Ilustrasi: Garyanes Yulius
Ilustrasi: Garyanes Yulius
23/01/2017
Efek Plasebo Jiwa-Jiwa Cantik (Bagian I)
Kita sering mendengar ratapan tentang hilangnya kebenaran ditelan hoax. Namun, apakah otak kita benar-benar didesain untuk menerima kebenaran?
23/01/2017
Efek Plasebo Jiwa-Jiwa Cantik (Bagian I)
Kita sering mendengar ratapan tentang hilangnya kebenaran ditelan hoax. Namun, apakah otak kita benar-benar didesain untuk menerima kebenaran?

Baca bagian kedua

Saya cukup yakin kita semua sudah banyak membaca tulisan, opini, reportase, dokumentasi, penelitian, dan banyak macam petuah dan himbauan terkait hoax. Begitu pula saya. Dari sekian banyak yang mampu dan sempat saya baca mengenai diskusi dan seliweran opini mengenai hoax, ada satu hal yang membuat saya sangat terganggu: yaitu bahwa banyak orang yang terganggu dengan hoax. Tulisan ini mencoba memaparkan alasan di balik ketergangguan saya tersebut.  Untuk ini, perbincangan saya bagi ke dalam tiga bagian besar: pertama-tama saya akan memetakan kecenderungan opini dan perspektif di seputar dan terhadap hoax; kedua, saya mencoba mendiskusikan hoax dari perspektif yang relatif belum banyak dipakai dalam melihat kasus ini: neuropsikologi. Dua pembahasan ini akan saya paparkan dalam tulisan ini. Tulisan kedua saya akan membicarakan poin ketiga, yakni implikasi dari telaah singkat neuropsikologis yang telah saya kemukakan serta sebuah usulan untuk merehabilitasi hoax. Ya, Anda tidak sedang salah membaca: merehabilitasi hoax.

Jiwa-Jiwa Cantik

Filsuf Jerman, Hegel, dalam Phenomenology of Mind, mengutarakan satu istilah yang disebutnya “jiwa cantik” (beautiful soul) (Hegel, 2001). Jiwa cantik adalah suatu sikap seseorang dalam melihat realitas yang kontradiktif, krisis dan penuh dengan hal-hal yang jauh dari ideal. Jiwa-jiwa cantik mengeluhkan, meratapi, mencaci-maki realitas tersebut karena ia tidak sesuai dengan apa yang seharusnya, yaitu apa yang indah. Jiwa-jiwa cantik merasa jijik dengan realitas yang kotor, dan melalui sumpah serapahnya, ia mencuci tangannya dan bergegas menjauh dari realitas tersebut. Ia adalah manifestasi individualisme moral dan puritanisme yang capaiannya tidak lebih dari sekadar penarikan diri dari obyektivitas; ia berkubang pada kelembaman total: tidak mampu melakukan intervensi yang berarti dan terjebak dalam riuh rendah omelan moralis. Walau demikian, jiwa-jiwa cantik percaya bahwa sikapnya adalah selalu atas nama dan dalam rangka “melayani kebenaran”. Dalam puisinya, Karl Marx menyamakan jiwa-jiwa cantik ini dengan biarawan yang melantunkan puisi moral-religius.[1]

Bukankah jiwa-jiwa cantik ini yang berserakan kita jumpai saat kita membaca dan mendengar hampir seluruh diskusi di seputar isu hoax dan turunan-turunannya seperti buzzer, post-truth, dsb.? Tidak habis-habisnya kritik, baik yang intelek maupun yang populer, yang menyesalkan dipermainkannya kebenaran oleh hoax. Lainnya menyalahkan media dan media sosial yang bertanggung jawab dalam melahirkan tren hoax. Sebagian lainnya lagi mendakwa dalang-dalang yang membayar para produsen dan penyebar hoax. Segelintir lainnya memanfaatkan momen ini untuk menunjukkan hal-hal yang “jauh lebih hoax” dari apa yang selama ini kita anggap hoax (misalnya oligarki, manipulasi sejarah, dst.). Upaya-upaya pun banyak dilakukan untuk mengedukasi, menghimbau dan menasihati masyarakat mengenai etika berinformasi. Beberapa bahkan mendirikan organisasi khusus untuk memerangi hoax. Apa fantasi ideal-moralis para jiwa-jiwa cantik ini jika bukan suatu gagasan “melayani kebenaran”? Suatu gagasan ideal bahwa media seharusnya menyajikan kebenaran faktual.

Sama seperti yang didiagnosis oleh Hegel dan Marx, para jiwa-jiwa cantik anti-hoax ini absen dari telaah mengenai dimensi obyektif dan struktural dari hoax itu sendiri—yaitu, apa yang membuat hoax itu hoax, dan mengapa ke-hoax-an demikian muncul saat ini. Seluruh cercaan terhadap hoax selalu dijangkarkan pada pandangan subyektivis dan antroposentris (baca: ego-is), yaitu berpusat pada imperatif etis “melayani kebaikan” yang merupakan kemanusiaan universal itu sendiri. Jarang kita temukan upaya memahami hoax tersebut in their own terms, yaitu dengan menunda dahulu baik-buruk moral dan dampaknya. Memang, sebagaimana disampaikan ahli ekologi Timothy Morton, jiwa cantik sudah menjadi sindrom zaman kita (Morton, 2007: 13). Mayoritas orang, saat dihadapkan pada realitas yang tidak mengenakkan, cenderung segera kesurupan jiwa cantik ini. Jadi, apa yang bisa diketahui secara obyektif mengenai hoax jika kita mau mengotori tangan kita di realitas hoax yang “penuh kebohongan” ini?

Keyakinan Neural

Sebelum lebih jauh, saya perlu memberi catatan penyangkalan (disclaimer). Saya bukan seorang neurosaintis, dan juga tidak melakukan riset neurosaintis. Namun dalam praktik klinis saya sebagai hipnoterapis/psikoterapis dan neurolinguis, saya menggunakan (dan mengonfirmasi secara langsung) temuan-temuan riset di bidang neurosains ini. Satu fenomena pikiran yang hendak saya bahas di sini adalah apa yang disebut “efek plasebo” dan kembarannya “efek nosebo”. Pemahaman mengenai terma kembar ini akan memberikan satu perspektif baru dalam melihat fenomena hoax secara lebih obyektif, dan pada gilirannya memberikan kita opsi yang lebih luas untuk menyikapi hoax ini. Sama seperti kakek-nenek kita yang sering tidak benar-benar memahami gawai yang dipegangnya, maka kita akan selalu disusahkan mereka setiap kali gawai tersebut “rusak”—yang sebenarnya cuma akibat salah pencet dan mereka tidak tahu cara mengembalikannya ke pengaturan awal. Demikianlah pemahaman yang obyektif mengenai natur dari hoax dan informasi pada umumnya, akan membuat kita tidak tergesa-gesa mengatakan realitas sebagai “rusak”—yang sebenarnya cuma akibat ketidaktahuan kita dalam menyikapi realitas tersebut.

Sebenarnya, otak kita sama sekali tidak terdesain untuk apa yang kita sebut-sebut sebagai “kebenaran”. Dalam risetnya, psikolog olahraga, Richard Suinn menerapkan metode yang disebutnya visual motor behavioral rehearsal (VMBR) kepada atlet ski Amerika Serikat yang ia tangani (Suinn, 1967). Metode ini berkisar pada relaksasi dan visualisasi. Para atlet diajarkan beberapa teknik pernafasan untuk relaksasi, dan kemudian, yang terpenting, memvisualisasikan dirinya sedang berada dalam suatu kompetisi. Metode ini bisa meningkatkan semangat atlet sampai seperti seolah-olah ia sedang berada dalam kompetisi tersebut. Tidak hanya itu, para atlet pun bisa berlatih untuk keterampilan dan teknik yang ingin mereka pelajari atau kuasai. Caranya adalah dengan memvisualisasikan dirinya berhasil dalam melakukan teknik tersebut, secara berulang-ulang kali. Suinn menemukan bahwa teknik visualisasi ini sangat ampuh untuk program pelatihan dan pengasahan keterampilan fisik.

Tidak selang lama, psikolog Denis Waitley, seorang motivator Amerika ternama dan saat itu menjabat Ketua Psikologi Dinas Obat-obatan Olahraga di Komite Olimpiade Amerika Serikat (U.S. Olympic Committee's Sports Medicine Council), meneruskan studi Suinn dengan menambahkan penggunaan alat pemindai otak (EEG, electro-encephalograph). Dengan mengkaji banyak macam atlet, Waitley menemukan bahwa hasil pemindaian yang sama ditemukan di otak para atlet saat atlet itu diminta untuk memvisualisasikan dan saat ia melakukannya secara riil. Hasil EEG para atlet saat diminta untuk memvisualisasikan suasana kompetisi dan merasakan perasaannya saat menjalani kompetisi tersebut, adalah sama dengan saat para atlet tersebut benar-benar bertanding di kompetisi sungguhan. Kata Waitley, “saat kita membayangkan, kita mematerialisasikan.” Bahkan, lebih jauh lagi, Waitley sampai pada kesimpulan yang sangat berguna bagi diskusi kita saat ini: yaitu bahwa otak tidak memedulikan apakah sesuatu itu sungguhan atau palsu untuk bisa berfungsi sebagaimana mestinya (yaitu menjalankan organ-organ, menghasilkan pengantar saraf [neurotransmitter] dan akhirnya menyebabkan perilaku dan sensasi) (Waitley, 1984).

Dengan kata lain, otak kita sebenarnya tidak dirancang untuk kebenaran, dan tidak juga untuk hoax. Otak kita mungkin berguna untuk memikirkan kebenaran secara logis, namun bukan untuk mendakwa kebenaran hakiki. Misalnya, secara logika silogisme, “jika kambing adalah makhluk hidup dan kambing makan rumput, maka ini berarti manusia yang adalah makhluk hidup juga makan rumput” adalah benar secara logis, namun sudah tentu ia tidak benar secara riil. Contoh lainnya, dari salah satu kasus klien saya, untuk membuat seseorang depresi, susah tidur dan sesak nafas berat akibat diputuskan cintanya oleh sang pacar, tidaklah harus benar-benar mensyaratkan sang pacar memutuskannya secara sungguhan. Cukup seorang teman “yang isengnya kebangetan” membisikkan kepadanya bahwa sang pacar sebenarnya sudah bosan dan berencana memutuskan hubungan dalam waktu dekat, yang padahal tidak demikian sebenarnya. (Sialnya, bahkan saat sang teman meminta-minta maaf, keluhannya tidak lantas hilang!—yang notabene membuatnya datang dan duduk di kursi terapi saya).

Riset lain, misalnya, menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan hasil pemindaian otak antara orang beragama dengan orang ateis saat keduanya disajikan serangkaian pernyataan. Temuan mereka adalah bahwa saat seseorang meyakini suatu statemen, terjadi suatu aktivitas di salah satu bagian otak (ventromedial prefrontal cortex) yang berkaitan dengan perasaan, rasa mendapatkan apresiasi, dan representasi diri (emotions, rewards, dan self-representation). Simpulan yang ditarik adalah bahwa tidak ada perbedaan neural antara meyakini bahwa “Tuhan itu ada” dan bahwa “Iskandar Agung adalah legenda” (Harris, Kaplan, dkk., 2010). Simpulan ini dengan sendirinya mematahkan secara empirik anggapan bahwa keyakinan religius bersifat berbeda dari keyakinan-keyakinan sehari-hari lainnya (bahwa api itu panas, atau bahwa bumi itu datar/bulat, misalnya). Jika metode serupa digunakan pula untuk memindai otak orang dalam konteks keyakinan terhadap informasi benar dan informasi hoax, bisa dipastikan hasilnya adalah sama.

Contoh-contoh kasus yang dipakai dalam eksperimentasi ilmiah di atas tentunya bisa ditambah lebih banyak lagi, namun sekiranya cukup untuk menunjukkan bahwa yang memainkan peran penting dalam memberi stimulus otak dan proses-proses neural yang mengikutinya adalah sugesti keyakinan dan bukan kebenaran. Keyakinan yang dimaksud juga mencakup keyakinan subyektif bahwa sesuatu itu benar atau hoax, ketimbang kenyataan obyektif bahwa sesuatu itu benar atau hoax. Membawa poin ini lebih jauh, kita bisa melihat satu sifat dari hoax secara khusus dan pengetahuan/informasi [2] secara umum: bahwa keduanya memang bukanlah alat untuk menghantarkan kebenaran. Dari perspektif cara kerja otak ini—dan bukan perspektif subyektivis, moralis dan puritanis ala jiwa-jiwa cantik—kita dapat melihat betapa kebenaran informasi adalah sekadar untuk diyakini dan bukan untuk diverifikasi secara obyektif. Informasi, dengan demikian, tidak lebih dari suatu alat untuk mengaktivasi keyakinan yang pada gilirannya mengaktifkan seluruh fungsi-fungsi otak yang berefek sampai ke mekanisme biologis (dan bahkan sosial dan politis saat sang subyek masuk di lingkungan masyarakat).

Pemahaman kita akan media dan media sosial pun bisa semakin lengkap, yaitu bahwa memang pada dasarnya, secara neurosains, dengan kata lain, media tidak pernah benar-benar “melayani kebenaran” dengan sajian-sajian berita dan informasinya. Persis seperti kutipan anonim yang saya lihat di gambar yang beredar di dunia maya, “kalau Anda percaya bahwa media memang dibuat untuk menyampaikan kebenaran, maka Anda pasti juga percaya bahwa para pelaku pembantaian massal benar-benar percaya pada Tuhannya.” Di sini juga kita sampai pada simpulan Foucault, walau lewat lintasan yang berbeda: kebenaran hadir hanya sebagai suatu fungsi (Foucault, 1977). Kebenaran berfungsi; ia memfungsikan (truth functions); ia adalah efek sekaligus menyebabkan efek-efek lainnya. Ia hanyalah sekadar label yang arbitrer dan bisa ditempelkan siapa saja pada suatu informasi. Sedemikian arbitrernya sehingga semua situs berita atau media mengklaim pemberitaannya sebagai yang paling aktual, paling terpercaya, dst.: paling “melayani kebenaran”. Dunia kedokteran memiliki istilah, yang kemudian menjadi populer, untuk “kebenaran” yang berfungsi dan berefek ini: efek plasebo.

Plasebo/Nosebo

Salah satu kasus terkenal terkait efek plasebo adalah kasus “Bapak Wright.” Wright menderita kanker saluran limpa (lymph nodes) stadium akhir dengan tumor sebesar jeruk di banyak bagian seperti leher, ketiak, dada, perut, selangka, dan juga di ginjalnya, dan diperkirakan hidupnya hanya tinggal menghitung hari. Tahun 1957, di Amerika ditemukan cikal bakal obat kanker baru yang dinamakan Krebiozen. Bapak Wright, yang gemar mengikuti perkembangan sains, mendengar berita tersebut dan memohon dokternya untuk menyuntikkan obat itu. Ajaib! Hanya selang beberapa hari saja, Mr. Wright sudah bisa jalan-jalan dan bergurau dengan suster. Bahkan, ia sampai diizinkan untuk pulang, dan … menerbangkan pesawat pribadinya sampai setinggi 3 km! Bagaimana tidak, sang dokter terkejut bukan kepalang melihat tumor tersebut menyusut drastis, sedemikian rupa sampai nampak bahwa Bapak Wright seolah-olah tidak menderita kanker. Namun demikian, situasi berbalik secara dramatis saat Asosiasi Medis Amerika (American Medical Association) menyatakan secara resmi bahwa ternyata Krebiozen tidak punya efek terhadap kanker. Tragis, kanker Bapak Wright kambuh, dan ia meninggal dua hari kemudian (Klopfer, 1957). Dalam kasus ini, Krebiozen yang disuntikkan ke Wright persis menghasilkan efek plasebo.

Efek plasebo adalah efek positif (yaitu kesembuhan, hilangnya gejala) dari suatu obat yang sebenarnya hanya replika (biasanya dari pil gula halus) dari obat yang sebenarnya, yang berisikan zat-zat aktif. Efek plasebo ini kemudian dijadikan teknik pengujian obat. Apabila sekelompok orang yang diberi plasebo menunjukkan persentase kemanjuran yang lebih tinggi dari obat yang sungguhan, maka obat itu tidak lolos ujian. Menurut studi psikolog Irvine Kirsch terhadap 38 kasus pengujian obat yang dilaporkan ke BPOM AS (United States Food & Drug Administration), ada 75% lebih banyak pasien yang merespon plasebo secara lebih baik daripada obat sungguhan (Kirsch dkk., 2002; Kirsch, 2010). Sekalipun demikian, industri farmasi tidak jemu-jemunya memproduksi obat, misalnya, antidepresan yang sebenarnya lebih bersifat plasebo ketimbang sungguhan. Studi Kirsch menunjukkan betapa bisnis ini mampu mencetak milaran dolar AS per tahun dengan menciptakan ketergantungan pasien akan obat. Bahkan, kongkalikong juga terjadi dengan pemerintah: uji coba obat dengan plasebo bisa dilakukan sampai 10 kali, namun apabila dua kali saja obat itu terbukti lebih manjur dari plasebo, akan disetujui. Masih banyak cerita kapitalisme farmasi yang bisa ditambahkan, namun tentu saja hal itu lebih baik dibahas di artikel lain.

Efek sebaliknya dari plasebo adalah nosebo. Apabila obat “palsu” bisa menghasilkan efek semanjur, bahkan lebih manjur daripada obat sungguhan, maka nosebo adalah efek yang dihasilkan oleh suatu obat yang seharusnya tidak menjadi efek yang dirancang untuk dihasilkan oleh obat tersebut. Satu studi yang terkenal dilakukan di Jepang terhadap sejumlah anak muda yang alergi jelatang (poison ivy) (Moose, 1999). Setelah dibagi ke dalam dua kelompok, satu kelompok diberi sebuah daun yang sebenarnya bukan jelatang namun diberitahukan sebagai jelatang. Semuanya bereaksi! Sebaliknya, kelompok yang benar-benar diberi jelatang sungguhan namun diberitahu bahwa itu bukan jelatang, hanya dua saja yang tetap bereaksi. Kekuatan nosebo bukan hanya mengadakan suatu efek dari yang harusnya tiada, namun ia bisa meredam bahkan membatalkan efek obat!

Sebenarnya, ini semua lebih tepatnya adalah kekuatan sugesti dan keyakinan. Sebagai plasebo, kapsul jauh lebih efektif dari pil, dan di atas keduanya, suntikan masih lebih superior. Bungkus, kemasan dan informasi di kemasan juga memainkan peran. Belum lagi reputasi dokter yang memberi resep. Faktor-faktor ini semakin menguatkan efek dari sugesti. Namun tetap saja, operasi plasebo adalah sugesti yang paling ampuh. Ini mengonfirmasi perkataan Voltaire yang sering dikutip, “lebih banyak unsur kesembuhan dalam kata-kata seorang dokter ketimbang pada obat yang diresepkannya”.[3] Menariknya, sebagaimana dalam hipnotisme, efek plasebo ini tidak hanya mencakup obat. Subyek yang disugesti melalui teknik hipnosis bahwa air di gelasnya adalah bir, akan benar-benar merasakan bir, dan bahkan dalam porsi tertentu, ia bisa benar-benar mabuk!

Sampai di sini saya kira sudah cukup bukti-bukti yang bisa diberikan untuk menopang kalimat sederhana saya di atas bahwa sesungguhnya otak kita sama sekali tidak terdesain untuk apa yang kita sebut-sebut sebagai “kebenaran”. Kebenaran hanyalah sekadar fungsi dan efek. Namun demikian, sekalipun praktis tidak ada, efeknya tetap teramat nyata. Sesuatu yang berupa linguistik murni (sugesti) dapat menghasilkan efek neurologis dan biologis dalam tubuh. Inilah satu pelajaran dari neurolinguistik yang mengajak kita untuk tidak terlalu terpaku pada aspek maknawi dan kepenandaan bahasa, dan mulai beralih ke materialitasnya. Pelajaran lain yang bisa kita petik adalah betapa kita membutuhkan kebenaran informasi semata-mata untuk mengonfirmasi keyakinan kita saja. Di hadapan kebenaran, pada akhirnya kita semua bersikap pragmatis. Saat keyakinan kita sudah ditentukan, maka benar-salah informasi tidaklah menjadi soal, sejauh informasi itu mengonfirmasi dan meneguhkan keyakinan.[4] Kita tentu bisa segera membenarkan pernyataan ini, terutama saat kita ingat bahwa sekalipun Buni Yani mengaku salah mentranskrip video Ahok seputar surat Al Maidah ayat 51, tetap saja aksi anti-Ahok yang dipicunya terus bergulir dan bahkan berlipat-lipat ganda dari segi volume dan cakupannya. []


Baca bagian kedua


 

Daftar pustaka

Hegel, G.W. Friedrich, 2001, Phenomenology of Mind, terj. J. B. Baillie, Blackmask

Marx, Karl, 1975, Marx-Engels Collected Works, vol 1

Morton, Morton, 2007, Ecology without Nature, Harvard Uni Press

Suinn, Richard, 1976, “Body thinking for Olympic champs,” Psychology Today, 38  

Waitley, Denis, 1984, The Psychology of Winning, Berkley

Harris, Sam, Kaplan, Jonas T., dkk., 2010, “The Neural Correlates of Religious and Nonreligious Belief,” PLoS One, 5, 1

Foucault, Michel, 1977, Discipline and Punish, Tavistock

Klopfer, Bruno, Desember 1957, “Psychological Variables in Human Cancer,” Journal of Projective Techniques, 21, 4

Kirsch, Irving, dkk., 2002, “The Emperor's New Drugs: An Analysis of Antidepressant Medication Data Submitted to the U.S. Food and Drug Administration,” Prevention & Treatment, 5, 23

Kirsch, Irving, 2010, The Emperor’s New Drugs: Exploding the Antidepressant Myth, Basic Books

Morse, Gardiner, 1999, “The Nocebo Effect - Scattered studies suggest that negative thinking can harm patients’ health,” Hippocrates, 13,  10

Bacaan Terkait
Hizkia Yosie Polimpung

Tukang riset di Koperasi Riset Purusha. Kerja sampingannya adalah menterapi orang-orang dengan keluhan mental kejiwaan dan sesekali ngajarin orang hipnosis/self-hipnosis dan neurolinguistik di klinik Minerva Co-Lab.

Populer
Insiden Media di Tolikara
Kompas dan Front Pembela Islam
Pekerja Media Seluruh Indonesia, Bersatulah!
Koran Pertama Berbahasa Jawa
Setelah Kegagalan Bertubi-tubi, Apa Yang Mesti Dilakukan KPI?