Ilustrasi: Gery Paulandhika
Ilustrasi: Gery Paulandhika
11/03/2017
Hoax, Kapitalisme Digital, dan Hilangnya Nalar Kritis (Bagian I)
Menjamurnya hoax punya hubungan erat dengan pesatnya teknologi komunikasi. Bagaimanakah ini bisa terjadi?
11/03/2017
Hoax, Kapitalisme Digital, dan Hilangnya Nalar Kritis (Bagian I)
Menjamurnya hoax punya hubungan erat dengan pesatnya teknologi komunikasi. Bagaimanakah ini bisa terjadi?

Beberapa waktu yang lalu dunia politik Indonesia diramaikan oleh tweet dari mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dengan nada memelas seakan mengetuk pintu surga, Yudhoyono menulis, “Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini. Juru fitnah & penyebar "hoax" berkuasa & merajalela. Kapan rakyat & yg lemah menang?”. Pesan di Twitter tersebut dengan segera menjadi viral. Bukan karena isinya yang berupa hoax, melainkan karena keluhan sang mantan presiden yang dirasakan memiliki pamrih tertentu.

Tweet tersebut muncul berbarengan dengan kemunculan berita mengenai berbagai kasus korupsi yang diduga mengarah ke keluarganya. Di samping itu, Agus Harimurti Yudhoyono, putra Yudhoyono yang berlaga dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta tampaknya menghadapi jalan berbatu. Sementara pasangan Agus dalam pilkada, Sylviana Murni, sedang dibidik oleh pihak kepolisian atas kasus korupsi ketika dia menjabat walikota Jakarta Pusat.

Agaknya yang dikeluhkan oleh Yudhoyono di atas lebih berupa kampanye hitam (black campaign) ketimbang hoax. Kampanye hitam bisa jadi adalah sebuah hoax atau berita yang menyesatkan. Akan tetapi hoax tidak semata-mata kampanye hitam. Ia jauh lebih luas dari itu. Kampanye hitam bertujuan untuk menjatuhkan lawan politik atau lawan bisnis. Ini bisa dilakukan dengan menyebarkan hoax, melakukan pembunuhan karakter, yang pendeknya bertujuan merusak citra.

Pengguna Bahasa Inggris mengenal hoax sebagai sebuah “tipuan yang bisa jadi lucu namun juga bisa jadi berbahaya”. Hoax biasa muncul pada April fool day yang biasa diperingati pada 1 April. Pada hari itu orang disahkan untuk ngisengin kawan atau publik dengan berita palsu. Selain berita-berita yang menyesatkan, hoax bisa juga muncul dalam satir. Di Amerika Serikat, media online The Onion banyak menyajikan “berita-berita” satir yang kadangkala menjebak orang untuk mempercayainya. Yang lebih serius dan berbahaya adalah ketika berita menyesatkan tersebut dipakai sebagai alat politik atau untuk menyerang lawan bisnis.

Salah satu contoh lelucon April fool day yang membuat gempar pernah terjadi pada tahun 1992. Saat itu stasiun radio paling terkemuka di Amerika, National Public Radio, menyiarkan suara seseorang yang mirip mantan Presiden Nixon. Dalam siaran tersebut, “Presiden Nixon” mengumumkan akan mencalonkan diri lagi dalam pemilihan presiden bulan November. Pengumuman ini tentu saja memancing kemarahan banyak pihak. Presiden Nixon mengundurkan diri secara tercela pada tahun 1974 karena terlibat dalam skandal Watergate. Kemudian, NPR mengumumkan bahwa pengumuman itu hanyalah bagian dari tipuan April fool day.

Ada banyak hoax lelucon yang karena dikemas sedemikian bagus mampu membuat orang nyaris percaya bahwa itu sungguh terjadi. Seperti misalnya pada tahun 1957, stasiun TV BBC di Inggris menyiarkan video pendek tentang panen spaghetti (semacam mie di Itali) yang tumbuh di pohon. Banyak orang tidak sadar bahwa spaghetti terbuat dari tepung gandum (terigu) dan tidak dipanen begitu saja dari pohon. Ketidaktahuan itu membuat banyak orang percaya. Hoax memang bergerak di wilayah ketidaktahuan, dan sasarannya memang adalah orang-orang awam.

Pada tahun 1962 ketika TV masih hitam putih, stasiun TV Swedia menayangkan seorang ahli yang menerangkan teknik untuk membuat gambar TV menjadi berwarna. Caranya, jelas ahli ini, TV harus dibungkus dengan kaus kaki tipis wanita (stocking) dan kaus kaki ini yang akan memunculkan warna pada TV. Tayangan ini sukses membuat banyak orang di Swedia saat itu mencari stocking untuk membungkus TV.

Lelucon-lelucon hoax seperti ini tentu sering kita alami dalam hidup sehari-hari, adakalanya lelucon ini bisa menjadi sangat menakutkan. Tahun 2016 lalu, anak-anak sekolah di Amerika dihantui oleh adanya badut yang berkeliaran mengetuk pintu-pintu rumah. Demikian kuatnya isu mengenai adanya badut ini hingga sekolah-sekolah perlu memberikan peringatan khusus kepada orang tua murid.

Hoax dan Politik

Dari segala macam hoax yang berkeliaran di luar sana, tidak ada yang lebih memusingkan daripada hoax yang masuk ke dalam dunia politik. Di sini hoax kehilangan kelucuannya karena berbaur dengan pembentukan persepsi. Hoax menjadi kampanye hitam yang berusaha menjatuhkan reputasi lawan politik dan mempengaruhi persepsi publik.

Hoax tidak hanya hidup dalam demokrasi. Ia juga hidup subur dalam sistem politik otoriter. Berbeda dalam sistem demokrasi, dalam otoritarianisme salah satu partai pelaku hoax justru pemerintah. Para tiran sangat rajin menyebarkan berita-berita bohong untuk dipercayai oleh rakyatnya. Dalam waktu yang bersamaan, pemerintah otoriter berusaha menyekat informasi berbeda untuk sampai kepada rakyatnya. Di Korea Utara yang sangat tertutup itu, rakyatnya dicekoki bahwa negaranya adalah yang paling kuat dan paling sempurna di dunia dibawah pimpinan keluarga Kim.

Negara-negara otoriter biasanya melakukan investasi besar-besaran untuk menyaring informasi sekaligus memproduksi informasi yang hanya menguntungkan penguasa. Kontrol seperti itu sangat penting. Akan tetapi, kontrol tersebut tidak bekerja dalam ruang kosong, sebab rakyat sipil dan para aktivis di negara-negara otoriter tidak diam begitu saja. Selain berusaha mendapatkan informasi yang benar, mereka juga memproduksi informasi untuk mengimbangi kontrol penguasa.

Bahkan tidak jarang para aktivis menyebarkan hoax yang akibatnya bisa menggoyangkan pemerintah yang otoriter. Seperti misalnya, berita palsu tentang kesehatan seorang diktator yang mempengaruhi orang-orang di sekitar kekuasaan untuk bermanuver. Perpecahan di dalam rezim-rezim otoriter biasanya dimulai oleh berita-berita palsu. Akan tetapi para penyebar hoax di negara-negara ini harus berhati-hati sebab taruhannya sangat besar. Tidak jarang hukuman penjara yang lama atau bahkan kematian menjadi risikonya.

Tentu, hoax hidup lebih subur dalam iklim demokrasi yang memfasilitasi kebebasan menyatakan pendapat. Hoax hidup dalam bentuk teori-teori konspirasi, kampanye hitam, informasi palsu, atau cerita-cerita bohong yang kadang dibikin sedemikian bagusnya sehingga sulit untuk dikonfirmasi. Kadang hoax masuk ke dalam perdebatan yang sangat akademis dan memerlukan keahlian sangat tinggi untuk membuktikan kebenarannya.

Hoax yang paling banyak beredar adalah teori konspirasi. Pada kampanye pemilihan presiden 2014, kandidat Jokowi paling banyak terkena hoax yang konspiratif ini. Hal ini tidak terlalu mengherankan mengingat Jokowi adalah sosok yang belum terlalu dikenal publik Indonesia. Nama Jokowi yang belum terlalu banyak dikenal ini berbanding terbalik dengan lawannya, Prabowo Subianto, yang telah malang melintang dalam politik nasional dan statusnya sebagai anak ekonom besar dan menantu mantan presiden yang berkuasa paling lama.

Sekali lagi, teori konspirasi bermain di wilayah gelap dengan memanfaatkan ketidaktahuan orang. Lawan politik Jokowi ketika itu berusaha mengisi ketidaktahuan ini dengan informasi yang mereka ciptakan sendiri. Mereka berusaha mendefisinikan siapa Jokowi, beberapa di antaranya adalah dia dituduh sebagai keturunan Cina atau Tionghoa. Sebuah iklan dukacita palsu diedarkan untuk membuktikan bahwa dia adalah keturunan Cina. Dia juga dituduh sebagai Kristen dengan nama “Hubertus”, lengkap dengan fabrikasi bukti-bukti. Yang lebih parah lagi adalah tuduhan bahwa dia anak dari anggota Partai Komunis Indonesia. Di dalam masyarakat Indonesia yang masih sangat kental mewarisi nilai-nilai Orde Baru, dituduh sebagai keluarga PKI artinya adalah kartu mati dalam politik.

Dalam politik, hoax dipakai untuk melakukan perang persepsi. Artinya, satu pihak berusaha memaknai suatu kenyataan sesuai dengan persepsinya. Dia akan memaknai satu peristiwa sesuai dengan kepentingan politiknya. Operator politik yang baik selalu menyediakan apa yang dinamakan sebagai spin doctors alias tukang pelintir terhadap satu kejadian. Tukang pelintir juga berfungsi memberikan karakter keapda kandidat atau lawannya. Semua hal ini dilakukan agar persepsi itu melekat kuat-kuat ketika pemilihan.

Pada kampanye Pilpres 2014 kita menjumpai banyak hal seperti disebutkan di atas. Kita tidak saja menjumpai banyak pelintiran terhadap kandidat Jokowi tetapi juga terhadap kandidat Prabowo Subianto. Salah satu kekuatan Prabowo adalah prestasinya dalam berbagai palagan atau medan pertempuran. Tukang pelintir menyebarkan insinuasi bahwa bukan dia yang sesungguhnya bertempur. Para pemelintirnya berusaha menarik alur pikiran bahwa mustahil (saat itu) seorang menantu presiden akan dibiarkan mengambil resiko bertempur sendiri. Dengan kata lain, Prabowo mendapatkan nama atas keberanian atau kerja tempur orang lain.

Pelintiran ini bahkan menjadi sulit dibuktikan ketika disebarkan desas-desus bahwa Prabowo pernah tertembak oleh musuh di Timor Leste dan biji kemaluannya hilang. Dalam kasus ini, pelintiran tersebut sudah menjadi hoax alias berita menyesatkan karena sulit untuk dibuktikan. Akan tetapi bisa dimengerti bahwa yang disasar adalah kekuatan kampanye Prabowo pada saat itu yang mengemas kandidatnya sebagai seorang macho yang jagoan tempur. Citra ini diperkuat dengan kuda tunggangan besar-besar yang dengan mahir ditunggangi oleh Prabowo. Kenyataannya, memang Prabowo beberapa kali naik kuda ketika mengadakan rapat umum.

Ada juga cara lain untuk mendekonstruksi citra macho dan kekuatan Prabowo. Segera setelah publik disuguhi citra kokoh dan kuat Prabowo menunggang kuda, muncul gambar di internet yang mengganti kuda dengan burung puyuh. Gambar Prabowo menunggang burung puyuh menjadi viral dan menjadi alternatif dari citra Prabowo dan kudanya.

Akan tetapi, apakah hoax dan kampanye hitam ini alat yang efektif untuk menjaring suara dalam pemilihan umum yang bebas? Tidak ada pendapat yang pasti tentang hal ini. Beberapa ahli mengatakan bahwa hal ini memang efektif untuk menjaring pemilih, meskipun ada juga yang mengatakan tidak. Akan tetapi yang pasti, kampanye hitam dan hoax, asal dilakukan dengan masuk akal, biasanya akan efektif untuk mempengaruhi suara pemilih. Sesungguhnya, pengaruh terbesar hoax dan kampanye hitam adalah pada pada pemilih loyal. Hoax bertujuan untuk memperkuat persepsi yang sudah ada pada pemilih loyal.

Sementara, pemilih mengambang hanya bisa dipengaruhi oleh hoax dan kampanye hitam yang disajikan secara halus, seolah-olah ia masuk akal. Pemilihan presiden Amerika 2016 membuktikan hal itu. Para pemilih mengambang menolak untuk memilih Partai Demokrat ketika diperlihatkan kata “Obamacare yaitu undang-undang layanan kesehatan yang diciptakan oleh pemerintahan Obama dan ditentang habis-habisan oleh Partai Republik. Namun para pemilih ini akan senang ketika diberikan istilah Affordable Care Act”. Banyak juru kampanye Partai Republik mengatakan kalau berkuasa mereka akan menghapus Obamacare dan memperjuangkan Affordable Care Act. Sialnya, banyak orang tidak tahu bahwa Affordable Care Act yang mereka perjuangkan tersebut diberi nama Obamacare oleh Partai Republik sendiri. Selama 6 tahun sejak undang-undang ini disahkan, Partai Republik menentang Obamacare. Dengan demikian, bayangan buruk serta persepsi sesat terhadap Obamacare terus terbangun sementara mereka sendiri bahkan tidak tahu nama sebenarnya dari undang-undang tersebut.

Kapitalisme Digital dan Media Sosial

Peranan hoax menjadi semakin menentukan di era media sosial ini. Saya sendiri cenderung untuk berpendapat bahwa persoalan hoax itu sesungguhnya tidak terletak pada media sosial. Benar bahwa media sosial membuat penyebaran hoax menjadi sangat cepat. Sekali sebuah berita menjadi viral, ia akan sangat sulit untuk dihentikan. Jika terjadi informasi yang salah, akan sangat sulit untuk mengoreksinya.Akan tetapi, media sosial tetaplah sebuah media. Ia hanyalah medium alias pengantar agar informasi sampai kepada pemakainya. Tentu, hoax adalah persoalan pesan yang ingin disampaikan. Banyak sekali pesan-pesan palsu yang sengaja dibuat untuk menyesatkan. Sayangnya, kita tahu bahwa sebagian besar penerima informasi itu malas untuk melakukan pengecekan—yang semakin menyuburkan hoax.

Ada hal yang jauh lebih penting yakni bagaimana informasi itu disampaikan. Inilah perbedaan dunia yang kita hadapi saat ini dengan dunia, katakanlah, dua puluh tahun yang lampau. Dalam contoh ini saya memilih dua puluh tahun yang lampau karena usia media sosial ini barulah sependek itu. Hanya dalam dua dekade, cara kita menerima informasi dan berkomunikasi sudah berubah secara radikal. Baik disadari atau tidak dan suka atau tidak.

Ada perbedaan besar ketika kita masih mendapatkan informasi secara “tradisional” melalui koran, radio, televisi, atau surel, dengan menerima informasi lewat internet seperti yang kita alami sekarang ini. Lewat media tradisional, kita tidak punya pilihan kecuali menerima seluruh isinya. Jika kita membeli koran, misalnya, kita membeli semua isinya: di dalamnya ada berita nasional, rubrik internasional, rubrik olahraga, ulasan pakar yang barangkali kita benci, ceramah agama yang mungkin kita tidak suka, konsultasi seks yang kita baca dengan cermat, atau cerita lucu dan kartun yang pasti tidak kita lewatka. Singkatnya, kita membeli sepaket berita, suka atau tidak suka.

Internet –dan kemudian media sosial  memberikan pilihan, yang tidak ditawarkan oleh media-media tradisional. Kita boleh memilih apa yang kita sukai dan sama sekali tidak perlu melihat hal-hal yang tidak kita sukai. Kita boleh berjam-jam berselancar hanya untuk mencari cerita lucu saja. Kitalah yang memiliki kemerdekaan dan kebebasan untuk menentukan yang kita sukai.

Benarkah demikian? Pengamatan secara cermat memperlihatkan bahwa sesungguhnya kemerdekaan dalam memilih dalam dunia interdet dan media social sangatlah sempit. Industri komunikasi atau kapitalisme dikuasai oleh segelintir pemain yang punya kekuasaan sangat besar terhadap diri kita, dan semuanya terjadi tanpa kita sadari.

Dalam kapitalisme digital, secara perlahan dan tanpa disadari, pilihan dan kemerdekaan kita diambil alih oleh mesin. Kita sering takjub dengan Google yang seakan mampu membaca pikiran kita. Secara ajaib, ketika kita baru mengetik tiga huruf, Google sudah menampilkan hasil apa yang kita cari. Mesin ini benar-benar seperti mesin ajaib yang “weruh sakdurunge winarah.”

Keajaiban Google ini kemudian diikuti oleh media sosial seperti Facebook, Twitter, dan sejenisnya. Secara ajaib pula, pada newsfeed Facebook kita tiba-tiba muncul informasi-informasi yang menjadi keprihatinan kita, yang kita sukai, dan yang umumnya kita cari.

Ini semua terjadi berkat big data yang merupakan kumpulan dari metadata yang dikumpulkan oleh mesin. Tanpa kira sadari, setiap kali kita mencari sesuatu di internet, ada mesin yang mencatat jejaknya dan dari jejak-jejak itu mesin tersebut akan menemukan polanya. Tidak heran, mesin itu mengetahui apa yang kita sukai, mampu menerka apa yang kita maksud, atau apa yang kita butuhkan (atau setidaknya tidak kita butuhkan namun menarik perhatian).

Dengan demikian, tanpa kita sadari sesungguhnya kita tidak lagi punya pilihan. Kita tidak lagi memiliki kemerdekaan untuk memilih informasi, meskipun seolah-olah dibantu oleh efisiensi dalam mencari sesuatu di internet.

Di media sosial, kita menghadapi “keajaiban” lain. Di Facebook atau Twitter, misalnya, tiba-tiba muncul wajah orang-orang yang selama puluhan tahun tidak pernah kita temui. Secara sosial, Facebook membuat orang mengadakan reuni. Sepanjang yang saya lihat, reuni ini tidak saja reuni sesama almamater, namun juga reuni SMA, bahkan reuni Taman Kanak-kanak!

Data-data yang dikumpulkan oleh Facebook mempertemukan kita dengan kawan-kawan lama, dengan bekas-bekas pacar, atau mantan kawan sekerja. Akan tetapi, seperti juga Google, Mozzila, Yahoo, Bing, dan sejenisnya, media sosial tidak berhenti hingga di situ. Dia juga mengumpulkan jejak digital kita, menghimpunnya ke dalam sebuah data dan mengumpulkannya dalam big data sehingga kita berhasil “dipetakan”. Setiap tombol like yang kita klik di Facebook, atau follow di Twitter adalah jejak digital kita. Mesin akan memasukkan data ini dan menciptakan pola interaksi kita. []


Baca Bagian Kedua


Bacaan Terkait
Made Supriatma

Wartawan freelance sekaligus peneliti masalah sosial dan politik.

Populer
Retorika dalam Kemasan Super
Generasi Jurnalis yang Hilang
Kasus Dandhy dan Makna Ujaran Kebencian yang Cemar
Jurnalis adalah Kelas Menengah?
Televisi, Iklan, dan Perihal "Menjadi Indonesia"