"The day after the terrorist attack in Stockholm in april 2017." oleh Frankie Fouganthin / CC 4.0
"The day after the terrorist attack in Stockholm in april 2017." oleh Frankie Fouganthin / CC 4.0
21/05/2018
Perasaanku Bukan Milikku
Teror, tragedi, dan produksi nilai di era keterhubungan.
21/05/2018
Perasaanku Bukan Milikku
Teror, tragedi, dan produksi nilai di era keterhubungan.

Keresahan, kemarahan, kepiluan, ketidakberdayaan—serta serenteng kecamuk emosional lainnya—merongrong kita beberapa hari belakangan ini. Musababnya adalah pemboman di sejumlah gereja di Surabaya. Pertanyaan-pertanyaan berulang mengilukan dalam kepala. Apakah kawan atau kerabat saya baik-baik saja? Apakah saya bisa keluar rumah dengan aman? Mengapa ada yang tega-teganya berbuat sedemikian mengerikan kepada orang-orang tak berdaya dan tak tahu apa-apa?

Saya tak akan menampik, pemboman di Surabaya memang merupakan peristiwa yang menyedihkan. Sangat menyedihkan. Ia merupakan pameran kebencian spektakuler dan tak masuk akal yang harus dikecam. Kendati demikian, saya sepakat dengan Hizkia Yosie Polimpung yang menulis bahwa kita memerlukan disiplin emosi dalam menghadapinya. Alasan saya, yang ingin saya eksplorasi di sini, adalah keresahan dan kenestapaan kini tak lagi sekadar milik kita pribadi atau kita bagikan bersama kerabat atau kolega paling intim kita.

Pada hari kejadian pemboman, kepadatan lalu lintas dunia maya melonjak luar biasa drastis. Dalam rentangan seminggu sebelum pemboman, sepuluh isu yang paling marak ditelusuri lewat Google memperoleh rata-rata 920 ribu pencarian per hari. Pada hari pemboman, jumlah pencarian sepuluh isu teratas sekonyong-konyong saja menggapai 2,8 juta (dihitung melalui google.co.id/trends). Tujuh dari sepuluh isu teratas berhubungan dengan pemboman, seperti “bom gereja Surabaya”, “bom Sidoarjo”, “ISIS”, hingga “pelaku bom Surabaya”. Kemudian, meski seminggu sebelumnya ada sejumlah peristiwa yang punya skala menggegarkan, seperti letusan Merapi dan kekisruhan di Mako Brimob, namun jumlah isu-isu ini menjadi tak berarti seusai penyerangan teroris di Surabaya.

Saya tak bisa menghitung secara pasti lejitan dinamika di media sosial pada hari pemboman. Akan tetapi, semua unggahan yang saya jumpai merupakan reaksi terhadap bom Surabaya. Boleh jadi, ada unggahan-unggahan dengan topik lain pada titik ini. Namun, algoritme media sosial mengurasi agar pengguna internet lebih mendapatkan unggahan-unggahan yang semarak pada satu waktu. Akibatmya, menelusuri lini masa Facebook sejauh apa pun, saya sama sekali tak memperoleh unggahan dengan tema lain. Saya cukup berani menjamin, hal ini tak hanya terjadi pada satu-dua pengguna saja.

Saya kira, tidak ada masalah apabila kita lantas memperoleh informasi yang mengutuhkan gambaran kejadian yang ingin kita ketahui tersebut. Ekspresi simpati pun, yang mengalir deras melalui media sosial waktu itu, bukan cuma fenomena yang manusiawi melainkan juga penting. Hanya saja, pada satu titik, kejenuhan yang absurd mulai merebak. Informasi yang sama mulai terus-menerus diulang media daring. Informasi sampah—dari yang sekadar menggelikan sampai dengan yang berbahaya—berangsur-angsur bertebaran. Saya memperoleh, misalnya saja, laman berita berisi ciri-ciri teroris yang gambarannya tak ada bedanya dengan mahasiswa tingkat akhir yang putus asa. Belum lagi, atmosfer ketakutan yang merebak membuka lebar-lebar ruang untuk hoaks bergentayangan, yang membuat empati menjadi sesak mendapat ruang.

Redudansi dan disinformasi—apa harapannya? Sederhana: perhatian.

Kita berada dalam sebuah era serba bertaut di mana perhatian dengan mudah dikonversi menjadi nilai. Kunjungan berarti iklan. Pembaca berarti reputasi. Dan emosi meluap-luap akibat provokasi bom Surabaya, yang melecut orang-orang tak henti-hentinya menelusuri informasi dan mencurahkan bela sungkawa tulus, yang tanpa mereka sadari telah mendorong mereka untuk beraktivitas produktif. Laman-laman media daring dan media sosial sekonyong-konyong tak habis-habisnya diperhatikan—melekatkan padanya nilai yang melebihi segenap hal lainnya dalam hidup pada saat itu.

Hanya saja, perhatikan juga betapa banyak energi yang terkuras—atau tepatnya, terisap—dalam pusaran hiruk-pikuk ini. Rekan-rekan wartawan yang saya kenal kontan mengeluhkan tandasnya hari libur mereka. Selagi potensi angka kunjungan situs melambung, mereka dituntut menggali informasi seluas-luasnya dan menulis berita sebanyak-banyaknya. Kita, yang juga merupakan produsen muatan untuk media sosial, merasa harus membagikan pikiran tak habis-habisnya di laman kita, menanggapi dengan serius status-status berkaitan, atau mendebat komentar-komentar konyol yang berseliweran. Hal-hal ini bukan hanya melelahkan. Kita mengorbankan waktu yang seharusnya kita pakai untuk menenangkan diri atau merampungkan pekerjaan lain.

Tentu saja, kita perlu mengalokasikan waktu dan tenaga untuk menyatakan kedukaan yang jujur. Pada momen-momen tragis, mungkin saja kita memang tak punya pilihan selain menoleransi jam kerja para jurnalis yang melebihi proporsi serta keterlibatan kita yang berlarut-larut di media sosial. Namun, selalu ada satu titik di mana semua sudah cukup—seisi cerita sudah diwartakan dan perkara mendesak lain sudah kembali menuntut perhatian kita. Satu titik di mana apa yang dituntut bukan lagi respons-respons sentimental berlebihan melainkan apa yang bisa diperbuat secara realistis terhadap tragedi bersangkutan yang, tentu saja, simpatik dan tidak memperkeruh keadaan.

Sayangnya, kita acap gagal untuk beranjak dari fase histeria massal dalam banyak kesempatan di masa silam. Isu beras plastik, yang seharusnya sudah tuntas sesegera adanya klarifikasi dari badan kesehatan atau akal sehat, pada kenyataannya tak pernah beranjak dari pikiran banyak orang. Pergolakan emosional kita, yang merupakan kail paling manjur untuk memancing perhatian kita, pasalnya, tak kunjung putus dieksploitasi pihak-pihak tertentu. Algoritme media sosial terus-menerus mengurasi ke hadapan kita muatan yang menggugah sentimen, bahkan lama setelah ia tak lagi relevan, karena ia tetap ampuh menagih perhatian. Para redaktur memerintahkan wartawan menggali dan terus menggali isu yang disambut pengguna internet dengan histeria karena ia tak akan datang dua kali—setidaknya dalam waktu dekat.

Apa yang lantas biasanya berkembang dari pengulangan-pengulangan demikian kalau bukan spekulasi-spekulasi provokatif dari narasumber tak kompeten, meruyakkan perkara ke mana-mana, dan justru tak berbelas kasihan kepada korban?

Dan tentu kalau kita mau menengok lebih jauh, perhatian jelas bukan cuma mangsa empuk bisnis media. Perhatian merupakan modal politik—kini dengan skala melampaui semua masa yang sudah-sudah. Dengan kesadaran bahwa isu bom Surabaya merupakan pusat perhatian, elit, partai, serta kubu-kubu politik segera menjadikannya medan pertarungan yang tak lagi bisa sebatas dikatakan vulgar. Keinginan-keinginan sesederhana untuk menyampaikan keprihatinan sekonyong-konyong saja, lewat racikan mereka, menjadi kebutuhan akan ketegasan yang, dalam sejarah Indonesia, justru punya andil memprovokasi kebencian kepada kelompok-kelompok minoritas atau kesempatan untuk melekatkan setiap ancaman politik serius dengan terorisme.

Kita, karenanya, seyogianya mawas dengan kebutuhan afektif atau, yang sebutan kurang mengenakkannya, kebutuhan perasaan. Kebutuhan afektif cukup berbeda dengan kebutuhan-kebutuhan insani lainnya. Ia bukan hanya tak punya batas. Ia juga tak mudah mengenali mana yang nyata dan mana yang dibayang-bayangkan belaka. Kemurkaan, sebut saja, acap justru semakin menjadi-jadi ketika ia memperoleh penyaluran untuk dilampiaskan. Kegusaran dapat diciptakan dengan teori konspirasi tanpa bukti dan dipertahankan sepanjang teori tersebut terus-menerus dijejalkan. Hal ini, artinya, kerja untuk memuaskan kebutuhan afektif, serta nilai yang diraup darinya, sangat mungkin tak akan ada habisnya selama kebutuhan tersebut tidak direm—selama emosi kita, mengutip Yosie, tidak didisiplinkan.

Mengapa media sosial tumbuh menjadi bisnis yang besarnya tak terduga-duga? Dan mengapa kalau ada satu hal yang tak bisa mereka hentikan dalam platformnya, ia tak lain adalah maraknya sentimen antagonisme yang berkembang di sana? Ia, pasalnya, menemukan algoritme yang sanggup menyuapi perasaan negatif kita dengan sendirinya dan tanpa habis-habisnya. Dan pada hari-hari terburuk selepas kita membiarkan politisi mengumpani afeksi kita tak henti-henti, kita menggotong para pembual kolosal naik ke kursi kekuasaan. Para populis sayap kanan memanjakan warga yang gamang bahwa bangsa mereka akan kembali berdaulat setelah kelompok-kelompok berbeda ditumpas, dan janji-janji khayali ini memungkinkan warga memandatkan kepada mereka otoritas absolut.

Afeksi kolektif mengemban daya—baik daya cipta maupun daya hancur—yang luar biasa. Tragedi bukan hanya memantik aliran simpati tetapi juga berpotensi menggerakkan orang-orang. Di hari-hari di mana sentimen kita bukan lagi milik kita pribadi, kita, karenanya, patut berhati-hati, bahkan sekadar dalam berperasaan.

Bahkan sekadar dalam merasakan kedukaan. []


Para pembaca yang baik, kami sedang menggalang dana untuk kelanjutan kerja Remotivi. Kami ingin bisa terus bekerja membantu publik lebih kritis terhadap media. Kalau Anda berpendapat bahwa kerja-kerja semacam ini diperlukan di Indonesia, dukunglah kami dengan berdonasi di #DukungRemotivi.

Bacaan Terkait
Geger Riyanto

Geger Riyanto, Mahasiswa Ph.D. di Institut für Ethnologie der Universität Heidelberg. Bergiat di Koperasi Riset Purusha.

Populer
Habis Iklan Meikarta, Gelaplah Berita
Kebohongan Dwi Hartanto, Kebohongan Media?
Ketika Rosi Izinkan Gatot Nurmantyo Menyebar Disinformasi
Peluit Anjing Anies Baswedan
Persoalan Kesenjangan Digital di Indonesia