25/01/2016
Simbiosis Media dan Terorisme
Jika tidak berhati-hati, berita-berita media tentang aksi teror justru akan menjadi teror itu sendiri.
25/01/2016
Simbiosis Media dan Terorisme
Jika tidak berhati-hati, berita-berita media tentang aksi teror justru akan menjadi teror itu sendiri.

Bom Jakarta tempo hari mengingatkan kembali bahwa Indonesia masih belum terbebas dari isu terorisme. Bom Bali (2002, 2005) dan Bom Marriott (2009) misalnya, memakan banyak korban jiwa dan mendapatkan perhatian nasional dan internasional yang luas. Perbedaan terletak pada pelaku teror. Jika dulu Al-Qaida dan Jamaah Islamiyah ditunjuk sebagai biang kerok, kini Islamic State atau IS ditunjuk sebagai pihak yang paling bertanggungjawab.

Istilah “terorisme” sendiri sulit untuk didefinisikan karena telah sarat dengan muatan politik dan emosional. Namun pada makna paling sederhana, terorisme—sesuai dengan makna harafiahnya—adalah tindakan yang dilakukan untuk menyebar teror. Tujuannya biasanya politis: memperkuat legitimasi kelompok terkait, mengintimidasi masyarakat dan pemerintahan, serta memperluas pengaruh di masyarakat.

Hal ini berbeda dengan peperangan konvensional, misalnya, yang bertujuan melumpuhkan kemampuan lawan untuk memberi perlawanan. Tindakan terorisme sendiri bertujuan mengeksploitasi aspek psikologis masyarakat dengan rasa takut. Karena itu terorisme identik dengan kekerasan pada target sipil dan konflik non-simetris.

Menyebarkan pemikiran tertentu? Memengaruhi khalayak secara massal? Sekilas, banyak aspek terorisme yang nampak selaras dengan kemampuan media massa. Maka tidak heran jika di era informasi ini aksi teror mengalami transformasi seiring dengan perkembangan media. Meskipun memang sejarah aksi teror sendiri berumur lebih tua dari pada televisi, internet, atau media massa dalam bentuk yang lebih kompleks daripada koran cetak.

Terorisme di Era Informasi

Ayman al-Zawahiri—pemimpin Al-Qaeda saat ini—mengklaim bahwa mereka sedang menjalankan sebuah pertempuran, dan lebih dari setengah pertempuran ini berada di ranah media. Pertarungan media ini mereka lakukan untuk merebut hati dan pikiran umat (Seib dan Janbek 2011). Pernyataan ini bisa menjadi pertanda bahwa para teroris telah menyadari peranan media sehingga memasukkan aspek media ke dalam strategi teror mereka.

Menurut Brigitte Nacos (2002), seorang akademisi yang banyak mengupas isu media dan terorisme, keberhasilan aksi terorisme memang seringkali bisa diukur dari luasnya peliputan media yang didapatkan. Namun ia juga berpendapat bahwa anggapan ini terlalu simplistik dan meluputkan kompleksitas terorisme dan media itu sendiri. Nacos merumuskan tujuan terorisme menjadi tiga lingkup utama: mendapat perhatian, pengakuan, dan rasa hormat pada taraf terentu. Ketiga hal tersebut bisa dicapai tanpa unsur kekerasan, maka Nacos menganggap pasti ada aspek khusus yang mengaitkan kekerasan pada hubungan terorisme dengan media.

Untuk memahami peranan kekerasan dalam terorisme kita perlu terlebih dahulu menyelami logika media, terutama televisi. Sebuah artikel yang ditulis oleh Manuel Soriano, Terrorism and the Mass Media after Al-Qaeda: A Change of Course? (2008) pernah mencoba untuk membedah lebih dalam bagaimana kekerasan, terorisme, dan media saling terkait. Media televisi sangat mengandalkan aspek visual dan sensasionalisme dalam menentukan nilai berita. Logika televisi juga menaruh nilai besar pada “kebaruan” (novelty) kisah yang bisa diangkat, mengingat industri televisi merupakan industri yang bertempo sangat cepat. Ditambah lagi, rasa takut adalah salah satu ancaman yang menyentuh bagian mendasar dalam pada pikiran manusia. Segala isu kekerasan dan ancaman memiliki nilai berita yang cukup tinggi untuk dianggap sebagai agenda penting oleh industri media.

Di Indonesia misalnya, pernah ada kasus TV One yang menayangkan penyerbuan Temanggung selama hampir 24 jam (2009), atau ANTV yang pernah menayangkan momen tembak-menembak antara polisi dengan pasukan teroris yang dipimpin Azahari di Malang (2005). Kedua peliputan ini memicu kontoversi masyarakat, dan menunjukkan logika televisi yang kerap mengutamakan nilai-nilai berita seperti sensasionalisme dan kekerasan dalam liputan terorisme.

Pada kasus Bom Sarinah, dapat dilihat betapa aksi teror dilakukan pihak teroris dengan memperhitungkan pola kerja media. Jumlah korban dan kerusakan yang ditimbulkan memang tidak bisa dibandingkan dengan Bom Bali atau penembakan Paris, namun insiden ini berhasil mendapatkan  perhatian nasional dan internasional dengan skala yang cukup besar. Serangan kemarin dilakukan di jantung Jakarta, dekat dengan pusat pemerintah dan perwakilan negara-negara, juga pusat konsumerisme dan gaya hidup modern yang dianggap sebagai simbol barat.

Lokasi yang strategis ini memudahkan media untuk segera melakukan peliputan dengan cepat. Gaya teror Paris—kombinasi serangan bom dan penembakan dengan senjata api—mengijinkan peliputan media yang berkelanjutan dalam tempo waktu yang cukup panjang. Bom bertonase besar seperti di Bali memang membuat jumlah korban massal yang mencuri tajuk utama media, namun ia tidak membuat media melakukan peliputan langsung selama berjam-jam yang menghipnotis masyarakat untuk terpaku pada layar televisi.

Insiden ini menunjukkan orientasi terorisme yang semakin setia pada logika televisi, lumayan serupa dengan serangan 11 September 2001 dimana jutaan pasang mata menyaksikan dengan perlahan dan penuh horor bagaimana dua pencakar langit runtuh perlahan. Serangan Sarinah bekerja dengan cara yang lebih mirip dengan showmanship panggung sulap dari pada medan perang. Fokus serangan mereka adalah peliputan media dan jiwa masyarakat, bukan kerusakan fisik.  

Simalakama Media dan Teror

Melihat berbagai kejadian tersebut, sulit untuk menyangkal bahwa terdapat simbiosis mengkhawatirkan antara media dan terorisme. Media mendapatkan tontonan besar dan menarik, serta pihak teroris mendapatkan “juru bicara” untuk menyampaikan pesan-pesan mereka. Cukup mengkhawatirkan jika teroris semakin memahami dan memanfaatkan cara kerja media untuk kepentingan mereka.

Michael Jetter, profesor di Universidad EAFIT di Medellin, Kolombia, bersama dengan peneliti di Institute for the Study of Labour di Bonn, Jerman, menganalisis berita-berita The New York Times mengenai lebih dari 60.000 serangan teroris antara 1970 dan 2012. Ia menemukan bahwa jumlah serangan teroris dalam 15 tahun terakhir mengalami perkembangan berlipat, dengan 1.395 serangan pada 1998 yang membengkak menjadi 8.441 serangan pada tahun 2012.

Selama rentang itu pula, kelompok teroris semakin aktif menggunakan media untuk mempromosikan agenda mereka. Boko Haram, Taliban, Al-Qaida, hingga IS rutin muncul di berbagai media. Pada titik ini, terdapat korelasi positif antara jumlah artikel berita media tentang suatu kejadian terorisme pada jumlah serangan susulan yang terjadi dalam beberapa minggu setelahnya. Peliputan terorisme dengan cara sensasional ternyata memicu kekerasan lebih lanjut.

Lebih lanjut, Jetter menyebut bahwa penambahan satu artikel New York Times mengenai serangan teroris di suatu negara tertentu, meningkatkan jumlah serangan susulan sejumlah 11% hingga 15% di negara tersebut. Secara kasar, ia memperkirakan bahwa setiap penambahan artikel mengenai aksi teror di Nigeria misalnya, rata-rata berujung pada satu hingga dua korban tambahan dari serangan susulan di negara tersebut selama satu minggu kemudian.

Satu temuan menarik, di antara berbagai jenis terorisme, serangan bunuh diri merupakan salah satu yang paling mudah mendapatkan perhatian media. Hal ini bisa jadi terkait dengan nilai kenekatan dan keanehan serangan bunuh diri, mengingat absurditas adalah salah satu komponen tontonan yang menarik dan bernilai tinggi untuk diangkat media. Wajar jika serangan bunuh diri menjadi salah satu metode favorit yang dipilih teroris.

Jetter kemudian menyimpulkan bahwa peliputan terorisme dengan cara sensasional lebih banyak menimbulkan kerusakan, dan kita harus berhenti memberikan platform media gratis pada teroris. Aksi teror sangat mudah menjadi agenda utama di media, padahal terorisme “hanya” menyebabkan 42 kematian setiap hari, dibandingkan dengan 7.123  anak-anak yang mati kelaparan setiap harinya.

Di sisi lain, Soriano (2008) menunjukkan bahwa dinamika media dan terorisme cukup kompleks. Al-Jazeera, misalnya, merupakan salah satu stasiun televisi yang terkenal profesional dan setia pada nilai cover both sides dalam jurnalisme. Mereka berperan besar memberikan sudut pandang yang lebih “ramah timur” selama invasi Irak dan Afganistan oleh Amerika Serikat sepanjang proyek “perang melawan teror”.

Dominasi perpsektif barat dalam media global bahkan berlangsung hingga saat ini. Namun di sisi lain, loyalitas Al-Jazeera pada keadilan sudut pandang memberikan kesempatan pada Al-Qaida dan kelompok-kelompok teroris lainnya menyuarakan agenda mereka pada dunia.Cover both sides, sebuah prinsip yang sangat mendasar dalam nilai-nilai jurnalistik yang dianggap baik, ternyata bisa menyebabkan akibat yang tidak diinginkan.

Menyikapi Terorisme

Banyak pihak menganggap bahwa perlu kebijakan sensor untuk mengekang pengaruh terorisme. Banyak orang yang berargumen bahwa aksi terorisme harus diblokir secara total dan dilarang untuk tampil di media untuk menjegal segala strategi teroris.

Namun solusi semacam itu bisa jadi terlalu naif, apalagi mengingat di era media sosial ini informasi dapat menyebar dengan sangat cepat. Sebuah serangan dengan lokasi dan target strategis menjadi sangat sulit, atau bahkan mustahil, disembunyikan dari masyarakat. Selain itu, masyarakat juga memiliki hak untuk mendapatkan informasi. Menyembunyikan fakta tidak akan menyebabkan suatu kejadian buruk menghilang, dan masyarakat berhak tahu atas segala potensi ancaman yang bisa terjadi.

Lalu sikap apa yang harus diambil untuk mengurangi dampak terorisme? Masyarakat tentu punya hak mendapat informasi mengenai segala kejadian teror, namun media juga perlu menyikapi isu ini dengan hati-hati. Seperti yang dikatakan oleh Jetter, media yang mengupas isu teror secara sensasional hanya akan termakan oleh strategi teroris. Alih-alih menyebar teror dan kepanikan, media perlu membahas isu teror dengan orientasi memandu masyarakat dalam menyikapi ancaman dengan baik, atau bahkan membantu masyarakat secara aktif ikut berkontribusi dalam menghadapi isu dan potensi teror.

Serangan Sarinah mungkin tidak akan menjadi aksi teror terakhir di Indonesia. Semua pihak perlu bersiap dan menyesuaikan diri untuk meminimialisir dampak buruk. Media perlu lebih berhati-hati dan mencoba memandu masyarakat daripada memanfaatkan sensasionalisme untuk mengejar untung. Pemerintah harus memilih sikap dan kebijakan dengan penuh perhitungan—misalnya seperti pidato Jokowi selepas aksi terorisme kemarin yang melokalisir serangan sebagai “gangguan terhadap ketertiban umum” dan menolak memberi legitimasi terhadap ancaman teror IS. Masyarakat juga mesti mengambil sikap rasional dan tenang dalam masa-masa genting serta kritis menyikapi informasi di media dan media sosial. []


Referensi

Soriano, Manuel Torres. “Terrorism and the Mass Media after Al Qaeda: A Change of Course?” Athena Intelligence Journal, Vol. 3, No 1, (2008), pp. 1-20

Nacos, Brigitte L. 2002. Mass-Mediated Terrorism. USA: Rowman and Littlefield.

Baran, Jessica. 2008. “Terrorism and the Mass Media after Al Qaeda: A Change of Course?” The Peace and Conflict Review 3.

Jetter, Michael. 2014. “Blowing Things Up: The Effect of Media Attention on Terrorism”. IZA Discussion Paper No. 8497. 

Seib, Philip and Dana M. Janbek. 2011. Global Terrorism and New Media. GB: Routledge.

 
Bacaan Terkait
Firman Imaduddin

Editor dan peneliti di Remotivi. Meminati isu media, antropologi, budaya, dan perfilman. Kerap ditemukan main catur di warung kopi sekitar Rawamangun.

Populer
Insiden Media di Tolikara
Kompas dan Front Pembela Islam
Koran Pertama Berbahasa Jawa
Pekerja Media Seluruh Indonesia, Bersatulah!
Setelah Kegagalan Bertubi-tubi, Apa Yang Mesti Dilakukan KPI?