REMOTIVI/Darth Vader (CC0)
REMOTIVI/Darth Vader (CC0)
09/01/2018
Kangen Water dan Hoaks Saintifik
Masyarakat sering salah paham tentang informasi saintifik. Sementara rubrik sains di media sering diperlakukan sebagai infotainment belaka.
09/01/2018
Kangen Water dan Hoaks Saintifik
Masyarakat sering salah paham tentang informasi saintifik. Sementara rubrik sains di media sering diperlakukan sebagai infotainment belaka.

Anda mungkin kenal Kangen Water. Entah dari selebaran promosi, tante eksentrik Anda di arisan keluarga, kios rumahan di seputar kompleks, atau mungkin Anda sendiri adalah seorang pelanggan setia. Kangen Water kerap diakui menawarkan banyak sekali keuntungan kesehatan: mulai dari yang bersifat umum dan abstrak seperti “menyeimbangkan pH tubuh”, mencegah “radikal bebas”, dan meningkatkan kebugaran, hingga klaim luar biasa seperti membantu penyembuhan penyakit jantung, kanker, diabetes, dan lain-lain.

Semua terdengar terlalu muluk untuk jadi nyata. Namun, mana mungkin klaim yang telah tersebar luas ini bohong? Bukankah klaim-klaim mereka telah disokong oleh “banyak riset” seperti yang dinyatakan oleh berbagai tokoh dengan gelar “Dr.” yang tersemat manis di nama mereka? Mereka juga tentu telah melalui penilaian BPOM (Badan Pengawas Obat-Obatan dan Makanan), bukan? Namun pada 10 November tahun lalu, setelah bertahun-tahun Kangen Water dikonsumsi umum, sebuah plot twist menarik terjadi: Kementerian Kesehatan akhirnya mengeluarkan pernyataan resmi bahwa Kangen Water bukanlah produk kesehatan, dan segala klaim kesehatan mereka harus ditarik dari peredaran. Ups.

Setelah itu, barulah berbagai klaim kebenaran Kangen Water dibedah dan dikuliti abis-habisan oleh berbagai media. Sebelumya? Saya hanya menemukan satu artikel Tempo.co pada 2014 yang mencoba membahas fenomena Kangen Water secara kritis—itu pun dengan tetap menyertakan pretensi cover both sides untuk sebuah kebohongan yang dapat dijelaskan cukup dengan googling 20 menit. Nampaknya, media agak terlambat dalam menjalankan fungsi mereka sebagai penyedia informasi penting bagi publik.

Memang, awetnya penipuan Kangen Water tidak bisa disebut sebagai kesalahan media. Selain menunjukkan dosa para pedagang “minyak ular” yang fakir moral, insiden ini juga menunjukkan lemahnya pengawasan dan regulasi negara yang seharusnya bertugas melindungi warga. Namun, itu bukan berarti bahwa media tidak dapat mengambil peranan yang lebih penting dalam melindungi warga. Bagaimana caranya? Dengan jurnalisme sains yang lebih baik dan lebih kritis.

Jurnalisme sains atau sekadar infotainment?

Sains menjalankan peran yang sangat penting dalam hidup manusia, sekaligus memiliki aura otoritas yang sangat kuat dalam mempengaruhi opini publik. Sayangnya, sains memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi dan proses yang panjang, sehingga sulit dipahami dan disimpulkan oleh awam. Jangankan awam, tingginya tingkat kekhususan sains bisa saja membuat seorang profesor geografi atau fisika salah kaprah luar biasa tentang suatu pengetahuan mendasar dalam ilmu psikologi atau ekonomi.

Untuk menjembatani jurang masalah inilah, jurnalisme sains sesungguhnya memiliki potensi besar. Jurnalisme sains menjalani peran penting sebagai penerjemah dari bahasa sains yang kompleks, mendetail, dan penuh jargon menjadi bahasa yang dapat dipahami oleh orang banyak dengan tetap menjaga akurasi dari informasi tersebut. Di atas kertas, selain membantu menginformasikan publik tentang informasi sains yang penting, ia seharusnya dapat membantu dengan bersikap kritis terhadap klaim kebenaran yang mengatasnamakan sains—seperti berbagai klaim kesehatan Kangen Water.

Mayoritas dari situs berita daring di Indonesia memiliki semacam rubrik sains, mulai dari KompasRepublika Online , hingga Tribunnews. Sayangnya, logika yang mendasari hampir keseluruhan dari mereka sesungguhnya adalah logika “infotainment”. Artikel-artikel ini menggunakan pemilihan headline yang seksi dan menarik perhatian serta gaya penulisan yang menghibur.

Dalam membedah informasi sains, media-media tersebut banyak menghadirkan kisah yang melayani imajinasi pembaca: penemuan baru yang membantu menguak misteri alam semesta, penyakit-penyakit misterius dan kelainan aneh, atau bahkan perilaku seks nyeleneh dari spesies binatang tertentu. Selain itu, mereka juga kerap mengulas sisi sains yang dekat dengan hidup kita: terobosan terbaru dalam bidang medis (serta kisah humanis tentang seorang anak kecil yang tertolong oleh penemuan tersebut) atau penjelasan ala pop science tentang gizi, pola hidup sehat, atau diet.

Hal tersebut memang tidak sepenuhnya buruk, ia bisa meningkatkan minat khalayak terhadap sains dan juga mendidik masyarakat hingga taraf tertentu. Namun, gaya infotainment yang dominan ini melewatkan satu aspek penting dari sains: kritisisme. Tanpa kritisisme, sains tidak dapat disebut sains. Hasil studi haruslah selalu diuji dan direplikasi, ia selalu rawan terhadap kelalaian, bias, dan kesalahan. Bahkan, sudah menjadi rahasia umum bahwa mayoritas hasil riset yang dilakukan tidak berhasil direplikasi.

Hal tersebut terjadi bukan karena sains tidak dapat diandalkan, melainkan karena para peneliti juga manusia yang memiliki bias kognitif dan rawan melakukan kesalahan sistematik. Ia juga disebabkan oleh cara sains itu sendiri bekerja: terobosan saintifik umumnya meliputi banyak kajian yang dilakukan ratusan peneliti dan melalui bertahun-tahun proses replikasi, perdebatan, dan pengujian—bukan hal yang mudah untuk dibungkus dan disimpulkan dalam sebuah artikel daring dengan tajuk genit seperti “Riset Membuktikan Bahwa Kopi Membantu Mengurangi Risiko Ambeien.”

Sayangnya, mayoritas dari artikel sains menerima secara mentah laporan press release dari sebuah tim peneliti tertentu, melakukan simplifikasi dalam kadar yang cukup ekstrim dan memberi bumbu bombastis yang menekankan aspek kebaruan dan human interest dari temuan riset. Kerap kali, media juga menyalin secara mentah konten belian dari media internasional seperti Times of India, The Guardian, atau Science Alert. Penulisan jenis ini hampir tidak pernah memberikan perspektif kritis yang seharusnya sangat dekat dengan sains. Peliputan seperti ini juga kerap kali menyederhanakan proses saintifik yang rumit, dan mengambil kesimpulan-kesimpulan yang salah arah demi membuat suatu artikel menjadi sederhana dan menarik.

Contoh dari penyederhanaan ini adalah artikel tentang penggunaan daun sirsak sebagai obat kanker. Kanker, seperti banyak isu kesehatan lain, merupakan isu vital yang akan selalu mendapatan perhatian publik. Di tengah pasar informasi yang tercampur aduk dengan simpang siur berita pengobatan kanker yang tidak bertanggung jawab, perlu ada pihak yang dapat menginformasikan publik secara layak.

Daun sirsak kerap digunakan sebagai obat tradisional, dan memang sebuah penelitian pernah menunjukkan bahwa ia memiliki potensi anti-kanker. Sayangnya, semua penelitian yang sudah dilakukan bersifat in vitro—penelitian yang dilakukan pada sampel sel dalam laboratorium. Belum ada data yang bisa diandalkan terkait dampak nyatanya pada tubuh manusia; penelitian daun sirsak adalah proyek yang belum selesai. Bahkan, zat turunan sirsak yang terindikasi menghambat pertumbuhan kanker ternyata memiliki potensi dampak buruk terhadap sistem syaraf jika dikonsumsi secara berlebihan; fakta ini juga yang mempersulit pengujian langsung pada subjek manusia.

Sayangnya, berbagai media justru mengambil sudut paling simplistik yang bertujuan menarik klik dari cerita daun sirsak. Republika OnlineCNN IndonesiaMerdeka.comVivanews, hingga Tribunnews memberitakan daun sirsak sebagai obat kanker yang terbukti berkhasiat. Beberapa mengutip penelitian yang sudah ada tanpa sejumput pun kritisisme, seolah sebuah informasi adalah kebenaran mutlak karena ia disampaikan oleh seorang peneliti bergelar. Beberapa bahkan secara tidak tahu malu mempromosikannya dengan berbagai cara pengobatan tanpa sumber yang jelas, baik sebagai ekstrak rebusan atau pil ekstrak daun sirsak. Hanya National Geographic dan sebuah artikel lain dari CNN Indonesia yang mengulas daun sirsak dan kanker dengan perpektif kritis dan informasi yang lebih lengkap.

Jurnalisme sains yang kritis

Kasus Kangen Water dan daun sirsak menunjukkan bahwa sains memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan publik. Namun, dengan segala kompleksitas dan aura otoritas yang ia miliki sains menjadi sangat mudah disalahpahami, dieksploitasi, dan direpresentasikan dengan buruk. Ketika hal itu terjadi yang paling dirugikan adalah publik, apalagi ketika ia berhubungan dengan isu kesehatan.

Masalah ini memang pelik, dan tidak hanya terjadi di Indonesia. Secara umum, logika sains yang dingin dan rumit memang sulit disatukan dengan logika jurnalisme yang lebih cair dan manusiawi. Berita sains yang bersifat menghibur ala infotainment, atau halusnya edutainment, juga bukan hal yang bersifat buruk. Namun untuk isu vital seperti kesehatan, media perlu mengambil sikap yang jauh lebih kritis. Ketika ia hanya mengambil orientasi komersial, ia bisa saja tengah mengeksploitasi si sakit dan keluarganya yang sedang putus asa.

Tidak semua situs berita memiliki performa buruk dalam melaporkan isu saintifik. Kompas misalnya, kerap kali mengangkat artikel yang ditujukan untuk membongkar berbagai mitos dan salah paham tentang sains. Banyak media dapat mengambil pelajaran dari Kompas (untuk perbandingan dengan konten televisi, sila tonton “Komersialisasi Kesehatan di Layar Televisi”).

Namun, fakta yang ada menunjukkan bahwa masih banyak kekurangan yang dapat diperbaiki. Iklim media komersil yang terobesi pada klik dan pendeknya rentang perhatian konsumen mungkin menekan media untuk sedikit berinvestasi pada reportase sains yang baik dan mendalam. Sekadar membeo berita sains dari sumber luar atau mengemas ulang press release dari temuan riset yang terdengar seksi bisa jadi lebih mudah dan menguntungkan.

Di sisi lain, kita banyak berbicara soal hoaks dan dampak buruk yang ia timbulkan. Kita juga umumnya menganggap serius isu kepentingan publik seperti korupsi. Itu yang membuat budaya fact-checking dan pencegahan hoaks digaungkan, dan media-media jurnalisme investigatif seperti Tempo menunjukkan bahwa jurnalisme kritis masih memiliki tempat, terutama dalam isu-isu yang vital bagi publik. Tapi, tidak bisakah kita mengerahkan komitmen yang sama atas kebenaran seperti kita mengupas isu hoaks politik atau isu korupsi? Sebab misrepresentasi dan eksploitasi otoritas sains adalah juga sejenis hoaks, dan kepentingan yang dipertaruhkan juga merupakan kepentingan publik yang bahkan bisa menyangkut hidup mati seseorang.

Sains memang penting dan menarik, namun sains bukan hanya tentang “babi terjelek di dunia” atau “terapi memutihkan penis”. Masih sangat banyak kesalahpahaman saintifik di Indonesia yang setiap hari semakin menyesatkan publik. Sayangnya, banyak di antaranya justru disebarkan oleh media sendiri. Jika media lebih hati-hati dan kritis, dan mengambil inisiatif lebih besar dalam menginvestigasi klaim-klaim “saintifik”, bisa saja kegaduhan Kangen Water dan berbagai kekonyolan semacamnya bisa lebih cepat terdeteksi. []

Bacaan Terkait
Firman Imaduddin

Editor dan peneliti di Remotivi. Meminati isu media, antropologi, budaya, dan perfilman. Kerap ditemukan main catur di warung kopi sekitar Rawamangun.

Populer
Perjuangan Situs Kebencian Mengemas Omong Kosong
Kepada Wartawan: Kenapa Tak Panggil Koruptor Maling Saja?
“Politainment” Gubernur Baru Jakarta
Tak Ada Kepentingan Publik Dalam Pernikahan Kahiyang
Denny Setiawan: Internet Indonesia Lelet Karena Infrastruktur yang Belum Optimal