Ilustrasi oleh Diniella Putirani
Ilustrasi oleh Diniella Putirani
07/03/2016
Gagasan yang Maya: Produksi Wacana dalam Media Daring
Teknologi internet memungkinkan berkembangnya berbagai situs daring wacana alternatif. Perkembangan yang tampaknya positif ini pun perlu kita lihat secara kritis.
07/03/2016
Gagasan yang Maya: Produksi Wacana dalam Media Daring
Teknologi internet memungkinkan berkembangnya berbagai situs daring wacana alternatif. Perkembangan yang tampaknya positif ini pun perlu kita lihat secara kritis.

Sekitar empat tahun yang lalu, penulis mengikuti sebuah lokakarya mengenai riset dan media. Sebagian besar peserta merupakan pegiat masyarakat sipil yang diminta untuk merefleksikan pendapat mereka tentang peran media dalam kerja-kerja yang telah dilakukan. Dalam forum tersebut, kami diminta untuk mengingat kembali fungsi media sebagai perantara ranah privat dan publik, untuk menemukan kemungkinan (atau ketidakmungkinan) terciptanya ruang  hidup bersama. Namun, ada satu pertanyaan peserta yang sampai sekarang melekat di benak: Apa jadinya jika tiap kelompok sosial di Indonesia (berdasarkan agama, suku, profesi, dll) memiliki medianya sendiri? Apakah tujuan media di atas bisa tercapai?

Pertanyaan ini senantiasa mencuat ketika melihat banyaknya situs wacana yang bermunculan. Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa portal berhasil menjadi rujukan diskusi dan sumber perdebatan, atau kerennya, menjadi “produsen wacana alternatif”. Mereka telah meramaikan wacana di dunia maya yang terkadang berlanjut menjadi diskusi di ranah luring (luar jaringan, offline). Kehadiran mereka menyulut diskusi, mempertemukan berbagai penulis tua dan muda, menciptakan polemik yang tidak mungkin pernah diangkat oleh media arus utama sekaligus memberi wadah—alias panggung—untuk penulis dan intelektual paruh waktu. Untuk memudahkan pemahaman mengenai obyek tulisan ini, beberapa situs wacana yang penulis jadikan contoh adalah Jakartabeat, Midjournal, Indoprogress, Selasar, dan Mojok. Beberapa situs wacana tersebut bisa kita kelompokkan untuk memperolah gambaran yang lebih terstruktur, meski berpotensi menjadi sebuah penyederhanaan:

“Organik” 
Startup
Jakartabeat, Indoprogress, Mojok 
Selasar, Midjournal

 

Beberapa situs wacana tersebut masih bertahan dan sibuk mengejar traffic. Sebagai perbandingan sederhana, berikut adalah peringkat lima situs wacana di Indonesia (Alexa, per 7 Maret 2016) yang menjadi dasar tulisan ini:

Nama situs
Peringkat
Indoprogress
3.863
Jakartabeat
tidak ada
Mojok
997
Midjournal
40.424
Selasar
2.197

 

 

Urutan berdasarkan abjad. Sebagai perbandingan, Kompasiana menempati peringkat 32.

Pertanyaan utama dari tulisan ini adalah: apakah keberadaan situs wacana ini sudah mampu menjadi ruang antara ranah privat dan publik? Atau jangan-jangan, mereka hanya menjadi teras pribadi di ruang publik bernama internet? 

Bagi penulis, keberadaan berbagai situs wacana tersebut memang menarik, sampai kemudian kesan awal tersebut berubah menjadi sebuah kenormalan: tulisan bisa diprediksi arahnya, komentar (bahkan) bisa direkayasa, dan nama penulis sudah bisa ditebak. Apalagi tatkala kita mengetahui bagaimana masing-masing situs mengelola kontennya untuk dapat mempengaruhi opini publik, yang sangat berimbas pada cara berpikir netizen. Di era ini, kecepatan kita memperoleh informasi baru hampir sebanding dengan kecepatan kita melupakan peristiwa tersebut, yang tidak pernah dialami oleh  memori kolektif kita di era terdahulu. Memang, kehadiran internet sebagai perluasan ruang publik adalah hal yang patut disyukuri, dengan berbagai catatan subyektif berdasarkan pengalaman pribadi penulis.


Catatan pertama yang hendak disampaikan di sini adalah masalah longevity. Hal ini berbeda dengan sustainability, karena tidak perlu diragukan lagi, Internet akan terus ada. Masalahnya bukan pada keberlanjutan atau akses, karena tulisan ini tidak menyorot perihal ekonomi politik internet, melainkan seberapa besar pengaruh tulis-menulis di Internet berdampak pada internalisasi gagasan di benak para pembaca. Apakah debat antara Martin Suryajaya dengan Goenawan Moehammad yang ramai diikuti via Indoprogress akan lebih bertahan daripada, katakanlah, Catatan Pinggiran Goenawan sendiri, yang sudah dibukukan dan berpengaruh terhadap proses pembentukan budaya sastra di Indonesia (penulis tidak bermaksud membahas pro-kontra karya Goenawan, melainkan fakta bahwa karya tersebut ada). Dengan kata lain, apakah umur perdebatan yang dimediasi Internet tersebut akan lebih panjang daripada karya Goenawan sendiri di era pra-internet?

Argumen utama yang diketengahkan di sini adalah bahwa umur gagasan menjadi pendek. Gagasan tersebut sulit bertahan bukan lantaran minim kualitas atau hampa, melainkan atensi pembaca yang cepat sekali berpindah pada gagasan lain.

Nasib situs wacana kemudian banyak bergantung pada kecepatan perpindahan gagasan tersebut. Maka, tidak heran jika situs yang beberapa tahun lalu menjadi lapak yang asyik untuk berdiskusi sekarang tinggal menyisakan remah-remahnya saja (baca: Jakartabeat). Kue gagasan itu sekarang diperebutkan oleh semakin banyak situs wacana. Ada yang didukung “pemodal”, ada yang didukung peer-group, dan ada yang didukung resep mujarab abadi: rasa sakit hati individual (baca: Tikusmerah).

Catatan kedua menyoal fragmentasi gagasan. Memang, kini pilihan tempat menulis sangat beragam. Pada saat yang sama, divergensi ini bisa jadi juga berarti fragmentasi. Kehadiran berbagai media berpengaruh di ranah daring (dalam jaringan, online) menambah ragam sumber informasi, tetapi belum tentu menjadi landasan seseorang untuk mengambil keputusan. Meski media cetak mengalami penurunan produksi, pengaruh mereka belum bisa dikatakan pudar. Orang bisa berargumen bahwa wacana yang beredar di dunia maya memiliki pengaruh yang makin kuat, namun argumen ini masih perlu diperiksa, ditinjau dan dipertanyakan kembali.

Akibatnya, upaya untuk mempengaruhi wacana dan meneguhkan pemikiran terjadi secara insular—terpisah oleh ketertarikan terhadap gagasan sendiri. Beberapa situs (cth: Selasar) terlihat memiliki kesungguhan untuk menyatukan beragam pandangan, namun yang terjadi justru keseragaman pembaca. Situs wacana memang menyediakan keragaman pilihan, namun pada saat yang bersamaan juga mengelompokkan pembaca.

Perebutan legitimasi di ruang maya adalah hal yang menarik untuk diperhatikan. Berbagai situs sebenarnya melakukannya tiap saat, sama seperti yang dilakukan oleh media massa yang kerap kita kritik dan kemudian memicu lahirnya berbagai ruang alternatif tersebut. Satu hal yang tentu (tetapi lebih sering tidak) disadari oleh redaksi situs tersebut adalah, berebut legitimasi sama dengan berebut pembaca. Dalam upaya ini, jalan menikung media arusutama berubah jadi jalan licin yang membuat redaksi situs mulai membatasi sendiri cita-cita mereka untuk mempengaruhi opini publik. Opini yang mereka pengaruhi adalah opini pembaca yang sedari awal sudah kurang lebih sejalan dengan paham para redaktur.

Hal ini menyangkut catatan ketiga, yakni masalah posisi penulis, yang turut mempengaruhi nyawa situs yang  bersangkutan. Individu X yang kerap menulis untuk Mojok misalnya, (dengan kualitas yang tidak perlu diragukan lagi), tentu menjadi penarik massa untuk lebih sering meng-klik laman Mojok. Bagi seorang penulis, memiliki pembaca yang aktif mengomentari dan menyebarkan tulisannya adalah apresiasi yang tidak ternilai. Sebuah situs yang dari awal mengakui menggunakan model bisnis start up bahkan mencoba untuk mendorong angka pembaca dengan meminta orang menjadi “komentator” artikel,  alias “nyundul” ala “agan” Kaskus.

Ketika seorang penulis memperoleh pengakuan pembaca, muncul semacam loyalitas pada portal tersebut. Penulis membentuk identitas si portal, sementara si portal menjadi semacam rumah bagi penulis.

Relasi antara situs dan si penulis terkait erat dengan poin terakhir, yakni agenda setting, yang juga kerap kita kritik dari permainan politik media nasional. Kita jengah dengan bagaimana media arusutama memilih isu untuk digarap, penempatan isu tersebut dalam prioritas, narasumber, judul tajuk utama, dan sebagainya. Kejengahan inilah yang membuat kita mengkonsumsi informasi dari situs wacana, tanpa menyadari bahwa mereka juga melakukan hal yang sama. Atau, barangkali kita menyadarinya, namun karena risau tidak lagi menemukan zona nyaman informasi, kita mungkin memilih untuk mengabaikannya.

Bagaimanapun, upaya mempengaruhi opini publik terkadang menjadi upaya yang menggelikan ketika kita mengetahui isi dapur dan bagaimana konten disajikan. Sekalipun pembaca sadar akan berbagai siasat yang ditempuh redaksi untuk meningkatkan traffic, mereka belum tentu mengingatnya, lantaran banjir informasi yang terlanjur dianggap sebagai kewajaran. Sesuatu yang patut disyukuri oleh redaksi para situs wacana. []

Bacaan Terkait
Fajri Siregar

Peneliti di Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG), Jakarta. Untuk menjaga kewarasannya, ia mengisi konten Primitif Zine dan blognya di www.everlastinggaze.net.

 

Populer
Demokratisasi Media Melalui Jurnalisme Warga
Jurnalisme Bencana: Tugas Suci, Praktik Cemar
Media Cetak yang Berhenti Terbit Tahun 2015
Ketika Berita Palsu Menjadi Industri
Hierarki Pengaruh dalam Mediasi Pesan