REMOTIVI/Eko Razaki
REMOTIVI/Eko Razaki
27/06/2018
Apakah Media Sosial Mendikte Kerja Jurnalisme?
Jurnalisme dalam era digital menghadapi banyak tantangan baru. Rezim Facebook dan Twitter adalah salah satunya.
27/06/2018
Apakah Media Sosial Mendikte Kerja Jurnalisme?
Jurnalisme dalam era digital menghadapi banyak tantangan baru. Rezim Facebook dan Twitter adalah salah satunya.

Membicarakan media massa di Indonesia saat ini akan selalu menarik. Liberalisasi dan deregulasi yang dilakukan rezim Habibie, membuat media kita bagai kuda yang lepas dari tali kekang. Jumlah media massa pasca Orde Baru berbiak luar biasa. Soal mazhab media? Meriah!

Jika di awal Reformasi media cetak tumbuh pesat, kini media daring yang melejit. Kuantitas media yang besar berbanding lurus dengan ketatnya persaingan. Seiring dengan itu, membesar pula kebutuhan awak media sebagai mesin produksi.

Adanya tren konvergensi yang marak, menuntut awak media berkemampuan multi tasking. Tak hanya perlu piawai menuangkan kabar yang sudah diverifikasi dengan rangkaian kata yang benar, runtut, dan sesuai standar etika jurnalistik, wartawan pun harus memiliki selera fotografi yang apik, membuat vlog, plus mengunggah konten ke jejaring media sosial.

Dengan beban multi tasking yang tak linear dengan tingkat remunerasi dan cepatnya pola rotasi antardesk, membuat awak media daring serupa penumpang moda transportasi yang sedang transit. Baru menyesuaikan diri, sudah dituntut menghasilkan berita yang bernas, akurat, sekaligus menarik.

Kekagetan tersebut tentu saja berakibatnya pada informasi yang disajikan karena belum memahami bidang liputan. Apakah hal tersebut masalah? Tidak juga selama mayoritas konsumen informasi di Indonesia pun hanya butuh informasi serupa kudapan crackers yang ringan, atau bahkan cukup remah crackers berupa news feed.

Riset konsumsi media terhadap 300 mahasiswa Gen-Z di 30 kampus se-Jakarta yang dilakukan pada Juni 2017 menemukan bahwa pola konsumsi berita didominasi melalui penggunaan aplikasi tukar pesan seperti WhatsApp dan Line, maupun news feed yang disediakan Facebook dan Line Today. Bila pola konsumsi Gen-Z di Jakarta dianggap sebagai representasi pola konsumsi pembaca berita daring di Indonesia, maka dapat dimaklumi jenis berita yang harus diproduksi media massa daring adalah berita ringan, cenderung remeh, dan sensasional.

Produk berita yang renyah tersebut akan menarik untuk dibagikan (viral) melalui media sosial maupun aplikasi tukar pesan. Riset Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2016 dan 2017 mendapati mayoritas penggunaan internet di Indonesia adalah untuk ngobrol (chatting) melalui media sosial. Maka tidak mengherankan bila isu di media sosial dengan media daring pun makin erat: media sosial adalah alat pemicu kabar (news-breaking tool). Yang jadi masalah, media massa kemudian memproduksi berita dengan hanya berdasarkan topik yang populer di media sosial dan mengabaikan fungsi jurnalisme dalam menyodorkan pembicaraan publik yang bermutu. Repotnya, informasi yang beredar melalui media sosial tersebut kemudian ditulis begitu saja sebagai berita oleh awak media yang kemudian dipercaya pembaca sebagai sebuah kebenaran untuk diviralkan.

Salah satu korban hal ini adalah jawapos.com dalam hal berita Muslim Cyber Army, pada Maret 2018. Beruntung redaksi jawapos.com dengan cepat mencabut berita tersebut disertai penjelasan dari Pemimpin Redaksi jawapos.com Dhimas Ginanjar Satria Perdana. Tindakan yang sesuai dengan kode etik jurnalistik, namun membutuhkan kebesaran hati.

Pemetaan praktik jurnalisme daring

Kasus jawapos.com membuat mahasiswa peminatan jurnalistik Universitas Bakrie pada April 2018 meriset hubungan antara kabar yang beredar di media sosial dan pemberitaan di media daring. Riset ini dilakukan terhadap 13 perusahaan media berikut: tribunnews.com, kompas.com, merdeka.com, suara.com, jawapos.com, nova.grid.id, beritagar.id, brilio.net, idntimes.com, tabloidbintang.com, cumicumi.com, provoke-online.com, dan voa-islam.com.   

Sebagai riset sederhana diterapkan metode beberapa langkah, yaitu penggalian informasi latar belakang media, analisis isi media untuk mengidentifikasi berita yang bersumber dari media sosial, lalu dilanjutkan verifikasi langsung terhadap penanggung jawab masing-masing media. Temuannya menarik, karena mengkonfirmasi penggunaan media sosial sebagai pemicu berita di media daring. Namun ada pula temuan yang membantah stigma berita daring yang bersifat dangkal dan yang penting heboh mengundang klik.

Beritagar.com harus ditempatkan tersendiri karena situs kurasi berita ini memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan Computer Assisted Reporting berbasis Machine Learning (ML) dan Natural Language Processing (NLP) yang berkemampuan mengumpulkan dan merangkum informasi dari media sosial dan media daring yang kemudian dikurasi oleh redaktur. Paradigma jurnalisme data dan teknologi membuat beritagar.com melangkah lebih jauh dengan merilis artikel tentang sepak bola dan pasar saham yang sepenuhnya ditulis oleh robot atau robotorial. Peran manusia? Sepenuhnya tidak ada!  

Bagaimana dengan media untuk pasar anak muda yakni cumicumi.com, provoke-online.com, idntimes.com, dan brilio.net? Kami menemukan kenyataan mengejutkan: seluruh media anak muda ini masih menerapkan disiplin jurnalistik. Meski konten yang ditawarkan terkesan santai, verifikasi tetap diberlakukan terhadap kabar yang beredar, hingga dilakukan pencabutan berita maupun ralat jika diperlukan. Yang menarik, redaksi provoke-online.com mengakui hingga saat ini mereka bukanlah perusahaan pers.

Tak jauh berbeda, nova.grid.id dan tabloidbintang.com yang menyasar pembaca perempuan bahkan mengklaim tidak mengejar kecepatan demi mematuhi disiplin verifikasi. Namun, nova.grid.id menolak menghapus konten bermasalah, dan memilih melakukan klarifikasi.  

Pada segmen pembaca umum yaitu tribunnews.com, kompas.com, merdeka.com, suara.com, dan jawapos.com terdapat pertarungan anak-cucu Grup Kompas Gramedia: tribunnews.com dan kompas.com. Fakta bahwa keduanya berada di bawah satu atap Grup Kompas Gramedia kerap membuat sebagian pembaca dan akademisi menggeneralisasi seluruh media milik Grup Kompas Gramedia adalah satu komando. Kenyataannya tidak. Sebagai entitas bisnis, mereka bersaing sama sengitnya meski kerap saling menggunakan berita milik grup mereka.

Tribun adalah generik dari Kelompok Pers Daerah (Persda) yang lahir pada 1987. Tribun kini telah menjadi raksasa koran daerah yang menyaingi jaringan Jawa Pos. Soal kelas pembaca, Tribun ditujukan bagi SES A-B maupun B-C. Sementara tribunnews.com sebagai induk bagi portal berita Tribun, adalah ujud bauran berita yang ditujukan bagi SES A hingga C.

Yulis Yulianto News Manager tribunnews.com mengakui pihaknya memang mementingkan kecepatan sementara verifikasi dilakukan secara berdampingan bahkan menyusul. Untuk tugas verifikasi ada tim khusus berjumlah 60 orang. Soal kecolongan? Diakui pernah terjadi. Strategi tribunnews.com, yang juga banyak digunakan suara.com, kerap dicibir sebagai jurnalisme umpan klik atau jurnalisme kuning. Strategi yang akan kurang relevan jika pembaca memiliki kesadaran dan kemampuan untuk memilih dan memilah informasi (literasi informasi).

Bagaimana dengan kompas.com? Lahir di bawah manajemen PT Kompas Cyber Media (KCM) pada 1998, kompas.com memiliki perbedaan medium, historis, nilai, dan pola pikir dengan koran Kompas maupun koran Kompas versi digital kompas.id. Kompas.com ditujukan bagi kelas SES A-B. Meski bermedium sama dengan tribunnews, mazhab jurnalistik yang dianut berbeda. Heru Margianto Wakil Redaktur Pelaksana kompas.com menuturkan kebijakan redaksi memutuskan menunda pemuatan berita saat informasi beredar di media sosial belum terverifikasi.

Strategi kompas.com juga digunakan jawapos.com, yang mulai berbenah tiga tahun terakhir, dan mendapati pola pengunjung mereka didominasi pembaca yang melakukan pencarian langsung. Artinya, secara perlahan ketergantungan pada isu media sosial cenderung relatif bisa dikurangi.

Bagaimana dengan voa-islam.com? Hingga saat ini voa-islam.com belum menjadi perusahaan media. Redaksi voa-islam meyakini informasi yang viral di media sosial adalah kebenaran dan mengklaim menerapkan disiplin jurnalistik dalam bekerja maupun melakukan klarifikasi ketika terdapat berita yang bermasalah. []

 

*Tulisan ini disusun berdasarkan penelitian yang melibatkan seluruh mahasiswa peserta Mata Kuliah Etika dan Hukum Media Universitas Bakrie tahun 2017 dan 2018.

Bacaan Terkait
Algooth Putranto

Pengajar Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie sejak 2013. Lulus dari Paramadina Graduate School of Communication. Pernah bekerja sebagai wartawan di Bisnis Indonesia dan Bloomberg Businessweek Indonesia, serta sebagai analis konten pemberitaan di Komisi Penyiaran Indonesia. Kini sedang menempuh program Doktor Ilmu Komunikasi di Universitas Sahid.

Populer
Perjuangan Situs Kebencian Mengemas Omong Kosong
Kepada Wartawan: Kenapa Tak Panggil Koruptor Maling Saja?
“Politainment” Gubernur Baru Jakarta
Tak Ada Kepentingan Publik Dalam Pernikahan Kahiyang
Denny Setiawan: Internet Indonesia Lelet Karena Infrastruktur yang Belum Optimal