Ilustrasi: Ellena Ekarahendy
Ilustrasi: Ellena Ekarahendy
19/11/2015
Sandyakalaning Lawak Televisi Indonesia
Kualitas tayangan televisi dewasa ini kerap dikecam kualitasnya. Bagaimana humor televisi bisa sampai pada keadaan ini?
19/11/2015
Sandyakalaning Lawak Televisi Indonesia
Kualitas tayangan televisi dewasa ini kerap dikecam kualitasnya. Bagaimana humor televisi bisa sampai pada keadaan ini?

Sejarah perlawakan Indonesia itu gelap. Tak ada literatur memadai untuk jadi rujukan, beda dari seni sastra, lukis, suara dan seni-seni elitis lainnya. Pada masa lalu, seni berbasis humor atau lelucon, memang domainnya rakyat jelata, para abdi atawa punakawan. Para bendara atau kaum priyayi umumnya, harus jaim. Tampil angker supaya berwibawa. Tidak berwibawa, pamor sosialnya bisa jatuh.

Hari ini, lawak sudah lumrah diapresiasi semua kalangan. Entah itu karena pelawak dihargai mahal atau masyarakat telah menyadari apa manfaat humor bagi kehidupan sehari-hari. Yang jelas, di berbagai negara maju, seni berbasis humor menjadi primadona dan mendapatkan perhatian istimewa.

Salah satu yang barangkali dianggap mengangkat harkat lawak dan pelawak di Indonesia adalah industri televisi. Namun industri lawak dalam televisi har ini suram. Apabila kita merasa belakangan ini, sebutlah antara 2010-2015, kita mulai sulit menemukan tontonan lawak berkualitas, maka kita patut memeriksa apa yang diperbuat industri televisi pada lawak itu sendiri.

Lawak sebagai “Seni” di Televisi

Anda yang pernah menjadi saksi atau menyaksikan produk lawak TV (baca: TVRI) pada akhir dekade 1970an hingga 1985, dapat merasakan betul perbedaan lawak TV dulu dengan sekarang. Nama-nama grup lawak beken seperti: Srimulat, Surya Group, Kwartet S (Malang), Kwartet Jaya, Trio Warkop, Bagyo Cs, De Kabayan,dan banyak lagi lainnya adalah kantung-kantung “mesiu” yang selalu meledakkan gelegar tawa penontonnya saat mereka tampil di TV.

Pelawak mulai jadi figur yang dinanti-nanti kemunculannya di layar kaca, seperti Gepeng, Johny Gudel, Atmonadi, Bagyo, Benyamin S, Jalal, Bambang, Jati Koesoemo, Dono, Kasino, Indro, Kang Ibing dan banyak lagi lainnya. Monolog mereka, sebelum pertunjukan grup beraksi, adalah sejenis katarsis cerdas yang menggelitik benak pemirsa. Selalu ada pesan yang menyelinap ke dalam benak penikmat. Ini sesuai ideologi humor yang benar, bahwa sebuah lelucon yang berhasil adalah yang membuat para penikmatnya untuk ikut “terlibat” dalam proses konstruksi lelucon itu sendiri. Arthur Koestler bilang, “The essence of recreation is re-creation.” Makna sebenarnya dari rekreasi adalah penciptaan kembali.

Isi lawakan TV pada tahun-tahun itu, merupakan komitmen yang tak dapat ditawar-tawar lagi. Kala itu, sebuah lawakan sebelum dipentaskan telah melewati serangkaian pengujian di kalangan internal grup lawak yang bersangkutan. Lelucon asal jadi tak punya tempat di sana; kendati pun misalnya lelucon itu tampak spontan. Bagian ini yang sering disalahpahami oleh pelawak generasi lanjutanya yang tampaknya biasa berpikir, “Semua bagaimana nanti saja. Kan ada ruang spontanitas”.

Tanggung jawab dan komitmen grup lawak masa itu terhadap kualitas, adalah paralel dengan community guaranty, nama baik mereka juga. Itulah harga yang harus dibayar untuk sebuah profesionalitas. Salah satu contoh misalnya, grup lawak perintis atau pioner Trio Los Gilos. Anggotanya Mang Udel, Mang Cepot dan Bing Slamet. Dibentuk tahun 1958 (versi lain menyebut tahun 1953), Trio Los Gilos merupakan grup lawak “pertama” dengan formasi hanya tiga atau empat personel dan langsung melawak. Model ini berbeda dari grup lawak pada umumnya, seperti Srimulat (grup sandiwara keliling), yang merupakan kombinasi berbagai personal dan kadang kolosal. Penampilan mereka mengingatkan kita pada grup lawak asing The Three Stooges, Abbott-Costello, atau Laurel-Hardy. Model formasi Trio Los Gilos itu yang kemudian, besar kemungkinan, menjadi rujukan grup-grup lawak pelanjutnya.

Intensitas Trio Los Gilos terhadap profesionalitas juga terekspresi dalam soal mengolah dan menyiapkan materi lawakan. Tidak boleh terjadi isi lawakan yang tak jelas konsepnya. Oleh karena itu mereka selalu menyiapkan bahan dalam bentuk skenario. Benar-benar sebuah naskah yang sudah bunyi. Sudah terbaca kekuatan kelucuannya dari hanya melihat teks saja, apalagi kalau naskah itu dimainkan.

Fakta ini sangat kontras bila dibandingkan dengan kondisi di masa kini, tak banyak grup lawak atau pelawak yang mendasarkan tampilnya dengan mengacu pada konsep teks, kecuali di pertunjukan TV (itu pun hanya berupa ringkasan cerita atau outline story) dan stand up comedy (skenario). Secara umum, pelawak lebih merasa nyaman dengan mengandalkan spontanitasnya. Bayangkan, pada tahun awal pertumbuhan lawak yang masih begitu belia, Trio Los Gilos telah mendisiplinkan diri dalam format, integritas dan etos yang begitu maju. Oleh sebagian pihak, kelompok ini dianggap sebagai grup lawak yang terlalu cepat mendahului zamannya.

Lembaga Humor Indonesia

Pada periode keemasan lawak TV (berbasis kesenian) itu pula, seorang pencinta humor sekaligus humorolog, Arwah Setiawan, mendirikan sebuah lembaga yang secara serius mencoba mendekati seluruh produk humor (termasuk lawak) lewat kaca mata ilmiah. Lembaga itu bernama LHI (Lembaga Humor Indonesia).

Serangkaian gebrakannya, langsung diterima publik. Di antaranya: Lomba Musik Humor (menghasilkan juara: Iwan Fals); Festival Lawak Nasional (terlucu: Kwartet S, Malang dengan lakon: Ratu Jadi Petruk); Pameran Kartun Nasional (Tony Tantra, karya-karya karikaturnya menghiasi halaman depan media-media besar ibukota), hingga Seminar Humor, yang menjadi pemicu munculnya tokoh-tokoh pembicara humoris seperti Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), Jaya Suprana, dan lain-lain.

Wabah optimisme LHI, ternyata tidak berhenti sampai di situ. Antara 1985-1988, di Semarang, Jawa Tengah, Pertamor (Perhimpunan Pencinta Humor) pimpinan Jaya Suprana menggelar kegiatan-kegiatan seperti Seminar Humor, Lomba Merayu, Lomba Siul, Lomba Tertawa, bahkan Festival dan Lomba Kartun Internasional (Candalaga Mancanegara, pertama kali di Asia Tenggara) terjadi secara susul-menyusul tanpa henti.

Bangunan atmosfer kondusif yang berlumuran optimisme itu jelas bukan hadiah dari siapa-siapa. Ia merupakan upaya penuh cinta dari para pelaku budaya. Arwah Setiawan, Gus Dur, Jaya Suprana, dan beberapa nama lain, adalah tokoh-tokoh yang ikut andil menancapkan tradisi berhumor secara sehat dan elegan untuk negeri ini. Kepedulian mereka juga menjadi pemicu semangat para praktisi humor sesuai bidangnya masing-masing. Tak terkecuali praktisi lawak TV, yang kala itu eksistensinya semakin diakui masyarakat.

TV Mengubah Seni Lawak Menjadi Hiburan

Apresiasi yang tinggi terhadap karya lawak TV (berbasis hiburan), ditunjang munculnya beberapa stasiun TV swasta (RCTI, TPI, Indosiar, An-teve, SCTV,  TV7, dll.) “menyulap” para praktisi lawak menjadi selebriti baru—sekaligus orang kaya baru. Tiba-tiba saja mereka harus berada di arus perubahan yang juga baru. Para insan lawak yang sebagian besar berasal dari kelompok masyarakat strata C-D, tiba-tiba harus berada dalam sebuah gaya hidup sibuk, serba cepat, dan jadwal ketat.

Perubahan ini juga mengenalkan semangat baru. Pertama, kompetisi (demi rating program TV);  kedua, popularitas khusus (agar diminati/dijadikan model oleh agen iklan); dan ketiga, pengakuan publik (banyak job di luar acara TV). Semangat ini berbeda dari semangat sebelumnya yang asyik dalam peningkatan skill dan keterampilan. Perubahan ini kerap kali mengganggu relasi dan komunikasi dengan kawan-kawan seprofesi. Bahkan dengan kawan satu grup.

Pertanyaannya kemudian, benarkah euphoria kemakmuran ekonomi itu membuat para insan lawak menjadi individualis, malas belajar, lari ke “dugem”, “dunia gemerlap”, dan memilih pil “ajaib” sebagai solusi pintar secara instan? Dari beberapa kasus, kita dapat mengambil kesimpulan sementara, bahwa dugaan itu bukannya mengada-ada.

Angkatan lawak yang lebih muda, seperti Bagito, Patrio, atau Cagur, adalah titik puncak dari apresiasi ekonomi terhadap pekerjaan penghibur (lawak dan entertain, khususnya). Individu pelawak, yang sebelumnya merupakan bagian dari grup dan harus terikat berbagai aturan kesepakatan dalam grup, sepertinya telah menjadi cair dan disederhanakan. Kemunculan Sule tanpa rekan-rekan grupnya (Saung Sule) telah menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja. Bagaimana Sule berurusan dengan dua temannya yang ditinggalkan? Hanya mereka sendirilah yang tahu penyelesaiannya.

Persoalannya, mungkin saja, ikatan grup lawak di masa sekarang lebih terbuka dan bisa diselesaikan secara praktis-pragmatis. Atau, peluang mendapatkan kesempatan seperti itu terbuka buat semua anggota. Siapa yang paling dulu, dia yang berhak maju.

Zaman telah berubah. Makna prestasi dan pencapaian pun telah berubah. Apa boleh buat, sulit menepis kenyataan yang tak begitu lucu ini, bahwa seni lawak Indonesia dalam satu dekade ini merosot begitu telak.

Berakhirnya Lawak TV?

Gelora Senayan, 1989. Sebuah pertunjukan hasil kolaborasi antara Teater Koma dan Bagito Gorup digelar hampir lima jam. Seluruh tempat duduk penuh. Seluruh penonton menyimak jalannya pertunjukan dengan suka cita hingga menit terakhir. Setelah pertunjukan ini, barangkali tak ada lagi pertunjukan lawak serius dan kolosal terakhir di Indonesia. Memasuki dekade 1990an, dunia lawak televisi memang mulai berganti wajah.

Dalam kurun 1985-1990an, berdiri payung organisasi lawak yang menamakan diri Paguyuban Lawak Indonesia (PLI), di bawah pimpinan Eddy Sud. Aktivitas PLI cukup banyak dalam menyelenggaralan pagelaran lawak. Beberapa digelar off-air, yang lain on-air, dan sebagian besar terkait dengan program acara di TVRI. Setelah acara “Anekaria” TVRI tidak tayang lagi, tampaknya PLI juga ikut surut.

Pada tahun 2000an, berdirilah organisasi lawak resmi, representasi dari profesi lawak beserta seluruh derivatnya (termasuk produser, tim kreatif, penulis lelucon, pemusik, set developers, kameraman, sutradara lawak dst.). Organisasi itu dinamai PaSKI (Persatuan Seniman Komedi Indonesia). Indro Warkop dan Miing Bagito masuk dalam jajaran pengurusnya. Belum lama, PaSKI telah melakukan pergantian pengurus baru sesuai instruksi AD-ART organisasi. Sayangnya, PaSKI kini tak terdengar gaungnya.

Sementara itu, televisi tak banyak membantu memproduksi ajang lawak. TPI (sebelum menjadi MNC TV) menyelenggarakan “Audisi Lawak TPI” (“API”) sebanyak tiga kali, namun hanya yang pertama menghasilkan grup lawak serius: Saung Sule dan Bajaj. Sesudah itu, keadaan senyap lagi.  

Jadi, adalah wajar bila pelawak alpa melakukan regenerasi profesi dan kelompoknya, juga merawat ideologi atau perlindungan hak-hak profesi mereka sendiri. Perlawakan Indonesia dibiarkan muksa (lenyap), sesenyap kemunculannya di masa lalu. Tiba sudah sandyakalaning lawak televisi Indonesia;  berakhirnya lawak TV di Indonesia!

Tunggu. Tentu saja saya tidak sungguh-sungguh menuliskan lawak TV benar-benar berakhir alias mati. Ada beberapa hal yang menjadikan saya menulis artikel dengan judul bernada pesimistis dan eskapis ini.

Televisi, sebagai lembaga budaya yang sangat strategis bagi pertumbuhan lawak, dalam satu-dua dekade ini banyak memproduksi lawak yang main-main dan asal tampil belaka. Kritik atas lawak TV (baca: program komedi) di media justru hanya menyentuh bagian-bagian permukaan. Alih-alih pencerahan (baca: jalan keluar), malahan kegaduhan dan kekusutan yang kita dapatkan.

Lebih jauh, seni lawak sebagai produk budaya berbasis humor itu bukan hanya milik PaSKI atau pelawak yang sudah eksis lainnya. Ia adalah milik publik dan masa depan kesenian lawak bangsa ini. Dia tak boleh lesu-sunyi dan senyap; apalagi mati. Para pengurus PaSKI tidak bisa “semau gue” dan membiarkan keadaan menjadi menggantung. Publik, adalah “pemegang saham” terbesar dalam industri budaya bidang perlawakan.

Migrasi berbondong-bondong sejumlah pelawak ke “Senayan” bukanlah sebuah petanda bahwa seni lawak tidak memiliki masa depan lagi. Kecuali, kalau alasan para pelawak itu bermigrasi adalah semata motif ekonomi. Kalau itu, sungguh tak perlu diperdebatkan lagi! []

Bacaan Terkait
Darminto M. Sudarmo

Pernah memimpin redaksi majalah HumOr. Sering ditemui menulis dengan sosial-budaya di sejumlah harian cetak. Buku terbarunya, Republik Badut terbit pada 2014, menyusul Anatomi Lelucon Indonesia (2004), How to Be a Good Comedian (2006), dan HQ-Humor Quotient - Kecerdasan Humor (2013).

 

 
Populer
Perjuangan Situs Kebencian Mengemas Omong Kosong
“Politainment” Gubernur Baru Jakarta
Tak Ada Kepentingan Publik Dalam Pernikahan Kahiyang
Denny Setiawan: Internet Indonesia Lelet Karena Infrastruktur yang Belum Optimal
Begini Cerita Saya sebagai Wartawan Flora-Fauna