02/03/2016
Membawa "Asolole" ke Layar Kaca
Musik dangdut kerap didaulat sebagai “musik rakyat”. Kontes idola dangdut pun jadi sajian hangat di layar kaca.
02/03/2016
Membawa "Asolole" ke Layar Kaca
Musik dangdut kerap didaulat sebagai “musik rakyat”. Kontes idola dangdut pun jadi sajian hangat di layar kaca.

Konsumsi budaya populer di kalangan masyarakat awam selalu menjadi masalah bagi “orang lain” entah itu kaum intelektual, pemimpin politik, atau pembaharu moral dan sosial. “Orang lain” ini sering beranggapan bahwa masyarakat awam harusnya berurusan dengan sesuatu yang lebih mencerahkan atau berfaedah ketimbang budaya populer.

(Strinati, 1995: 41)

Kampungan atau tidak, musik dangdut terbukti telah berhasil menggoyang sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia. Tidak hanya panggung hajatan di kampung, panggung kampanye partai politik, hingga gala dinner. Penutupan pameran festival film di Yogyakarta pada tahun 2015 pun telah memilih dangdut sebagai media hiburannya, dengan menampilkan organ tunggal Hasoe, SE.

Media massa memiliki peranan penting dalam mempublikasikan musik dangdut. Namun perlu diketahui bahwa di antara media massa tersebut, televisi adalah media yang paling ketinggalan menyajikan dangdut. Radio memiliki peranan penting dalam menyiarkan irama melayu ini, bahkan ada radio yang mengkhususkan diri dengan hanya menyiarkan sajian musik dangdut saja dalam setiap kali siarannya, sebut saja MBS 92.70 FM Jogja, atau Pop 98.2 FM Jogja. Begitu pula dengan media digital, seperti Youtube, yang memiliki sifat terbuka dan dapat dengan mudah menularkan apa-apa saja di dalamnya dengan cepat. Sementara televisi juga tak mau ketinggalan, meski menyiasati ketertinggalan itu dengan berlari serampangan.

Sifat serampangan televisi bisa dibuktikan dengan beragam acara yang mengambil sumber dari siaran-siaran yang tercecer di Youtube. Format ini dipelopori oleh “On The Spot” (Trans 7), kemudian diikuti oleh tayangan lain seperti “CCTV” yang siar di stasiun televisi yang sama. Tentu saja hal ini tidak dapat dilihat sebagai hal yang sepenuhnya nista, justru ini adalah hal yang mulia (setidaknya bagi mereka sendiri). Mengingat akses internet dan pengetahuan yang belum merata, maka televisi dewasa ini memiliki fungsi yang baru sebagai penyambung lidah internet, terutama kepada khalayak yang masih menumpukan sumber informasi dan hiburannya kepada televisi.

Kecenderungan mereproduksi materi dari media seperti Youtube ini sama halnya dengan bagaimana televisi secara serampangan mereproduksi dangdut Pantura (atau biasa disebut dangdut “koplo”). Dangdut Pantura yang awalnya dikenal sebagai dangdut panggung, tanpa teknik rekaman yang memadai, tersebar melalui jalur bajakan dapat hadir di televisi dengan format kontes idola, di antara kontes-kontes idola dangdut yang lain. Apakah usaha televisi ini hendak “memuliakan” dangdut Pantura atau sebaliknya?

Dangdut dan Televisi

Pada dekade 1990an, musik dangdut mulai diperkenalkan sebagai musik nasional yang mewakili segala lapisanmusik rakyat. Statusnya meningkat. Dari yang awalnya dianggap hanya didengarkan oleh masyarakat kelas bawah, perlahan mulai didengarkan kalangan kelas menengah dan elit. Seperti tercatat oleh majalah Tempo, musik dangdut telah digemari oleh pejabat kenegaraan, wakil gubernur, dan kaum birokrat (Surawijaya, 1991: 49). 

Popularitas dangdut menanjak karena beberapa alasan: liriknya yang mudah dipahami bagi sebagian besar masyarakat, mengekspresikan perasaaan yang dapat mewakili orang banyak banyak, juga diramu dengan irama yang bisa membuat semua orang bergoyang.

Perkembangan popularitas dangdut juga didukung oleh lahirnya televisi swasta yang bermunculan pada saat itu. Jika TVRI terlalu lama sibuk menjadi alat propaganda pemerintah, stasiun televisi swasta hadir dengan tawaran sajian hiburan yang lebih beragam dan, tentu saja, komersil. TPI, yang kini menjadi MNCTV, mengawali penyiaran sajian hiburan berupa musik dangdut yang kemudian diikuti oleh SCTV, dan RCTI menjadi yang terakhir dalam menyiarkan sajian hiburan dangdut (Pudyastuti, 1992: 108).

Sejak kejatuhan rezim Soeharto pada 1998, televisi swasta memegang peranan penting dalam mepopulerkan sajian hiburan ini. Program dangdut makin bertaburan mulai dari video musik, kuis, dan kontes (Weintraub 2010, 153). Pemilihan konten dan beberapa penyesuaian pun dilakukan, karena perubahan media yang terjadi. Penyanyi-penyanyi dangdut seperti Evi Tamala, Ikke Nurjanah, dan Iis Dahlia hadir sebagai perwujudan citra dangdut yang elegan, dan musik dangdut yang dibawakan pun lebih banyak membawa unsur pop ketimbang melayu. Hal ini menjadikan wajah musik populer di Indonesia semakin berwarna dengan kehadiran musik dangdut di televisi.

Dari hal tersebut, ada beberapa hal yang dapat ditandai dari pergeseran media dalam proses produksi dan konsumsi hiburan ini. Musik dangdut mulanya bertebaran di panggung-pangung kampung dan kebanyakan dihadiri penonton pria. Melalui televisi, kaum perempuan dapat memiliki kesempatan yang sama dalam menikmati hiburan ini. Selain itu, penampilan hiburan dangdut di televisi telah memberikan perubahan geografi sosial yang kuat. Dangdut telah memperluas rentang penontonnya, mulai dari pria, perempuan, masyarakat kelas bawah maupun masyarakat kelas atas. Musik dangdut pada era ini semakin memantapkan dirinya sebagai citra musik nasional yang dapat diterima seluruh golongan.

Dari sekian banyak program dangdut di televisi, kontes pencarian idola dangdut merupakan varian hiburan yang paling menarik. Dalam kurun waktu sepuluh tahun ini, kontes idola dangdut kerap menghiasi layar televisi. Tidak ada yang salah dengannya, hanya barangkali tidak ada yang benar-benar diuntungkan dalam ajang tersebut kecuali stasiun televisi itu sendiri!

Tren acara kontes pencarian (penyanyi) idola muncul pada kisaran tahun 2004, ditandai dengan RCTI yang membeli lisensi “American Idol”, dan menyesuaikan namanya menjadi “Indonesian Idol”. Setelah kebanyakan kontes hanya mewadahi penyanyi pop, “Kontes Dangdut TPI”—selanjutnya berganti nama menjadi “Kontes Dangdut Indonesia”, karena perubahan nama stasiun televisi—mengawali ajang pencarian idola dalam ranah penyanyi dangdut, dan terus berlangsung hingga kini di stasiun televisi MNCTV.

Kesadaran akan betapa lakunya program dangdut membuat stasiun televisi yang lain tidak mau kalah. Indosiar pun turut memasukkan program dangdut dalam siarannya. Sebut saja ragamnya seperti “D’Terong Show”, “D’Academy”, “D’Academy Asia”, sampai yang paling mutakhir, “Bintang Pantura”.

Keragaman tayangan dangdut yang ditawarkan dalam satu stasiun televisi tentu saja membuat kita sulit untuk membedakan apa yang berbeda dari keseluruhan varian program dangdut tersebut. Salah satu tayangan yang menarik perhatian adalah “Bintang Pantura”. Tayangan ini bisa dibilang sebagai sebuah penemuan atas variasi program dangdut yang belum pernah dilakukan sebelumnya oleh stasiun televisi.

“Bintang Pantura”

Kontes “Bintang Pantura” merupakan sebuah terobosan dan pengukuhan pernyataan betapa irama dangdut pantura telah menjadi irama yang berskala nasional, bukan sekadar varian lokal dangdut kedaerahan. Meski dugaan ini dapat dengan mudah dibantah karena sifat televisi nasional yang memiliki kecenderungan Jawa-sentris, tetapi ada baiknya kita amati dulu fenomena tersebut.

Dangdut Pantura mulanya lahir di kota-kota kecil pesisir pantai utara Jawa Tengah dan Jawa Timur sebagai varian dangdut yang membawa irama daerahnya. Ketukan yang lebih rancak menyerupai kesenian jathilan menjadi identifikasi utama yang membedakannya dari dangdut melayu, atau dangdut yang dipopulerkan oleh Rhoma Irama.  Dangdut Pantura—atau sering disebut dangdut koplo—memiliki pola tersendiri dalam menjaga keberlangsungan hidup musiknya. Ia hadir di panggung-panggung kecil seperti hajatan, atau kampanye partai politik. Dangdut koplo umumnya membawakan aransemen ulang lagu-lagu yang sudah ada, baik lagu dangdut maupun lagu pop, untuk dimainkan dengan irama koplo. Dangdut Pantura hadir dengan format orkes besar, seperti orkes yang mengiringi Rhoma Irama. Persebaran musik ini tidak terlepas dari sistem pembajakan di Indonesia. Katakanlah, dalam sebuah hajatan yang dimeriahkan oleh sebuah orkes dangdut koplo, dan tersedia dokumentasi video dalam acara tersebut, nantinya entah bagaimana ceritanya video tersebut akan berakhir di lapak penjual VCD bajakan di emperan toko, atau akan bercokol di Youtube.

Sistem promosi dan distribusi yang semacam ini tidak merugikan orkes tersebut, justru menjadi media promosi yang murah meriah dan asyik. Mengingat hakikat dangdut Pantura adalah kesenian panggung, maka dengan ini mereka dapat merasa lebih diuntungkan karena pertunjukannya yang berada di kota kecil dapat disaksikan oleh khalayak yang lebih luas, dan tawaran manggung pun datang lebih sering.

Kesuksesan mereka meluaskan irama musiknya tentu saja menarik perhatian televisi, perlahan-lahan anasir-anasir koplo mulai dibawa masuk ke dalam siaran televisi. Biduan-biduan kenamaan di panggung koplo yang biasa mengosak-asik panggung hajatan mulai diundang dalam konser dangdut di televisi. Mella Barbie, biduan dangdut yang lebih dulu terkenal di panggung-panggung dangdut dan Youtube, turut memeriahkan konser “Kembali Bergoyang di ANTV”. Selain itu biduan koplo kenamaan Via Vallen tampil di “YKS” Trans TV pada 2 Februari 2014.

Ketukan-ketukan rancak khas koplo mulai diadopsi dalam koleksi lagu-lagu dangdut terbaru.[1] Sebuah acara ramadan bertajuk “Yuk, Kita Sahur” disisipi joget bersama seorang pelawak bernama Cesar yang diiringi oleh lagu milik Rhoma Irama berjudul “Kata Pujangga” dan dibawakan dengan irama koplo. Meski band pengiringnya bukan orkes koplo, namun mereka mencoba menirukan formula khas dangdut koplo, lengkap dengan senggakan[2] yang khas, seperti “bukak sitik joss”, “icik-icik ehem-ehem”, “geli dikit nyoh”, dan lain-lain.

Kontes pencarian idola “Bintang Pantura” barangkali merupakan puncak dari kemeriahan yang ditularkan oleh irama koplo ini. Sebagaimana pada acara pencarian idola yang pernah ada, acara ini memiliki tahap audisi, karantina, penjurian, pembabakan, dan eliminasi hingga juara terpilih. Durasi siarnya sangat panjang. Para penyanyi membawakan lagu dangdut dan diiringi band pengiring yang membawakan irama dangdutnya agar terdengar sebagaimana irama dangdut koplo. Apakah dengan demikian itu ke-asolole-an dangdut koplo dapat dengan sederhana dihadirkan pada kontes “Bintang Pantura” ini?

Senggakan memegang peran penting dalam dangdut koplo. Ia bisa berupa kata-kata yang memiliki konotasi negatif, saru, tapi selalu ditunggu.[3] Suara teriakan menyenggak yang terpola dan tidak terpola menjadi warna tersendiri, sesekali suara teriakan yang mengikuti permainan kendang lebih bersifat vulgar dan menggoda. Tetapi pada artian yang lebih luas, teriakan tersebut bermakna lebih transparan dan lebih alami, sebagai bentuk ekspresi kebebasan (Raditya, 2013: 212). Tentu saja hal ini tidak akan bisa dengan mudah lolos sensor di televisi.

Selain itu, ada pula masalah keberjarakan penonton dengan penyanyi. Atmosfer panggung hajatan tentu berbeda dari studio televisi. Ini membuat sajian dangdut pantura secara instan di televisi terlihat absurd dan artifisial.

Saya tidak sedang menyatakan diri bahwa saya adalah seorang “koplomania” garis keras yang sedang ingin mengembalikan dangdut koplo kepada khitah-nya. Tapi dengan melihat kecenderungan televisi menjejalkan apa saja yang ia comot untuk masuk ke dalam ruang keluarga kita, patut sekali kita merasa jenuh dan begidik. Atau bahkan mungkin, larut sedalam-dalamnya pada siaran tersebut.

Kontes idola dangdut seperti ini sama dengan ajang pencarian idola yang sebelumnya pernah ada di layar kaca. Kontes ini menciptakan iming-iming untuk idola baru yang tidak pernah benar-benar kita ketahui karyanya setelah acara tersebut habis. Mereka lebih sering muncul di acara gosip. Sementara acara tersebut terus berkelanjutan, pendapatan dari iklan dan polling sms terus didulang, idola-idola yang lahir pada acara sebelumnya semakin terlupakan. Sama saja seperti penerimaan pegawai negeri sipil yang membengkak, dan entah menghasilkan apa. Sama saja seperti penerimaan universitas yang terus-menerus menghasilkan penganggur. Sama saja seperti penerimaan aparat negara yang berakhir menjadi gendut dan pemalas. []


Referensi:

Buku:

Heryanto, Ariel (ed.). 2012. Budaya Populer di Indonesia. Yogyakarta: Jalasutra.

Strinati, Dominic. 1995. An Introduction to Theories of Popular Culture. London: Routledge.

Weintraub, Andrew . 2010. Dangdut Stories, A Social and Musical History of Indonesia’s Most Popular Music. New York: Oxford University Press.

Karya Ilmiah (Thesis):

Raditya, Michael H.B. 2013. Esensi Senggakan pada Dangdut Koplo sebagai Identitas Musikal. Yogyakarta, Program Studi Kajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.

Koran:

Pudyastuti, Sri. 1992. "Dangdut Goyang Terus Pop Kok Loyo". Tempo. 16 Mei, 108.

Surawijaya, Bunga. 1991. "Goyang Dangdut", Tempo, 25 Mei, 49-60.

Bacaan Terkait
Irfan R. Darajat
Lulusan Jurusan Politik dan Pemerintahan, FISIPOL UGM, melanjutkan studi di Kajian Budaya dan Media Sekolah Pascasarjana UGM. Menulis Buku Nyanyian Bangsa; Telaah Musik Sujiwo Tejo dalam Menghadirkan Wacana Identitas dan Karakter Bangsa. Penggemar musik dangdut dan melankolis.
Populer
Retorika dalam Kemasan Super
Mendukung Propaganda Orde Baru, TV One Memang Beda
Bolehkah Jurnalis Mengekspresikan Dukungan Politiknya di Media Sosial?
Kasus Dandhy dan Makna Ujaran Kebencian yang Cemar
Generasi Jurnalis yang Hilang