24/11/2016
Ekstremisme: Kamar Gema yang Menjadi Dominan
ISIS telah menjadi primadona baru bagi ideologi kekerasan di media digital. Kenapa organisasi pseudo-negara itu bisa demikian besar?
24/11/2016
Ekstremisme: Kamar Gema yang Menjadi Dominan
ISIS telah menjadi primadona baru bagi ideologi kekerasan di media digital. Kenapa organisasi pseudo-negara itu bisa demikian besar?

“Lone wolf”. “Radikalisasi diri”. Istilah-istilah macam ini makin jamak bermunculan di media internasional, terutama sejak ISIS menjadi momok dengan strategi propaganda mereka. Belakangan, ketakutan ini juga mulai muncul dalam kesadaran masyarakat Indonesia. Sebuah film berjudul Jihad Selfie, dokumenter tentang anak muda yang terpengaruh konten radikal di internet, hangat dibicarakan baik oleh akademisi muda di kafe-kafe hingga ibu rumah tangga dalam pesan berantai Whatsapp. Beberapa minggu sebelumnya, seorang anak muda melakukan aksi teror di Medan. Usut punya usut, ternyata ia terinspirasi dari konten internet.

Dulu, ketakutan atas ekstremisme dan aksi teror selalu identik dengan kelompok-kelompok pengajian tertutup, dengan stereotipe sekelompok pria yang memiliki nom de guerre berbau Arab dan memakai celana cingkrang. Kini, untuk menjadi “teroris”, tidak perlu aktif mengikuti kelompok pengajian “salah arah”. Konon anak yang masih jerawatan bisa terinspirasi dan menjadi radikal hanya dari internet dan media sosial.

Saya teringat pertanyaan seorang kawan yang juga seorang dosen: bagaimana mungkin seorang anak bisa menjadi radikal hanya melalui konten internet? Secara teoretis, anak itu tentu banyak melihat penjelasan. Namun sulit membayangkan alur kejadian yang dialami satu individu remaja dalam mengarungi rimba internet. Di antara berbagai meme, lelucon, video musik, hingga lautan selfie dan promosi diri, bagaimana seseorang menemukan, dan memilih, pesan radikal?

Internet Sebagai Kamar Gema Ideologi Teror

Meskipun pemikir optimistik kerap kali menyanjung internet dengan segala potensinya untuk menjadi media yang demokratis dan mendukung “pasar ide yang bebas”, penggunaan teknologi internet masih jauh dari bentuk ideal. Luas dan beragamnya konten internet semestinya bisa membuat pengguna belajar dari berbagai sudut pandang. Namun nyatanya perilaku pengguna internet terkadang justru berjalan sebaliknya. Internet terkadang malah menjadi “kamar gema” (echo chamber) yang menampung orang-orang sepemikiran dan membuat pandangan mereka semakin sempit dan ekstrem.

Michael Stefanone, profesor di Departemen Komunikasi University of Buffalo, berpendapat bahwa berbagai karakteristik internet memang memfasilitasi radikalisasi diri. Menurut Stefanone, tujuan utama dari media sosial adalah menghubungkan orang-orang sepikiran. Manusia yang sepikiran memang memiliki kecenderungan untuk berkumpul sejak dulu, namun internet memperluas dan mempermudah jangkauan jaringan ini. Kini, untuk menemukan kelompok yang sepaham kita hanya membutuhkan satu klik, tidak lagi terbatas jarak dan waktu.

Selain mempermudah akses perkumpulan orang dengan ideologi ekstrem dalam media daring, individu juga mengalami perubahan pola komunikasi. Berbagai faktor, seperti anonimitas dan minimnya konsekuensi, membuat individu di dunia maya berperilaku lebih berani, kasar, jujur, dan agresif. Hal ini juga kerap berujung pada semakin agresif dan ekstremnya sikap yang diambil individu, termasuk sikap politik.

Kedua hal ini mempermudah perkumpulan dan pergeseran nilai individu ke kutub yang semakin ekstrem di internet. Alih-alih menjadi kanal informasi yang luas dan beragam, internet bisa menjadi kamar gema tempat individu sepemikirian berkumpul, mempersempit pandangan dan mengamplifikasi ideologi ke ranah ekstrem yang menjustifikasi kekerasan.

Ingatkah Anda pada Andreas Breivik yang melakukan aksi teror bom di Norwegia? Ia ternyata aktif berdiskusi di situs forum Stormfront, yang merupakan contoh kamar gema bagi ideologi supremasi kulit putih dan fasisme. Internet dapat memberi rumah bagi berbagai ideologi ekstrem “sempalan”, entah itu ekstremisme yang membawa agama, ras, hingga ideologi fasis dan nasionalis.

Ekstremisme di Internet

Internet bisa menjadi lahan subur bagi segala ideologi teror, namun hingga kini belum ada pihak yang memanfaatkannya sebagai alat radikalisasi dengan masif dan terstruktur seperti ISIS. Al-Hayat, sayap media ISIS, memproduksi konten media dengan nilai produksi yang sangat tinggi dalam bentuk video dan majalah online. Dengan daya jangkau yang efisien dan ongkos yang sangat murah, mereka mengerahkan banyak tenaga untuk memfasilitasi terciptanya berbagai kamar gema yang mampu menjangkau berbagai individu yang rawan teradikalisasi.

Dalam kasus bom Marathon Boston atau penembakan San Bernardino misalnya, individu menjadi radikal dan melakukan aksi teror hanya melalui internet. Mereka terinspirasi oleh konten media dan melakukan bai’at kepada ISIS melalui media sosial. Setelah aksi mereka berhasil, barulah ISIS kemudian menyambut dukungan mereka dan mengklaim mereka sebagai tentara ISIS. Belum termasuk ribuan tentara ISIS yang berkenalan dengan ISIS melalui konten internet mereka.

Ketenaran ISIS dan aksi radikalisasi internet mereka mendorong Mubaraz Ahmed dan Fred Lloyd George (2016) melakukan riset terkait aktivitas daring mereka. Selain aktivitas media sosial, seperti dalam Facebook dan Twitter yang sudah banyak diulas, keduanya mencoba mendalami aktivitas ISIS di latar internet yang lebih luas seperti hasil pencarian Google. Mereka menemukan bahwa narasi ideologi ISIS dan ekstremisme muslim serupa mendominasi dan menenggelamkan suara muslim moderat di internet.

Mereka menyelidiki hasil pencarian beberapa kata kunci terkait isu sektarian, pengkafiran, dan teori konspirasi—konten dominan dalam propaganda ISIS. Hasilnya, 44% dari hasil pencarian mendorong kekerasan, dan hanya 36% yang bersifat non-kekerasan. Artinya, hanya butuh sedikit niat dan waktu luang bagi orang yang penasaran untuk menemukan dan terpapar pada ideologi ekstremis. Internet bisa berperan besar sebagai gerbang pertama radikalisasi individu.

Menurut sampel data, lebih dari 484.000 pencarian Google secara global akan mendapatkan hasil yang didominasi materi ekstremis setiap bulannya. Bahkan, banyak situs muslim arus utama yang tampaknya menghadirkan konten ilmu Islam ternyata juga memuat konten ekstremis, seperti buku atau rekaman ceramah Anwar al-Awlaki, tokoh Al-Qaeda ternama.

Narasi tandingan yang berisi konten Islam damai pun masih sangat minim. Hanya terdapat 11% hasil pencarian narasi damai yang memiliki performa lebih kuat daripada narasi kekerasan. Padahal narasi tandingan sangat dibutuhkan untuk memberi keberimbangan informasi, atau bahkan menenggelamkan suara ekstrem di internet. Upaya ini telah ada dan digawangi oleh umat muslim sendiri. Sayangnya, suara mereka terlalu lemah dan jarang. Padahal, seperti yang ditunjukan riset Ahmed dan George, gaung ISIS dan ekstremisme muslim di internet tidak bisa diremehkan. Jika kamar gema ideologi rasis dan fasis yang dibuat oleh Stormfront dan meradikalisasi individu seperti Breivik masih berada di pinggiran, ISIS dan ekstremis muslim membuat kamar gema ini justru menjadi arus utama di internet.

Mengambil Alih Internet

Seiring dengan kepanikan global akibat terorisme, pemerintah pun mencoba mengambil tindakan atas situs “Islam” lokal yang menjagokan ideologi ekstrem. Namun usaha pemerintah paling baik hanya bisa dibilang setengah-setengah. Salah satu kebijakan yang dicoba adalah pemblokiran. Pemblokiran ini terkesan angin-anginan. Pemerintah sempat memblokir 19 situs, namun 12 situs dibebaskan kembali pada April 2015 lalu. Menurut Kementerian Komunikasi dan Informasi, pemblokiran semata-mata dilakukan karena ketidakjelasan pengelola, dan dibuka kembali dengan pengawasan setelah akhirnya ada “diskusi” dengan para pengelola. Padahal beberapa situs ini secara jelas mendorong ideologi kekerasan. Voa-Islam.com yang terang-terangan mendukung ISIS, misalnya, kini dapat diakses dengan mudah.

Mungkin keengganan sensor ini punya kaitan dengan ingatan reformasi 1998, yang membuat “pemblokiran” seolah menjadi kata yang tabu. Kebijakan sensor atau blokir memang menghasilkan polemik. Selain berpotensi bertentangan dengan hak kebebasan berbicara, efisiensi pemblokiran sangat bisa dipertanyakan di era perkembangan teknologi yang serba cepat ini. Michael Stefanone berpendapat bahwa pemerintah pada umumnya tidak memiliki kapabilitas untuk berhadapan dengan isu yang berubah dengan cepat. Selagi mesin birokrasi negara berjalan dengan lambat, kelompok radikal dan juga para khalayak akan selalu menemukan celah untuk berkomunikasi dengan memanfaatkan perkembangan teknologi yang sangat cepat.

Pemblokiran atau sensor dalam konteks ini mungkin bisa dijustifikasi dan berguna sebagai strategi pencegahan. Namun, itu saja tidak cukup. Pemerintah bisa berkontribusi dengan upaya pendidikan dan kolaborasi bersama masyarakat dan perusahaan teknologi. Pendidikan literasi tentang cara menavigasi internet dengan baik dan berpikir kritis mengenai kredibilitas sumber sangat dibutuhkan di sekolah umum.

Selain itu, riset Ahmed dan George menunjukkan bahwa narasi tandingan yang berpotensi menyeimbangkan sumber informasi masih sangat lemah. Umat muslim sendiri memang menjadi motor utama narasi tandingan, dan ini adalah pertanda baik. Namun, mereka butuh dorongan. Salah satu kelompok Islam moderat yang cukup berpengaruh di Indonesia adalah Naudhatul Ulama (NU) yang memiliki pusat kekuatan di pondok-pondok pesantren. Mungkin salah satu alasan lemahnya suara mereka adalah masih minimnya literasi internet. Pemerintah bisa berkontribusi dalam memfasilitasi dan mendorong pendidikan literasi internet, sambil mendorong segala otoritas Islam moderat di Indonesia untuk bersuara lebih kencang.

Teknologi baru selalu datang bersama dengan tantangan dan ketakutan. Bahkan Sokrates pernah mengkhawatirkan bahwa teknologi baca tulis akan berakibat buruk dengan menumpulnya ingatan dan diskusi. Namun dominannya media internet dengan segala kebaikan dan keburukannya adalah sebuah keniscayaan, dan manusia perlu menyesuaikan diri. Untuk mengambil alih internet dari ekstremisme, sangat penting bagi kaum muslim moderat untuk bersuara lebih kencang dari para ekstremis. Dengan cara itulah “kamar gema” kekerasan bisa dikembalikan ke pinggiran. []


PUSTAKA

Ahmed M., & George, F. L. (2016). A War of Keywords: How Extremists are Exploiting the Internet and What To Do About it. Digitalis Reputation.

McManus, B. (2015). An Expert Explains How Social Media Can Lead to the 'Self-Radicalization' of Terrorists | VICE | United States. Retrieved November 20, 2016, from http://www.vice.com/read/we-asked-an-expert-how-social-media-can-help-radicalize-terrorists

 

Bacaan Terkait
Firman Imaduddin

Editor dan peneliti di Remotivi. Meminati isu media, antropologi, budaya, dan perfilman. Kerap ditemukan main catur di warung kopi sekitar Rawamangun.

Populer
Demokratisasi Media Melalui Jurnalisme Warga
Jurnalisme Bencana: Tugas Suci, Praktik Cemar
Media Cetak yang Berhenti Terbit Tahun 2015
Ketika Berita Palsu Menjadi Industri
Hierarki Pengaruh dalam Mediasi Pesan