Ilustrasi oleh Diniella Putirani
Ilustrasi oleh Diniella Putirani
25/08/2016
Spotify dan Tantangan Kajian Media Digital
Sejak akhir Maret lalu Indonesia resmi bergabung dalam “keluarga global” Spotify. Bagaimana dampaknya bagi media dengar di Indonesia, termasuk tantangan yang dihadapi dalam ranah kajian media?
25/08/2016
Spotify dan Tantangan Kajian Media Digital
Sejak akhir Maret lalu Indonesia resmi bergabung dalam “keluarga global” Spotify. Bagaimana dampaknya bagi media dengar di Indonesia, termasuk tantangan yang dihadapi dalam ranah kajian media?

Publik tanah air, terutama penikmat musik, mendapat kabar gembira pada Rabu malam 30 Maret 2016 silam. Peluncuran Spotify Indonesia menjadi tajuk utama perihal musik dan dunia digital di berbagai media massa maupun jejaring media sosial. Sejak hari itu, Indonesia menjadi bagian dari 59 negara di dunia yang memiliki akses terhadap aplikasi Spotify dengan berbagai pilihan fitur layanannya (Meodia, 2016).

Spotify lahir di Swedia pada penghujung 2008, dan merupakan wujud transformasi lanjut dari perusahaan rintisan (start-up company) Spotify AB (Nordenstam, 2016). Spotify menawarkan pengalaman musik lintas batas aliran dan selera, yang memberi kebebasan pilihan tanpa ancaman pembajakan. Dengan menggunakan akses streaming alih-alih unduhan (download), Spotify berusaha meyakinkan dua pihak sekaligus, baik penikmat musik maupun pelaku bisnis musik—dari label rekaman hingga musisi—bahwa cara ini adalah masa depan industri dan konsumsi musik global.

Tulisan ini bertujuan untuk melihat secara kritis fenomena masuknya Spotify di Indonesia sebagai salah satu penanda budaya digital dan tantangan yang ia bawa secara khusus bagi kajian media hari ini. Apa saja karakteristik khusus yang dimiliki Spotify, ditilik dari sudut pandang kajian media? Bagaimana implikasi kehadirannya terhadap dua konsep relevan dalam kajian media, yaitu praktik dalam produksi media (media practice) dan budaya penggunaan media (media use), dalam konteks budaya digital? Bagaimana pula tantangan keilmuan yang perlu disikapi dalam meneropong berbagai kemungkinan cara pandang dalam memahami media secara luas yang saat ini dan ke depan mewujud makin kompleks?

Namun, sebelum saya menguraikan secara lebih detail respons atas sejumlah pertanyaan pokok di atas, perlu saya sampaikan dua hal pengingat atau semacam disclaimer. Pertama, meskipun secara tampak nyata Spotify adalah gejala pengalaman bermedia yang terkait dengan produk budaya bernama musik, tulisan ini tidak bertujuan dalam konteks “kajian musik”. Istilah kajian musik saya hindari di sini, mengingat subjek telaah yang saya sodorkan bukan pada aspek musik sebagai ekspresi budaya dalam corak produksi tertentu, atau artikulasi emosi individual dan kolektif senimannya. Yang saya soroti adalah aspek medium yang mengantarkannya, dalam hal ini media digital dengan platform music streaming berlabel Spotify. Tanpa mengerdilkan arti penting musik itu sendiri, tulisan ini memposisikan musik sebagai salah satu wujud isi (content) saja dalam media dengar ini. Tulisan ini lebih diarahkan pada aspek corak dan bentuk mediumnya, ketimbang isi mediumnya.

Pernyataan kedua yang perlu juga saya tegaskan di sini adalah terkait penggunaan istilah “media dengar” sebagai konsep payung untuk menempatkan Spotify dalam kerangka kajian media secara lebih luas. Meski begitu, istilah ini tidak bisa dirancukan dengan berbagai istilah lain untuk mengkaji bentuk-bentuk media yang dicerap melalui pendengaran, misalnya media radio, yang memiliki fondasi pemikiran dan konteks pembahasannya sendiri. Peletakan Spotify dalam kerangka istilah ini sebenarnya merujuk pada pemahaman etnografi digital, terutama pada aspek pengalaman (apa yang dirasakan orang), yang berbasis pada interaksi inderawi manusia dalam upaya memahami lingkungannya (Pink et. al., 2016: 21).

Dari Celah Kreatif Hingga Sukses Massif

“Media dengar” adalah konsep yang secara kebahasaan saya turunkan dari istilah berbahasa Inggris audio (auditory) media, yakni berbagai medium yang merangkum keseluruhan praktik manusia dalam berinteraksi dengan ragam bebunyian melalui pendengaran. Spotify adalah salah satu bentuk pengalaman pendengaran yang dimediasi teknologi digital, dengan kekhasan pola akses sekaligus dampak psikologis maupun kultural yang unik pula.

Sejak kemunculannya delapan tahun silam, kini Spotify dapat diakses melalui beragam piranti, baik komputer pribadi, komputer jinjing, hingga ponsel pintar dan tablet. Aplikasi ini juga memungkinkan akses dari beragam sistem operasi (operating system/OS), baik yang dimiliki perusahaan raksasa, maupun open source. Spotify mengandalkan prinsip hak cipta yang diatur dalam digital rights management (DRM). Terlepas dari masih problematisnya sistem DRM, Spotify tetap menganggap musik sebagai salah satu kekayaan intelektual yang perlu pengaturan distribusi dan konsumsi. Mekanisme DRM dan streaming dianggap dapat menjadi jalan tengah antara kelesuan bisnis penjualan album rekaman di satu sisi, dan peningkatan pembajakan di sisi lainnya.

Meski demikian, dari segi bisnislah Spotify mendapat respons yang massif secara global, yakni dengan layanan berprinsip freemiumgabungan kata free (gratis) dan premium (berbayar). Pengakses dapat memilih layanan gratis, tentu dengan keterbatasan fitur dan banjir iklan di tengah-tengah memutar musik, atau menjadi pelanggan berbayar dengan besaran biaya berlangganan yang bervariasi di setiap negara. Saat tulisan ini disusun pada pertengahan 2016, layanan di Indonesia tergolong sebagai penawaran berbiaya premium termurah, yakni Rp 49.990 per bulan, atau sekitar kurang dari empat dolar Amerika Serikat (Freischlad, 2016). Hingga Maret 2015, tercatat 75 juta pengguna Spotify di dunia. Sekitar 30 juta di antaranya adalah pelanggan berbayar (Amirio, 2016). Meski belum ada laporan resmi yang menyebut angka spesifik saat ini, catatan selanjutnya menunjukkan jumlah pengguna gratis maupun berbayar terus bertambah secara drastis.

Spotify mulai memasuki pasar Asia pada 2013, dengan membuka layanannya di Singapura, Hong Kong, Malaysia, kemudian Taiwan dan Filipina (Russel, 2015). Ekspansi di Asia jauh lebih lambat daripada di tempat lain, mengingat berbagai penyesuaian regulasi dan prospek bisnis yang harus mereka hadapi terlebih dahulu. Sejak akhir 2015, terdapat banyak rumor bahwa Spotify mulai menargetkan Indonesia dan Jepang di jalur pengembangan sayap bisnis mereka (Russel, 2015; “Daily Social”, 2015). Akhirnya, pada akhir Maret 2016, mereka pun menancapkan kaki-kaki usahanya di Indonesia.

Tentu saja, Spotify bukan satu-satunya pelaku dalam industri layanan music streaming. Sebelumnya, brand-brand lain seperti Apple Music, Deezer, Rdio, Joox, dan Guvera sudah masuk ke pasar Indonesia. Selain itu, brand lokal seperti Volup dan Ohdio juga sudah dikembangkan (Kevin, 2012; “Daily Social”, 2015). Namun telaah sungguh-sungguh, di luar aspek teknologi dan bisnis, dalam meneropong perkembangan ini masih sangat minim—terutama dari segi praktik-praktik bermedia serta perilaku dan konteks kultural pengguna, begitu juga implikasinya bagi ranah kajian media dalam konteks digital di Indonesia.

Spotify kerap diwartakan secara kritis di berbagai belahan dunia, misalnya tentang cara bisnis mereka yang merugikan musisi. Memang 70% keuntungan mereka, baik dari iklan maupun pengguna berbayar, kembali ke industri musik. Namun, banyak yang menengarai keuntungan itu sebagian besar tersalur bagi label musik dan perusahaan pemegang jalur distribusi. Sementara manfaat finansial yang diterima penulis lagu, musisi, dan tim produksi sangat kecil, tidak lebih dari 10% dari keuntungan yang diterima pemilik hak (rights holders), alias keuntungan industri musik. Keuntungan ini pun mesti terbagi-bagi lagi dalam proporsi kecil yang akhirnya diterima penulis lagu atau musisi (lihat Dredge, 2015; Plaugic, 2015; bandingkan juga antara “SpotifyArtist”, n.d. dan sejumlah laporan lain di antaranya oleh jurnalis data McCandless, 2010; Johnson, 2014; Resnikoff, 2016).

Dengan kata lain, sistem bisnis musik secara streaming dituding hanya makin menguntungkan para “raksasa”—penyedia jasa alias Spotify dan label musik utama—dan makin mengucilkan musisi pendatang baru dan rekaman kecil. Belum lagi imbas lainnya, yakni dari kecenderungan pengguna yang lebih memilih memutar gratis dari Spotify ketimbang menjadi pelanggan berbayar atau membeli album dan single-single musisi favoritnya (“Daily Social”, 2015; Freischlad, 2016). Tudingan-tudingan inilah yang kerap disuarakan sejumlah kalangan, utamanya sejumlah musisi dunia, kepada Spotify.

Cara Berpikir Baru

Tentu masih terlalu dini untuk melihat dampak masuknya Spotify di Indonesia, mengingat usianya masih sangat muda. Namun, indikasi demikian semestinya sudah mulai menjadi stimulus dalam menyusun pijakan berpikir, terutama oleh para pengkaji media. Situasi empiris demikian—berikut indikasi lainnya dari fenonena sejenis—tidak cukup lagi ditengok dari kerangka berpikir yang sudah-sudah. Yang saya maksud dengan “kerangka berpikir yang sudah-sudah” ini adalah cara memandang praktik dan penggunaan media dalam kerangka yang linear belaka. Yakni, kerangka pikir yang terlalu menitik beratkan tarik ulur struktur sosial-politik dengan institusi dan isi media (baca: media massa) tanpa mengindahkan aspek-aspek kultural dan beragam konteks signifikan lainnya. Dibutuhkan cara pandang yang lebih segar untuk “membaca” kompleksitas media yang makin berkelindan dalam konteks budaya digital.

Dalam situasi praktik-praktik media dan penggunaan media dalam nalar digital demikian, pemahaman kita akan berbagai hal dibutuhkan secara makin komprehensif. Pemahaman sejarah media, misalnya, justru makin menemukan arti pentingnya hari ini, terutama guna memahami keadaan sekaligus orientasi ke depan atas praktik dan penggunaan media dalam peradaban kita. Tentu saja pengkajian sejarah media perlu untuk lebih menitikberatkan pada kejernihan pemahaman atas teknologi media dalam konteks sosial-politik-ekonomi-dan-kultural yang melatarbelakanginya, berikut perdebatannya dalam setiap rentang sejarah, tanpa terjebak pada euforia “pemurnian artikulasi sejarah” berversi tunggal.

Kehadiran teknologi baru ini pun mengundang sejumlah pertanyaan filosofis yang layak untuk dijawab dalam konteks kajian media dan komunikasi. Apa arti “ruang” dan “waktu” bagi peradaban manusia dalam nalar digital kini dan mendatang? Apa dan bagaimana pula konsep “interaksi” terjelaskan dalam situasi yang makin termediasi, sekaligus makin bercorak sosial, sebagai implikasi kemudahan akses manusia terhadap medium digital dalam hidup keseharian? Pertanyaan-pertanyaan ini tentu bisa dieksplorasi lebih jauh.

Selanjutnya, kajian audiens media juga mendapatkan tantangan barunya. Dalam situasi perilaku berinteraksi dengan media dalam nalar digital, termasuk yang ditunjukkan oleh kehadiran Spotify, pola interaksi media dan audiensnya juga memiliki bentuk dan makna yang kian beragam. Secara umum, perdebatan dalam nalar digital tidak lagi seputar corak audiens pasif atau audiens negosiatif-aktif. Namun, sudah melampaui itu. Konsep-konsep lain seperti partisipasi (participation) dan keterlibatan (engagement) kini lebih relevan untuk menjadi pijakan awal mengkaji audiens media. Selain itu, pemaknaan (signifying process) oleh audiens terhadap isi media, penggunaan platform media, dan interaksinya dengan pengguna media lainnya, juga telah melampaui perdebatan sebatas perihal proses penafsiran pesan (decoding) dan penyandian balik (encoding) atas pesan-pesan komunikatif.

Kini, diskusi seputar posisi audiens dalam proses produksi dan konsumsi media maupun isi atau konten media jadi makin relevan. Diskusi ini perlu pula diikuti oleh pemahaman atas dinamika relasi kuasa yang terjadi antara berbagai struktur sosial yang terlibat, termasuk audiens. Bahkan, pertanyaan retoris tetapi sekaligus paling signifikan saat ini juga mengemuka: apakah konsep “audiens” masih memadai untuk menjelaskan interaksi manusia dan media dalam nalar digital saat ini? Semua ini merupakan tantangan-tantangan yang nyata dihadapi para pengkaji media guna memahami media digital dalam gerak laju yang makin cepat dan kian tidak terduga bentuknya.

Ketiga ranah subkajian di atas—sejarah media, teknologi komunikasi, dan kajian audiens media—hanyalah sekelumit contoh untuk menggambarkan tantangan yang dihadapi dan sedianya disikapi untuk memahami media digital kita saat ini. Tentu saja, masih banyak ranah subkajian lainnya yang juga perlu merespons dengan semangat serupa. Bahkan, saat ini upaya kolaboratif multi- dan inter-disiplin juga makin terasa arti pentingnya. Karena toh begitu pula nalar digital menunjukkan karakter khasnya dalam peradaban sekarang: menyentuh ke dalam ruang-ruang yang mengakar secara personal sekaligus kolektif, serta terjadi secara lintas bidang dan berkelindan satu sama lain secara menempel (embedded) dan menubuh (embodied) sekaligus.

Dari satu segi, Spotify memang tidak lain dari pengejawantahan kapitalisme lanjut, yang mengawinkan inovasi gagasan dan teknologi dengan ekspansi kapital. Namun, kehadirannya sebagai bagian dari keseharian manusia juga tidak kalah penting untuk ditengok dari segi-segi yang beragam. Dengan demikian, telaahnya tidak akan mandeg dalam kerangka berpikir yang justru menjebak kita dalam kebingungan memahami peradaban yang makin bertalian antara yang daring (online) dan luring (offline), antara yang digital dan analog, antara yang personal dan sosial, dan antara yang poetics dan politics dalam jejaring relasi kuasa yang makin dinamis dan tidak selalu linear.

Sekadar contoh, perhatian para pengkaji media dan teknologi di Denmark juga sudah menunjukkan upaya merumuskan kerangka berpikir lebih segar ketika hendak memahami interaksi manusia di era digital ini. Salah satunya lewat sebuah projek riset rintisan bertajuk LARM Project (the Danish radiophonic cultural heritage) yang telah berakhir pada 2014 lalu. Projek ini berfokus untuk mengumpulkan, mendigitalisasi dan mengkodifikasi berbagai bentuk dan pengalaman bebunyian di peradaban mereka (“LARM”, 2014). Perhatian serupa juga muncul dari para pengkaji media di Belanda bersama rekan jejaring mereka. Salah satu publikasi penting dari kerja-kerja mereka menunjukkan relasi antara arsip audio dengan teknologi mutakhir, memori dan praktik-praktik kultural (lihat lebih jauh dalam van Dijck dan Bijsterveld, 2009).

Semangat ini layak untuk menjadi kesadaran pengkaji media di Indonesia—tentu dengan didukung oleh publikasi kajian dengan kerangka berpikir yang variatif. Dengan begitu, referensi kajian media di Indonesia khususnya dalam konteks budaya digital akan lebih berwarna. Produksi pengetahuan semacam ini, menurut saya, tentu akan jauh lebih berguna bagi perkembangan pemahaman secara utuh ketimbang referensi yang selama ini didominasi oleh kiat-kiat praktis berkiprah dalam dunia media dan musik secara teknis belaka. Di sini letak arti pentingnya untuk mulai menyusun kerangka berpikir trans-, multi-, bahkan inter-disiplin sembari memperkaya pemahaman kita atas sisi empiris media maupun perilaku audiensnya yang terus bergerak dalam tempo yang makin cepat.

Refleksi Penutup

Sekitar dua tahun silam, saya memutar sebuah film sebagai penutup kelas kajian sinema. Saya selalu membiasakan untuk memutar film sampai benar-benar tuntas di kelas, artinya tayangan deret kru pendukung yang berjajar panjang di akhir film tetap saya tunggu hingga selesai sebagai bentuk apresiasi. Seperti kebanyakan film cerita lainnya, iringan daftar kru pendukung tersebut disertai musik latar di belakangnya. Tiba-tiba seorang mahasiswa mendekati pengeras suara di salah satu sudut ruang kelas. Ia menyodorkan ponsel pintarnya beberapa detik ke depan pengeras suara tersebut.

Setelah film benar-benar tuntas, lampu ruangan menyala kembali dan kuliah ditutup, saya hampiri mahasiswa itu dan bertanya apa yang baru saja dia lakukan. Sontak dia merespons ringan, “Oh ini, soundtrack-nya bagus. Langsung saya Shazam, ingin tahu apa judulnya dan siapa penyanyinya”. Yang dia maksud adalah memindai lagu yang tengah diputar dengan aplikasi tertentu, kali ini bernama Shazam, kemudian aplikasi tersebut menunjukkan informasi yang ia perlukan perihal lagu tersebut. Setelah mahasiswa tadi menemukan informasi yang dia inginkan, ia melakukan hal menarik lainnya. Ia tidak serta merta menikmati track musik yang ia temukan, melainkan membagikan informasi tersebut kepada kawan-kawan dan followers-nya dalam berbagai jejaring media sosial yang dia gunakan.

Barangkali, kisah semacam ini sudah menjadi hal sepele dan pengalaman sehari-hari pengguna piranti digital, begitu juga bagi saya hari itu. Namun, hal yang menarik perhatian saya adalah kesadaran bahwa cara audiens memperlakukan isi media dan bentuk media makin hari makin beragam. Refleksi penutup ini sekaligus meresonansi pola serupa yang disodorkan fenomena lebih kekinian, yakni kehadiran Spotify seperi telah saya uraikan di atas. Kembali lagi ini bukti kuat akan arti pentingnya kehadiran kerangka berpikir baru dalam melihat keseharian hidup peradaban yang makin termediasi dalam ruang dan nalar digital. []


Referensi:

Amirio, Dylan. (2016, 31 Maret). “Spotify Makes Long-awaited Entry into Indonesia”. Diunduh dari http://www.thejakartapost.com/news/2016/03/31/spotify-makes-long-awaited-entry-indonesia.html pada 11 Mei 2016.

“Daily Social”. (2015, 2 November). “Is Spotify Ready to Enter Indonesia?” Diunduh dari https://e27.co/spotify-ready-enter-indonesia-20151102 pada 11 Mei 2016.

Dredge, Stuart. (2015, 3 April). “How much do musicians really make from Spotify, iTunes and YouTube?” Diunduh dari https://www.theguardian.com/technology/2015/apr/03/how-much-musicians-make-spotify-itunes-youtube pada 25 Juli 2016.

Freischlad, Nadine. (2016, 30 Maret). “Spotify is now in Indonesia: It’s Cheap and Even Accepts Cash”. Diunduh dari https://www.techinasia.com/spotify-indonesia-cheap-offers-local-payment-methods pada 17 Mei 2016.

Johnson, David. (2014, 18 November). “See How Much Every Top Artist Makes on Spotify.” Diunduh dari http://time.com/3590670/spotify-calculator pada 25 Juli 2016.

Kevin, Joshua. (2012, 20 Juni). “Does Ohdio want to be Spotify for Indonesia?” Diunduh dari https://www.techinasia.com/ohdio-online-music pada 17 Mei 2016.

“LARM”. (2014). “About LARM Audio Research Archive”. Diunduh dari https://larm.sites.ku.dk/about-larm pada 11 Mei 2016.

McCandless, David. (2010, April). “How Much Do Music Artists Earn Online?” Diunduh dari http://www.informationisbeautiful.net/2010/how-much-do-music-artists-earn-online pada 25 Juli 2016.

Meodia, Arindra. (2016, 30 Maret). “Spotify resmi meluncur di Indonesia”. Diunduh dari http://www.antaranews.com/berita/552487/spotify-resmi-meluncur-di-indonesia pada 11 Mei 2016.

Nordenstam, Sven. (2016, 12 April). “Spotify founders to Sweden: Shape Up or Lose New Jobs”. Diunduh dari http://www.reuters.com/article/us-sweden-economy-spotify-idUSKCN0X91LQ pada 11 Mei 2016.

Plaugic, Lizzie. (2015, 7 Desember). “Spotify's Year in Music Shows Just How Little We Pay Artists for Their Music”. Diunduh dari http://www.theverge.com/2015/12/7/9861372/spotify-year-in-review-artist-payment-royalties pada 25 Juli 2016.

Pink, Sarah; Horst, Heather; Postill, John; Hjorth, Larissa; Lewis, Tania & Tacchi, Jo. (2016). Digital Ethnography: Principles and Practice. Los Angeles, London, New Delhi, Singapore, Washington DC: SAGE.

Resnikoff, Paul. (2016, 18 Mei). “How I Skipped Spotify and Made 10 Times the Revenue”. Diunduh dari http://www.digitalmusicnews.com/2016/05/18/skip-spotify-10-times-more-royalties pada 25 Juli 2016.

Russell, Jon. (2015, 19 Oktober). “Spotify moves closer to launches in Indonesia and Japan”. Diunduh dari http://techcrunch.com/2015/10/19/hey-spotify-please-give-asia-some-launch-love pada 11 Mei 2016.

“SpotifyArtists”. (n.d.). “How we pay royalties: an overview”. Diunduh dari https://www.spotifyartists.com/spotify-explained/#how-we-pay-royalties-overview pada 25 Juli 2016.

van Dijck, Jose. (2007). Mediated Memories in the Digital Age. Standford, California: Standford University Press.

van Dijck, José & Bijsterveld, Karin (Ed.). 2009. Sound souvenirs: Audio technologies, memory and cultural practices. ‪Amsterdam: Amsterdam University Press.

Bacaan Terkait
Zaki Habibi

Peneliti kajian media dan budaya visual. Mantan pekerja media, mengajar di Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Alumnus UGM Yogyakarta dan ECU Perth Australia ini kini bergabung dengan Department of Communication and Media di Lund University, Swedia, sebagai Doktorand (PhD Candidate). Karya akademiknya dapat diakses di situsweb Academia, dan celoteh senggangnya bisa dikunjungi di blog

Populer
Kompas dan FPI: Kisah Usang Yang Terus Berulang
Di Balik Tren Tayangan Impor
Amplop untuk Jurnalis
LGBT dalam Media Indonesia
Membaca Media Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama