27/01/2015
Selebritas dan Hilangnya "Yang Publik"
Kehidupan privat selebritas jadi komoditas laris televisi. Batasan "yang privat" dan "yang publik" tak lagi punya arti.
27/01/2015
Selebritas dan Hilangnya "Yang Publik"
Kehidupan privat selebritas jadi komoditas laris televisi. Batasan "yang privat" dan "yang publik" tak lagi punya arti.

Mungkin bagi sebagian orang, membicarakan kasus pernikahan Raffi Ahmad & Nagita Slavina atau persalinan Ashanty adalah topik yang so last year. Tahun sudah berganti. Ada kasus baru yang naik daun. Namun, dua kasus tersebut bukan yang pertama kali – meski penayangan persalinan Ashanty secara langsung tampaknya merupakan yang pertama kalinya di layar kaca, ia sekadar varian baru dari penampilan hajat privat di ruang publik – dan sialnya bukan yang terakhir.

Pada tahun 2012, pernikahan Anang dan Ashanty juga mendapat perlakuan yang sama di RCTI. Pada tahun yang sama, pasangan Andhika Pratama dan Ussy Sulistyawati pun tampil di SCTV. Sebelumnya – kita tentu ingat – putra kedua bekas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Edhie Baskoro Yudhoyono, menikah dengan Siti Rubi Aliya Rajasa, putri Hatta Rajasa, dan tayang secara langsung di Trans TV dan Trans 7. Pada 2010, Nia Ramadhani menikah dengan Ardi Bakrie dan ramai diliput ANTV. Pernikahan terakhir ini menarik. Selebritas menikah dengan konglomerat media. Puitik.

Namun, dengan panjangnya daftar alih fungsi televisi menjadi usaha dokumentasi kawinan ini, kita selalu saja kagok – kita selalu saja tergeragap. Kita seperti baru pertama kali bertemu kasus seperti ini. Memang, kita mudah lupa.  

Saat Remotivi mengeluarkan pernyataan mengecam acara pernikahan Raffi Ahmad & Nagita Slavina serta persalinan Ashanty yang disiarkan televisi, reaksi yang diharapkan tak selamanya datang.  Banyak juga yang balik mengecam pernyataan sikap ini, misalnya melalui media sosial facebook dan twitter. Umumnya, komentar yang balik mengecam ini berkisar antara “publik yang mana?”, atau “Saya kan menikmati, saya kan juga publik”. Untuk menekankan “kepublikan” tayangan tersebut, dibumbui pula dengan argumen basi, “Kan menghibur, membagi kebahagiaan”, atau yang lebih kreatif, “Tayangan itu mendidik karena menampilkan kebudayaan Jawa.”

Pernyataan-pernyataan ini tidak terlalu mengherankan, apabila kita memahami bagaimana budaya selebritas bekerja di dalam televisi. Selebritas menjadi seorang selebritas ketika ia hadir sebagai sosok yang dianggap tidak berlawanan dengan nilai-nilai para audiensnya (Gledhill: 1991, xiii), tanpa perlu memikirkan proses penciptaan selebritas oleh industri televisi. Pengaburan selebritas sebagai ciptaan ini membuat fans merasakan kedekatan pada sosok selebritas pujaannya. Fans dibuat tidak sadar bahwa selebritas adalah produksi dari suatu kuasa pasar. Kedekatan ini bersifat parasosial – atau hanya sebuah kedekatan semu yang diciptakan oleh teknologi, salah satunya televisi.

Simon Cooper, dalam bukunya Technoculture & Critical Theory: In The Service of The Machine (2002), melanjutkan tesis Heidegger mengenai hakikat teknologi. Keberadaan teknologi telah menyusutkan dunia, telah membuat segalanya terasa lebih mudah. Kemudahan ini tidak hanya dalam tataran praktik, tapi dalam konsep.

Jika melihat contoh dari televisi, maka apa yang dulu tidak terbayang menjadi komoditas, telah menjadi komoditas. Dalam konteks bintang (stardom), identitas adalah komoditas baru layar kaca. Televisi menampilkan tokoh-tokoh terkenal (tokoh publik) seperti selebritas sebagai jualannya. Dalam budaya stardom, apa yang diproduksi dalam “orang-orang terkenal” tidak hanya ketenaran (fame) semata. Namun, kelahiran seorang bintang/selebritas disertai kelahiran sebuah “karakter” yang tersematkan kepada sang bintang tersebut (picture personality). Inilah yang kita sebut dengan citra selebritas.

Dengan adanya picture personality tadi, maka kehidupan pribadi dan profesional (publik) si selebritas tampil beriringan memasuki ruang stardom. Akibatnya, apa yang publik konsumsi bukan hanya masalah profesionalitas selebritas, tapi juga ruang-ruang pribadi dalam kehidupannya. Kehidupan pribadi dan profesionalnya diasumsikan dan/atau diharapkan untuk selaras. Jadi jika ia adalah seorang aktor yang kerap membintangi kyai atau pun tokoh agama, maka kehidupan pribadinya juga diharapkan sebagai seorang yang religius.

Ruang pribadi yang mengemuka dari selebritas dirajut sedemikian rupa untuk mendukung pemasaran selebritas tersebut. Karakter yang ditempelkan tadi sebenarnya juga telah dibangun untuk mempromosikan sesuatu. Inilah yang dihilangkan industri televisi dari seorang selebritas di hadapan audiensnya (fans).

Sebagai alat pemasaran industri, seorang selebritas juga menjadi role model untuk menyebarkan perilaku atau sikap tertentu. Contoh sederhananya dapat kita temukan dalam acara yang menayangkan pendapat selebritas dalam isu tertentu. Kita tidak perlu repot-repot tahu apa kapasitasnya, misalnya, dalam peraturan lalu lintas. Namun, produksi selebritas sebagai “tokoh publik” memposisikannya sebagai wakil suara publik, karena dianggap tidak memiliki perbedaan nilai dengan audiensnya.

Selebritas tidak bisa dilihat hanya sebagai profesi. Selebritas harus dilihat sebagai sosok yang memiliki legitimasi, otoritas, dan kredibilitas. Selebritas perlahan bergerak menjadi aktor politik yang pendapatnya bisa menjadi asumsi umum di masyarakat sebagai warga negara. Hanya saja, karena kebintangan itu sendiri adalah komoditas, maka atribut yang melekat padanya juga perlahan menjadi bahan jual beli di layar kaca. Ini yang terjadi ketika kehidupan pribadi yang diharapkan selaras bersama dengan atribut marketing seorang selebritas, malah menjadi tayangan publik.

Yang menarik dalam tayangan kehidupan personal selebritas adalah bagaimana memudarnya batasan “privat” dan “publik” di televisi. Peleburan ini mulai terlihat ketika budaya selebritas lahir sebagai komoditas layar kaca.

Selebritas dan hyperrealitas

Dalam Simulacra & Simulation (1981), Baudrillard menerangkan bahwa hiperrealitas adalah suatu keadaan di mana yang riil dan yang ilusi sudah tidak dapat dibedakan lagi. hiperrealitas diciptakan oleh medium yang bersifat publik (media massa; koran, televisi, atau radio) yang, dalam pretensi untuk merepresentasikan realitas, malah menciptakan “realitas baru”. Dengan bantuan selebritas dan fungsinya sebagai alat pemasaran industrial, fenomena selebritas sebagai hiperrealitas terjadi dalam iklan atau tayangan yang menampilkan kehidupan pribadinya.

Makna yang mengemuka dalam hubungan fans-selebritas punya andil dalam menciptakan kondisi hiperrealitas. Apabila kita menerapkan pemahaman ini pada contoh di awal tulisan, mengenai rangkaian ekspos terhadap hubungan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina di televisi, maka kita dapat memahami bagaimana hal-hal privat semacam ini bisa disalahmengerti sebagai hal yang bersifat publik. Batas antara yang privat dan yang publik memang sudah dikaburkan.

Audiens menganggap selebritas sebagai senyata-nyatanya tokoh publik yang merepresentasikan keinginan publik akan sebuah tayangan; bahwa kemunculannya dalam layar kaca itu sendiri sudah bernilai publik. Selebritas sebagai tokoh publik adalah sebuah penanda kosong yang diasosiasikan dengan publik, sehingga tak peduli dalam konteks apa ia muncul, ia tetap dianggap memiliki relevansi bagi publik. Dalam kebudayaan selebritas, konsepsi tentang “yang publik” telah menubuh, mengejawantah dalam persona-persona selebritas. Persis di sinilah problemnya. Pemisahan antara “yang privat” dari “yang publik” adalah pemisahan yang ditentukan oleh relasi sosial. Ketika selebritas menjelma sebagai penubuhan dari “yang publik”, maka segala aspek privat yang ia miliki menjadi komoditas yang “halal” untuk dikonsumsi publik.

Pengaburan antara “yang privat” dan “yang publik” tersebut terjadi melalui apa yang kerap disebut sebagai reality by proxy. Penayangan ihwal-ihwal privat seperti pernikahan Raffi-Nagita melalui televisi menjembatani audiens di rumah dengan peristiwa yang terjadi di suatu tempat yang lain. Televisi melipat jarak antara dua ruang, dan menghadirkan pernikahan itu di sini, di hadapan publik; baik itu di ruang tamu, kamar pribadi, ruang tunggu rumah sakit, atau warung kopi. Televisi membuat pernikahan tersebut menjadi pengalaman publik – bahwa publik juga turut mendatangi undangan dan bersukacita dalam perayaan itu.

Namun, apa yang sebenarnya dijembatani oleh televisi bukan “realitas”. Memang, pernikahan Raffi-Nagita atau proses bersalin Ashanty benar terjadi. Namun peristiwa tersebut lebih tepat disebut dengan, dalam istilah Baudrillard, “simulasi”. Dengan kehadiran kamera televisi di sana, setiap orang yang hadir dalam pernikahan tersebut menyadari bahwa kehadirannya akan disaksikan khalayak yang lebih luas dari yang benar-benar hadir dalam tayangan tersebut.

Mungkin sulit untuk meragukan keharuan ibu Raffi Ahmad ketika memberikan pesan pernikahan pada anaknya, atau kebahagiaan Anang-Ashanty ketika anak keduanya lahir – kita tidak tahu persis apakah air mata yang mereka teteskan benar-benar tulus. Namun satu hal yang pasti, mereka tahu kamera sedang menyorot dirinya dan pengetahuan ini tentu membawa dampak psikologis dan mempengaruhi apa yang mereka lakukan. Kamera membuat mereka bukan sekadar menghadiri sebuah peristiwa, melainkan juga membuat sebuah pertunjukan.

Kamera pun menjadi mata kita dalam perhelatan itu. Mata yang berada di luar kuasa kita. Kita tidak menentukan apa yang ingin kita lihat – kameralah yang melakukan itu.

Pada tahap ini, kita tidak tahu pasti perilaku apa yang “natural” dan perilaku apa yang “difabrikasi” untuk ditayangkan televisi.  Dengan demikian, apa yang kita saksikan bukan lagi “representasi” realitas – bukan sekadar peristiwa yang direkam lalu disiarkan secara luas. Tindak merekam itu sendiri telah masuk dalam realitas dan mempengaruhi realitas. Simulasi ini bukan tiruan atau imitasi dari realitas, karena jika begitu ia mengandaikan ada “realitas sesungguhnya” yang dirujuk oleh tiruan atau imitasi tersebut. Dalam simulasi, realitas diselewengkan (perversed) melalui media dan diyakini sebagai realitas baru. Seorang pembohong tahu ia berbohong karena ada kebenaran yang ditutupi. Dalam simulasi, tidak ada yang berbohong, tidak ada yang berakting – simulasi diyakini sebagai realitas yang benar itu sendiri.

Realitas dalam simulasi ini, salah satunya, juga dibangun lewat jejeran pakar busana serta selebritas ternama yang mengomentari prosesi pernikahan Raffi-Nagita untuk memberi tahu betapa megahnya peristiwa tersebut, seperti tamu kondangan pada umumnya berkomentar tentang kedua mempelai. Kita pun menyaksikan pagelaran musik yang diisi oleh musisi-musisi tenar, sebagaimana acara pernikahan yang biasa kita datangi diiringi oleh orkes dangdut.

Kita bisa menemukan realitas serupa yang terjadi di televisi juga terjadi di sekeliling kita. Namun realitas yang mengemuka di televisi bisa menjadi lebih nyata ketimbang yang kita saksikan di sekeliling kita. Tidak jarang, misalnya, ketika memilih gaya rambut kita mengacu pada imaji yang muncul dalam iklan shampo atau bintang layar kaca. Televisi, yang tadinya dikira sebagai “imitasi” yang mengacu pada realitas, malah menjadi acuan kita sehari-hari.

Publik telah disimulasikan dalam tayangan privat di televisi. Dengan menjadikan pengalaman privat seorang selebritas menjadi pengalaman sosial para fans – yang diamplifikasi melalui media sosial – peristiwa tersebut tidak lagi menjadi hajat privat. Dengan demikian, ketika seseorang mengkritik tayangan yang menyiarkan hal privat dari selebritas, ia tidak dilihat sebagai publik. Pemahaman tentang “publik” itu sendiri sudah bercampur baur dengan definisi “fans”. Pernyataan bahwa, “Tayangan pernikahan Raffi-Gigi tidak relevan bagi publik,” dalam simulasi, tidak berbeda dengan pernyataan “Tayangan itu tidak relevan bagi fans”. Maka tanggapan “Publik yang mana?” mesti dibaca sebagai, “Fans-nya siapa?”

Baudrillard, dalam Ecstasy of Communication (1988), menyatakan bahwa, “Kita hidup dalam dunia yang semakin kaya informasi dan semakin miskin makna.” Kita perlahan tidak akan bisa lagi memilah mana informasi yang memang memiliki makna di ruang publik. Kita sebagai penonton televisi kehilangan kuasa untuk memproduksi makna. Makna yang kita miliki adalah makna yang telah disimulasikan oleh media.

Publik tidak lagi memproyeksikan informasi atau pendidikan yang benar-benar ia perlukan pada televisi. Sebaliknya, televisilah yang memproyeksikan nilai-nilai, gaya hidup, dan cara berpikir tertentu pada publik.

“Kita tidak menonton televisi,” sindir Baudrillard. “Televisilah yang menonton kita.” []


Daftar Pustaka

Baudrillard, Jean. 1988. The Ecstacy of Communication. Autonomedia

____________. 1981. Simulacra & Simulation. University of Michigan Press

Cooper, Simon. 2002. Technoculture & Critical Theory: In The Service of The Machine. Routledge

Glendhill, Christine. 1991. Stardom: Industry of Desire. Routledge

Bacaan Terkait
Perdana Putri

Lahir September 1994. Menyenangi dunia penelitian, khususnya kualitatif.

Yovantra Arief

Peneliti Remotivi. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk belajar memasak dan merawat tiga ekor marmut.

Populer
Perjuangan Situs Kebencian Mengemas Omong Kosong
“Politainment” Gubernur Baru Jakarta
Tak Ada Kepentingan Publik Dalam Pernikahan Kahiyang
Denny Setiawan: Internet Indonesia Lelet Karena Infrastruktur yang Belum Optimal
Begini Cerita Saya sebagai Wartawan Flora-Fauna