Ilustrasi oleh Ellena Ekarahendy
Ilustrasi oleh Ellena Ekarahendy
12/06/2015
Kekerasan di Balik Pintu Taubat
Sebuah ulasan atas diskriminasi dan domestikasi perempuan dalam tayangan "Sinema Pintu Taubat" di Indosiar.
12/06/2015
Kekerasan di Balik Pintu Taubat
Sebuah ulasan atas diskriminasi dan domestikasi perempuan dalam tayangan "Sinema Pintu Taubat" di Indosiar.

Wajah perempuan di televisi merupakan masalah yang tidak pernah habis dibahas. Perempuan masih menjadi kelompok yang dipinggirkan dan ditempeli sejumlah stereotipe gender. Jarang sekali tayangan televisi menggambarkan perempuan di luar stereotipe itu, atau setidaknya, memberi gambaran tentang ketidakadilan yang dialami oleh perempuan.

Sinema Pintu Taubat (selanjutnya SPT) sekilas menampakkan pendekatan yang berbeda. Tayangan ini adalah antologi Film Televisi (FTV) yang tiap episodenya mengisahkan cerita mandiri yang berbeda dan tidak saling bertautan satu sama lain, kecuali bahwa keseluruhannya berkisah tentang pertaubatan. Sekilas, tayangan yang siar di Indosiar tiap hari pukul 12 siang ini mengangkat narasi perempuan sebagai korban, utamanya dalam bentuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan menempatkan perempuan-korban sebagai subjek—meskipun narasinya sangat karikatural dan bombastis. Sekilas—lagi-lagi—kita akan merasa bahwa narasi ini adalah kritik atas kekerasan terhadap perempuan.

Kekerasan yang diangkat SPT umumnya dilakukan oleh suami si tokoh perempuan. Meski demikian, dalam beberapa episode, ada juga kisah perempuan yang menindas perempuan, sehingga menunjukkan bahwa diskriminasi terhadap perempuan tidak hanya menjangkiti laki-laki tapi juga perempuan sendiri.

Episode “Mencari Menantu Sebagai Pembantu” menampilkan pola demikian. Episode ini mengisahkan tokoh Mama dan Fadlan, sepasang ibu dan anak, yang kebingungan mencari pembantu untuk mengurusi rumah mereka. Mama, tampilan perempuan yang “jahatnya tidak masuk akal” mengusulkan ide brilian agar Fadlan mencari istri untuk dijadikan pembantu rumah tangga. Sebab, dalih Mama, “zaman sekarang susah cari pembantu”. Sekali tepuk dua lalat: ada menantu, ada pembantu. Toh, apa guna menantu kalau tidak bisakerja (domestik)? Sebagian besar narasi episode ini pun berkisar dalam bentuk-bentuk penganiayaan terhadap Aisyah, sang menantu sekaligus pembantu.

Episode “Suamiku Musuhku” menampilkan kontrol terhadap perempuan secara lebih ekstrim lagi. Narasi “Suamiku Musuhku” menceritakan tentang seorang istri, Mila, yang selalu mendapat perlakuan kasar dari suaminya, Hardi. Kekerasan bahkan sudah dimulai sejak lima menit pertama tayangan dimulai. Dengan Hardi yang menghardik Mila di pasar dan menuduh Mila bergenit-genit ria kepada seorang pedagang. Hardi lantas menarik Mila sehingga Mila terjatuh di pasar, lalu berteriak-teriak kepada orang di pasar agar jangan membantu Mila. Yang terjadi pada Mila adalah kontrol terhadap tubuhnya. Segala gerak-gerik Mila ditentukan oleh Hardi, mulai dari ia berjalan sampai ketika ia terjatuh.

Dengan berbagai rangkaian adegan yang dramatis, sulit bagi audiens untuk tidak terkaget-kaget dan marah kepada sosok “patriarki”, baik dalam bentuk laki-laki maupun perempuan, yang ditampilkan SPT. Tayangan ini tampak seperti tengah melakukan kritik terhadap asumsi-asumsi diskriminatif; bahwa perempuan adalah makhluk domestik, bahwa ia tidak memiliki suaranya sendiri.

Namun, apabila kita cermati, “semacam kritik” yang dilancarkan oleh SPT justru merupakan bentuk lain dari penguatan stereotipe gender yang diskriminatif. Ketidaksetaraan relasi gender yang terjadi antara perempuan dan laki-laki hanya dihadirkan di dalam ruang domestik. Problem diskriminasi gender di luar ruang domestik—di tempat kerja atau di ranah publik lainnya—tidak disoroti. Tambah lagi, dalam runut narasinya, persoalan pun berakhir tanpa menggugat relasi gender dalam ruang tersebut. Tidak ada pembacaan yang lebih bernas terhadap konsep domestik yang juga bermasalah ketika disematkan kepada perempuan. Artinya, ketimpangan relasi gender antara laki-laki dan perempuan menjadi persoalan pribadi masing-masing semata, dan bukan sebagai produk sebuah struktur yang menindas sebagian masyarakatnya.

Perempuan Jahat, Perempuan Baik

Salah satu stereotipe perempuan yang paling kentara dalam SPT adalah tentang betapa mudahnya perempuan ditipu oleh hal-hal yang permukaan. Dalam episode “Mencari Menantu Sekaligus Pembantu”, tanpa banyak penjelasan Aisyah dengan mudahnya jatuh hati pada Fadlan. Hal serupa juga terjadi dalam episode “Suamiku Musuhku”. Mila kepincut pada Hardi dalam pandangan pertama. Alasan keduanya jatuh hati pun dijelaskan dengan singkat dan “sekenanya”: kedua tokoh laki-laki tersebut tampak rupawan, saleh, danmapan.

Kedua episode tersebut pun punya twist yang sama: ternyata, kesalehan kedua lelaki itu hanya kedok. Fadlan hanya memperistri Aisyah supaya mendapat istri sekaligus pembantu yang bisa disuruh-suruh tanpa dibayar. Sementara Hardi—tidak terlalu jelas apa motif dari Hardi sesungguhnya. Ia jahat. Sudah. Tak perlu penjelasan lagi. Barangkali penulis naskah ingin menggambarkan Hardi sebagai psikopat. Ia tampak tidak punya alasan untuk menikahi Mila kecuali untuk menyiksa perempuan itu.

Namun stereotipe “mudah tertipu oleh hal-hal permukaan” ini tidak berlaku pada semua perempuan—stereotipe ini hanya berlaku pada jenis “perempuan kampung”. Lihat saja mantan kekasih Fadlan, perempuan metropolitan yang mandiri dan sibuk mengejar karir, yang dengan mudah menolak menjadi istri Fadlan karena ia tidak mau dijadikan perempuan domestik. Ia dengan mudah berujar, “ngurus ibuku sendiri saja malas, apalagi ibu kamu!”

Citra polos, lugu, dan beriman dari jenis “perempuan kampung” ini tampil dalam kontrasnya dengan jenis “perempuan kota” yang dicitrakan sebagai keji dan materialistis. Kekejian ini tampak jelas dalam tokoh Mama, sementara materialistis ini tampak dalam tokoh mantan kekasih Fadlan yang, menurut Mama, “lebih mementingkan karier ketimbang keluarga.”

Dalam oposisi “kampung-kota” inilah misi pedagogis pertama SPT dijalankan. Dalam narasiSPT, perempuan kota yang materialis, yang mengejar karier, yang tidak mau diperlakukan seperti pembantu, ditempatkan sebagai tokoh antagonis berwatak jahat. Sementara itu, perempuan desa yang polos dan lugu, yang tetap setia pada suami sekeji apa pun ia diperlakukan, dipasang sebagai tokoh protagonis berwatak baik.  Relasinya pun dominatif. Mama, si perempuan kota, terus-terusan menindas Aisyah, sang perempuan kampung.

Pengalaman Aisyah dan Mila ini memancing dua emosi secara bersamaan. Pertama, kebencian terhadap tokoh-tokoh antagonis beserta hal-hal yang mereka representasikan: materialisme orang kota serta kemandirian yang menjurus pada kedurhakaan. Kedua, ketakjuban pada kesalehan tokoh-tokoh protagonis yang masih bisa bersabar dan menahan diri di tengah cobaan itu. Meskipun tokoh utama terus ditindas, kita sebagai penonton terus berharap kalau ia tetap suci, tetap tabah dalam penindasannya. Dalam episode “Mencari Menantu sebagai Pembantu” terutama, penonton perempuan  disodori pada contoh moral yang gamblang dan banal. Kita tak mungkin keliru menunjuk mana yang jahat dan mana yang baik.

Dari dua model perempuan itu, SPT perempuan cuma punya satu teladan: korban yang secara sadar tidak mau melawan, karena kesabaran adalah sekuat-kuatnya iman.

Antara Kekerasan dalam Rumah Tangga dan Keutamaan Moral

KDRT merupakan tema utama yang digarap oleh SPT dengan cara yang membosankan. Episode “Mencari Menantu sebagai Pembantu” memiliki formula sama yang terus diulang-ulang. Bumbu ceritanya bagai pinang dibelah dua, sama persis—bahkan dalam persoalan nilai. Simak saja episode lain seperti “Aku Dibuang Suamiku Seperti Tisu Bekas”atau “Aku Dianiaya Keluarga Suamiku”.

Memang, kasus-kasus riil KDRT tampak mirip dan memiliki pola yang berulang. Dalam beberapa kasus, korban (sebagian besar adalah perempuan) takut melapor karena kecemasannya akan kehilangan sosok “suami”, “ayah bagi para anak, sekaligus “pasangan hidup” yang telah mendampingi mereka dalam waktu yang lama, atau ketika hubungan mereka sudah termaknai dengan dalam. Artinya, diamnya perempuan terhadap kekerasan yang dilakukan pasangannya kurang lebih karena ada sesuatu yang dipertaruhkan dalam hubungan tersebut.

Namun, pertaruhan ini tidak tampak—atau mungkin disembunyikan oleh SPT. Alih-alih ketakutan dan perasaan tidak aman yang membuat perempuan tetap bertahan dalam hubungan yang dipenuhi kekerasan, SPT justru memberi alasan yang sama sekali berbeda:kesetiaan. Aisyah dan Milla tetap sabar dan setia—ia hanya mengeluh pada Tuhan dalam doa-doanya yang sama sekali tidak lirih dan penuh tangis. Tentu kita bisa bilang bahwa keduanya sangat mencintai suami mereka. Bisa saja. Tapi mana mungkin? Kita tahu bahwa kedua perempuan tertindas itu jatuh hati pada kedok kedua suami beringas mereka; kesalehan yang menawan lagi menipu. Namun, setelah mereka menikah, teramat gamblang ditunjukkan bahwa kesalehan itu sekadar kedok.

Di sini, terdapat dua kemungkinan. Pertama, bahwa kedua perempuan itu terlalu mencintai sang “kedok” dan berharap, dengan kesabaran dan kesetiaan, “kedok” yang saleh menggantikan wajah asli kedua suaminya yang beringas itu. Dalam kata lain, kedua perempuan itu berharap kesetiaan dan ketabahan mereka berhasil mengubah hati lelaki yang menyiksa mereka. Kemungkinan kedua, terdapat struktur yang melandasi pola pikir keduanya, yang menandaskan bahwa perempuan—istri—adalah milik laki-laki mereka, suami mereka.  Sebagaimana benda kepemilikan, mereka tidak punya hak untuk menolak atau melawan ketika diperlakukan secara tidak manusiawi. Kita melihat dua makna yang berbeda dari kesetiaan kedua perempuan itu: yang pertama adalah harapan, yang kedua adalah keputusasaan.

Namun, kedua pilihan itu tidak saling membatalkan. Keduanya bisa benar secara bersamaan lewat keajaiban. Di sinilah misi pedagogik kedua SPT dijalankan. Dalam peleraian ala SPT,  kedua makna kesetiaan yang sekilas saling berlawanan itu malah jadi saling menguatkan. Bahwa istri yang setia, yang tabah dan taat menjadi benda kepemilikan suaminya, akan dengan satu atau lain keajaiban melunakkan hati sang suami dan membuatnya jadi lembut serta penyayang. Layaknya manusia yang tidak bersayap, apabila ia sering meloncat dari dataran tinggi ke dataran rendah, ia akan bisa terbang.

Ketabahan Aisyah dalam menghadapi penderitaan dibalas oleh tangan ghaib Tuhan yang memiskinkan Fadlan dan Mama. Mama yang sakit-sakitan akhirnya kena karma menjadi PRT yang bekerja untuk ibu-ibu yang sama kasarnya dengan Mama dulu. Ia terpaksa mencuri makanan warteg untuk bertahan hidup. Fadlan yang butuh uang harus masuk penjara karena ikut-ikutan gembong curanmor lalu tertangkap tangan. Puncak adzab adalah Mama meninggal di tengah jalan sepulang dipecat oleh majikannya. Akhirnya, penonton bisa mengelus dada dengan lega: perempuan jahat itu mendapatkan balasan yang setimpal.

Sampai di situ? Tentu tidak.

Fadlan akhirnya keluar dari penjara dan bertaubat. Kemana ia pergi? Memulai hari baru? Tidak. Ia kembali kepada Aisyah, lalu mendapati pintu taubatnya dari kebesaran hati Aisyah yang memaafkan seluruh perlakuan Fadlan kepada dirinya dulu. Kesetiaan Aisyah akhirnya berbuah manis. Kasus serupa juga tejadi di episode “Suamiku Musuhku”. Mila, si istri yang kerap diperlakukan tidak manusiawi oleh suaminya, Hardi memutuskan memaafkan suaminya ketika Hardi kecelakaan dan terbujur lemas di atas bangsal rumah sakit. Secara dramatis, Mila merobek surat cerai yang telah dilayangkan Hardi karena suaminya tersebut akhirnya, setelah patah tulang, menyadari bahwa perlakuannya kepada Mila selama ini “tidak pantas dan sangat jahat”.

Dengan demikian, SPT berusaha “mendakwahkan” perilaku-perilaku tertentu dalam menghadapi masalah kekerasan dalam rumah tangga. Tidak usah memperpanjang masalah ketika seseorang dianiaya: cukup pasrahkan diri kepada Tuhan, doakan yang jahat agar kembali ke jalan-Nya, lalu tegak tersenyum. Inilah etika korban yang baik, sebab ia tidak memperpanjang dan memperumit masalah.

Pada akhirnya secara tidak langsung SPT mempromosikan KDRT kepada audiensnya dengan menormalisasikan kekerasan tersebut lewat resolusi “taubat” sang pelaku dan “maaf” dari si perempuan yang disakiti. Tentu masalahnya bukan pada “taubat” atau “maaf” itu sendiri—manusia mungkin berubah lewat pertaubatan dan memaafkan kesalahan orang bukan tindakan yang keliru. Namun, menyandarkan dua kata kerja tersebut pada tindakan berserah diri dan bersetia—tindakan yang tidak melibatkan kerja mengubah kondisi eksternal secara aktif—adalah kesalahan fatal. Dengan mendakwahkan kepasrahan dan kesetiaan sebagai jalan keluar dari KDRT, SPT telah menormalkan KDRT itu sendiri. Masalahnya bukan pada laki-laki, melainkan pada apakah perempuan mau berserah diri dan tegar menghadapinya.

Adalah benar KDRT bisa terjadi pada siapa saja, dan KDRT bukan barang baru di negara ini. Namun, bagaimana SPT menampilkan persoalan tersebut tidak membuat isu ini semakin signifikan, ia hanya menjadi hal-hal normal yang bisa diselesaikan dari dalam si perempuan dan laki-lakinya sendiri. Tidak perlu repot-repot kita panggil institusi hukum, toh perempuan kan milik laki-lakinya. Kekerasan terjadi pada istrinya, oleh si suaminya. Perempuan itu maha pemaaf juga. KDRT itu kan cuma masalah sepele. []

Bacaan Terkait
Perdana Putri

Menerima beasiswa Arryman Predoctoral Fellowship 2017 dari Indonesia Social Research and Scholarship Foundation (ISRSF). Terafiliasi dengan Departemen Sosiologi and Equal Development and Global Studies di Northwestern University, Illinois, Amerika Serikat. Minat risetnya adalah studi agraria, politik tanah, dan kolonialisme-pascakolonialisme.

Populer
Insiden Media di Tolikara
Kompas dan Front Pembela Islam
Koran Pertama Berbahasa Jawa
Pekerja Media Seluruh Indonesia, Bersatulah!
Setelah Kegagalan Bertubi-tubi, Apa Yang Mesti Dilakukan KPI?