Ilustrasi: Gery Paulandhika
Ilustrasi: Gery Paulandhika
11/03/2017
Hoax, Kapitalisme Digital, dan Hilangnya Nalar Kritis (Bagian II - Selesai)
Menjamurnya hoax punya hubungan erat dengan pesatnya teknologi komunikasi. Bagaimanakah kita mesti menyikapinya?
11/03/2017
Hoax, Kapitalisme Digital, dan Hilangnya Nalar Kritis (Bagian II - Selesai)
Menjamurnya hoax punya hubungan erat dengan pesatnya teknologi komunikasi. Bagaimanakah kita mesti menyikapinya?

Baca bagian pertama

 

Pada tulisan pertama kita telah membahas bagaimana posisi hoax dalam dalam politik. Ia berperan sebagai suplemen yang menguatkan sekelompok orang yang “seiman”, dan bisa juga, jika dilakukan dengan cukup jeli, menjaring para pemilih mengambang yang belum menentukan pilihan. Kita juga telah mendiskusikan bagaimana kapitalisme digital menciptakan mesin yang bisa mempelajari pola interaksi dan menyuguhkan konten yang selaras dengan kebiasaan kita di internet.

 

Lantas, apakah konsekuensinya?

Inklusivitas dan Jaman Ekstrem

Ketika kita mempergunakan internet dan media sosial, kita sesungguhnya sudah menandatangani pakta bahwa kita setuju untuk menghilangkan kemerdekaan dalam memilih. Google, misalnya, akan mencatat pola pencarian kita lewat algoritma yang mereka ciptakan. Itulah sebabnya mesin pencari ini tampak sangat cerdas. Akan tetapi di balik itu, Google sesungguhnya sudah memilih untuk kita. Mereka menyediakan apa yang diprediksi oleh mesin sebagai pilihan kita dan (pada umumnya) kita merasa nyaman dengan pilihan itu.

Bukankah ini sesuatu yang bagus? Iya, untuk satu dua kali kesempatan. Apa yang dilakukan oleh algoritma ini adalah menghilangkan proses deliberasi atau kemampuan kita mempertimbangkan sesuatu. Semua hal yang dipilihkan mesin adalah hal-hal yang sesuai dengan keinginan kita dan kita tidak diberikan alternatif yang lain untuk untuk kita pertimbangkan. Bahkan terkadang mesin menyodorkan kepada kita spesifikasi yang persis seperti yang kita inginkan dan meniadakan yang tidak kita inginkan.

Kehadiran internet dan media sosial memang menjadikan hidup kelihatan menjadi jauh lebih mudah. Akan tetapi, seringkali yang mudah itu tidak selalu membawa kebaikan, mengingat yang ditumpulkan oleh mesin-mesin itu adalah kemampuan deliberasi kita. Maka, dengan lebih tepat dapat dikatakan bahwa mesin-mesin pencari membawa kita ke ‘zona nyaman’ (comfort zone). Yang disodori selalu adalah apa yang kita setujui, sesuatu yang kita membuat kita nyaman, yang tidak perlu lagi kita diskusikan atau perdebatkan.

Jika Anda pengguna media sosial, Anda bisa mengamati bahwa yang muncul di dalam newsfeeds Anda pada umumnya adalah pendapat-pendapat yang sealiran dengan Anda. Pun jika Anda melihat yang tidak sealiran, hampir dapat dipastikan itu karena Anda sendiri yang mencarinya. Bagaimanapun, mesin mencatat pencarian Anda dan hampir pasti like yang Anda berikan adalah pandangan yang sesuai dengan pandangan dan keyakinan Anda.

Riset-riset psychometric yang dikembangkan oleh ahli psikologi dengan jelas menunjukkan bahwa jejak-jejak digital seperti like dan follow di media sosial juga mampu menunjukkan kepribadian seseorang, selera, bahkan pandangan sosial dan politiknya. Mereka yang menguasai dan mengolah data-data ini kemudian mampu membuat targeted campaign, baik untuk kepentingan komersial maupun kepentingan politik.

Data menunjukkan bahwa follower Lady Gaga, misalnya, memiliki kepribadian yang extrovert, tidak terlalu terikat dengan agama, bernilai moral liberal, besar kemungkinan sangat memperhatikan alam, besar kemungkinan akan berbelanja di toko-toko organik dan memakai produk-produk yang dianggap tidak merusak lingkungan, dan (kalau hidup di Amerika) secara politik akan cenderung untuk menjadi Demokrat. Hal seperti ini dicatat dengan cermat oleh mesin dan berguna untuk kepentingan komersial, sosial, dan politik.

Bahkan tanpa media sosial atau internet, orang cenderung untuk hanya “percaya pada apa yang mereka yakini.” Ini merupakan kompas dari manusia untuk melakukan semua aktivitas sosialnya. Orang akan merasa lebih percaya kepada sesamanya yang satu suku, satu agama, satu ras, dan lain sebagainya. Seperti misalnya, mereka yang satu suku memiliki kepercayaan yang lebih tinggi terhadap sesama suku ketimbang terhadap suku lain. Hal ini disebabkan perasaan lebih percaya yang menimbulkan keyakinan bahwa mereka akan lebih mudah bekerja sama. Tentu, ada situasi dimana kecenderungan ini tidak berlaku.

Algoritma dari mesin pencari dan media sosial memperkuat semua komponen kepercayaan ini. Demikian kuatnya sehingga sesungguhnya mesin ini menciptakan masyarakat yang lebih eksklusif. Internet dan media sosial mengumpulkan semua orang yang satu pola dalam pemikiran, satu kepercayaan, satu agama, bahkan hingga ke tahap yang ekstrem. Orang digiring masuk ke dalam zona nyaman mereka. Jika zona nyaman mereka adalah agama, maka orang dibuat sedemikian rupa untuk berada dalam wilayah ini. Tidaklah begitu mengherankan jika derajat partisan dalam politik saat ini demikian tingginya dibandingkan dengan masa yang lalu.

Akibatnya pula, masyarakat menjadi sangat tersekat-sekat (compartmentalized). Orang dibuat untuk hanya berada dalam wilayah sektariannya, bahkan perasaan sektarian mereka semakin diperkuat—dan dalam banyak hal bahkan menjadi sangat ekstrem. Karena tersekat-sekat, orang tidak didorong untuk melakukan dialog. Mereka hanya menyimak apa yang berada dalam sekat atau zona mereka. Hubungan keluar dari sekat sektarian itu hanya terjadi ketika orang mendebat atau menyerang kelompok sektarian lain. Akibat dari “pertengkaran” seperti itu, mudah diduga, adalah semakin kuatnya perasaan sektarian, yang makin lama semakin ekstrem dan semakin ngawur.

Itulah sebabnya perdebatan-perdebatan antarsekat sektarian dalam media sosial menjadi sangat gila dan bahkan melampaui batas-batas keadaban. Karena suasana “perang” di media sosial ini, tidak jarang kita melihat pelaku-pelakunya berlomba-lomba menciptakan hoax untuk menjatuhkan lawannya. Tidak juga mengherankan karena peperangan seperti ini memberikan pembenaran orang untuk menghalalkan segala macam cara. Yang paling ironis adalah pembela-pembela agama yang paling gigih justru paling banyak melakukan hoax, teori-teori konspirasi palsu, dan berita-berita bohong. Perasaan sedang “berperang” itu mengizinkan mereka untuk melanggar perintah agama yang seharusnya mereka tegakkan.

Hilangnya deliberasi membuat orang tidak lagi memerlukan pandangan lain di luar pandangan yang mereka yakini. Orang tidak merasa perlu untuk menguji zona nyaman mereka. Tidak ada lagi kebutuhan untuk mempertanyakan keyakinan mereka. Pemikir seperti Socrates yang mengatakan “hidup yang tidak dipertanyakan, tidak layak untuk dihidupi” menjadi tidak mungkin lagi diinsyafi dalam zaman ini. Orang menjadi semakin fanatik dalam keyakinannya. Mereka tidak merasa perlu untuk mempertanyakan apa pun, kecuali setia membabi buta pada keyakinannya.

Internet dan media sosial juga menyebabkan terjadinya arus antiintelektualisme yang sangat kuat. Jika para pemikir setelah Perang Dunia II pernah mengatakan bahwa kapitalisme akan melahirkan manusia “satu dimensi”, maka keadaan saat inilah yang justru mewujudkan manusia satu dimensi tersebut. Kapitalisme digital membuatnya mencapai taraf ekstrem.

Persis pada saat pasangnya arus antiintelektualisme, hilangnya deliberasi, dan menguatnya ketunggalan dimensi, politik populis semakin bangkit di banyak negara. Kita sudah melihat bagaimana pengaruh kapitalisme digital dalam kehidupan sosial dan politik di dunia pada saat ini. Sebagai contohnya, banyak kalangan menghubungkan berkuasanya Donald J. Trump di Amerika Serikat dengan arus populisme.

Ada kemungkinan bahwa suksesnya gerakan 411 dan 212 di Jakarta tahun lalu juga merupakan bagian dari fenomena kapitalisme digital. Di samping itu, media sosial juga melahirkan para entrepreneur yang ahli memanfaatkan isu-isu sektarian ini. Di Amerika Serikat, media-media seperti Breitbat News atau InfoWars.com yang rajin meniupkan teori-teori konspirasi dan berita-berita hoax justru menjadi media arus utama. Di Indonesia pun kita melihat fenomena yang sama. Media sosial melahirkan provokator-provokator yang mahir bermain di wilayah-wilayah sektarian dan memiliki ratusan ribu hingga jutaan followers. Orang-orang seperti ini sudah menjadi kekuatan politik dan sosial yang diperhitungkan.

Kapitalisme digital juga menafsirkan ulang apa yang diartikan sebagai kebenaran, kenyataan, dan objektifitas. Kebenaran dan kenyataan sekarang tidak lagi tunggal. Ia menjadi sangat tergantung pada keyakinan dan kepercayaan penafsirnya. Jumlah peserta aksi 212 adalah sekitar 500 ribu orang. Untuk mereka yang menganggap aksi 212 adalah bagian dari keyakinannya, mereka tidak keberatan untuk menerima “fakta” bahwa perserta aksi berjumlah 7 juta orang. Demikian juga dengan jumlah massa yang menghadiri pelantikan Donald J. Trump sebagai presiden. Satu pihak mengatakan hanya sekitar 300 ribu, namun Trump dan para pengikutnya mengklaim sekitar satu juta orang. Angka yang mana yang benar, tergantung dari keyakinan kita. Seperti yang dikatakan Kellyane Conwat, penasihat khusus Donald Trump, bahwa kita memiliki fakta-fakta alternatif atas kenyataan.

Apa Yang Bisa Dilakukan?

Hoax membantu memperkuat sektarianisme ini. Seperti sudah disebutkan di atas, internet dan media sosial membantu penyebaran hoax dengan kecepatan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Kegatalan pengguna media sosial untuk berbagi, terutama untuk hal-hal yang berada dalam wilayah keyakinan mereka, membuat hoax sangat cepat berkembang biak. Bahkan dalam hitungan detik, hoax bisa tersebar dengan sangat luas.

Banyak pihak sudah memberikan resep untuk mengatasi hoax. Akan tetapi hampir tidak ada yang menyentuh persoalan yang mendasar, yakni bahwa hoax subur dan berbiak karena sektarianisme yang disebarkan oleh internet dan media sosial. Mereka tidak pernah membicarakan  kapitalisme digital yang berkuasa di dunia kita sekarang ini adalah tokoh utama dalam membuat orang menjadi sektarian, eksklusif, dan ekstrem. Kita juga mengalami hilangnya nalar kritis. Kita tidak diizinkan bertanya, mencari alternatif, dan keluar dari zona nyaman kita.

Saya menganjurkan sesuatu jauh lebih mendasar untuk melawan hoax. Secara realistis, kita tidak bisa mengerem kapitalisme digital. Hidup kita terjerat di dalamnya. Nyaris mustahil bagi kita untuk membayangkan hidup tanpa kapitalisme digital. Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Saya kira, kewajiban kita untuk senantiasa memelihara nalar kritis. Kita membutuhkan jurnalisme untuk melawan hoax, misalnya. Kita membutuhkan sastra, filsafat, sosiologi, antropologi, ilmu politik, atau pendeknya ilmu-ilmu sosial untuk mempertanyakan hal-hal yang kita yakini. Kita membutuhkan imajinasi! Karena imajinasi itulah yang dimatikan oleh algoritma mesin-mesin internet dan media sosial. Karenanya kita membutuhkan lebih banyak karya sastra yang bagus, puisi, novel, komik, dan lain sebagainya. Kita juga perlu lebih banyak karya seni. Hanya dengan cara demikian kita memelihara nalar kritis kita.

Kalau saya harus memberikan satu resep, maka saya kira tidak ada resep yang lebih manjur daripada mengurangi waktu Anda di media sosial dan internet. Perbanyaklah bergaul, tatap muka dengan teman, pergi ke pesta, pergi tamasya bersama kawan dan sanak saudara. Belilah buku, koran, atau majalah. Berkunjunglah ke museum, ke candi-candi atau berbagai peninggalan bersejarah. Pergilah ke pasar untuk melihat-lihat atau berbelanja, dan cobalah memasak makanan sendiri. Cobalah menanam sesuatu atau secara serius berkebun.

Hidup jauh lebih indah diluar gadget, handphone, atau komputer. Tapi, kadang kita lebih suka terjebak pada jaring-jaring yang kita tenun sendiri. Kalau sudah demikian, tidak ada yang bisa kita perbuat. []

Bacaan Terkait
Made Supriatma

Wartawan freelance sekaligus peneliti masalah sosial dan politik.

Populer
5 Kasus Kekerasan Anak Karena Tayangan Televisi
Kuasa Rating dan Tayangan Tak Bermutu
Apakah Agama Penting Bagi Jurnalis?
Stereotipe Perempuan dalam Media
Zen RS: Kami Ingin Membangun Kultur Riset di Media