Ilustrasi oleh Gery Paulandhika
Ilustrasi oleh Gery Paulandhika
07/06/2017
Panutan Maya Buat yang Muda
Teknologi digital membawa kemudahan akses informasi dan sosialisasi nilai bagi remaja. Perubahan pola sosialisasi ini kerap muncul sebagai ancaman bagi generasi yang tak pernah mengalaminya.
07/06/2017
Panutan Maya Buat yang Muda
Teknologi digital membawa kemudahan akses informasi dan sosialisasi nilai bagi remaja. Perubahan pola sosialisasi ini kerap muncul sebagai ancaman bagi generasi yang tak pernah mengalaminya.

Pada 2016 lalu, banyak bagian masyarakat, terutama orang tua, dikagetkan oleh fenomena baru yang “mengancam” anak-anak mereka.  Konon, dunia media sosial yang gelap dan tidak mudah dipahami oleh sebagian besar generasi senior, dipenuhi dengan role model buruk yang mencemari nilai moral anak-anak mereka. Pesohor media sosial seperti Karin Novilda (Awkarin) dan Anya Geraldine dianggap sebagai kampiun dari pengaruh jahat ini.

Siapakah mereka berdua? Awkarin dan Anya hanyalah anak remaja biasa, namun sekaligus dua di antara banyak pesohor internet yang baru muncul sebagai buah teknologi. Dulu, kita membayangkan bahwa untuk menjadi pesohor seseorang membutuhkan kontrak agensi dan korporasi media yang bersedia menjadi pengorbit. Kini di dalam internet, khalayak bisa dikatakan sedikit lebih bebas memilih pesohor mereka sendiri daripada dipilihkan oleh korporasi.

Awkarin dan Anya muncul dari latar ini. Mereka mengumpulkan pengikut melalui dua kanal media sosial: Instagram dan Youtube. Mereka menyediakan konten vlog (video blog) seputar kehidupan pribadi dan gaya hidup mereka. Banyak anak muda yang nampaknya suka dan lantas setia mengikuti kisah mereka.

Saat ini internet telah menjadi salah satu agen sosialisasi utama dalam kehidupan remaja. Akan tetapi, di sisi lain, internet menangkap imajinasi publik dalam berbagai bentuk. Bukannya sebagai perpustakaan informasi global, banyak kalangan justru melihat internet sebagai “gang gelap dan berbahaya”. Bagi generasi orang tua yang bukan merupakan digital native, misalnya, kesulitan memahami internet sama tingginya dengan kefasihan anak-anak mereka dalam menggunakannya. Akibatnya, mereka memandang internet sebagai “zona gelap” di mana pengaruh mereka sebagai orang tua lemah sehingga segalanya perlu dicurigai.

Remaja dan Sosialisasi di Internet

Reaksi ini merupakan penanda betapa teknologi selalu mengubah struktur sosial, yang dalam hal ini adalah proses sosialisasi dan pembentukan identitas. Dalam sosiologi, sosialisasi adalah proses internalisasi berbagai nilai, norma, dan budaya yang membuat individu menjadi bagian fungsional dari masyarakat (Billingham, 2007). Sosialisasi adalah akar dari kontinuitas budaya. Proses ini terus berjalan sepanjang hidup manusia, yang di dalamnya nilai individu terus menerus dibentuk dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Akan tetapi, di masa anak-anak dan remaja proses ini berjalan secara lebih intens, karena di masa-masa itulah fondasi dari sosialisasi selanjutnya dibangun.

Barangkali beberapa orang bisa menuduh reaksi sebagian masyarakat terhadap Karin dan kawan-kawan sebagai kepanikan berlebihan, kepanikan yang lebih didasari oleh ketidaktahuan ketimbang pengetahuan. Akan tetapi, kepanikan mereka bisa jadi tidak sepenuhnya tanpa alasan. Masa remaja adalah masa transisi yang penting ketika individu mulai diharapkan menjadi bagian masyarakat yang fungsional, serta fase di mana berbagai agen sosialisasi selain keluarga mulai ikut memperebutkan peran. Selain itu, sosialisasi di internet tidak memiliki sistem check and balances seperti sosialisasi tradisional yang prosesnya diawasi oleh berbagai agen seperti orang tua dan guru. Melihat pentingnya masa remaja di masyarakat dan berkurangnya (atau setidaknya, anggapan akan berkurangnya) pengaruh agen sosialisasi tradisional, kekhawatiran orang tua mungkin bisa dipahami.

Sementara itu, di luar rasa khawatir, perkembangan teknologi berjalan terus dan masyarakat berubah bersamanya. Indonesia tidak luput dari arus perubahan ini. Pada tahun 2015, penetrasi penggunaan internet di Indonesia menembus angka 29% dan 58% untuk penduduk berusia 12 hingga 34 tahun yang mengakses internet secara harian. Melihat angka ini, generasi muda nampaknya akan semakin bergantung pada internet dalam kehidupan mereka.

Internet membawa banyak perubahan, banyak diantaranya dianggap positif. Akan tetapi, tentu ada ketidakpastian yang muncul dari perubahan yang sangat pesat ini. Proses sosialisasi semakin banyak berjalan di internet. Mengingat pentingnya sosialisasi sebagai penjaga kontinutas budaya di masyarakat, bagaimana sesungguhnya internet mentransformasi proses ini?

Untuk menjawab pertanyaan ini, Anderson dan McCabe (2011) melakukan sebuah riset terkait proses sosialisasi remaja di internet. Mereka menyimpulkan bahwa proses sosialisasi di internet lebih sesuai dengan konsep  sosialisasi diri. Istilah ini kerap digunakan ketika individu yang mengalami proses sosialisasi memiliki tingkat kemandirian tertentu dalam mengembangkan nilainya sendiri. Misalnya, ketika seorang anak remaja mulai mampu memilih sendiri hobi, aktivitas, dan cita-cita yang ia inginkan. Proses serupa dengan hal tersebut terjadi di internet, namun dengan beberapa perbedaan.

Di internet, individu memiliki kemandirian sosialisasi yang bahkan lebih tinggi lagi daripada dunia di luar jaringan. Dalam sosialisasi tradisional, kita bisa membayangkan proses ini sebagai inisiasi individu ke dalam sistem sosial yang sudah ajeg. Agen tradisional seperti orang tua dan institusi pendidikan berperan sebagai mentor berpengalaman yang mengarahkan individu ke dalam struktur yang telah mapan. Akan tetapi, di internet struktur sosial yang ada belumlah semapan struktur dunia nyata. Hal ini membuat proses sosialisasi yang lebih cair dan egaliter, sehingga individu memiliki kuasa untuk menentukan arah, nilai, dan agen pengaruh yang mereka pilih sendiri.

Sifat sosialisasi ini juga didukung oleh berbagai sifat internet. Pertama adalah minimnya pengaruh orang tua dan agen tradisional lain. Kebaruan internet membuat generasi muda umumnya memiliki keterampilan penggunaan dan literasi yang lebih tinggi dari generasi sebelumnya. Hal ini membuat mereka mampu bersosialisasi tanpa tekanan dan kendali mereka yang kerap kali memiliki kecenderungan kuat untuk berupaya mewariskan nilai tradisional dan mencoba meregulasi individu. Kedua adalah luasnya konteks internet. Internet mengizinkan individu berhubungan dengan berbagai variasi individu lainnya tanpa batasan waktu dan geografis. Seorang anak remaja kini bisa belajar bermain skateboard dari konten Youtube seseorang di Amerika, kursus daring dengan orang Jepang, mengikuti tren fashion dari Italia, sambil belajar agama dari ceramah seorang ulama di Saudi Arabia. Sebelum internet, hal ini tentu sangat sulit dilakukan.

 Ketiga yang tidak kalah penting adalah anonimitas. Di internet konsep identitas—setidaknya konsep identitas yang berlaku di dunia nyata, melebur. Banyak kontak sosial di internet dilakukan menggunakan nama alias dan identitas minim, atau tidak sama sekali. Bahkan dalam kanal di mana identitas daring diharapkan memiliki kesesuaian dengan identitas nyata seperti Facebook atau LinkedIn, hubungan sosial yang terjadi memiliki bentuk yang sangat berbeda.

Anonimitas membuat individu bersikap lebih terang-terangan, jujur, berani, dan kasar dibandingkan di dunia nyata. Hal ini terjadi karena komunikasi internet mengizinkan individu mengabaikan aturan sosial yang berlaku pada komunikasi tatap muka. Komunikasi internet juga memiliki konsekuensi yang lebih longgar dan tidak langsung, sehingga memberi kebebasan individu berinteraksi tanpa rasa takut. Dalam konteks sosialisasi, hal ini memberikan kelonggaran bagi individu untuk bereksperimen dengan berbagai sikap, tingkah laku, dan nilai yang dapat mereka serap. Misalnya, seorang anak di dunia nyata bisa jadi takut menyelami budaya otaku Jepang karena ia mengkhawatirkan respon negatif dari kawan sebayanya. Akan tetapi di Internet, anonimitas memberi ia kebebasan untuk menyelami budaya tersebut tanpa rasa khawatir.

Sosialisasi jenis ini memiliki berbagai implikasi. Anderson dan McCabe menganggap bahwa sosialisasi diri di internet membuat remaja lebih cepat mandiri dan berpotensi memberikan variasi nilai dan pengetahuan yang sehat bagi individu. Turkle (1995) memandang internet sebagai “zona aman” tempat individu remaja bisa belajar dan bereksperimen tanpa rasa khawatir, untuk kemudian menyesuaikan dan mentransfer pengetahuan tersebut ke dunia nyata.

Sayangnya, bukan berarti perubahan ini pasti selalu positif. Sosialisasi diri di internet memiliki kelemahan besar, yaitu tidak adanya sistem check and balances. Remaja, yang umumnya lebih melek internet daripada guru atau orang tua, dapat secara relatif bebas bertualang di belantara internet. Padahal, masa remaja adalah masa yang juga sangat rawan melakukan tindakan berisiko (Anderson dan McCabe, 2011). Hal ini membuat mereka rawan pada pengaruh buruk seperti ideologi ekstremis, perilaku antisosial, atau kriminalitas. Anonimitas internet juga bisa berujung pada berbagai masalah, seperti risiko keamanan dan fenomena bullying.

Bagaimana Kita Mesti Menyikapinya?

Di Indonesia, kekhawatiran masyarakat nampaknya berkaitan erat dengan dengan transformasi nilai dan budaya baru yang dianggap mengancam nilai yang disosialisasikan agen tradisional. Beberapa bagian masyarakat menganjurkan kebijakan sensor atau blokir, seperti dalam kasus Awkarin dan Anya. Akan tetapi, apakah pemblokiran merupakan kebijakan yang tepat dan bisa dilakukan?

Kenyataannya bisa jadi lebih rumit. Internet telah mendekati status barang publik. Upaya pengendalian konsumsi seperti ini cukup sulit dilakukan. Seandainya pun akun Awkarin dan Anya bisa diblokir, bagaimana dengan ribuan remaja lain yang melakukan aktivitas serupa? Apakah mungkin pemerintah melakukan seleksi satu demi satu? Seandainya kanal Youtube dan Instagram yang diblokir, berbagai kanal alternatif serupa bisa muncul dengan mudah. Jika rantai pemblokiran ini terus dituruti, bisa jadi masyarakat akan kehilangan banyak dampak positif internet. Dalam iklim global, ketertinggalan teknologi dapat memiliki ongkos yang sangat mahal.

Perkembangan internet menegaskan pentingnya kita memandang proses sosialisasi dalam konteks. Perubahan bukanlah hal yang mudah, apalagi dalam konteks perkembangan teknologi modern yang sangat cair. Akan tetapi, seperti halnya teknologi tulisan hingga radio, internet akan memiliki peran besar dalam peradaban manusia. Internet tidak dapat ditolak—justru pemerintah perlu membantu masyarakat memaksimalkan dampak positif internet sambil berupaya meminimalisasi dampak negatif yang mungkin muncul.

Dalam menanggapi isu yang berkembang pesat seperti teknologi, pemerintah harus peka konteks. Daripada kebijakan-kebijakan khusus yang mencoba mengatasi masalah secara terisolasi, pemerintah perlu membangun kerangka besar. Kebijakan tambahan bisa mengambil peran sebagai langkah tambahan yang membantu pemerintah menjaga jarak dengan teknologi. Jika pemerintah mengambil kebijakan-kebijakan khusus yang terisolasi, mereka berisiko membuat kebijakan publik semakin kompleks. Selain itu, hal ini juga berisiko membuat masyarakat dan pembuat kebijakan kesulitan memahami kerumitan isu dan pengaruh mereka atas isu tersebut.

Salah satu solusi kebijakan yang mungkin perlu dirancang dari sekarang adalah pendidikan. Literasi internet dibutuhkan agar individu dapat bersosialisasi di internet dengan mandiri dan bijak. Pendidikan bisa membantu menyeimbangkan berbagai risiko internet seperti keamanan, kemampuan membaca informasi dengan baik, hingga pencegahan bullying. Akan tetapi, bagaimana pun, masalah literasi internet tidak hanya melingupi generasi muda. Generasi senior,yang cenderung tertinggal dari generasi muda juga butuh pendidikan literasi, seperti dalam memahami akuntabilitas informasi dan keamanan. Dengan berkurangnya jurang antara satu generasi ke generasi lainnya, bisa jadi segala keresahan akibat perubahan ini akan semakin berkurang. []

Bacaan Terkait
Firman Imaduddin

Lulusan kajian media Universitas Indonesia yang kini menulis dan meneliti di Remotivi. Meminati isu media, antropologi, budaya, dan perfilman. Kerap ditemukan main catur di warung kopi sekitar Rawamangun.

Populer
Perjuangan Situs Kebencian Mengemas Omong Kosong
“Politainment” Gubernur Baru Jakarta
Tak Ada Kepentingan Publik Dalam Pernikahan Kahiyang
Denny Setiawan: Internet Indonesia Lelet Karena Infrastruktur yang Belum Optimal
Begini Cerita Saya sebagai Wartawan Flora-Fauna