Ilustrasi: Darth Vader (CC0)
Ilustrasi: Darth Vader (CC0)
28/04/2017
Pedofilia: Memahami Para Setan Modern
Kasus pelecehan seksual terhadap anak sedang merebak. Apakah media menuntun kita pada pemahaman yang akurat mengenai subjek pedofilia?
28/04/2017
Pedofilia: Memahami Para Setan Modern
Kasus pelecehan seksual terhadap anak sedang merebak. Apakah media menuntun kita pada pemahaman yang akurat mengenai subjek pedofilia?

Wajah mereka terpampang telanjang, sehalaman penuh, di Majalah Tempo edisi 27 Maret 2017 dalam sesuatu yang tampak seperti perwujudan dari pasung atau penyaliban modern. Ketiga sosok tersebut adalah dedengkot “sindikat” penyebaran konten pornografi anak di media sosial dalam sebuah grup Facebook bernama “Official Loly Candy’s Group 18+”. Sejak dibongkar oleh polisi, kasus ini menjadi kasus pedofilia terbaru yang mendominasi headline media nasional. Dengan wajah tertunduk, seragam cerah, dan nama lengkap ketiga tersangka tersebut diumumkan. Entah mengapa alamat lengkap dan kontak mereka tidak sekalian ditampilkan untuk membuka akses (dan penghakiman) masyarakat yang lebih jelas. Ketika kita melihat representasi dari media, tampaknya pelaku pedofilia lebih pantas dipermalukan dan dihukum daripada kebanyakan jenis kriminal lain.

Semangat dari fenomena ini agak serupa dengan kampanye yang dilakukan The News of the World pada tahun 2000 lalu (Critcher, 2002). Pada saat itu, publik Inggris tengah digegerkan oleh kasus pelecehan dan pembunuhan seorang anak bernama Sarah Payne. Korporasi media ini kemudian mendorong sebuah kampanye bertajuk Name and Shame yang mendorong pemerintah untuk mempublikasikan secara penuh segala data identitas orang yang memiliki sejarah pelecehan seksual terhadap anak. Usulan ini mungkin menarik bagi sebagian masyarakat. Misalnya, kampanye ini akan membuat orang tua akan merasa lebih aman, sebab para pengidap pedofilia ini merupakan monster berbahaya yang akan senantiasa memberi ancaman bagi mereka.

Kasus pedofilia sebenarnya bukanlah hal baru di Indonesia. Dulu kita mengenal Robot Gedek dan kemudian pewaris spiritualnya, Babe. Mereka berdua adalah gembel terpinggirkan, memangsa anak jalanan yang hidup tanpa perlindungan. Bukan hanya melakukan pelecehan seksual, mereka juga psikopat yang melakukan berbagai aksi pembunuhan sadis. Mereka adalah “setan” ideal; monster sempurna untuk menakuti anak agar pulang sebelum gelap. 

Selain aspek stranger danger, kasus Loly Candy menambahkan keresahan atas teknologi dan media sosial ke dalam panik pedofilia. Pesan-pesan kehati-hatian seperti “jangan mudah menyebar foto anak di internet” berlalu-lalang di media sosial. Akan tetapi, secara umum, kebanyakan dari mereka [pedofil] tergambar di media dengan cara yang serupa: sekelompok makhluk yang identik, berbahaya, tidak manusiawi dan tidak mungkin (atau tidak perlu) dipahami. Mereka hanya pantas dihukum dan dikebiri.

Pemerintah lantas mempertimbangkan pemberlakuan hukuman yang lebih keras pada pelaku pelecehan seksual terhadap anak. Seto Mulyadi, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, menyarankan hukuman kebiri, pemasangan chip, hingga hukuman seumur hidup atau hukuman mati. Pedofilia, seperti halnya segala kasus kriminal yang melibatkan anak-anak, memiliki beban emosional yang sangat tinggi bagi masyarakat. Kampanye untuk memperkeras hukum ini akhirnya menjadi kampanye yang cukup populer.

Terlepas dari segala ketakutan dan kemarahan, pedofilia sesungguhnya merupakan gangguan jiwa yang paling sering disalahpahami. Konstruksi definisi dan label “pedofil” dibangun dengan peranan besar media yang kemudian tumbuh menjadi isu publik yang cukup besar. Berbagai hal ini mencirikan fenomena pedofilia sebagai panik moral. Panik moral tidak berarti bahwa fenomena pedofilia merupakan hal yang sepele, namun beban emosional yang menyertainya bisa jadi menimbulkan kekeliruan dan kesalahan arah. Apakah sesungguhnya fenomena pedofilia itu? Sedekat apa representasi media dan pandangan kita akan mereka terhadap kenyataan?

Antara Realita dan Representasi

Coba ingat lagi ketertarikan seksual Anda yang paling pertama. Mungkin teman bermain di sekolah atau di lingkungan sekitar rumah. Umumnya ketertarikan anda berkembang secara alami sesuai dengan kelompok umur selagi Anda tumbuh menjadi remaja dan dewasa. Akan tetapi, bagi sekitar 1 persen laki-laki, ketertarikan mereka atas golongan umur bawah ini tidak memudar.

Pedofilia, dalam definisi American Psychological Association (2000), adalah ketertarikan seksual dan kemampuan mendapatkan gratifikasi seksual dari individu di bawah 12 tahun. Ketertarikan ini bervariasi, bisa jadi berupa ketertarikan utama dan eksklusif, bisa pula berupa ketertarikan sampingan yang pengidapnya masih bisa mendapat gratifikasi seksual dari kelompok umur lain. Pedofilia sendiri dipandang sebagai salah satu kelainan paling sering disalah pahami di dunia modern (O’Grady, 2001).

Akan tetapi di media, istilah “pedofil”, “pedofilia”, atau “aksi pedofilia” justru menjadi payung istilah untuk segala jenis aksi dan pelaku pelecehan seksual terhadap anak. Ini adalah miskonsepsi pertama: pedofilia adalah status, sementara pelecehan seksual terhadap anak adalah tindakan. Seorang pria yang merasa tertarik pada seorang wanita belum tentu akan melakukan kontak sosial, apalagi pemerkosaan. Begitu pula dengan seorang pengidap pedofilia, mereka bisa saja menahan hasrat mereka karena berbagai alasan.

Miskonsepsi kedua adalah sesatnya imajinasi masyarakat tentang golongan pengidap pedofilia ini. Prevalensi konservatif dari kemunculan kecenderungan ini, yang terindikasi memiliki akar neurologis, adalah 1 persen di antara para laki-laki dan jauh lebih sedikit di antara perempuan. Dalam beberapa riset, angka ini bahkan mencapai 3-5 persen. Angka 1 persen adalah angka yang cukup besar. Jika di Indonesia terdapat 100 juta laki-laki, kemungkinan rata-rata pengidap kelainan ini adalah 1 juta orang.

Jumlah ini tentu tidak sedikit. Sebuah golongan yang mencakup orang sebanyak ini tentu memiliki berbagai macam jenis, golongan, latar belakang, dan kebutuhan penanganan. Akan tetapi, ketika seorang pengidap pedofilia muncul ke media dan masuk ke dalam diskursus publik, mereka biasanya adalah individu yang telah melakukan tindakan kriminal—umumnya pelecehan seksual terhadap anak. Ketimpangan peliputan ini tentu menyebabkan miskonsepsi. Kata “pedofil” sendiri sudah menjadi istilah kriminal yang diumbar dalam peliputan berita yang sensasional.

Ironisnya, di antara para pelaku pelecehan seksual terhadap anak, hanya sekitar 25 hingga 50 persen (Schaefer, et al, 2010) yang terindikasi mengidap kecenderungan pedofilia. Kerap kali motivasi dari tindakan mereka bukanlah pedofilia, tetapi berbagai faktor seperti depresi, ketidakmampuan menemukan pasangan seumuran, frustrasi seksual, gangguan psikologis lain, dan adanya kesempatan. Fakta inilah yang sangat jarang disebutkan oleh media.

Ketimbang melihat pedofilia sebagai sebuah gangguan yang cukup umum, bervariasi, kompleks namun berisiko, kita mereduksi pedofilia dan pengidapnya sebagai sebuah golongan yang sangat homogen, berbeda dan berbahaya. Seorang pedofil terkesan hanya pantas dihukum dan dihakimi serta tidak pantas mendapat penanganan. Salah satu yang memperkuat pandangan ini, tentunya, adalah peliputan media. Republika, selepas kasus Loli Candy, menyetarakan pedofil dengan koruptor. Sementara itu, Detik.com membuka liputan dengan tajuk “Pedofil Loly Candy’s Harus Dijerat Hukuman Kebiri hingga Mati!”. Begitu pula dengan peliputan Tempo, yang meskipun bisa dijustifikasi sebagai hukuman sosial dan peringatan terhadap masyarakat atas sebuah bahaya, sesungguhnya tidak efektif untuk menangani isu pedofilia. Peliputan seperti itu juga bisa mendorong aksi main hakim sendiri dari masyarakat.

Solusi yang lebih ramah

“Hidup dalam lemari” kerap menjadi istilah yang digunakan orang untuk menyebut individu LGBT yang merahasiakan status mereka. Sebagai bandingan, seorang psikolog pernah mengatakan bahwa hidup sebagai seorang pedofil bisa dibandingkan dengan “selamanya hidup dalam kamar panik.” Sebuah riset belakangan ini menunjukkan indikasi bahwa pedofilia memiliki akar neurologis (Schiffer, et al, 2007). Akan tetapi, mereka yang cukup malang untuk terlahir dengan kecenderungan ini selamanya akan hidup dalam tekanan. Jangankan untuk mendapat bantuan psikologis, mereka kesulitan untuk sekedar mengakui kecenderungan mereka pada teman dan keluarga terdekat. Untuk keluar dari cangkang, mereka berisiko kehilangan pekerjaan dan semua hubungan sosial mereka.

Mereka hidup teralienasi dan membenci diri, rawan terhadap depresi, dan berbagai gangguan kejiwaan lain. Peliputan media dan stigma yang sangat berat ini justru memperkuat risiko mereka menjadi pelaku kriminal. Untungnya, di internet terdapat grup dukungan seperti Virtouos Pedophile yang menyediakan ruang bagi pengidap pedofilia yang tidak ingin melakukan pelecehan pada anak-anak. Grup ini dengan tegas menyatakan ketidaksetujuan terhadap hubungan seksual dengan anak di bawah umur, namun percaya bahwa mereka yang berkomitmen untuk tidak bertindak pantas mendapat dukungan dan pengertian.

Terlepas dari nada tulisan ini yang bisa jadi terlihat apologis, pelecehan seksual terhadap anak  merupakan masalah yang sangat serius. Berbeda dengan sasaran pelecehan seksual lain, anak-anak merupakan golongan yang sangat rawan. Mereka mudah dimanipulasi dan belum mampu membuat keputusan matang secara mandiri. Bahkan, pelecehan seksual terhadap anak merupakan isu yang sangat diremehkan dalam masyarakat. Masyarakat cenderung memungkiri, meremehkan frekuensi pelecehan anak (O’grady, 2001) dan tidak melaporkan kejadian tersebut (West, 2000). Di Amerika saja, diperkirakan sekitar 20 persen individu pernah menerima tindakan seksual tidak menyenangkan di masa kecilnya.

Kepanikan masyarakat atas fenomena pedofilia dan pelecehan anak menunjukkan banyak ciri khas panik moral: demonisasi suatu “setan rakyat” (folk devil), reaksi yang sangat emosional, tersebar luas, dan cenderung tidak proporsional. Munculnya panik moral memang tidak selalu berarti bahwa isu yang berkaitan tidak ada atau tidak signifikan. Pelecehan seksual anak adalah isu yang sangat nyata dan berbahaya. Sayangnya, kelemahan panik moral adalah rawan memancing respons emosional yang kerap tidak dipertimbangkan dengan baik.

Seperti yang sudah dikatakan, pelecehan anak adalah masalah serius, namun panik moral yang didorong peliputan media telah mendistraksi masyarakat. Contohnya adalah penekanan atas aspek stranger danger yang kerap dilakukan oleh media (McCartan, 2008) yang sesungguhnya kurang tepat. Mayoritas pelaku pelecehan seksual atas anak justru adalah orang yang cukup dekat dan memiliki akses atas anak-anak tersebut (O’Grady, 2001). Fokus masyarakat menjadi teralih dari dasar masalah yang cukup kompleks. Mereka justru menjadi asyik menghukum dan mendemonisasi pengidap pedofilia, yang justru menjadi kontra produktif bagi perlindungan anak itu sendiri.

Tidak ada solusi mudah untuk perlindungan anak. Sekadar bersandar pada kebijakan hukuman yang populis tidaklah cukup. Individu dengan kecenderungan pedofilia memiliki risiko menjadi pelaku pelecehan anak, namun kecenderungan itu sendiri bukanlah tindakan kriminal. Mereka, termasuk yang berkomitmen untuk tidak melakukan pelecehan, umumnya hidup tertekan dan menyimpan rahasia. Bantuan profesional dari psikolog dan psikiatri sesungguhnya sangat dibutuhkan oleh mereka, termasuk untuk membantu mencegah mereka melakukan tindak kriminal. Sayangnya, sekali lagi, stigma dan risiko sosial yang sangat berat menjadi penghalang besar (Jahnke & Hoyer, 2013).

Pemerintah seharusnya memberlakukan perlindungan hukum dan jaminan privasi bagi mereka yang mencoba mencari bantuan sehingga mereka tidak berada dalam risiko kehilangan pekerjaan dan beban sosial lainnya. Bagi anak di bawah umur, pendidikan seksual, pengawasan orang tua, dan komunikasi yang berjalan lancar adalah sebuah keharusan untuk mengurangi kerawanan mereka menjadi korban bahkan pelaku pelecehan seksual secara umum.

Benang kusut pedofilia sendiri, secara umum, sangat sulit diurai tanpa media yang bertanggung jawab. Media memilki andil yang cukup jelas dalam mengkonstruksi dan melangsungkan krisis pedofilia di masyarakat modern, membentuk identitas, sikap individu, opini publik dan kebijakan negara terkait pedofilia. Sayangnya representasi pedofilia yang mereka hadirkan hampir selalu bermasalah, tidak bertanggung jawab, dan terus berkontribusi pada konstruksi sosial atas pedofilia yang tidak realistis.

Media perlu mengambil sikap tanggung jawab yang lebih jelas terkait pedofilia. Dalam mengulas isu sensitif seperti ini, media seharusnya menghindari penggunaan bahasa yang emotif, berupaya lebih realistis, dan berbasis data. Mereka juga harus berupaya memberikan ulasan yang seimbang, mencoba menguak lebih dalam kompleksitas isu. Jika media menjalankan peran mereka dengan benar, mereka justru mampu menjadi sumber informasi dan pendidikan yang vital, menghadirkan pemahaman yang dibutuhkan untuk menghadapi isu sosial dengan kepala dingin dan realistis. Lagipula, isu anak tidak boleh dijadikan komoditas ekonomi. Mereka terlalu penting dan berharga untuk dicemari dengan eksploitasi kapitalis dan sensasionalisme tabloid. []


Pustaka

American Psychiatric Association (2000). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Revised 4th Edition (DSM-IV-R). Washington, DC: American Psychiatric Association.

Critcher, C. (2002) “Media, Government and Moral Panic: The Politics of Paedophilia in Britain 2000–1”. Journalism Studies, 3: 521–535.

 Jahnke, S., Hoyer, J. (2013). “Stigma Against People with Pedophilia: A Blind Spot in Stigma Research?” International Journal of Sexual Health. 25: 169–184. 

McCartan, K. F. (2008) “Current Understandings of Paedophilia and the Resulting Crisis in Modern Society”, dalam J. M. Caroll, dan M. K. Alena, (eds) Psychological Sexual Dysfunctions. Nova Publishers: New York.

O’Grady, R. (2001, September 22). “Eradicating Pedophilia: Toward the Humanization of Society”. Journal of International Affairs Editorial Board.

Schaefer, G. A., Mundt, I. A., Feelgood, S., Hupp, E., Neutze, J., Ahlers, Ch. J., Goecker, D., Beier, K. M. (2010). “Potential and Dunkelfeld offenders: Two neglected target groups for prevention of child sexual abuse”. International Journal of Law & Psychiatry. 33 (3): 154–163.

Schiffer B, Peschel T, Paul T, Gizewski E, Forsting M, Leygraf N, Schedlowski M, Krueger TH (2007). “Structural brain abnormalities in the frontostriatal system and cerebellum in pedophilia”. J Psychiatr Res. 41

Bacaan Terkait
Firman Imaduddin

Belajar kajian media di Universitas Indonesia. Meminati isu media, antropologi, budaya, dan perfilman. 

Populer
Retorika dalam Kemasan Super
Generasi Jurnalis yang Hilang
Kasus Dandhy dan Makna Ujaran Kebencian yang Cemar
Jurnalis adalah Kelas Menengah?
Televisi, Iklan, dan Perihal "Menjadi Indonesia"