Ilustrasi: Darth Vader (CC0)
Ilustrasi: Darth Vader (CC0)
29/03/2017
Hantu Televisi, Hantu Modernitas
Tayangan berbau mitisisme kerap dipandang buruk—dan seringkali, memang bermasalah. Masih adakah hikmah yang bisa kita tebus dari hantu-hantu di layar kaca?
29/03/2017
Hantu Televisi, Hantu Modernitas
Tayangan berbau mitisisme kerap dipandang buruk—dan seringkali, memang bermasalah. Masih adakah hikmah yang bisa kita tebus dari hantu-hantu di layar kaca?

Pada diskusi yang diselenggarakan Remotivi pada bulan November 2016, komisioner KPI Hardly Stefano menyatakan bahwa KPI berhasil bernegosiasi dengan stasiun televisi untuk berhenti menyiarkan tayangan bertema mistis. Tayangan mistis manakah yang dimaksud oleh Hardly? Meski KPI tidak pernah mengeluarkan pernyataan resmi terkait hal ini, tampaknya Hardly merujuk kepada tayangan mistis dengan format reality show seperti “(Masih) Dunia Lain” atau tayangan-tanyangan yang memang sudah absen selama beberapa bulan dari habitatnya pada Minggu malam di televisi. Sebaliknya, film horor masih disiarkan hingga waktu tulisan ini digarap—ANTV, misalnya, menayangkan film berjudul “Kuntilanak” pada 26 Februari 2017.

Apa argumentasi yang mendasari penghentian tayangan mistis ini?

Sikap paranoid KPI terhadap mistisisme ini perlu dimengerti dalam kerangka agenda modernisasi Indonesia yang lebih luas: dalam perspektif KPI, mistisisme merupakan sebuah keterbelakangan yang tidak layak mendapat tempat dalam imajinasi Indonesia modern. Perspektif ini dapat dilihat dari pendapat komisioner KPI Sujarwanto Rahmat Arifin bahwa tayangan mistis “mendegradasikan peradaban Indonesia". Kesimpulan ini dapat ditarik dari pernyataannya bahwa “zaman ini kok diajak ke zaman dukun-dukunan? Sekarang (ini) zamannya modern, rasional”.

Hal ini menunjukkan bahwa tampilan mistisisme secara vulgar seperti praktik magis dan orang kesurupan kontradiktif dengan posisi televisi sebagai ruang publik yang rasional dan modern serta steril dari kepercayaan dan takhayul sisa masa lalu. Antagonisme antara tayangan mistis dan agenda modernitas ini terlihat jelas ketika KPI pada Survei Indeks Kualitas Siaran Televisi menempatkan tampilan mistisisme—bersamaan dengan seksualitas dan kekerasan—sebagai indikator negatif yang bertentangan dengan tujuan penyiaran untuk “membentuk watak, identitas, dan jati diri bangsa Indonesia”.

Bagaimanapun juga, argumentasi di atas menunjukkan bahwa KPI tidak sanggup mendefinisikan apa itu “modern” dengan gamblang. Yang dapat KPI lakukan hanyalah menuding mistisisme sebagai hal yang “tidak modern”. Selain itu, dengan mereduksi mistisisme sebagai sebuah tampilan, KPI tidak mempertimbangkan konten dari tampilan mistis itu sendiri, yakni pesan apa yang dapat disampaikan melalui kehadiran hantu dan fenomena supranatural lainnya. Hal ini menjadi problematis ketika kita mempertimbangkan bahwa mistisisme merupakan bagian dari kepercayaan masyarakat Indonesia sebagai sebuah cara untuk memaknai berbagai hal di keseharian mereka.

Pada satu sisi, kepercayaan terhadap yang mistik kerap dipandang sebagai sebuah bentuk irasionalitas yang mempercayai bahwa mistisisme bekerja dengan tak kasat mata dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, masalah rumah tangga hingga sukses-pailitnya usaha dapat dipandang sebagai campur tangan kuasa gaib. Mistisisme dapat dianggap sebagai sebuah kemalasan dalam menggunakan rasio untuk memahami realitas maupun kepasrahan terhadap kemampuan individual seseorang untuk mengubah keadaan—sebuah sikap yang membuat orang mudah tergoda dengan paranormal yang menawarkan rezeki hingga jasa untuk menghancurkan bisnis pesaing.

Ketidaksukaan pada irasionalitas inilah yang menjadikan reality show mistis menjadi kontroversi tersendiri bagi khalayak sebagai tayangan yang “membodohi penonton” dengan mengklaim sebuah adegan hasil rekayasa sebagai realitas. Melalui beragam analisis, khalayak berupaya mendekonstruksi kesahihan fenomena gaib yang tampil pada tayangan tersebut: barang berjatuhan merupakan ulah kru, suara tangisan yang terekam saat uji nyali adalah hasil editing, sedangkan peserta yang kesurupan hanya akting dengan kualitas pas-pasan. Bahkan KPI melalui P3SPS juga mewaspadai kemungkinan manipulasi ini dengan menyatakan bahwa, “program siaran yang menampikan muatan mistik dilarang tegas untuk melakukan rekayasa seolah-olah sebagai peristiwa sebenarnya”.

Di sisi lain, tulisan ini hendak menunjukkan bahwa mistisisme, alam gaib dan hantu tidak melulu merupakan perkara irasionalitas dan keterbelakangan. Terlebih, ketika “rasionalitas” dan “modernitas” itu sendiri digunakan sebagai istilah normatif yang dapat didekonstruksi pula. Tulisan ini juga tidak mencoba untuk mengkritisi klaim realitas dari fenomena gaib dalam reality show mistis. Sebagaimana yang telah ditulis oleh Yovantra Arief, mistisisme merupakan perkara percaya-tidak percaya yang tidak dapat tunduk oleh kritik seilmiah apapun. Kalaupun kita dapat memformulasikan sebuah argumen yang membuktikan dengan pasti adanya rekayasa dalam tayangan tersebut, argumen tersebut tidak dapat membuktikan kekeliruan dari kepercayaan banyak orang di Indonesia mengenai mistisisme itu sendiri.

Sebaliknya, sebuah kritik terhadap tayangan mistis di televisi, khususnya yang memiliki format reality show, dapat dilakukan dengan menunjukkan pertentangan antara bentuk (form) serta konten dari tayangan mistis itu sendiri.

Menurut Andrew Smith (2007), fenomena gaib seperti hantu dapat memiliki dimensi kritis sebagai pengingat akan permasalahan di masa lalu yang belum usai. Hantu tidak hanya sekadar entitas gaib. Ia merupakan saksi sejarah yang juga turut dihantui oleh problem sosial di masyarakat. Sejumlah film Indonesia pernah mengangkat dimensi hantu yang historis ini. Beberapa di antaranya adalah Lentera Merah (2006) yang mengisahkan arwah mahasiswi yang tewas dibunuh pada pembantaian PKI pasca tahun 1965, dan Mall Klender (2014) yang menceritakan fenomena supranatural pada sebuah pusat perbelanjaan ketika orang-orang mati terbakar menjelang kerusuhan tahun 1998. Meski kualitas dan keberhasilan dari penyampaian pesan dari kedua film ini tentu masih dapat diperdebatkan, namun setidaknya keduanya telah menyentuh dimensi kritik dari hantu sebagai fenomena sosial.

Contoh lain yang menunjukkan problematika antara hantu, problem sosial, dan media yang saling berkelindan adalah penelitian antropolog Nils Bubandt (2012) mengenai entitas gaib di Maluku Utara yang disebut penduduk setempat sebagai suanggi, seorang perempuan yang dapat menjelma menjadi penyihir menyeramkan pada malam hari untuk membunuh dan memakan organ dalam korbannya. Pada mulanya, suanggi diyakini merupakan perempuan jahat yang memperoleh kekuatan magis melalui ilmu hitam. Ia memakan organ dalam korbannya dengan tujuan untuk mempertahankan ilmu yang telah dimiliki. Pemahaman mengenai suanggi ini mengalami perubahan ketika pada sekitar tahun 2000 ditemukan sejumlah mayat laki-laki dengan kelamin yang termutilasi. Kemudian, muncul cerita di masyarakat bahwa suanggi tersebut merupakan seorang perempuan yang diperkosa beramai-ramai dan dibunuh. Arwah perempuan tersebut kembali untuk membalas dendam terhadap laki-laki yang telah memperkosanya. Hal itulah yang membuat suanggi mengambil alat kelamin dan bukan organ dalam korbannya.

Menurut Bubandt (2012), perubahan identitas dari suanggi ini menunjukkan dua hal. Pertama, hantu menjadi semakin terpsikologisasi (psychologized). Hantu bukan lagi sekadar entitas jahat, namun telah menjelma menjadi subjek yang mengalami trauma tersendiri. Dengan kata lain, telah terjadi pergeseran dalam pemahaman khalayak mengenai hantu sebagai entitas yang harus dibasmi menjadi menjadi subjek yang perlu ‘dipahami’. Kedua, perubahan identitas tersebut hanya dimungkinkan dengan semakin teraksesnya televisi di Maluku Utara, ketika hantu perempuan yang membalas dendam merupakan sebuah arketip yang populer dalam televisi nasional seperti pada sinetron “Si Manis Jembatan Ancol”.

Salah satu temuan Bubandt pada penelitian tersebut yang semakin menguatkan bukti peran media dalam memaknai sang suanggi adalah narasi yang mengatakan bahwa nama asli dari suanggi tersebut adalah Ida Farida. Menurut Bubandt, nama Farida merupakan kondensasi dari dua tokoh berbeda dari sinetron “Misteri Gunung Merapi” yang populer di kalangan khalayak Maluku Utara  yakni Farida Pasha, pemain yang memerankan sosok Mak Lampir yang ikonik, juga Farida, karakter yang merupakan kekasih dari tokoh laki-laki utama dalam sinetron tersebut. Dalam cerita, Mak Lampir hadir sebagai kuasa jahat yang berupaya untuk memisahkan Farida dan kekasihnya. Dengan demikian, nama Farida memiliki dua konotasi sekaligus yaitu sebagai seorang penyihir jahat dan seorang perempuan yang berada dalam bahaya, sesuai dengan dua narasi yang berbeda mengenai identitas sang suanggi.

Kasus suanggi di atas membuktikan bahwa mistisisme merupakan sebuah fenomena yang mungkin sekali sarat dengan pesan. Sayangnya, dimensi inilah yang luput dari argumentasi KPI yang mengatasnamakan rasionalitas dan modernitas.

Meskipun demikian, kita dapat melihat bahwa hal yang sama merupakan problem dari tayangan reality show mistis yang juga lebih menekankan form ketimbang konten dari mistisisme itu sendiri. Menurut Katinka van Heeren (2007), tayangan mistis di televisi Indonesia berupaya menghadirkan fenomena gaib sebagai sebuah kejadian yang otentik. Menggunakan kamera inframerah, rekaman suara hingga paranormal yang menjadi mediator antara khalayak dan alam gaib, tayangan-tayangan tersebut berupaya untuk membuat penonton menjadi takjub dengan fenomena gaib yang tampil di layar kaca mereka.

Namun upaya untuk membuat takjub ini kerap mengorbankan pesan yang dapat muncul dari sebuah fenomena gaib. Terkadang, sejumlah episode tayangan dengan format tersebut bertempat pada lokasi yang diklaim memiliki sejarah traumatik, seperti situs pertempuran, ladang pembantaian, atau tempat bunuh diri. Alih-alih menarasikan pesan di balik kejadian-kejadian traumatik tersebut, hantu justru dihadirkan secara ahistoris, yaitu ketika fenomena seperti jatuhnya barang-barang dan kemunculan hantu di kamera hanya berfungsi untuk memuaskan rasa ingin tahu penonton dan tidak ada hubungannya dengan peristiwa pada lokasi yang bersangkutan.

Meskipun kita menyadari hilangnya dimensi sosial-historis dari hantu, hal ini tidak berarti bahwa kita perlu meregulasi tayangan mistis hingga ranah apa yang seharusnya ditampilkan. Dalam penelitiannya, van Heeren menunjukkan reality show mistis sendiri merupakan dampak dari kebijakan pemerintahan Orde Baru terhadap konten film melalui Kode Etik Produksi Film Nasional yang menyatakan bahwa sebagai produk budaya, film harus mengkultivasikan nilai-nilai kebangsaan yang sejalan dengan ideologi negara. Berkaitan dengan hal ini disampaikan bahwa,

 “Dialog, adegan, visualisasi, dan konflik-konflik antara protagonis dan antagonis dalam alur cerita seharusnya menuju ke arah pengagungan dan ketakwaan terhadap Tuhan YME”.  

Selain itu, pemerintah Orde Baru bahkan menentukan alur cerita agar,

 “…menimbulkan kesan kepada penonton bahwa yang jahat itu pasti akan menerima/menanggung akibatnya dan menderita, dan yang baik itu pasti menerima ganjaran dan kebahagiaan”.

Hasil dari regulasi ini adalah sebagian film horor pada masa Orde Baru mengikuti formula yang sangat tertebak: figur pemuka agama selalu hadir di akhir film untuk menumpas kuasa-kuasa jahat. Menurut van Heeren, formula Deus ex Machina dalam resolusi konflik ini diadopsi oleh tayangan reality show mistis ketika sang paranormal yang religius berperan sebagai figur otoritas yang memanggil dan mengusir hantu sebagai tontonan audiens.

Pada akhirnya, kita bisa menyimpulkan bahwa baik KPI dan televisi masih berkutat dengan logika Orde Baru yang problematik karena enggan melihat mistisisme secara kontekstual. Di satu sisi, KPI mengadopsi perspektif modernitas Orde Baru yang penuh jargon. Di sisi lain, televisi berkutat dengan formula usang yang berasal dari agenda otoriter Orde Baru untuk menentukan konten produk budaya Indonesia. Hasilnya adalah mandulnya eksplorasi kreatif dari fenomena gaib pada televisi Indonesia, terlebih untuk melampaui formula yang sudah pakem.

Dengan berakhirnya tayangan reality show mistis di televisi, tampilan hantu dan fenomena gaib lainnya di layar kaca dapat mengembangkan diri ke dalam format-format lain, atau lenyap sama sekali dan takluk pada tuntutan modernitas dan rasionalitas. Apapun hasilnya, kehadiran hantu selalu merupakan hantu bagi modernitas itu sendiri: bahwa modernitas yang kita kenal sekarang dengan jargon-jargon rasionalitas dan kemajuan adalah proyek yang masih jauh dari usai. []


Daftar Pustaka

Bubandt, Nils. (2012). “A Psychology of Ghosts: The Regime of the Self and the Reinvention of Spirits in Indonesia and Beyond”, Anthropological Forum, 22:1, 1-23

Smith, Andrew. (2007). The Routledge Companion To Gothic. London And New York: Routledge

Van Heeren, Katinka. (2007). “Return of the Kyai: representations of horror, commerce, and censorship in post‐Suharto Indonesian film and television”, Inter-Asia Cultural Studies, 8:2, 211-226

Bacaan Terkait
Eduard Lazarus Tjiadarma
Masih berupaya menyelesaikan studi kajian media di Universitas Indonesia sembari berkecimpung di Remotivi. Selain bergumul dengan isu media, ia juga mendalami teori kritis, kajian budaya dan filsafat.
Populer
5 Kasus Kekerasan Anak Karena Tayangan Televisi
Kuasa Rating dan Tayangan Tak Bermutu
Apakah Agama Penting Bagi Jurnalis?
Stereotipe Perempuan dalam Media
Zen RS: Kami Ingin Membangun Kultur Riset di Media