Poster propaganda Korea Utara - “Kita harus belajar dari politik partai unit gerilya anti-Jepang” (bit.ly/2hgfAtb)
Poster propaganda Korea Utara - “Kita harus belajar dari politik partai unit gerilya anti-Jepang” (bit.ly/2hgfAtb)
07/09/2017
Ilusi “Pasca-Kebenaran”
{ Read in English } Banyak kalangan menyayangkan hilangnya “kebenaran” dalam media kontemporer. Tapi, apakah pernah ada “era kebenaran” dalam media kita?
07/09/2017
Ilusi “Pasca-Kebenaran”
Banyak kalangan menyayangkan hilangnya “kebenaran” dalam media kontemporer. Tapi, apakah pernah ada “era kebenaran” dalam media kita?
{ Read in English }

Kamus Oxford menominasikan “pasca-kebenaran” atau “post-truth” sebagai word of the year tahun 2016. Istilah ini terutama mencuat dalam menanggapi kampanye Donald Trump dan referendum Brexit, dimana “fakta objektif memiliki pengaruh yang lebih lemah daripada argumen emosional dan kepercayaan personal” (Flood, 2016). Definisi ini mengisyaratkan kepercayaan akan “kebenaran” sebagai fakta dan objektivitas, sementara prefiks “pasca”menandakan masa ketika fakta sudah tidak lagi relevan.

Untuk mengkritisi konsep inikita tinggal menanyakan sebuah pertanyaan yang mendasar: apakah era “kebenaran”itu sendiri pernah ada? Rorty (1997) menolak definisi “kebenaran” sebagai “representasi akurat dari tatanan alam” karena ia selalu terikat dalam ranah bahasa manusia dan sejarah. Pseudo-environment, sebagaimana dijelaskan Lippmann (1922) hampir seabad lalu, menunjukkan betapa kepentingan personal mengalihkan realita sosial yang kompleks dan betapa fakta yang ditata rapi sesungguhnya hanyalah interpretasi subjektif dari suatu peristiwa. Meski begitu, atas nama profesionalisme, jurnalisme Amerika telah lama mencitrakan diri mereka sebagai entitas yang selalu mengejar kebenaran sosial dan tanpa bias dalam merepresentasikan isu kontroversial bagi khalayak mereka. Nilai-nilai seperti penjaga gerbang (gatekeeper)(White, 1950; Janowitz, 1975)objektivitas (Hohenberg, 1973; Schudson, 1981), atau tanggung jawab sosial (Schramm et al, 1956) ditekankan sebagai bagian vital dari kerja jurnalisme cetak.

Pandangan tersebut bertentangan dengan pandangan beberapa akademisi yang memandang profesionalisme bukan hanya sebagai etika praktis sehari-hari, tetapi lebih sebagai “agen legitimasi” (Tuchman, 1978), atau tiang yang melandasi otoritas jurnalistik (Anderson, 2008; Nolan, 2009). Dalam karya monumental Manufacturing Consent, Herman dan Chomsky berargumen bahwa media Amerika Serikat secara sistematis membangun—dalam istilah Marx—sebuah “kesadaran palsu” terkait realita global dan domestik untuk menunjang kepentingan elit. Dalam analisis mereka, model propaganda digunakan untuk membedah jurnalisme Amerika; model yang ironisnya kerap digunakan jurnalisme Amerika untuk mengkritik sistem media di negara-negara lain. (e.g., Buckley, 2016; Timberg, 2016).

Terlepas dari klaim objektivitas dan kosmopolitanisme mereka, jurnalisme Amerika masih perlu berhadapan dengan “domestikasi” berita internasional, masalah yang juga dihadapi semua newsroom lain (Clausen, 2004; Alasuutari, et al., 2013; Joye, 2015). Contoh yang cukup baik adalah pengalihan kedaulatan Hong Kong dari tangan Inggris Raya ke Republik Rakyat Tiongkok di tahun 1997. Dalam kejadian yang memiliki dampak global tersebut, ribuan praktisi medai berkumpul di Hong Kong untuk menggarap kisah yang memberikan interpretasi yang relevan bagi masing-masing khalayak nasional mereka.

Chan et al. (2002) mencoba mengksplorasi berbagai peranan yang diambil kebijakan asing, ideologi, dan latar belakang kultural dalam mempengaruhi pembingkaian berita internasional. Misalnya, wartawan dari Tiongkok cenderung merujuk ke sumber-sumber pro-Beijing, kantor berita Inggris, Taiwan, dan Hongkong cenderung mengutip sumber dari pihak mereka masing-masing. Pada 19 Mei 1997, Newsweek menggunakan seorang model perempuan dengan mata tertutup bendera merah berbintang lima sebagai ilustrasi sampul mereka, menggambarkan kemolekan kapitalisme metropolitan yang terkekang rezim komunis otokratik, sekaligus mengungkit kembali tragedi Tiananmen di tahun 1989. Hal ini berbeda dari pemberitaan media Tiongkok yang gegap gempita dalam merayakan kembalinya Hong Kong ke dalam tanah air mereka, pemberitaan Jepang yang terfokus pada aspek perkembangan ekonomi wilayah Tiongkok, atau pemberitaan Inggris yang mengagungkan “kebesaran hati” Inggris Raya dalam insiden ini (Chan et al., 2002: 19). Istilah “domestikasi berita”, yang menantang asumsi kebenaran universal, tidak bisa disederhanakan sebagai tindakan bias dan tidak profesional dari jurnalis setiap negara. Hal ini justru menegaskan perlunya pengarahan bagi khalayak lokal yang tidak familiar dengan kejadian asing, dan jurnalisme cetak membantu menaruh kejadian tersebut dalam konteks nasional tertentu.

Dalam ruang siber, tempat deras arus informasi semakin berkembang, logika tradisional dari media tengah ditulis ulang.  Dari awal, netizen menolek konsep “penjaga gerbang” dan memeluk “berita alternatif” yang tidak akan mereka temui tanpa internet. Batasan antara kedua penyedia konten telah menjadi semakin kabur. “Komunikasi-diri massa”, ujar Castells, “menjadi sosial”. Informasi dapat berputar dengan sangat cepat dalam jaringan peer-to-peer, namun bersifat personal karena “kontennya diproduksi sendiri, persebarannya diarahkan sendiri, dan penerimaannya dipilih sendiri” (2007:248). Media sosial—dengan ditopang kapitalisme digital transnasional (Schiller, 2000)—telah menjelma dunia tanpa batas, yang di dalamnya warga biasa, terlepas dari kelas, asal, dan pendidikan, memiliki posisi sebagai agen yang dapat berbagi imajinasi kolektif, melampaui batas negara. Perkumpulan ibadah dan kharisma ketokohan tidak lagi terbatas pada lokalitas atau nasionalitas (Appadurai, 1996:7). Media elektronik, menurut argumen akademisi, memperbesar pemberontakan kolektif dan juga keresahan publik terhadap pemerintahan yang tidak kompeten di negara-negara Arab (Lotan, et al. 2011; Khondker, 2011; Howard et al., 2011; Howard & Hussain, 2013).

Sementaraitu, orang-orang mulai sadar, “revolusi Twitter” bukanlah semata kejadian dunia ketiga; ia juga terjadi di jantung demokrasi barat yang telah relatif maju. Dengan melihat Los indignados di Spanyol dan juga gerakan Occupy Wall Street di Amerika Serikat, Bennett (2012) merangkum logika connective action dalam ekologi protes digital. “Kami adalah 99%” adalah bingkai personal yang populer karena bisa menjangkau berbagai pengalaman, motivasi, dan harapan. Narasi kolektif yang diproduksi secara peer-to-peer dapat menghasilkan berbagai protes luring dalam skala besar (Bennett, 2014). Hal ini menandai transformasi jurnalisme tradisional,daripembangun opini publik (Lipmann, 1922; McCombs & Shaw, 1972; Herman & Chomsky, 2002) menjadi pengejar opini publik.

Pada era digital, pers Amerika tidak lagi mendominasi interpretasi kebenaran global, karena mereka menghadapi kompetisi langsung dari berbagai agensi berita dalam memperebutkan khalayak internasional. Teknologi informasi dan komunikasi yang baru mengizinkan tumbuhnya jurnalisme partai di Tiongkok (Tang & Iyengar, 2011). People’s Daily, corong media terbesar Tiongkok, memiliki kanal ikonik @People’s Daily di Sina Weibo dengan basis penggemar lebih dari 48 juta orang.

Lebih penting lagi, pers Tiongkok menunjukkan kemauan kuat untuk memiliki pengaruh global. People’s Daily mendirikan sebuah kanal berbahasa Inggris yang memiliki lebih dari 28 juta pelanggan pada November 2016, disesuaikan untuk khalayak internasional (Facebook diblok di Tiongkok). People’s Daily memberikan konten non-politis berupa soft news dan kisah human interest atau postingan terkait pemandangan alam, infrastruktur, dan perkembangan daerah.

Kanal ini dikritik dengan tuduhan propaganda, karena ia hanya mempromosikan efesiensi sistem pemerintahan satu-partai Tiongkok, termasuk tudahan “fans palsu” dan “like palsu” (Timmons & Horwitz, 2016). Namun tidak bisa dipungkiri People’s Daily tetap mendapatkan perhatian signifikan di media sosial Barat, seperti halnya RT, Al-Jazeera English, atau Times of India. Mungkin, para pendukung kebebasan berpendapat seharusnya merespon diversifikasi sumber berita ini secara positif. Sulit bagi manusia untuk mengapresiasi kompleksitas peristiwa global hanya dengan mengikuti satu kebenaran monolitik, tanpa terpapar pada interpretasi plural atas dunia.

Berlawanan dari imajinasi utopis teknologi terkait interkoneksi global, politik identitas dalam media sosial justru nampak semakin terpecah dan bahkan teradikalisasi. Konten yang nampak di situs jejaring sosial tidak hanya ditentukan oleh jaringan fans dan pengikut di sebuah akun, tetapi juga rekomendasi berbasis algoritma yang diterapkan masing-masing platform. Algoritma media digital kerap dikritik keras karena menjebak netizen dalam “cermin satu-arah” yang hanya memantulkan minat dan kepentingan diri sendiri (Pariser, 2011). Kajian mengenai polarisasi kelompok (Schafer, 2002; Yardi & Boyd, 2010), bilik gema (Wallster, 2005; Gilbert et al., 2009; Colleoni, 2014) dan filter bubble (Pariser, 2011; Nguyen et al., 2014) menunjukkan fitur infrastruktur internet yang justru menghalangi netizen dalam memperluas pandangan. Media sosial, terlepas dari potensi keterhubungan dunia, membiakkan budaya supremasi kulit putih (Burris et al., 2000), Islamofobia daring (Ekman, 2015), dan keluarga populis ekstrim kanan (Chris Hale, 2012; Titley, 2014; Siapera & Veiokou, 2016).

Bukannya globalisasi kultural, kita justru melihat netizen-netizen marah yang saling berbenturan dalam “benturan peradaban” ala Huntington (1997), seolah percampuran kebudayaan bukanlah jawaban yang mungkin. Di media sosial, kategorisasi berita, rumor, disinformasi, dan propaganda semakin melebur dan seenaknya. Setelah lebih dari tiga dekade sejak Dinding Berlin diruntuhkan, istilah “propaganda” telah berubah menjadi label praktis yang bisa disematkan orang terhadap siapapun dengan pendapat berbeda. Baik itu nasionalis Tiongkok menyerang imperialisme media Amerika, Trump mencuit bahwa “pemanasan global adalah hoax buatan Tiongkok”, atau perang virtual parlemen Eropa melawan “disinformasi Rusia” (EuroparlTV, 2016).

Tornero dan Varis (2010: 9-10) mendefinisikan peradaban di era kita sebagai peradaban teknologikal, ketika komunikasi bersifat ringan, instan, dan global. Kemunculan “era post-truth” menurut saya berkaitan erat dengan individualisme yang terhubung dengan jejaring digital. Karenaklaim otoritas absolut pers sebagai “penjaga gerbang”profesional tidak lagi dipercaya oleh netizen; kini mereka percaya pada sesuatu hanya karena mereka ingin. Kesalahan pers Barat, yang terus mengeluhkan berkurangnya minat netizen atas fakta yang mereka susun atas nama “kebenaran” serta mengutuki berkembangnya “propaganda berbahaya”, adalah bahwa mereka terjebak dalam pola pikir mereka sendiri: Sejak awal, “kebenaran” tidak pernah memiliki keberadaan substansial dalam opini publik. Diskursus yang dibangun di sekitarnya biasanya merupakan hasil penegasan kekuasaan (power assertion). Konsep era pasca-kebenaran sesungguhnya fiktif, karena sejak awal tidak pernah ada “era kebenaran”Yang sedang terjadi adalah masyarakat, berkat berbagai teknologi informasi dan komunikasi yang baru,tidak lagi bergantung pada otoritas interpretasi pers tradisional dan tengah memasuki era berjaringan yang di dalamnya fakta sosial diproduksi bersama dan berputar di dalam sebuah komunitas. Evolusi berbasis teknologi ini telah menjadi karakteristik penting dari kemanusiaan baru (Tornero & Varis, 2010:15) yang tengah mengambil bentuk.

Sayangnya hal ini tidak berarti bahwa kita akan memiliki hidup yang lebih baik dan bebas tanpa dikte media massa. Internet, meskipun mendorong konektivitas, juga berujung pada polarisasi kelompok dan bilik gema (echo chamber). Literasi digital di era yang disebut pasca-kebenaranini bukan lagi tentang “menemukan kebenaran universal”, melainkan tentang belajar menghormati orang-orang di luar gelembung informasi (information bubble) kita sendiri. Selama tingkatan konflik tertentu tidak mengancam kepentingan raksasa media global, mereka senang-senang saja menyaksikan pengguna internet saling bertengkar dan saling memprovokasi tanpa merasa perlu memperbaiki sistem algoritma mereka. Raksasa digital, entah itu Google, Twitter, atau Facebook, harus dipandang sebagai agen aktif yang mampu dan akan memberikan pengaruh pada arah pergerakan politik yang terjadi di patform mereka. Tentu berbahaya apabila netizen berasumsi bahwa penyedia jasa teknologi informasi dan komunikasi bersifat netral atau tidak penting. Sebaliknya, industri media bukan hanya “memahami aturan permainan” (Castells, 2007: 252), mereka juga ikut menyusun peraturan. Mereka perlu ditelaah secara kritis karena mereka berpotensi ikut menentukan kapasitas struktural dari berbagai aktor berbeda dalam masyarakat informasi. []


Pustaka

Alasuutari, P., Qadir, A., &Creutz, K. (2013). “The domestication of foreign news: news stories related to the 2011 Egyptian revolution in British, Finnish and Pakistani newspapers”. Media, Culture & Society35(6), 692-707.

Anderson, C. (2008). “Journalism: expertise, authority, and power in democratic life”. Hesmondhalgh: The Media and Social Theory, 248-264.

Appadurai, A. (1996). Modernity al large: cultural dimensions of globalization(Vol. 1). U of Minnesota Press.

Bennett, W. L., &Segerberg, A. (2012). “The logic of connective action: Digital media and the personalization of contentious politics”. Information, Communication & Society15(5), 739-768.

Bennett, W. L., Segerberg, A., & Walker, S. (2014). “Organization in the crowd: peer production in large-scale networked protests”. Information, Communication & Society17(2), 232-260.

Buckley, C. (2016, July 29). “Chinese Communist Party’s New TV Ad Asks, ‘Who Am I?’” New York Times. Diambil dari http://www.nytimes.com/2016/07/29/world/asia/china-communist-party-propaganda.html

Burris, V., Smith, E., &Strahm, A. (2000). “White supremacist networks on the Internet”. Sociological focus33(2), 215-235.

Castells, M. (2007). “Communication, power and counter-power in the network society”. International journal of communication1(1), 29.

Chan, Lee, Pan, & Su. (2002). “Guojixinwen de xunhua: xiangganghuiguibaodaobijiaoyanjiu”.[Domesticating International News: A Comparative Study of the Coverage on the Hong Kong Handover]. (Taipei) Mass Communication Research, (73), 1-27

Chris Hale, W. (2012). “Extremism on the world wide web: a research review”. Criminal Justice Studies25(4), 343-356.

Clausen, L. (2004). “Localizing the global:‘Domestication’processes in international news production”. Media, Culture & Society26(1), 25-44.

Colleoni, E., Rozza, A., &Arvidsson, A. (2014). “Echo chamber or public sphere? Predicting political orientation and measuring political homophily in Twitter using big data”. Journal of Communication64(2), 317-332.

Deutsche Welle. (2016, Feb. 2). “German media worries about Russian-led disinformation campaign”. Deutsche Welle. Retrieved from http://dw.com/p/1Hyst

Ekman, M. (2015). “Online Islamophobia and the politics of fear: manufacturing the green scare”. Ethnic and Racial Studies38(11), 1986-2002.

EuroparITV. (2016, June 23). “Europe and the virtual war against terror”. EuroparITV. Diambil dari http://www.europarltv.europa.eu/en/player.aspx?pid=adbd3c01-1507-47dc-a449-a627010b8e17

Flood, A. (2016, Nov. 15). “‘Post-truth” named word of the year by Oxford Dictionaries”. The Guardian. Diambil dari https://www.theguardian.com/books/2016/nov/15/post-truth-named-word-of-the-year-by-oxford-dictionaries

Gilbert, E., Bergstrom, T., &Karahalios, K. (2009). Blogs are echo chambers, blogs are echo chambers. Paper presented at the proceedings of the 42nd Hawaii International Conference

Herman, E. S., & Chomsky, N. (2010). Manufacturing consent: The political economy of the mass media. Random House.

Hohenberg, J. (1973). The Professional Journalist: A Guide to the Practices and Principles of the News Media. New York: Holt, Rinehart, Winston.

Howard, P. N., & Hussain, M. M. (2013). Democracy's fourth wave?: digital media and the Arab Spring. Oxford University Press on Demand.

Howard, P. N., Duffy, A., Freelon, D., Hussain, M. M., Mari, W., &Maziad, M. (2011). “Opening closed regimes: what was the role of social media during the Arab Spring?”. Available at SSRN 2595096.

Huntington, S. P. (1997). The clash of civilizations and the remaking of world order. Penguin Books India.

Janowitz, M. (1975). “Professional models in journalism: The gatekeeper and the advocate”. Journalism and Mass Communication Quarterly52(4), 618-626.

Joye, S. (2015). “Domesticating distant suffering: How can news media discursively invite the audience to care?”. International Communication Gazette77(7), 682-694.                          

Khondker, H. H. (2011). “Role of the new media in the Arab Spring”.Globalizations8(5), 675-679.

Lippmann, W. (1922). Public Opinion. New York: Harcourt, Brace and Company.

Lotan, G., Graeff, E., Ananny, M., Gaffney, D., & Pearce, I. (2011). “The Arab Spring, the revolutions were tweeted: Information flows during the 2011 Tunisian and Egyptian revolutions”. International journal of communication5, 31.

McCombs, M. E., & Shaw, D. L. (1972). The agenda-setting function of mass media. Public opinion quarterly36(2), 176-187.

Nguyen, T. T., Hui, P. M., Harper, F. M., Terveen, L., &Konstan, J. A. (2014). “Exploring the filter bubble: the effect of using recommender systems on content diversity”. In Proceedings of the 23rd international conference on World wide web (pp. 677-686). ACM.on System Sciences, Waikoloa, Big Island, HI.

Nolan, D. (2009). “Rethinking journalism culture and authority: Beyond ‘professionalism’”. Refereed Proceedings of the Australian and New Zealand Communications Association Annual Conference, Brisbane, July 8-10., 655 – 671.

Pariser, E. (2011). The filter bubble: How the new personalized web is changing what we read and how we think. Penguin.

Rorty, R. (1997). Truth, Politics and'post-modernism'. Uitgeverij Van Gorcum.

Schafer, J. (2002). Spinning the web of hate: Web-based hate propagation by extremist organizations. Journal of Criminal Justice and Popular Culture, 9, 68-98.

Schiller, D. (2000). Digital capitalism: Networking the global market system. MIT press.

Schramm, W., Siebert, F. S., & Peterson, T. (1956). Four theories of the press: The authoritarian, libertarian, social responsibility, and Soviet communist concepts of what the press should be and do. University of Illinois Press.

Schudson, M. (1981). Discovering the news: A social history of American newspapers. Basic Books.

Siapera, E., &Veikou, M. (2016) “The Digital Golden Dawn: Emergence of a nationalist-racist digital mainstream”.The Digital Transformation of the Public Sphere: Conflict, Migration, Crisis and Culture in Digital Networks, London: Palgrave Macmillan.

Tang, W., &Iyengar, S. (2011). The emerging media system in China: Implications for regime change. Political Communication28(3), 263-267.

Timberg, C. (2016, Nov. 24). Russian propaganda effort helped spread ‘fake news’ during election, experts say. Washington Post. Diambil dari https://www.washingtonpost.com/business/economy/russian-propaganda-effort-helped-spread-fake-news-during-election-experts-say/2016/11/24/793903b6-8a40-4ca9-b712-716af66098fe_story.html

Timmons, H, Horwitz, J. (2016). “China’s propaganda news outlets are absolutely crushing it on Facebook. Quartz”. Diambil dari http://qz.com/671211/chinas-propaganda-outlets-have-leaped-the-top-of-facebook-even-though-it-banned-at-home/

Titley, G. (2014). “No apologies for cross-posting: European trans-media space and the digital circuitries of racism”. Crossings: Journal of Migration & Culture5(1), 41-55.

Tornero, J. P., &Varis, T. (2010). Media literacy and new humanism. Unesco Institute for Information Technologies in Education.

Tuchman, G. (1978). “Professionalism as an agent of legitimation”. Journal of Communication28(2), 106-113.

Wallsten, K. (2005). Political blogs and the bloggers who blog them: Is the political blogosphere and echo chamber. In American Political Science Association’s Annual Meeting. Washington, DC September (pp. 1-4).

White, D. M. (1950). The gate keeper: A case study in the selection of news. Journalism and Mass Communication Quarterly27(4), 383-390.

Yardi, S., & Boyd, D. (2010). “Dynamic debates: An analysis of group polarization over time on twitter”. Bulletin of Science, Technology & Society,30(5), 316-327.

Bacaan Terkait
Lin Zihao

Zihao menyelesaikan pendidikan Sarjana Ilmu Komunikasi di  Sun Yat-sen University, Guangzhou, dan saat ini merupakan kandidat Master dalam Media dan Komunikasi Politik di Freie Universität Berlin. Minat risetnya melingkupi sistem media Tiongkok kontemporer, politik budaya, dan konstruksi identitas tuna rungu.

Populer
Di Balik Wangi Pemberitaan Meikarta
Media Cetak yang Berhenti Terbit Tahun 2015
Ketika Berita Palsu Menjadi Industri
Kekerasan Seksual di Media
Televisi Dieksploitasi, KPI Bergeming