Public Domain
Public Domain
11/10/2017
Jurnalisme Media Tanpa Rumah
Perkembangan teknologi memungkinkan lahirnya praktik baru bermedia. Media Tanpa Rumah adalah salah satunya.
11/10/2017
Jurnalisme Media Tanpa Rumah
Perkembangan teknologi memungkinkan lahirnya praktik baru bermedia. Media Tanpa Rumah adalah salah satunya.
Tulisan ini telah diperbaharui berdasarkan temuan yang disampaikan melalui e-mail oleh pembaca kami Dominico Zekhonya. Alih-alih menerjemahkan "billion" menjadi "milyar" berdasarkan sumber datanya, tulisan ini menggunakan "triliun". Dengan ini kami ingin meminta maaf kepada pembaca atas ketidaktelitian kami, dan mengucapkan terima kasih kepada Dominico. Salam.
 
Bagian yang diperbaharui (ditebalkan dan dimiringkan): "Dari data yang dihimpun Marioni lewat comScore, pada 2015, konsumen media digital di Amerika menghabiskan waktu 779 triliun menit lewat ponsel, sedangkan lewat desktop"hanya" 551 
triliun menit. Dari total semuanya, eMarketer memberi catatan: 170 triliun menit dihabiskan lewat Facebook.

Ketika para tech giants seperti Facebook dan YouTube mulai mengembangkan platform mereka selayaknya media digital, ketika itu pula jamak ditemui praktik baru bermedia yang dikenal dengan istilah "media tanpa rumah" atau "homeless media".

Istilah homeless media merujuk kepada segelintir media yang bermukim dan mengembangkan bisnisnya di tiap platform media sosial raksasa seperti Facebook, Instagram, YouTube, atau Snapchat.

Secara bisnis, konsep ini menarik karena ia memotong ongkos operasional secara signifikan. Tak perlu ada situsweb, maka tak perlu ada biaya untuk (perawatan) domain, hosting, server, desain, dan developer. Sementara konsep bisnis yang melulu berbasis Google Analytics (GA) dapat mulai ditinggalkan secara perlahan. Ini dikarenakan platform yang tersedia memberi layanan lengkap untuk menarik sekaligus memetakan pembaca.

Platform media sosial raksasa, wabilkhusus Facebook dan YouTube, telah mengembangkan sistem analitiknya masing-masing yang tak berbeda jauh konsepnya dengan GA. Facebook bahkan memberikan spesifikasi analitik lebih detail seperti ras/warna kulit, suporter klub sepak bola, atau penggemar band tertentu.

Hal tersebut lebih dapat memudahkan monetisasi sekaligus mengail potensi ekonomi yang lebih menguntungkan. Namun, persis di titik ini pula biaya terbesar homeless media dikeluarkan: promosi. Semakin luas cakupan promosi mereka, semakin besar pula biayanya.

Sementara itu dari segi engagement, homeless media jelas memiliki peluang ketersebaran lebih tinggi dibanding media arus utama. Jika media arus utama memerlukan segala strategi (baca: "bakar uang") di out-platform untuk mengakuisisi orang ke in-platform mereka, homeless media mengeluarkan biaya dengan tujuan lebih untuk membentuk pembaca setia, penggemar, atau ceruk audiens baru.

Homeless media merupakan murni kerja kreatif, maka pendekatan konten adalah ujung tombak keberhasilannya. Semakin menarik dan kreatif konten yang ditawarkan, semakin berkembang bisnisnya. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan homeless media tidak berangkat dari pendekatan jurnalisme digital yang fokus menyasar kecepatan penayangan atau isu terkini. Segmentasi konsumenlah yang menjadi komoditas utamanya.

Sependek penulis pahami, homeless media, terutama di Facebook, memang lebih memaksimalkan konten berbasis (audio)-visual. Data yang dihimpun Tech Crunch pada November 2015 menyebutkan, dengan 500 juta pengguna Facebook, ketertontonan video per hari mereka mencapai angka 8 triliun. Jumlah tersebut lebih besar dua kali lipat dibanding data April 2015. Maka silakan dibayangkan betapa besar potensi keuntungan yang dapat dikeruk oleh homeless media jika mereka berhasil merancang segmentasi bisnisnya.

Tak jauh berbeda dengan media daring konvensional, potensi laba homeless media salah satunya juga didapat dari tingginya traffic. Data traffic—yang di platform media sosial tampil dalam wujud jumlah viewers, likers, subscribers, atau followers—adalah data yang kemudian menjadi acuan homeless media untuk menggaet pengiklan. Namun, kendati sama-sama mengedepankan traffic dan membentuk native ads, ada perbedaan signifikan antara kedua jenis media ini dalam hal teknis.

Media arus utama terbiasa menggunakan banner di ruang kosong yang terdapat di laman mereka untuk pengiklan. Kadang berbentuk pop-up banner, ada juga yang skinner (banner yang terletak di sisi kiri dan kanan layar). Semakin besar ukuran atau semakin sering banner tersebut tampak oleh pembaca, semakin tinggi pula nominal yang dikeluarkan oleh pengiklan. Selain berbentuk visual, kadang media arus utama juga menyajikan iklan dalam bentuk konten yang sifatnya soft selling.

Dalam ranah homeless media, terutama di Facebook, konsep banner perlahan mulai ditinggalkan dan diganti dengan variasi cuplikan video berdurasi pendek. Cuplikan video yang muncul sebelum video disebut pre-roll. Cuplikan ini terkadang dapat dihilangkan, dapat pula tidak. Adapun yang dapat dihilangkan disebut dengan istilah true view. Panjang atau pendek durasi video tersebut menentukan tarif iklan.

Lantas bagaimana logika bisnis homeless media dibangun? Mari simak empat contoh merek homeless media yang belakangan namanya tengah menanjak. Mereka adalah Nowthis, The Dodo, Thrillist, dan Seeker. Keempatnya kini tergabung dalam sindikasi konten di bawah atap perusahaan Discovery Communications. Dalam artikel yang ditayangkan Tech Crunch, Ben Lerer, CEO sindikasi perusahaan tersebut memberi alasan terkait penggabungan empat perusahaan tadi.

"Kami akan menjadi merek yang lebih kuat dengan bekerja bersama—kami akan lebih berpengaruh; kami akan memiliki data dan wawasan yang lebih baik; kami akan menjadi partner yang lebih baik bagi para pengiklan kami; dan yang paling penting, kami akan cukup kuat untuk membuat perbedaan nyata dan menjadi yang terdepan di bisnis ini.”

Diferensiasi, itulah kata kuncinya. Dengan menspesifikasikan genre/tipe konten, tiap homeless media tersebut akan memiliki pembaca setia yang spesifik. Dan hal itulah yang selalu dicari para pengiklan saat ini. Sebab, data yang disajikan homeless media tak sekadar tingginya kunjungan situs, tapi langsung merujuk kepada jenis konsumen spesifik yang diinginkan pengiklan. Situasi tersebut membuat hubungan simbiosis mutualisme antara media dengan pengiklan.

Francesco Marioni, Strategy Manager dari The Associated Press, dalam tulisannya, ”The Rise of Homeless Media”, menjelaskan ada dua poin yang menyebabkan mengapa bisnis homeless media kian menggiurkan.

Pertama, lonjakan drastis pengakses media digital lewat ponsel. Dari data yang dihimpun Marioni lewat comScore, pada 2015, konsumen media digital di Amerika menghabiskan waktu 779 milyar menit lewat ponsel, sedangkan lewat desktop "hanya" 551 milyar menit. Dari total semuanya, eMarketer memberi catatan: 170 milyar menit dihabiskan lewat Facebook.

Kedua, seperti yang sedikit dijelaskan di awal, platform seperti Facebook telah menyediakan sistem yang memudahkan distribusi dan monetisasi bagi media digital. Lewat spesifikasi genre pembaca, media arus utama cukup menyaring sekaligus mengkreasi konten agar sesuai dengan data yang didapat.

Bagaimana Media Umum Menyikapi Kemunculan Homeless Media?

Melihat berbagai keuntungan yang didapat dari sistem homeless media, beberapa media besar pun turut mengembangkan lini konten mereka secara khusus untuk memaksimalkan kinerja di ranah third parties.

AJ+, misalnya, merupakan sayap Al Jazeera yang berbasis konten video di Facebook. Begitu pula Tasty dari Buzzfeed. Vice juga sudah lebih dulu memaksimalkan monetisasi dari YouTube. Pun demikian dengan Vox. The Washington Post sejak 2015 juga telah mengumumkan akan memuat 100% konten mereka lewat ”Instant Article” di Facebook agar para pembaca dapat mudah mengaksesnya. Sementara sejak pemilihan presiden 2016, CNN membentuk biro konten politik untuk menggaet market anak muda lewat fitur discover di Snapchat. Sebagian besar konten dari media terkait di atas tak akan dapat Anda temui di situswebnya masing-masing.

Di Indonesia, ada Opini dan Pijaru yang secara serius memaksimalkan sistem kerja ala homeless media, kendati memang tidak sepenuhnya. Begitu pula dengan Popular Flix, Males Banget, Brilio dan Detik lewat 20detik-nya. Zetizen, sayap konten dari Jawa Pos, MLDSpot, dan content network yang berisikan para youtuber seperti Last Day Production atau Tim2one juga bermain di ranah ini.

Lantas, di mana letak jurnalisme di dalam media tak berumah ini?

Hal tersebut relevan untuk ditanyakan mengingat sejauh ini homeless media masih sekadar menayangkan konten-konten hiburan. Jikapun ada yang bersifat jurnalistik, konten video dari homeless media juga kerap hanya menampilkan potongan-potongan gambar dari media lain, bukan didapat dari hasil liputan sendiri yang telah diverifikasi.

Kendati demikian, dengan dominannya konten audio-visual dalam homeless media, maka hal tersebut tampaknya justru bakal memudahkan kinerja jurnalisme data. Istilah jurnalisme data sendiri menggambarkan proses jurnalistik berdasar pada analisis dan penyaringan ”set data” untuk membuat berita.

Adapun prosesnya terdiri dari pengumpulan data (bisa dari situs, reportase, atau data mentahan), lalu analisis data terkait, kemudian yang terakhir adalah mempresentasikannya dalam cara yang informatif dan menarik (lewat infografis, landing page, atau video). Ketika proses tersebut selesai, maka produk data tadi tinggal didistribusikan kepada khalayak melalui media sosial.

Pada titik inilah homeless media memiliki pengaruhnya. Ia mempermudah persebaran, dapat melacaknya di setiap spektrum dari waktu ke waktu, dan yang tak kalah penting, ia juga memberikan kenyamanan dari segi audience engagement. Itu artinya, produk jurnalisme data akan dapat lebih mudah dipahami karena, selain kemenarikan konten, ia juga memiliki kedekatan dengan pembaca.

Jangan lupakan pula jika Facebook juga tengah merancang The Journalism Project untuk mencegah hoax dan konten ujaran kebencian. Sebab itu, peluang homeless media, terutama yang berbasis di Facebook, untuk menyajikan konten-konten yang berbobot jelas akan besar ke depannya. The New York Times, misalnya, beberapa kali mereka melampirkan konten video 360 di Facebook untuk menunjukkan bagaimana keadaan beberapa daerah di Florida pasca badai Irma.

Akhirulkalam, mari kita tunggu inovasi lain homeless media. Tabik. []

Bacaan Terkait
Eddward Samadyo Kennedy

Pernah bekerja sebagai Pemimpin Redaksi Mojok.co dan Head of Engagement di kumparan.com. Saat ini sedang berusaha merampungkan novelnya.

Populer
Di Balik Wangi Pemberitaan Meikarta
Media Cetak yang Berhenti Terbit Tahun 2015
Ketika Berita Palsu Menjadi Industri
Kekerasan Seksual di Media
Televisi Dieksploitasi, KPI Bergeming