06/04/2016
Radio dan Krisis Pangan di Sumba Timur
Sejak 2014 lalu, Sumba Timur didera krisis pangan akibat El Nino. Radio jadi wahana komunikasi warga untuk bertahan dalam kondisi ini.
06/04/2016
Radio dan Krisis Pangan di Sumba Timur
Sejak 2014 lalu, Sumba Timur didera krisis pangan akibat El Nino. Radio jadi wahana komunikasi warga untuk bertahan dalam kondisi ini.

Sumba Timur adalah sebuah kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang terdiri dari 22 kecamatan dengan penduduk sekitar 250 ribu jiwa. Wilayah ini memiliki kontur geografi yang berbukit dan konsentrasi penduduk yang tidak merata. Koran nasional dan regional baru tiba tiap tiga hari sekali. Untuk menonton televisi pun perlu perjuangan. Warga mesti memasang parabola untuk bisa menerima siaran. Dengan demikian, hanya orang yang cukup berada yang bisa menonton televisi. Aliran listrik pun belum memasuki semua wilayah. Dalam kondisi macam ini, radio jadi pilihan medium komunikasi antar warga yang utama. Bagi kecamatan yang belum dialiri listrik, mereka bisa mendengar radio lewat telepon seluler atau radio yang menggunakan baterai.

Saat ini, terdapat 4 stasion FM yang mengudara di Sumba Timur. Salah satunya, Max FM Waingapu yang mengudara di 96.9 FM, adalah stasion radio yang turut saya kelola. Stasion ini mengudara selama 19 jam tiap harinya, dari pukul lima pagi hingga dua belas dini hari, dan dikelola oleh 7 orang. Belakangan, kami juga mulai merambah media daring Max FM Waingapu yang cukup digemari oleh kalangan muda serta warga Sumba Timur yang merantau ke daerah luar. Situsweb ini, selain menghadirkan artikel berita dan opini, juga mulai merambah medium audio/audio-visual.

Sedari pendirian pada 2003, Max FM memang dirancang sebagai ruang informasi dan diskusi warga. Hal ini dijalankan melalui dua program harian yang telah mengudara sejak kelahiran radio ini, “Warga Bicara” (08.00-11.00) dan “Nuansa Malam” (20.00-24.00). Dua program ini menyediakan dialog interaktif dan talkshow berbagai tema, dari pendidikan, kesehatan, hingga politik.  Perbincangannya menghadirkan berbagai macam narasumber, dari tokoh politik hingga warga Sumba yang bekerja atau belajar di luar negeri. Kedua program tersebut pun menghadirkan laporan jurnalistik, baik berupa laporan wartawan kami, atau jurnalisme warga.

Pertukaran informasi ini umumnya seputar aktivitas sehari-hari warga. Baru-baru ini misalnya, sedang marak masalah pencurian ternak. Para pencuri tidak lagi memuat ternak di truk seperti umumnya, tetapi menggunakan mobil mini bus, seperti jenis Innova, Avanza atau APV. Pencuri ini rupanya juga bekerjasama dengan oknum-oknum pemerintahan agar hewan-hewan curian ini terlihat sah, meski hasil curian.

Sejak September 2014 lalu, warga Sumba Timur didera kekeringan panjang akibat El Nino. Berbagai masalah akibat kondisi ini dilaporkan oleh warga acara “Warga Bicara” yang diudarakan tiap hari 08.00-11.00 WITA. Salah satu pendengar radio Max FM Waingapu Dodi Wohangara dari Kalu, Kelurahan Prailiu, Kecamatam Kambera, lewat telpon mengudara mengatakan, “Waii sedih sekali, sumur pada kering semua ni, jagung pada layu semua. Ini tidak ada harapan, mau siram sayur juga tidak bisa. […] Ini sudah mau sebar bibit tapi karena masalah air akhirnya kendala sudah tidak bisa tanam sayur.”

Selain pendengar radio memberikan kabar tentang situasi kekeringan panjang, saya juga turun ke desa untuk mencari tahu dari dekat situasi ini. Dalam kujungan ke Desa Kalamba Kecamatan Haharu Sumba Timur, saya bertemu Ibu Karanja Atajawa yang mengatakan bahwa panen tidak memenuhi harapan.

“Macam saya ini, hanya tidak sampai juga 5 ikat kalau dia isi (jagung). […] Kan dia tidak hujan waktu kita tanam. Tumbuh tidak baik. Kita tanam ulang lagi, tidak tumbuh juga. Habis sudah bibit. Mau apa lagi.”

Menipisnya stok pangan akibat gagal panen ini juga terjadi di wilayah lain yang saya datangi dengan beberapa wartawan pada 2014. Kondisi ini cukup parah. Di beberapa daerah, bahkan tidak ada persediaan bahan makan sampai di musim panen berikut. Untuk bertahan hidup, warga setempat masuk hutan untuk mengambil iwi dan mengolahnya untuk dimakan. Iwi adalah jenis umbi-umbian yang mengandung sianida dalam konsentrasi tinggi. Selain beracun, untuk mendapatkan iwi pun butuh perjuangan. Warga harus masuk hutan dengan medan yang berat dan dalam waktu perjalanan sekitar dua jam pergi pulang. Perjalanan pergi ibarat menurun tajam seperti ke neraka, dan pulangnya mendaki seperti naik ke surga.

Karena berita ini tersebar cepat melalui sejumlah media massa, beragam tanggapan pun datang, beberapa di antaranya dari pejabat publik. Tempo.co memuat pernyataan Gubernur NTT Frans Lebu Raya yang membantah warga makan iwi karena kelaparan. Menurutnya, iwi merupakan salah satu pangan lokal yang sering dimanfaatkan warga saat musim kemarau seperti saat ini. "Ubi iwi merupakan pangan lokal," ucapnya. Palulu P. Ndima, ketua DPRD NTT, juga memberi pernyataan bernada serupa pada waingapu. Menurutnya, konsumsi iwi memang merupakan tradisi yang diwariskan leluhur, namun luntur karena program penyeragaman pangan oleh Orde Baru. Program ini membuat orang beranggapan bahwa, jika belum makan nasi, artinya belum makan. Ia menjelaskan bahwa konsumsi iwi tidak berkorelasi langsung dengan kelaparan ataupun gizi kurang dan gizi buruk yang terjadi.

Namun, pernyataan-pernyataan ini keliru. Apabila tidak kekurangan pangan, warga tidak akan masuk hutan untuk mencari iwi. Selain harus berjalan cukup jauh untuk mendapatkan iwi, proses pengolahannya pun membutuhkan waktu paling tidak satu minggu. Proses yang panjang ini dibutuhkan untuk menghilangkan kandungan sianida. Proses ini, sekalipun dilakukan dengan benar, tidak bisa menghilangkan racun sepenuhnya. Masih ada sisa sianida dalam iwi yang telah diproses. Dengan demikian, kalau warga memakan iwi berhari-hari, apalagi bila yang makan ibu hamil, bayi, dan balita, dampaknya bagi kesehatan warga tentu bukan main-main.

Penyangkalan-penyangkalan ini terjadi menjelang satu atau dua tahun sebelum Pilkada. Memang masuk akal. Kabar semacam ini, apabila muncul menjelang Pilkada Gubernur atau Bupati, tentu akan mengganggu petahana. Yang terjadi pun bukan sekadar penyangkalan sejumlah pejabat daerah. Rekan wartawan yang meliput bersama saya 2014 lalu pernah bertutur bahwa salah satu narasumber beritanya dipanggil birokrasi pemerintah. Sang narasumber adalah warga yang kami wawancara terkait bencana kelaparan dan aktivitas mencari iwi di hutan. Oleh aparat, narasumber kami diminta menandatangani pernyatan membatalkan pernyataan tersebut, yang kemudian dimuat di salah satu koran regional.

Sebenarnya, hubungan Max FM dengan Pemda—bahkan juga DPRD—baik-baik saja. Pejabat publik sering menjadi narasumber berita dan talkshow kami. Memang, satu kali salah satu pejabat teras Pemda Sumba Timur sempat mengungkit siaran kami dalam sebuah perbincangan personal. Ia membicarakan tentang komentar salah seorang pendengar Max FM yang kami udarakan, yang menyatakan untuk mengganti Kepala Desa karena tidak beres mengatur raskin (beras untuk rakyat miskin). Saya pun menyahut, “Begtu sudah warga Bapak. Daripada mereka turun ke jalan dan demo, kan lebih baik mereka sampaikan di radio. sekarang tinggal Bapak jawab dong.”

Dampak El Nino masih terasa di Sumba Timur hari ini. Musim yang bergeser, dengan kekeringan panjang dan sedikitnya curah hujan, masih membelit kondisi pangan warga. Untuk keluar dari bencana ini, diperlukan kerjasama antar berbagai pihak dalam masyarakat. Pemerintah pun sudah siapkan bantuan beras. Kadang ada juga pemberian pompa air unuk warga di daerah aliran sungai. Max FM masih berupaya menjadi salah satu tempat berbagi informasi tentang situasi kekeringan yang hampir merata ini. Kami juga membuat program “Ayo Bertani”, yang mengudara dua jam tiap minggunya, tentang penganjuran tani organik/selaras alam. Dalam program ini, kami berupaya mengajak warga untuk memanfaatkan potensi lokalnya dalam menghasilkan panen yang baik. []

Bacaan Terkait
Heinrich D. Dengi

Jurnalis dan pengiat radio. Direktur Max FM Waingapu yang ia dirikan pada 2003. Juga menjadi kontributor berita untuk Portal KBR dan KBR 68H.  

Populer
Habis Iklan Meikarta, Gelaplah Berita
Ketika Rosi Izinkan Gatot Nurmantyo Menyebar Disinformasi
Kebohongan Dwi Hartanto, Kebohongan Media?
Peluit Anjing Anies Baswedan
Persoalan Kesenjangan Digital di Indonesia