Sepanjang Juni-Juli 2016, penggemar sepakbola di Indonesia dimanjakan dengan dua turnamen antarnegara terbaik dunia secara bersamaan: Piala Eropa (Euro) dan Piala Amerika (Copa America). Puluhan pertandingan akan disiarkan secara langsung oleh dua stasiun televisi terrestrial (free to air). Televisi sekali lagi menjadi faktor yang tak terpisahkan dari hiruk-pikuk sepakbola.

Perkawinan sepakbola dengan media massa, terutama televisi, telah menghasilkan sebuah industri massa yang baru. Penayangan sepakbola di layar kaca telah menginisiasi pengarsipan sepakbola menjadi lebih lengkap, dan yang lebih jauh lagi, mengubah pengalaman menikmati sepakbola bagi khalayak umum (Goldblatt, 2008).

Salah satu bentuk nyata romantisnya relasi yang dijalin antara televisi dengan sepak bola adalah adanya hak siar. Dengan membayar hak siar kepada pengelola liga, stasiun televisi dapat menyiarkan dan mendistribusikan tayangan sebuah liga ke seluruh dunia dengan menjual lisensi tayang ke stasiun televisi lain di luar negeri. Namun, hak siar bukan semata-mata legalitas tentang penyiaran pertandingan secara langsung. Dengan memegang hak siar, stasiun televisi juga menjadi “penyelenggara pertandingan” itu sendiri. Stasiun televisi mampu menentukan kapan sebuah pertandingan harus dimainkan dengan pertimbangan prime time, juga apakah sebuah turnamen menggunakan sistem gugur, setengah gugur, termasuk juga dugaan pengaturan skor yang memungkinkan klub-klub tertentu bisa berhadapan di partai puncak yang menguntungkan bagi stasiun televisi. (Wardhana, 2001:14). Hal ini mungkin menjadi “penyebab” mengapa nilai hak siar suatu turnamen atau liga sepakbola bernilai sangat tinggi.

Bukan hanya itu, televisi juga melakukan beberapa modifikasi terhadap pertandingan sepakbola itu sendiri. Formulasi hiburan disisipkan pada tayangan pertandingan. Kehadiran pandit atau komentator sepakbola adalah salah satu cara televisi menyisipkan formula hiburannya. Seorang komentator pertandingan sepakbola umumnya dituntut untuk memiliki kemampuan bercerita yang baik (Potter, 2008: 333). Hal ini dapat dilihat sebagai usaha televisi untuk membuat sepakbola semakin menarik, tidak hanya sebagai tayangan, namun juga sebagai bahan diskusi.

Sports News Magazine sebagai Alternatif

Sistem jual-beli hak siar pertanding sepakbola memungkinkan monopoli siar sebuah stasiun televisi atas satu musim sebuah liga. Maka ketika televisi menyadari betul bahwa tayangan sepakbola adalah ceruk yang potensial karena dapat meningkatkan jumlah pemasukan dari sektor iklan, kehadiran sport news magazine adalah alternatif ketika hak siar tak dapat terbeli.

News magazine mempunyai corak konten yang mirip dengan konten jurnalistik televisi—program tersebut memberikan informasi tentang suatu hal kepada khalayaknya. Perbedaannya terdapat pada substansi informasi yang disiarkan. News magazine lebih menggunakan penyampaian informasi yang ringan dan menghibur, dengan pendekatan populer. 

Ada berbagai program televisi yang mengemas sepakbola dengan pendekatan genre news magazine di Indonesia. Salah satunya adalah “One Stop Football” (OSF) yang disiarkan Trans 7. Program ini tayang setiap hari Sabtu dan Minggu dengan durasi tayang sekitar 45 menit. Dibandingkan dengan tayangan news magazine olahraga yang lain, “OSF” cukup awet. Ia kini usia yang ke-13 tahun sejak pertama kali muncul pada 2003.  

Melalui tayangan news magazine seperti “OSF” ini pula, kita bisa lebih mendalami narasi televisi dalam membentuk realitas sepakbola. Narasi dalam televisi bisa dilihat dari bahasa penyampaian yang ditujukan pada khalayak, yaitu bahasa visual dan aural (Bignell, 2004: 89). Bahasa visual televisi adalah apa yang televisi tayangkan kepada khalayaknya melalui pilihan gambar dan grafis yang kita lihat di layar kaca. Sedangkan bahasa aural televisi adalah hal-hal yang televisi sampaikan kepada kita melalui percakapan, suara latar, hingga musik yang kita dengar dari sebuah siaran televisi.

“OSF” episode 28 November 2015 menghadirkan sebuah segmen dengan tajuk Midweek Drama UCL. Pilihan terminologi “drama” ini menarik. Drama adalah salah satu bentuk seni pertunjukkan. Secara harafiah, penyematan ini dapat dibaca sebagai usaha “OSF” untuk menyampaikan pesan bahwa dalam pertandingan sepakbola selalu bermuatan unsur drama dan penuh dengan momen emosional, sehingga hal tersebut perlu ditayangkan kembali dalam bentuk review atau highlights pertandingan.

Dalam segmen tersebut, proses gol yang terjadi ditayangkan dengan mengambil gambar dari beberapa sudut pandang kamera. Replay dari terciptanya gol itu sendiri, beserta selebrasi yang dilakukan oleh pemain maupun suporter, dihadirkan untuk menunjukkan euphoria dan keriaan dari permainan. Replay atau pengulangan gambar dari beberapa sudut dihadirkan untuk semakin memperkuat unsur dramatis. Efek grafis pun ditaburkan sebagai “bumbu” untuk menegaskan sisi menghibur. Hal ini sekaligus untuk menekankan tentang kemenangan dan aksi heroik sebagai sebuah substansi yang penting dalam sepakbola (Coakley, 2004: 426).

Heroisme dan Individualisme OSF

Dalam “OSF”, nilai heroisme dihadirkan dalam segmen Goalie of The Week yang menampilkan 5 aksi penyelamatan yang dilakukan oleh penjaga gawang dari berbagai liga sepakbola dunia. Lewat segmen ini, wacana heroisme melalui penekanan unsur dramatis dan heroik dari aksi yang dilakukan para penjaga gawang, baik melalui teknik slow motion atau pun stop motion pada gambar penyelamatan yang dipilih. Musik orchestra dijadikan sebagai musik latar untuk memperkuat tensi ketegangan dan nuansa heroisme tersebut.

Selain heroisme, dimunculkan juga wacana individualisme yang berkaitan dengan usaha serta pencapaian individu pemain sepakbola. Individualisme ditekankan melalui penokohan yang diterapkan oleh televisi untuk mengidentikkan sebuah klub atau tim sepakbola kepada seorang atlet saja. Sehingga seakan-akan, atlet tersebutlah yang “bertanggung jawab” atas berhasil atau gagalnya capaian sebuah klub (Coackley, 2004: 435).

“OSF’ juga membangun cara pandang tersebut. Salah satunya melalui segmen bertajuk Star’s Alexis Sanchez, yang tayang 28 November 2015. Tayangan tersebut berisi tentang ulasan biografi serta sejarah karir Alexis Sanchez. Selain itu, pada segmen Player of The Month 27 Feburari 2016, “OSF” menceritakan pencapaian pemain-pemain dari beberapa klub yang mempunyai penampilan terbaik berdasarkan jumlah gol yang dilesakkan serta assist yang ditorehkan. Bila pemain tersebut berposisi sebagai penjaga gawang, kriteria terbaik ditinjau dari berapa pertandingan ia dapat menjaga gawangnya dari kebobolan gol.

Narasi tersebut dapat dibaca sebagai upaya untuk menekankan nilai pencapaian individual di atas nilai kolektivitas. Narasi di atas seolah-olah menunjukkan ketergantungan sebuah tim kepada salah seorang pemainnya dan seorang pemain tersebut mempunyai tanggung jawab atas kelangsungan sebuah tim. Ini merupakan hal yang paradoksal, mengingat olahraga sepakbola adalah olahraga tim yang bertumpu pada kolaborasi kolektif, bukan hanya seorang pemain.

Pada akhirnya, sepakbola dalam bingkai televisi bisa dirangkum dalam satu kata: hiburan. Di setiap materi tayangan “OSF”, sepakbola tidak lagi menjadi sebuah permainan belaka. Ia menjelma hiburan yang butuh didramatisasi untuk memainkan emosi publik. []


Daftar Pustaka

Coackley, Jay. (2004). Sports in Society. New York: McGraw Hill

Bignell, J. (2004). An Introduction to Television Studies. New York : Routledge.

Fiske, J. (1987). Television Culture. New York : Routledge.

Fulton, H. & Huisman, R. (2005). Narrative and Media. New York: Cambridge University Press

Goldblatt, D. (2008). The Ball is Round. New York: Riverhead Books.

Potter, W.J. (2008). Media Literacy. New York: Sage Publications

Wardhana, Veven Sp. (2001). Televisi dan Prasangka Budaya Massa. Jakarta: ISAI.