Ilustrasi: Garyanes Yulius
Ilustrasi: Garyanes Yulius
30/01/2017
Televisi Dan Bangkitnya Diskursus Psikologis
Tayangan motivasi diri yang sering muncul di media menandakan maraknya diskursus psikologis sebagai kerangka berpikir dan solusi mudah dari berbagai macam permasalahan non-psikologis, termasuk masalah finansial.
30/01/2017
Televisi Dan Bangkitnya Diskursus Psikologis
Tayangan motivasi diri yang sering muncul di media menandakan maraknya diskursus psikologis sebagai kerangka berpikir dan solusi mudah dari berbagai macam permasalahan non-psikologis, termasuk masalah finansial.

Apabila masyarakat tradisional mengenal sosok dukun sebagai seorang tokoh pemecah masalah -didatangi untuk menemukan solusi atas permasalahan yang terjadi di lingkup kehidupan sosial dan pribadi- maka masyarakat modern memiliki dukun dalam inkarnasi yang berbeda. Alih-alih menyarankan untuk mandi kembang atau makan bunga melati agar karir dan hubungan pribadi berjalan lancar, dukun modern akan menyarankan untuk “berpikir positif” atau mengulang-ulang slogan semacam “kita bisa”. Dukun-dukun ini menyebut diri mereka expert atau coach. Sama seperti dukun tradisional, para pakar ini menganggap diri mereka memegang suatu “kebenaran” tidak terlihat atau tidak disadari oleh manusia biasa dan hanya bisa didapat melalui mediasi para pakar tersebut.

Acara televisi berjudul “I’m Possible” merupakan ilustrasi sempurna kebangkitan pengembangan pribadi dengan bantuan para “pakar”. Acara yang ditayangkan pada setiap hari Minggu pkl. 20.30 di Metro TV ini mengusung Merry Riana, yang dikenal masyarakat dengan kisahnya yang dituangkan dalam buku Mimpi Sejuta Dolar, sebagai pembawa acara sekaligus coach. Dalam setiap minggunya, program ini selalu menghadirkan dua orang pakar, baik dalam bidang karier maupun dalam bidang psikologi, yang akan memberikan saran-saran dan nasihat kepada penonton mengenai satu tema khusus yang diusung pada episode tersebut.

Dalam bidang karier dan bisnis, program ini hampir selalu menghadirkan James Gwee yang diberi titel sebagai coach manajemen bisnis dan penjualan dan Dedy Sutanto yang disebut sebagai coach pemulihan jiwa. Selain kedua tokoh tersebut, sering juga dihadirkan para perencana keuangan, para pembicara motivasi, maupun tokoh-tokoh lain yang juga disebut sebagai coach.

Ide besar seminar motivasi semacam ini, termasuk “I’m Possible”, pada umumnya adalah untuk membantu siapa saja untuk meraih kesuksesan di bidang karier dan finansial serta dalam kehidupan pribadi dan interrelasi dengan orang lain. Terlepas dari motivasi awalnya, acara “I’m Possible” bukanlah kasus pengecualian. Acara ini lebih merupakan salah satu contoh kecil dari fenomena sosial yang lebih besar yang sedang terjadi tidak hanya di Indonesia, tetapi juga secara global. Fenomena tersebut adalah kemunculan diskursus self-help, yaity ketika seorang pakar membantu orang lain untuk membantu dirinya sendiri dalam banyak aspek kehidupan.

Dalam mengkritisi diskursus umum yang bersirkulasi di masyarakat, adalah penting mempertanyakan bukan saja apa yang dikatakan tetapi juga apa yang tidak dikatakan. Lebih penting lagi, mengkritisi asumsi dari suatu diskursus yang diciptakan, diulang, dan diabadikan melalui media yang kemudian menjadi “kebenaran” yang tidak bisa dipertanyakan. Jadi, diskursus apa yang diproduksi melalui acara televisi “I’m Possible” dan program motivasi sejenisnya yang mengedepankan teknik-teknik psikologis? Lebih lagi, apa efek sekunder dari diskursus ini?

Dalam beberapa episode “I’m Possible” yang topiknya adalah masalah dalam keuangan, para coach maupun perencana keuangan sering menekankan psikologi individu sebagai solusi. Sebagai contoh, dalam episode yang bertujuan untuk membantu mengatasi permasalahan hutang yang menumpuk (berjudul “Utang Lagi, Pusing Lagi” pada 21 Agustus 2016), penonton disarankan agar melakukan terapi sugesti diri. Terapi ini dilakukan dengan cara mengatakan pada diri sendiri bahwa bahagia itu sederhana dan bahwa kehidupan itu sendiri sudah cukup menjadi alasan untuk bahagia.

Hal ini dilakukan untuk mendisiplinkan diri agar tidak banyak berhutang. Pergeseran kepentingan pada aspek psikologis kembali dilakukan dengan menyarankan untuk melakukan manajemen rasa, yaitu mengendalikan rasa ingin kelihatan kaya untuk mencegah berhutang yang berlebihan. Manajemen perasaan di sini dinilai sebagai titik awal yang penting, yang tanpanya tidak akan melahirkan manajemen keuangan yang lebih baik.

Dalam episode lain yang berjudul “Habis THR, Habis” (26 Juni 2016), lagi-lagi para penonton diundang untuk memprogram ulang pikiran mereka dengan kata-kata positif agar lebih bijaksana dalam mengelola keuangan dan mengalokasikan dana. Mereka diundang untuk menghapus pemikiran bahwa belanja itu membahagiakan, sehingga THR tidak habis untuk hal-hal yang tidak semestinya. Lagi-lagi, dikatakan bahwa masing-masing dari kita memiliki kepribadian yang berbeda terhadap keuangan. Sementara itu, dalam episode “Karyawan Juga Bisa Kaya” (18 Desember 2016), dinyatakan bahwa perbedaan antara karyawan kaya dan miskin terletak pada mentalitas mereka.

Benang merah dari saran-saran keuangan dalam tiap episode “I’m Possible” ini adalah bahwa akar dari semua permasalahan finansial semata-mata adalah pemikiran, sikap, dan kepribadian individu. Kini, masalah finansial didefinisikan ulang dari kacamata psikologis. Untuk itulah penekanan dari saran-saran yang diberikan di awal adalah agar penonton mengganti pola pikir mereka sendiri. Program ini berasumsi bahwa individu adalah pemegang kendali utama atas kesejahteraan dan kebahagiaan masing-masing.

Fungsi para ahli di sini adalah mengundang para penonton untuk menata ulang hidup mereka sendiri demi mencapai tujuan finansial yang mereka inginkan sehingga mereka terbebaskan dari jerat masalah ekonomi. Jadi, fokus dan solusi dari seluruh program ini adalah diri (penonton) sendiri. Penonton diperintahkan untuk memerintahkan diri mereka sendiri, dengan iming-iming kebebasan finansial, agar pada akhirnya bersikap sesuai dengan apa yang dianjurkan.

Melalui pemikiran yang berpusat pada individu ini, penonton diyakinkan bahwa apabila mereka mengambil keputusan yang tepat, menggunakan teknik yang sesuai, dan memiliki mentalitas yang pas, maka sudah pasti kesuksesan ada di tangan. Kegagalan maupun keberhasilan hidup mereka adalah tanggung jawab diri mereka sendiri sebab individu dianggap memiliki kebebasan penuh dalam memilih hidup seperti apa yang mereka inginkan.

Hal ini semakin diperkuat dengan maraknya kisah sukses orang-orang yang berhasil secara finansial, meskipun sebelumnya harus berjuang dari keterpurukan. Keterpurukan inilah yang sering diulang-ulang oleh media. Merry Riana sendiri menjadi dikenal orang banyak karena “kisah suksesnya” meraih satu juta dolar di usia sangat muda. Orang-orang sepertinya dianggap memiliki sikap yang tepat yang kemudian harus disalin bila ingin mencapai hal yang sama.

Pemikiran seperti ini cenderung reduksionis karena hanya menekankan biografi individu demi individu tanpa mengedepankan tatanan sosio-ekonomi yang memegang peranan besar atas tata kelola masyarakat. Ketika hampir setengah dari populasi Indonesia berada dalam kemiskinan sementara sebagian kecilnya memiliki kekayaan yang luar biasa[1] maka kemiskinan bukan lagi berada di ranah individual tetapi struktural dan sistematis. Perubahan yang seharusnya dilakukan pun bukanlah perubahan personal, melainkan sosial untuk memperkecil jurang kesenjangan ekonomi.

Masalah hutang, misalnya, dilihat secara monolitis hanya sebagai permasalahan keinginan yang berlebihan. Padahal, seringkali berhutang dilakukan untuk bertahan hidup. Ketika seseorang tidak memiliki gaji yang cukup untuk membiayai hidupnya sedangkan di masyarakat di mana uang merupakan faktor penting untuk hidup (alih-alih misalnya di masyarakat yang masih menerapkan barter) maka hutang seringkali tidak terelakkan. Diskursus semacam ini mengedepankan konsepsi manusia yang memiliki kualitas seperti pahlawan super yang mampu mendobrak keterbatasan struktural. Sayangnya, ia  mendasarkan diri pada segelintir pengecualian tanpa mau mengerti apa norma atau aturan dominan yang berpengaruh pada sebagian besar masyarakat.

Hasilnya adalah terciptanya tuduhan moral terhadap masyarakat miskin karena selalu ditekankan bahwa masalah yang dihadapi adalah “masalah saya maka saya yang harus menyelesaikan”. Anggapan yang sepertinya berdasarkan “akal sehat” ini menganggap seseorang menjadi miskin karena kesalahan personalnya sendiri, karena mereka malas atau karena mereka tidak melakukan investasi dengan tepat. Investasi di sini dapat berada dalam artian investasi ekonomi dan investasi dalam diri pribadi.

Dengan ini, kita melupakan bahwa sering kali masyarakat yang kita sebut “malas” bekerja jauh lebih keras daripada kebanyakan orang. Seorang tukang becak yang mengayuh becaknya dari pagi hingga malam tentu menghabiskan banyak waktu dan tenaga kerja. Akan tetapi kita tahu bahwa tidak ada orang yang menjadi kaya karena mengayuh becak. Dalam hal ini, kerja keras tidak menghasilkan kesuksesan finansial karena ada faktor struktural yang lebih besar. Di sisi lain, mereka yang menjadi kaya merasa yakin kalau kekayaan mereka adalah murni hasil kerja keras mereka sendiri tanpa sadar akan faktor-faktor seperti pendidikan, koneksi, kelas sosial, dan keberuntungan, yang membuat mereka berada jauh lebih unggul bahkan sejak lahir.

Hal ini disajikan seolah realita yang tidak terelakkan dan yang harus dihadapi, sehingga individu-lah yang harus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Tanpa disadari, pemikiran seperti ini merasuki masing-masing dari kita dan kita pun mengamini tanpa mengkritisi asumsi dasar dari doktrin ini. Kebohongan yang diulang seribu kali pun lantas diterima menjadi kebenaran. Akan tetapi, ia melupakan hal fundamental dalam perubahan sejarah, yaitu bahwa perubahan sosial adalah akumulasi dari aksi-aksi kecil manusia yang berkontribusi mengarahkan ke mana sejarah berjalan.

Walaupun terkesan memiliki tujuan mulia, yaitu agar semua orang bisa sukses, model pemikiran yang digunakan hanya akan menjadikan kesenjangan sosial dan ekonomi sebagai hal yang natural dan pantas terjadi. Dengan demikian, mereka membiarkan orang miskin karena dianggap sebagai pecundang, dan sebaliknya orang kaya adalah pemenang. Adalah naif jikalau kita terus-menerus menekankan pada tanggung jawab individual tanpa memiliki aspirasi untuk mengubah sistem sosial tempat kita hidup. []


Daftar Pustaka

Rose, Nikolas. (1999). Governing the Soul: the Shaping of the Private Self. London: Free Association Books.

Rose, Nikolas. (1998). Inventing ourselves: Psychology, Power, and Personhood. Cambridge: Cambridge University Press.

Bacaan Terkait
Ivonne Kristiani

Menyelesaikan studi sosiologi dan filsafat politik di Université Paris Diderot. Ia mendalami teori kritis dan memiliki ketertarikan di bidang sastra, budaya, dan filsafat Perancis.  

Populer
5 Kasus Kekerasan Anak Karena Tayangan Televisi
Kuasa Rating dan Tayangan Tak Bermutu
Apakah Agama Penting Bagi Jurnalis?
Stereotipe Perempuan dalam Media
Zen RS: Kami Ingin Membangun Kultur Riset di Media