Ilustrasi: Edward Munch, 1983, The Scream
Ilustrasi: Edward Munch, 1983, The Scream
29/03/2018
Prabowo dan Politik Rasa Takut
Pernyataan Prabowo bahwa Indonesia akan bubar pada 2030 merupakan salah satu contoh dari narasi ketakutan (fearmongering) yang marak digunakan dalam media dan politik.
29/03/2018
Prabowo dan Politik Rasa Takut
Pernyataan Prabowo bahwa Indonesia akan bubar pada 2030 merupakan salah satu contoh dari narasi ketakutan (fearmongering) yang marak digunakan dalam media dan politik.

“Gambar-gambar pendiri bangsa masih ada di sini, tetapi di negara lain mereka sudah bikin kajian-kajian di mana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030. Bung, mereka ramalkan kita ini bubar.”

Pidato Prabowo dalam sebuah video yang diunggah laman Facebook Gerindra pada Senin 19 Maret lalu ini sempat viral dan menjadi buah bibir masyarakat.  Beberapa memberi komentar sinis, dan beberapa  berusaha berpikir “optimistik”, bahwa Prabowo sesungguhnya tengah berbicara secara alegorik, dan pesan moral sesungguhnya adalah “pentingnya kita menjaga kesatuan”—atau semacamnya.

Tulisan ini tidak akan mengomentari isi pidato tersebut dan mengulangi perdebatan yang kurang berfaidah tentang apakah fiksi distopia bisa disebut sebagai kajian, apakah benar novel tersebut merupakan scenario writing intelijen, atau fakta bahwa Indonesia hanya disebut secara sambil lalu dalam novel tersebut tanpa pembahasan yang mendalam dan penulisnya sendiri menanggapi pidato Prabowo seperti lelucon. Pertanyaan yang lebih menarik adalah, logika apa yang mendasari keputusan Prabowo menjadikan isu tersebut sebagai poin pembicaraan? Dampak apa yang ingin ia timbulkan dengan pidato tersebut?

Narasi Teror dan Ketakutan

“Orang bereaksi pada rasa takut, bukan cinta. Hal ini tidak diajarkan di sekolah minggu, tapi inilah kenyataannya.” -Richard Nixon

Ketika Amerika Serikat hendak menginvasi Irak, ada adegan populer saat Jenderal Colin Powell menunjukkan sebuah tabung kecil berisi bubuk putih, sambil mengatakan “senjata pemusnah massal.” Tidak ada penjelasan lebih lanjut tentang apa sesungguhnya isi tabung tersebut, atau apakah benda tersebut benar berasal dari Irak. Hal tersebut tidak penting dalam strategi komunikasi Powell. Dalam narasi teror, data dan fakta tidaklah penting; statistik yang dilebih-lebihkan, bahasa yang ambigu, dan dampak emosional-lah yang menjadi senjata utama.

Narasi ini kembali digunakan oleh Donald Trump. Awalnya, ia mengipasi ketakutan terhadap imigran gelap dari Meksiko. Setelahnya, ia kerap mengungkit terorisme dan ketakutan terhadap umat Muslim. Elektabilitasnya meningkat tajam seiring dengan ketakutan yang ia sebarkan, dan narasi teror berhasil memberikannya tampuk kepresidenan yang ia pegang hingga kini.

Kedua contoh tersebut merupakan sebuah contoh dari narasi ketakutan. Rasa takut adalah salah satu emosi paling kuat yang dapat dirasakan oleh manusia. Hal ini disadari oleh politisi: keuntungan luar biasa dapat dikeruk oleh mereka yang berhasil menyentuh dan memanfaatkan perasaan tidak aman masyarakat. Barry Glassner (2004, hal. 826) berargumen bahwa “dalam budaya ketakutan, politisi dan kelompok kepentingan telah menyalahgunakan keresahan kolektif untuk keuntungan politik yang sempit. Dengan menyebar ketakutan, mereka memafaatkannya untuk memenangkan pemilihan, mendapatkan dukungan kampanye, atau mendorong program-program yang meningkatkan kekuasaan pemerintah.” Furedi (1997) juga berargumen bahwa narasi ini kerap dilakukan untuk membungkam kritik.

Nah, bagaimana cara narasi ketakutan bekerja? Seperti dijelaskan Altheide (2006, hal. 3), ada komponen-komponen yang kerap muncul dalam proses narasi ini:

Pertama, narasi ketakutan kerap kali mencoba mereduksi dan membingkai suatu kejadian secara berlebihan atau tidak relevan, menjadi narasi “korban”. Narasi ini ditujukan untuk membuat khalayak merasa rentan, terancam, dan butuh perlindungan, dengan merangsang emosi takut mereka.

Kedua, hampir semua narasi ketakutan melibatkan demonisasi: pengkambinghitaman suatu orang atau kelompok sembagai sumber bahaya dan ancaman. Dalam proses ini, terjadi peliyanan (othering): upaya pendefinisian diri atau kelompok dengan cara mendefinisikan apa yang “berbeda dari kita” atau “bukan bagian dari kelompok kita”. Dengan kata lain, peliyanan memperkuat identitas diri atau kelompok dan memberikan rasa aman dengan cara merendahkan atau memusuhi suatu kelompok lain.

Dalam banyak kasus, narasi ketakutan digunakan untuk menjual sesuatu sebagai “solusi” dari ancaman yang digembar-gemborkan tersebut. Narasi ini sesungguhnya kerap digunakan oleh penjual minyak ular untuk menarik perhatian calon pembeli.  Dalam kasus strategi politik, narasi ini digunakan politisi-politisi yang menjual berbagai citra politik dan juga kebijakan.

Ketiga aspek ini ada dalam pidato Prabowo. Narasi “korban” ia hadirkan dalam ramalan malapetaka yang ditujukan untuk membuat khalayak merasa tersudut dan terancam. Ia mendemonisasi pihak-pihak seperti “asing”, “Tiongkok” dan “1% penguasa modal Indonesia” (yang ironisnya, sesungguhnya, mencakup dirinya sendiri), dog whistle usang yang kerap digunakan untuk mengambinghitamkan minoritas etnik Tionghoa Indonesia. Narasi ini dibungkus secara tersirat dengan pengemasan dirinya sebagai politisi strong man yang dibutuhkan Indonesia untuk menghadapi segala ancaman; pola mengkhawatirkan yang kerap ditemukan pada pemimpin-pemimpin fasis.

Dipupuk di Media

Narasi ketakutan bukanlah hal baru, ia telah dibicarakan oleh Thucydides di masa Yunani Kuno. Namun narasi jenis ini semakin menyubur di dunia—seiring dengan munculnya berbagai pemerintahan diktatorial era modern—setelah munculnya media massa.

Sebagai ilustrasi, bayangkanlah hal ini: data menunjukkan bahwa Amerika Serikat kini tengah berada dalam kondisi yang sangat aman dengan tingkat kriminalitas yang rendah sepanjang sejarah negara mereka. Akan tetapi, mayoritas masyarakat mereka justru merasa tidak aman dan percaya bahwa kriminalitas sedang meningkat. Mengapa demikian? Pandangan hidup mereka dibentuk oleh diskursus ketakutan yang mendominasi di media.

Ketakutan itu menjual. Sementara, media massa komersial yang terus hidup di bawah tekanan kompetisi dan keuntungan akan selalu mencari cara untuk menangkap dan menjaga perhatian publik. Kedua hal tersebut berujung pada diskursus ketakutan yang telah menjajah media sepanjang era informasi (Altheide, 2006 hal. 5-6). Ketakutan telah mewujud dalam simbol-simbol yang disajikan media: bingkai berita kriminal, urgensi dalam nada bicara pembawa berita, hingga iklan produk rumah tangga yang menjual ketakutan.

Diskursus ketakutan dan narasi ketakutan yang digunakan politisi hadir dari kesadaran bahwa rasa takut ternyata lebih efektif dalam menggerakkan masyarakat daripada pikiran rasional. Hal ini berujung pada kerja sama yang tidak sehat: politisi mengumbar ketakutan untuk tujuan politis, sementara media mendapatkan konten yang laris manis. Hal ini ditambah dengan ketergantungan media pada narasumber “otoritas” yang kerap kali merupakan figur masyarakat, pemerintah, atau politisi yang seringkali justru fasih menggunakan narasi ini (Altheide, 2006 hal. 9).

Hal ini tercermin dalam peliputan gonjang-ganjing orang gila gaya baru yang terjadi pada awal tahun 2018. Bukannya membantu masyarakat mencerna kasus-kasus yang terjadi di antara berbagai hoaks, media justru mengulang pendapat tokoh-tokoh publik, yang nampak sama bingungnya dengan khalayak awam tentang apa yang terjadi. Akhirnya, media malah memperparah ketakutan dan kepanikan. 

Diskursus ketakutan, jika dibiarkan meliputi masyarakat, bukanlah masalah yang sepele. Ia mengalihkan masyarakat dari masalah yang lebih serius, dan menghambat mereka dalam memahami dan melakukan tindakan rasional untuk mengatasinya. Ketakutan dan perasaan terancam bukanlah dasar tindakan yang bijak; narasi ketakutan, jika diikuti, adalah sumur tanpa dasar.

Kampanye Trump menunjukkan bahwa emosi masyarakat negara maju dan aman seperti Amerika Serikat-pun masih dapat dimanipulasi dengan rasa takut dan rentan. Namun satu hal yang dapat kita pelajari: seperti halnya Trump, Stalin yang mendemonisasi Barat, ataupun Hitler yang mendemonisasi Yahudi, masyarakat yang diarahkan oleh diskursus rasa takut pada akhirnya selalu gagal menghadirkan keamanan dan kenyamanan sesungguhnya. []


Daftar Pustaka

Altheide, D.L. (2006). “Terrorism and the Politics of Fear”. Cultural Studies Critical Studies,  volume 6 number X. CA: Sage.

Furedi, F. (1997). Culture of fear: Risk-taking and the Morality of Low Expectation. London: Cassell.

Glassner, B. (2004) “Narrative Techniques of Fear Mongering”. Social Research, 71, 819-826.

Bacaan Terkait
Firman Imaduddin

Editor dan peneliti di Remotivi. Meminati isu media, antropologi, budaya, dan perfilman. Kerap ditemukan main catur di warung kopi sekitar Rawamangun.

Populer
Bagaimana Tribunnews Membantu Terorisme?
Kuasa Rating dan Tayangan Tak Bermutu
Stereotipe Perempuan dalam Media
Berbahasa dalam Sosial Media
Tak Ada Evaluasi dalam Evaluasi Dengar Pendapat KPI