Ilustrasi: Darth Vader (CC0)
Ilustrasi: Darth Vader (CC0)
25/04/2017
Memoles Citra Polisi di Televisi
Tayangan “86” berusaha menghadirkan polisi sebagai pemeran utama dalam drama kriminalitas. Bagaimanakah sang penegak hukum tersebut digambarkan di layar kaca?
25/04/2017
Memoles Citra Polisi di Televisi
Tayangan “86” berusaha menghadirkan polisi sebagai pemeran utama dalam drama kriminalitas. Bagaimanakah sang penegak hukum tersebut digambarkan di layar kaca?

Pada hakikatnya manusia menyukai drama. Kalau pun tidak suka menjalaninya, setidaknya suka menontonnya. Oleh karena itulah, siaran televisi kita banyak sekali menyuguhkan drama. Tidak terkecuali pada program acara yang diembel-embeli reality show yang didominasi oleh tema kisah romansa. Bentuk programnya beragam, dari yang bertujuan untuk menyatakan cintanya seperti tayangan “Katakan Cinta”, hingga penelusuran kisah perselingkuhan kekasihnya seperti tayangan “Katakan Putus”. Bahkan ada yang berusaha mengatasi derita muda-mudi yang nelangsa akibat tak kunjung dapat kekasih seperti dalam tayangan “Anti JoNes” (Anti Jomblo Ngenes). Pertanyaannya adalah, adakah orang yang masih mau percaya dengan hal begituan? Banyak!

Di antara sekian banyak program reality show yang mutakhir itu, ada satu program yang menganggu saya. Tayangan tersebut berjudul “86”, sebuah program acara yang menayangkan sepak terjang polisi republik dalam menjalankan tugasnya. Kegiatan polisi yang ditampilkan dalam acara tersebut mulai dari penilangan di jalan raya, sweeping tempat nongkrong, hingga inspeksi penginapan kelas melati. Lantas apa yang membedakan tayangan ini dengan tayangan reality show yang lain? Apakah program siaran ini dapat dikatakan lebih “objektif” ketimbang siaran yang lain? Tulisan ini akan mencoba melihat bagaimana dalam tayangan tersebut polisi menempatkan dirinya dan bagaimana cara mereka memandang masyarakat.

Si Miris yang Bebal

Program acara “86” ditayangkan Net TV; stasiun televisi yang membangkitkan lagi istilah kece dari tidur panjangnya. NET TV berusaha menghadirkan sesuatu yang berbeda dari stasiun televisi lainnya. Salah satu buktinya adalah program acara “86” sendiri yang berbeda dari siaran berita kriminal macam “Patroli”, “Delik”, dan sebagainya. “86” mengklaim dirinya sebagai sebuah produk jurnalisme dari sudut pandang penegak hukum. Dalam acara ini, kamera bergerak menggunakan sudut pandang polisi. Kasus-kasus yang dihadapinya pun tidak melulu pembunuhan atau tragedi. Dalam acara “86” segmen acara dibagi menjadi beberapa bagian. Yang pertama menyoal kepatuhan lalu lintas di jalan raya. Segmen berikutnya adalah kegiatan sweeping anak nongkrong oleh “Pasukan Prabu” dari Polrestabes  Bandung. Kedua segmen tersebut biasanya dilengkapi dengan satu segmen lagi yang hadir meliput kegiatan sosial yang menampakkan citra polisi menjadi lebih manusiawi.

Program acara “86” seringkali dibuka dengan adegan polisi lalu lintas, katakanlah “tilangan” atau “cegatan”. Akan tetapi tilangan ini tidak dibingkai sebagai acara tilangan sebagaimana biasa terjadi dengan surat pemberitahuan yang jelas dan lengkap. Kegiatan ini lebih dekat mengarah pada “sidak” di jalan raya. Para polisi ini lebih sering menyasar daerah-daerah yang rawan pelanggaran. Misalnya, di daerah yang tidak boleh untuk memutar balik, tapi para pengguna jalan banyak yang memutar di sana dengan alasan terlalu jauh, rumit, dan sebagainya.

Hal ini membuat saya bertanya: jika aturan yang diterapkan kemudian hanya mempersulit manusia, mengapa tidak mencoba untuk menilik kembali aturannya? Selain itu, jika volume kendaraan makin banyak dan jalan sudah tidak memadai, mengapa tidak ada peraturan yang mempersoalkan hal tersebut?

Kegiatan sidak ini tentu saja seringkali membuat para pengendara di jalan raya terkaget-kaget. Ironisnya, hal tersebut sepertinya justru adalah hal yang diincar oleh mata kamera, sebab dari yang “mendadak” itu terjadi peristiwa, yang kemudian menjadi drama. Misalnya saja, di sebuah jalan besar yang menopang gang-gang kecil di Jakarta, tiga orang muda-mudi yang letak rumahnya di dalam gang-gang tersebut berkendara motor untuk mengantarkan seorang teman ke rumahnya. Dengan berboncengan tiga, tanpa menggunakan helm, tanpa membawa surat-surat kendaraan, mereka tiba-tiba berpapasan dengan polisi yang dengan gagah menghentikan laju mereka.

Sontak mereka akan terberak-berak minta ampun dan berkelit dengan alasan mengantarkan temannya yang rumahnya ada di “dekat situ”. Adegan selanjutnya, dengan bangganya sang polisi menunjukkan kuasanya dengan meminta dipanggilkan orang—sanak famili yang ada di rumahnya untuk membawakan surat-surat tersebut. Setelah itu adegan bergeser pada testimoni polisi penilang tersebut yang diwawancara sendirian di ruangan terpisah, memaparkan bagaimana kesannya melihat kejadian seperti itu di jalan raya. Yang menarik, kata sakti yang selalu mereka keluarkan adalah “miris”.

Kata miris ini rupanya ampuh sekali dan selalu muncul disetiap penayangan acara “86”. Tidak peduli kasusnya penilangan, penggerebekan pasangan mesum di wisma melati, patroli pasukan Prabu, semua polisi pasti akan mengatakan “miris”. Logika ini sangat menganggu karena dalam acara ini polisi terus menerus menempatkan warga negara di posisi yang selalu salah. Sementara polisi telah melakukan dengan sekuat tenaga, pikiran, hati yang suci, dan niat mulia untuk terus membenahi keblangsakan masyarakat, namun selalu saja mereka mendapati kemirisan yang bertubi-tubi. Entah bagaimana polisi republik ini menjadi merasa bangga dengan segala hal ini.

Kita harus menempatkan logika kita pada logika program acara di televisi dan bertanya, apakah polisi benar-benar ingin masyarakat tertib secara keseluruhan (meskipun tentu saja hal itu tidak mungkin terjadi)? Artinya, dengan terus-menerus mengucapkan miris, sebenarnya mereka ingin acara ini semakin panjang masa tayangnya dan berharap mereka akan terus-menerus menjumpai kesalahan masyarakat. Sikap yang demikian akan menumbuhkan sebuah logika bahwa masyarakat selalu salah, dan polisi-lah yang menertibkan kesalahan itu. Logika tersebut seharusnya menimbulkan pertanyaan: bukankah apabila selalu ada pelanggaran yang dilakukan masyarakat artinya polisi pun gagal dalam menertibkan masyarakat? Bukankah apabila tujuan mereka adalah memoles citra yang baik, maka akan lebih efektif jika polisi menampilkan bahwa warga negara ini sebagai  orang-orang yang tertib: jika tidak pakai helm langsung dibelikan helm, jika ban bocor langsung ditolong, jika kehabisan bensin maka langsung dibelikan, kemudian disiarkan ke seluruh penjuru republik? Ternyata memang bukan itu logika yang digunakan oleh polisi.

Mempertontonkan Kekuasaan

Segmen selanjutnya yang tidak kalah mengganggunya adalah segmen patroli pasukan Prabu. Dengan pakaian tugas khas pasukan taktis, mereka berkeliling kota menenteng senjata laras panjang. Tanpa landasan yang jelas mereka bisa mendatangi orang-orang yang berkumpul di pinggir jalan atau beberapa tempat tertentu yang pencahayaannya kurang. Mereka bisa menanyai warga dengan semena-mena, menggeledah barang bawaan tanpa surat perintah, menanyai identitas mereka dengan penuh kecurigaan, seperti asumsi dalam kepala mereka bahwa masyarakat adalah musuh. Dalam hal ini ideologi negara mewujud dalam aktivitas ini: negara yang tak kalah paranoidnya dengan masa pemerintahan orde baru. Mereka mempraktikkan pengawasan (surveilance) habis-habisan terhadap warganya, mencurigainya, dan menuduhnya. Tentu saja belum lekang ingatan mengenai bagaimana kasus pembubaran perpustakaan jalanan di Bandung—kota yang memang kini terkenal dengan pemberlakuan jam malamnya.

Sementara polisi “86” sibuk menampilkan dirinya telah bekerja habis-habisan, kejadian kriminal yang besar dan menyita perhatian publik terus terjadi. Misalnya, tujuh tahanan meloloskan diri dari rumah tahanan Mabes Polri dengan cara menjebol tembok. Kasus lain adalah polisi yang tewas karena main-main dengan senjatanya dan berakhir dengan meletuskan kepalanya sendiri. Lain lagi dengan kasus tentang kisah lama menyoal korupsi di lembaga kepolisian itu sendiri.

Perlu diketahui, bahwa apa yang telah saya sampaikan sebelumnya terkait bantuan terhadap pengguna jalan yang kehabisan bensin, pecah ban, atau beragam kejadian celaka yang terjadi di jalanan, sudah tertangani oleh komunitas dari masyarakat yang turun ke jalan yang melakukan ini. Komunitas  tersebut adalah “Info Cegatan Jogja”. Komunitas ini berawal dari komunitas dunia maya (Facebook dan Twitter) yang saling berbagi informasi tentang operasi pemeriksaan kelengkapan surat di jalan raya. Tak perlu menunggu lama, anggota komunitas ini berangsur menjadi sangat banyak. Informasi ini rupanya sangat berguna bagi masyarakat pengguna jalan.

Komunitas ini meskipun memiliki nama spesifik daerah Jogjakarta, tapi anggotanya bisa berasal dari daerah manapun. Komunitasnya juga melebar hingga ICJ cabang Jakarta, Bali, dan kota-kota lainnya. Selain itu, informasi yang dibagikan pun akhirnya berkembang bukan melulu soal info cegatan, melainkan beragam mulai dari kasus kekerasan “Klithih”, pelaku vandalisme, hingga isu tentang “Setan nDhodhok”. Yang terakhir disebut adalah sebuah modus pencurian ketika pintu rumah di ketuk oleh sesorang atau sesuatu,tapi ketika pintu dibuka tidak seorang pun yang ada di sana. Jika penghuni rumah telah tertidur, maka keesokan paginya barang-barang berhaganya akan lenyap. Pelaku kejahatan ini tidak terlihat, tapi jika melewati tanah basah, akan kelihatan jejaknya.

ICJ adalah wujud dari berdayanya warga. Ketiadaan atau minimnya infrastruktur membuat mereka membangun jaringan dan saling membantu. Kondisi jalan aspal di republik yang tidak pernah benar-benar seluruhnya mulus pun dijadikan salam perjuangan mereka: “SAG, Salam Aspal Gronjal”.

Semua berita ini tentu saja tidak akan masuk dalam segmen program acara “86”. Dari hal sini kita bisa melihat, bagaimana acara ini dibingkai, khususnya bagaimana masyarakat dan polisi diposisikan, dan bagaimana kekuasaan aparat dipertontonkan. Kita dapat menilai bagaimana mereka memilah dan memilih hal apa saja yang pantas masuk dalam program acara tersebut mana yang tidak. Dengan asumsi dasar “masyarakat selalu salah” acara “86” ini berjalan. Polisi hadir sebagai pahlawan, meluruskan segala sesuatu yang bengkok dalam masyarakat. Dari penertiban lalu lintas hingga razia kamar indekos, dari pelumpuhan terduga teroris di Bandung (yang diatur sedemikian lebay layaknya film aksi) hingga kegiatan selebritas polwan cantik. Semuanya dibingkai dalam sebuah sajian tontonan.

Selama sekitar enam bulan terakhir saya selalu makan malam dengan menonton siaran “86”. Apa yang ditampilkan di kanal televisi tidak selalu dapat dilacak ulang siarannya di kanal Youtube. Ada beberapa adegan yang masih bisa saya ingat dan ketika dilacak di kanal Youtube akan sangat sulit ditemukan. Misalnya, ketika pasukan prabu mencurigai segerombolan anak muda di pinggir jalan kota Bandung dan mereka tidak menemukan kesalahan apapun pada rombongan tersebut karena sesungguhnya mereka hanya beristirahat. Meskipun demikian, polisi tetap punya segudang nasihat untuk mereka. Dalam kanal Youtube video terpotong-potong dan diberi judul yang memancing penasaran. Ini terjadi tentu saja karena NET sadar kekhasan karakter masing-masing medianya. Penjelasan program acara yang terdapat pada kolom deskripsi kanal Youtube mereka berbunyi:

“‘86’ merupakan tontonan yang segar dan dapat memacu adrenalin yang ditayangkan di NET TV setiap hari pukul 22:00 WIB. Tidak hanya kita dapat mengikuti aksi polisi Indonesia dalam penggerebekan, tetapi kita juga diajak untuk menyaksikan kejadian yang sesungguhnya terjadi di lapangan serta melihat sedikit sisi lain dari kehidupan pribadi polisi sebagai manusia biasa dan kedekatan mereka dengan keluarganya. “86” memperlihatkan pekerjaan polisi Indonesia mulai dari kegiatan yang ringan, seperti mendisiplinkan pengguna lalu lintas, sampai kasus berat kepolisian.”

Dari deskripsi program tersebut kiranya telah memberi gambaran yang cukup gamblang. Bahwa ada unsur adrenalin yang ditawarkan pada penonton. Bahwa acara ini dibingkai sebagai tontonan yang memuat unsur drama. Seluruh aksi yang dilakukan dibingkai sebagai sebuah peran dramatik yang harus dimainkan oleh polisi. NET dalam hal ini berfungsi sebagi penyiar,penyambung lidah aparatur negara, institusi militer yang mengawasi dan menertibkan warganya, membingkai dan memperbaiki citranya yang kian hari kian longsor. NET memediasi suatu institusi negara dalam mempraktikkan kekuasan (exercising power) terhadap masyarakatnya.

Citra polisi yang ditampilkan oleh NET tidak hanya berada dalam satu wajah yang keras dan tegas lewat tayangan penggrebekan dan atau aksi pasukan prabu, tetapi juga yang manusiawi melalui tayangan bakti sosial maupun kegiatan selebritas polwan cantik atau polisi ganteng. Wujud polisi secara fisik yang ditampilkan di televisi pun selalu “enak dipandang”, berwajah ganteng atau cantik, bertubuh atletis dan lain sebagainya, seolah kita lupa bahwa pernah ada penggalakan program diet dan olahraga yang diberlakukan dalam kesatuan polisi karena banyak di antara anggotanya yang tubuhnya kegendutan. Semua hal ini tentu saja sangat berbahaya karena bersifat menipu dan dapat membangkitkan citra baru pada institusi polisi. Ia gagal merekam kejadian-kejadian nyata yang berkebalikan dari apa yang nampak di layar kaca. []

 

Bacaan Terkait
Irfan R. Darajat
Lulusan Jurusan Politik dan Pemerintahan, FISIPOL UGM, melanjutkan studi di Kajian Budaya dan Media Sekolah Pascasarjana UGM. Menulis Buku Nyanyian Bangsa; Telaah Musik Sujiwo Tejo dalam Menghadirkan Wacana Identitas dan Karakter Bangsa. Penggemar musik dangdut dan melankolis.
Populer
Perjuangan Situs Kebencian Mengemas Omong Kosong
“Politainment” Gubernur Baru Jakarta
Tak Ada Kepentingan Publik Dalam Pernikahan Kahiyang
Denny Setiawan: Internet Indonesia Lelet Karena Infrastruktur yang Belum Optimal
Begini Cerita Saya sebagai Wartawan Flora-Fauna