Ilustrasi: Diniela Putirani
Ilustrasi: Diniela Putirani
31/05/2017
Berbahasa dalam Sosial Media
{ Read in English } Selain gandrung dengan teknologi digital, banyak dari generasi milenial Indonesia juga merupakan penutur multilingual. Bagaimanakah pola penggunaan bahasa di sosial media?
31/05/2017
Berbahasa dalam Sosial Media
Selain gandrung dengan teknologi digital, banyak dari generasi milenial Indonesia juga merupakan penutur multilingual. Bagaimanakah pola penggunaan bahasa di sosial media?
{ Read in English }

Dalam dunia yang semakin terbuka, Bahasa Inggris memperoleh posisi yang semakin kuat di berbagai negara. Termasuk di Indonesia, di mana semakin banyak orang, terutama kalangan muda, semakin jatuh cinta dengan bahasa ini. Dari anak pra-sekolah hingga dewasa muda, kalangan milenial kerap menggunakan bahasa Inggris dengan tingkat kefasihan yang hampir menyamai—atau bahkan melampaui—bahasa ibu mereka. Kemampuan berbahasa Inggris mulai menjadi keunggulan, atau bahkan kebutuhan, di era modern dan orang tua muda menyadari hal ini dengan cepat. Anda hanya perlu menghabiskan beberapa jam di sebuah mall kelas atas untuk melihat ibu-ibu muda dan anak mereka, dan anda akan menyadari betapa bahasa Inggris telah mengambil alih keluarga muda kita.

Namun, artikel ini tidak mencoba membahas penggunaan bahasa diantara anak dan orang tua. Anak-anak kerap tidak memiliki pilihan akan bahasa apa yang diajarkan pada mereka, sementara artikel ini mencoba menelaah mereka yang memiliki pilihan untuk menggunakan Bahasa Inggris atau Indonesia. Kami mencoba melihat kalangan muda kita. Khususnya, kalangan muda urban terdidik dan bagaimana penggunaan bahasa mereka di media sosial.

Untuk memahami penggunaan bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia oleh kalangan muda di internet, kami mengamati profil-profil Instagram dari 6 orang mahasiswa di Departemen Sastra Inggris di sebuah universitas ternama di salah satu kota terbesar di Jawa Barat. Kami memilih mahasiswa dari Departemen Sastra Inggris dengan asumsi dan harapan bahwa mereka dapat menggunakan Bahasa Inggris dan Indonesia secara fasih, yang berarti bahwa mereka memiliki akses ke kedua kode tanpa terhalang oleh kemampuan berbahasa. Kami ingin mengamati, ketika pemuda ini memiliki kemampuan dan akses untuk memilih satu dari kedua bahasa ini, bahasa apa yang lebih mereka pilih untuk merepresentasikan diri mereka di media sosial? Kemudian, apa alasan mereka?

Secara keseluruhan, kami mengamati 180 unggahan Instagram yang merupakan 30 unggahan terakhir dari keenam partisipan. Berdasarkan pengamatan terhadap kumpulan unggahan tersebut, kesimpulan yang kami peroleh sangat jelas: para pemuda ini jauh lebih memilih menggunakan Bahasa Inggris daripada Bahasa Indonesia dalam representasi diri mereka di dalam jaringan. Di antara 180 unggahan, kami menemukan 145 unggahan yang menggunakan Bahasa Inggris secara keseluruhan, 16 unggahan merupakan campuran kedua bahasa, dan hanya 11 unggahan yang menggunakan Bahasa Indonesia secara keseluruhan. Sisanya merupakan unggahan yang merupakan campuran dari beberapa bahasa lain, dalam kasus ini kami menemukan beberapa penggunaan Bahasa Jepang dan Italia, atau unggahan tanpa kata-kata di keterangan.

Kini, setelah kecenderungan penggunaan Bahasa Inggris ini cukup jelas, waktunya kita mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan penting: mengapa para pemuda Indonesia ini lebih memilih menggunakan Bahasa Inggris daripada bahasa ibu mereka sendiri? Dari fenomena tersebut, kesimpulan apa yang mungkin kita ambil?

Bahasa Inggris dan Representasi Diri

Ketika mempertanyakan alasan pemilihan penggunaan Bahasa Inggris ketimbang Bahasa Indonesia kepada para partisipan, ada hal menarik yang langsung kami sadari, yaitu bahwa mereka lebih banyak berbicara tentang kerumitan Bahasa Indonesia daripada keunggulan Bahasa Inggris. Satu ungkapan yang sering berulang diantara mereka adalah bahwa Bahasa Indonesia terlalu “lebay” (berlebihan) atau “alay” (kasar/kampungan). “Kurangnya rasa nasionalisme” atau “kurangnya rasa bangga terhadap budaya sendiri” (yang juga merupakan sisa-sisa era kolonial) mungkin menjadi penjelasan yang sederhana dan menggoda. Akan tetapi, penjelasan tersebut bisa jadi merupakan sebuah simplifikasi berlebihan.

Dengan menganalisis berbagai data unggahan dan wawancara, kami menemukan berbagai kemungkinan penjelasan yang lebih kompleks dan menarik. Salah satunya, tentunya, adalah betapa bahasa dapat digunakan sebagai penanda kelas sosial. Bahasa Indonesia dapat digunakan oleh hampir semua kelas sosial di Indonesia, termasuk mereka dari kelas ekonomi dan sosial menengah ke bawah. Dengan menggunakan Bahasa Inggris, kalangan muda ini, yang menempuh pendidikan di universitas ternama dan memiliki latar finansial yang baik, mendemonstrasikan keistimewaan posisi mereka di kelas menengah-ke atas. 

Selain itu, terdapat beberapa fitur lain dari kedua bahasa yang bisa jadi merupakan penjelasan menarik dari preferensi anak muda terhadap Bahasa Inggris. Kemungkinan pertama, yang juga cocok dengan ungkapan “lebay dan alay” para partisipan, adalah diglossia dalam Bahasa Indonesia. Seperti dikemukakan oleh Charles Ferguson mengenai pengertian dari diglossia di bawah ini:

situasi bahasa yang cukup stabil di mana […] terdapat varietas utama bahasa yang sangat divergen, sangat terkodifikasi (seringkali lebih kompleks secara gramatikal) [...] yang umumnya dipelajari dari pendidikan formal dan digunakan dalam tulisan dan perkataan formal namun tidak digunakan oleh berbagai bagian komunitas untuk perbincangan biasa. (Ferguson:1959)

Bahasa Indonesia, dalam bentuk modern, sangat cocok dengan konsep diglossia. Kita memiliki bentuk Bahasa Indonesia formal yang diajarkan di sekolah dan digunakan dalam situasi formal tanpa pernah digunakan dalam situasi informal sehari-hari. Untuk penggunaan sehari-hari yang tidak formal, terutama dalam konteks pemuda urban yang merupakan partisipan kami, kita memiliki bentuk bahasa sehari-hari yang secara populer disebut “Bahasa Indonesia gaul”. Kedua bahasa ini sangat berbeda, baik dalam kosa kata, struktur kata, struktur kalimat, dan penggunaan. Sebagai contoh, kita bisa mencoba membandingkan kata memberitahu, mengerjakan,dan berkata dengan versi sehari-hari seperti bilangin, ngerjain, dan ngomong. Contoh lainnya, kata ganti saya, aku, kamu dan Anda. Bandingkan dengan versi sehari-harinya seperti gue dan lu. Ini adalah beberapa tanda bahwa “Bahasa Indonesia” sesungguhnya adalah dua bahasa yang cukup berbeda.

Diglossia ini kemungkinan besar mengambil peran dalam menjadikan pemilihan bahasa dari partisipan kami dan orang Indonesia secara umum semakin kompleks. Ketika mereka menekan tombol “compose”, mereka dihadapkan pada masalah yang sangat khusus. Karena media sosial memiliki sifat yang sangat publik, mereka mendapatkan tekanan untuk merepresentasikan diri mereka secara baik, bahkan lebih baik dari biasanya, sehingga hal ini mendorong mereka untuk menyusun bahasa yang lebih teratur. Di sisi lain, sifat personal dari media sosial juga mendorong mereka untuk merepresentasikan diri mereka dengan cara yang mudah dipahami (relatable) dan juga tidak terlalu jauh dari diri mereka sehari-hari.

Di sinilah dilema yang mereka hadapi terjadi. Katakanlah, apabila mereka akan menggunakan Bahasa Indonesia, maka varietas Bahasa Indonesia manakah yang tepat untuk mereka gunakan? Di satu sisi, penggunaan bahasa sehari-hari akan merepresentasikan diri mereka dengan cara yang lebih dekat dengan identitas diri mereka sehingga akan lebih memenuhi kebutuhan “personal”. Akan tetapi, representasi dengan menggunakan Bahasa Indonesia memiliki risiko menampilkan diri mereka secara “kurang positif”, karena Bahasa Indonesia sehari-hari adalah varietas yang lebih rendah daripada bahasa formal. Bahasa sehari-hari bersifat lebih berantakan dan lebih tidak terstandardisasi dibanding bahasa formal, sehingga ia tidak memenuhi kebutuhan “keteraturan” yang dibutuhkan representasi diri di media sosial, yang secara esensial adalah representasi diri di muka publik. Diglossia Bahasa Indonesia bisa jadi menjelaskan anggapan parisipan bahwa Bahasa Indonesia bisa menjadi berlebihan atau kasar (lebay dan alay). Bahasa formal dirasa terlalu kaku, sementara bahasa sehari-hari dirasa terlalu santai, dan karena statusnya yang lebih rendah menjadi terlalu kasar. Hal ini menambah alasan bagi mereka untuk tidak menggunakan Bahasa Indonesia sebagai alat representasi diri di media sosial.

Berbeda dengan Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris tidak secara keseluruhan berada dalam posisi diglossia. Tentu saja bahasa ini tetap memiliki variasi, meskipun variasinya tidak semenonjol yang ada di Bahasa Indonesia. Dengan alasan ini, kita bisa dengan cukup aman mengatakan bahwa Bahasa Inggris memiliki posisi yang lebih netral. Dengan Bahasa Inggris standar, Anda cenderung tidak mengambil posisi sekaku dan serapih Bahasa Indonesia formal, namun tidak sesantai dan serampangan Bahasa Indonesia sehari-hari. Dalam tujuan praktis, penggunaan Bahasa Inggris bisa menjadi lebih netral dan sederhana, tidak berisiko dan dilematik.

Selain diglossia, ada juga alasan klasik untuk menggunakan Bahasa Inggris, yaitu karena bahasa ini adalah lingua franca. Hal ini semakin relevan dalam konteks internet. Teknologi internet dan world-wide web mendekonstruksi batas-batas yang dimiliki dunia fisik, membuat setiap pesan menjadi global. Ketika menelaah berbagai teks di keterangan unggahan Instagram partisipan, kami melihat berbagai tanda bahwa mereka sangat menyadari hal ini, yaitu bahwa dalam mengunggah konten di Instagram khalayak bayangan mereka tidak hanya berasal dari para pengikut akun, tetapi juga komunitas daring secara umum. Untitled.png

Gambar 1: Unggahan ditujukan untuk khalayak global

Salah satu penanda yang paling jelas adalah penggunaan hashtag atau tagar. Tagar sejatinya adalah upaya media sosial untuk membuat suatu konten lebih mudah dilihat oleh orang-orang di luar lingkaran pengikut yang langsung, untuk dilihat oleh komunitas daring global (meskipun harus diakui, fungsi tagar sudah melampai sekadar kemudahan pencarian). Dengan memasang tagar umum seperti #travel dalam keterangan Instagram, mereka memermudah ribuan orang di seluruh dunia untuk menemukan unggahan mereka ketika mereka sedang mencari unggahan terkait topik tersebut. Di luar tagar, ada juga cara lain untuk menghubungkan diri mereka dengan perbincangan global. Berbicara terkait isu dan tema yang relevan secara internasional adalah salah satu cara tersebut (kami menemukan banyak unggahan terkait Hari Perempuan Internasional, atau juga lirik lagu grup musik Coldplay atau referensi populer dari franchise Marvel). Dalam konteks ini, menggunakan Bahasa Inggris merupakan pilihan yang masuk akal. Para khalayak global yang membaca hal ini kemungkinan besar tidak akan memahami Bahasa Indonesia, dan jalinan intertekstual global yang mereka selami umumnya dijalin dalam Bahasa Inggris.

Hal ini bisa juga menjelaskan mengapa kecenderungan penggunaan Bahasa Inggris ini terkadang bertentangan dengan pola penggunaan bahasa yang umum sebelumnya. Misalnya, Holmes (2008) berargumen bahwa komunikator cenderung menggunakan bahasa ibu dari lawan bicara mereka sebagai upaya membangun solidaritas. Melalui logika ini, seharusnya para partisipan menggunakan Bahasa Indonesia di sebagian besar unggahan mengingat lawan bicara mereka yang paling langsung (para pengikut) sebagian besar merupakan orang Indonesia. Akan tetapi, kami menemukan fakta bahwa bahkan dalam unggahan yang didedikasikan untuk teman-teman Indonesia mereka seperti ucapan selamat ulang tahun dan ucapan kelulusan, atau ucapan tentang pertemanan dan hubungan sosial sehari-hari yang tidak melulu pernyataan terkait isu feminisme global atau referensi Marvel, Bahasa Inggris tetap mereka gunakan. Salah satu penjelasan yang mungkin adalah bahwa mereka sesungguhnya tidak ingin menyasar untuk memberi kesan kepada teman atau pengikut langsung, melainkan komunitas global yang hanya bisa diakses menggunakan bahasa Inggris.

Canda dalam Bahasa Indonesia

Meskipun penggunaan Bahasa Inggris menjadi favorit dalam hampir segala suasana, kami menemukan satu kondisi ketika Bahasa Indonesia secara konsisten lebih jamak digunakan, yaitu dalam humor. Di antara segala unggahan Instagram yang kami amati, semua partisipan memiliki beberapa unggahan yang menggunakan Bahasa Indonesia, atau bercampur antara Bahasa Inggris dan Indonesia, untuk membangun humor. Di bawah ini adalah beberapa contoh:

Tired of always standing out, I decided to blend in(to the wall). Also, I’m so photogenic that God knows Cuma satu kali take kak. Nobody suffered during the photo shoot.

Bol... Genduttuhbenerannular..Jangan dekat2. I love you.

Nampaknya para partisipan bilingual ini cukup andal dalam mengekspresikan diri dalam Bahasa Inggris, meskipun ada beberapa hal yang tidak dapat diekspresikan dengan sempurna dalam bahasa selain Bahasa Indonesia, yang salah satunya adalah lelucon.

Bagi kita, lelucon telah terjalin sangat erat dengan penggunaan bahasa. Meskipun kita bisa menganggap lelucon sebagai sesuatu yang cukup remeh dan tidak signifikan, sesungguhnya penggunaan Bahasa Indonesia untuk menggunakan lelucon kami pandang sebagai salah satu potongan paling penting dalam representasi diri. Penggunaan lelucon dalam Bahasa Indonesia adalah penanda terkuat identitas mereka sebagai anak muda urban Indonesia. Lelucon adalah hal yang kompleks: mereka kerap mengandung referensi khusus tentang cara hidup tertentu serta tema tertentu dari budaya tertentu. Jika Anda tidak menangkap konteks dan referensi di sekitar lelucon tersebut, dalam hal ini Anda tidak termasuk dalam budaya tempat lelucon tersebut berasal, kemungkinan Anda tidak akan merasa bahwa lelucon tersebut lucu. Dengan menyampaikan lelucon dalam Bahasa Indonesia, khususnya lelucon yang hanya dapat disampaikan dalam Bahasa Indonesia, para partisipan menunjukkan konteks dan budaya mereka, yaitu anak muda urban Indonesia.

Apakah penggunaan Bahasa Inggris di media sosial perlu dikhawatirkan? Setiap kali suatu bahasa asing mulai mendapatkan pengaruh kuat di sebuah komunitas dibandingkan dengan bahasa aslinya, orang akan mulai mengkhawatirkan berbagai hal seperti imperialsime bahasa, language shift, bahkan kematian bahasa. Bagi mereka yang merasa khawatir dengan penggunaan Bahasa Inggris di media daring, hal ini bisa jadi memberi sedikit rasa tenang. Pengguna Bahasa Inggris di media daring masih melihat diri mereka sebagai orang Indonesia dan masih ingin menggunakan Bahasa Indonesia untuk merepresentasikan diri mereka sebagai orang Indonesia.

Kajian kecil kami, hingga tahapan tertentu, menemukan agensi dalam diri anak muda untuk menemukan solusi praktis dalam penggunaan bahasa. Bahasa apakah yang dapat digunakan untuk berkomunikasi di tengah masyarakat global? Jawabannya adalah Bahasa Inggris, sehingga bahasa inilah yang akhirnya mereka gunakan. Bahasa apa yang netral dan tidak rumit untuk digunakan dalam kepentingan representasi di media sosial? Jawabannya adalah Bahasa Inggris yang relatif tidak dipengaruhi diglossia, sehingga bahasa inilah yang akhirnya mereka gunakan. Apa Bahasa yang tepat untuk lelucon yang dipenuhi referensi internal? Jawabannya adalah Bahasa Indonesia, sehingga bahasa inilah yang mereka gunakan. Dengan sebuah lensa yang optimistik, kita bisa melihat penggunaan Bahasa Inggris oleh anak muda bukan sebagai sebuah upaya untuk menggugurkan identitas Indonesia mereka, sebaliknya justru mereka mencoba memperluas identitas mereka yang bukan hanya sebagai orang Indonesia tetapi juga pemuda Indonesia yang urban, terdidik, dan global.

Akan tetapi, terlepas dari agensi yang dimiliki anak muda Indonesia ini, kita juga tidak bisa mengindahkan struktur yang melatari dan mengarahkan agensi tersebut. Bahasa Inggris telah mengambil posisi sebagai lingua franca dunia, dan globalisasi akan terus membuat dominasi mereka semakin ajeg. Hasinya, literasi Bahasa Inggris akan memberikan keuntungan yang semakin besar bagi individu. Sayangnya, kemampuan Bahasa Inggris ini membutuhkan pendidikan dan investasi yang tidak sedikit, sehingga menimbulkan jurang yang lebih sulit untuk dipangkas bagi kalangan menengah-ke bawah. Namun demikian, kegemaran terhadap Bahasa Inggris ini, seperti menurut sebuah artikel New York Times, bisa juga membawa masalah.

Satu poin penting adalah, kajian kami hanya meliputi sepotong kecil dari populasi Indonesia. Pengamatan kami mungkin hanya berlaku bagi demografi yang kami amati (kalangan muda, urban, kelas menengah, bilingual, berpendidikan universitas di Indonesia) dan dalam satu sudut kehidupan mereka, yaitu profil media sosial. Akan tetapi pengamatan kami bisa jadi tidak dapat diterapkan dalam demografi dan situasi lain. Orang tua muda yang berbicara pada anak mereka secara eksklusif dengan Bahasa Inggris, misalnya, bisa jadi sangat berbeda. Begitu juga perilaku media sosial pengguna di luar daerah urban Jabodetabek.

Kami paham bahwa subjek yang kami bicarakan barulah puncak dari gunung es. Masih banyak pertanyaan yang perlu dijawab. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik tentang dinamika bahasa utama dan sekunder di Indonesia modern, perlu ada investigasi lebih mendalam terkait aspek penggunaan bahasa lain, situasi lain, dan komunitas bahasa lain. Ini semua hanyalah sebuah permulaan. []


Pustaka:

Alan S. Kaye (1991). “Is English diglossic?” English Today, 7, pp 8-14 doi:10.1017/S0266078400005848

Litt, E., &Hargittai, E. (2016). The imagined audience on social network sites. Social Media + Society, 2(1), . doi:10.1177/2056305116633482

Sneddon, J. (2003). “Diglossia in Indonesian”. Bijdragen tot de taal-, land- envolkenkund, 159(4), 519-549.

Holmes, J. (2008). An introduction to sociolinguistics (3rd ed.). Harlow: Pearson

Education.                    

Muhawi, I. (1996). “Language, Ethnicity and National Identity in the Tunisian Ethnic Joke”. dalam Y. Suleiman (Ed.), Language and Identity in the Middle East and North Africa (pp. 39-60). Richmond, Surrey: Curzon Press

Purba, R. A. (2017). Pemilihan Bahasa dan Presentasi Diri dalam Media Sosial Instagram di Kalangan Mahasiswa Program Studi Inggris Universitas Indonesia (Unpublished master's thesis). Universitas Indonesia, Indonesia.

Bacaan Terkait
Rainer Abraham Purba

Lulusan Sastra Inggris Universitas Indonesia. Sangat tertarik pada dinamika penggunaan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. 

Anselma Widha Prihandita

Lulusan departemen Sastra Inggris Universitas Indonesia. Tertarik pada kajian fiksi ilmiah dan distopia, gender dan seksualitas, retorika digital, serta bahasa dan literatur pada umumnya. 

 

Populer
Retorika dalam Kemasan Super
Generasi Jurnalis yang Hilang
Kasus Dandhy dan Makna Ujaran Kebencian yang Cemar
Jurnalis adalah Kelas Menengah?
Televisi, Iklan, dan Perihal "Menjadi Indonesia"