigma terhadap bunuh diri yang tidak perlu. Di akhir badan berita, perlu ditampilkan pesan untuk mencari bantuan ke orang sekitar atau professional ketika masalah pemikiran bunuh diri ini terlampau mengganggu individu. Sumber informasi yang berbasis bukti perihal bunuh diri dapat ditambahkan sebagai sumber rujukan untuk mendidik masyarakat. Peletakan pemberitaan bunuh diri juga tidak dianjurkan untuk diletakkan dalam kolom kriminal atau diperlakukan seperti berita kriminal.

Kesadaran jurnalis serta perusahaan pers dalam menerapkan pedoman ini akan membuat jurnalisme tak lagi menjadi bagian dari masalah. Peliputan bunuh diri yang sehat dan etis justru bisa turut memberi andildalam menurunkan tingkat bunuh diri tiruan, memberikan informasi yang tepat, serta mengurangi stigma dalam pemberitaan bunuh diri. []


Daftar Pustaka

Collings, S. C., & Kemp, C. G. (2010). Death knocks, professional practice, and the public good: The media experience of suicide reporting in New Zealand. Social Science and Medicine, 71(2), 244–248. https://doi.org/10.1016/j.socscimed.2010.03.017

 Kim, J. H., Park, E. C., Nam, J. M., Park, S., Cho, J., Kim, S. J., Choi, J.W, & Cho, E. (2013). The werther effect of two celebrity suicides: An entertainer and a politician. PLoS ONE, 8(12), 1–8.

Sonneck, G., Etzersdorfer, E., & Nagel-Kuess, S. (1994). Imitative suicide on the Viennese subway. Social Science and Medicine, 38 (3), 453–457

Stack, S. (2003). Media coverage as a risk factor in suicide. Journal of Epidemiology and Community Health, 57 (4), 238–240

World Health Organization. (2008). Preventing suicide: A resource for media professionals.Geneva: World Health Organization.

Recommendations for Reporting on Suicide. Diakses dari http://reportingonsuicide.org/recommendations/#dodonts

Bacaan Terkait
Benny Prawira Siauw

Benny Prawira Siauw adalah penggagas sekaligus Kepala Koordinator Into The Light Indonesia sejak 2013. Saat ini, ia sedang menempuh pendidikan Magister Psikologi Sosial Kesehatan di Unika Atma Jaya. Benny tertarik dengan pembahasan stigma dan faktor risiko bunuh diri.

Populer
Di Balik Tren Tayangan Impor
Kompas dan FPI: Kisah Usang Yang Terus Berulang
Spotify dan Tantangan Kajian Media Digital
Amplop untuk Jurnalis
LGBT dalam Media Indonesia