Pengantar Redaksi: Tulisan berikut merupakan laporan dari pengamatan Divisi Penelitian Remotivi terhadap empat judul sinetron di televisi Indonesia. Pengamatan yang berfokus pada posisi atau penggambaran profesi/pekerjaan dalam cerita sinetron  ini mengambil Putih Abu-Abu (SCTV), Yusra dan Yumna (RCTI), Karunia (RCTI), dan Cinta Salsabilla (SCTV) sebagai sampel, khususnya pada penayangan antara 11-18 Maret 2012. Ini adalah tulisan kedua dari dua publikasi yang diterbitkan. Tulisan lainnya: Sinetron, Rasionalitas, dan Pengabdian.


Dunia kita dewasa ini dibangun dengan anggapan bahwa bekerja merupakan hal yang punya tempat penting dalam kehidupan. Meskipun “pekerjaan” dan atau “profesi” terkadang dipandang sepele, tapi kita tak mungkin melepaskannya dari kehidupan. Sederhana saja. Sejak menempati bangku SD kita sudah ditanyakan oleh para guru: apa cita-citamu nanti? Bahkan mungkin jauh sebelum itu, sejak kita baru mulai bisa berpikir, orangtua sudah mulai menanamkan perihal cita-cita pada diri kita. Dengan bekerja dan menekuni profesi tertentulah, sadar atau pun tak sadar, adalah cara kita menjalani kehidupan ini.

Kerja menurut Karl Marx adalah prasyarat manusia menjalani hidupnya. Oleh karena itu, kehidupan manusia akan selalu berada dalam hubungan sosial karena kerja tak mungkin dijalankan secara individual; kerja selalu berhubungan dengan orang lain dan objek-objek alam tertentu. Itu sebabnya kerja punya proses, berjalan dalam sejarahnya. Lantaran manusia hidup, maka ia butuh bekerja untuk hidup itu sendiri. Kerja adalah usaha manusia untuk terus hidup. Dengan bekerja, manusia sedang berupaya menciptakan atau memenuhi kebutuhan-kebutuhan demi hidupnya tersebut.

Penting dan tak terpisahkannya kerja dalam hidup manusia itulah yang mengakibatkan ia kerap pula muncul dalam beragam media informasi. Televisi sebagai salah satu media informasi itu pun tak luput memunculkan perihal kerja di dalam tayangan-tayangannya. Pada gilirannya, media-media penyampai informasi tersebut—termasuk televisi—menjadi salah satu rujukan manusia untuk “memahami” perihal kerja tersebut.

Ketika itulah, diam-diam pada televisi dibebankan “harapan” untuk menjelaskan dan memaparkan kerja sedetail mungkin demi memberikan wawasan yang komprehensif. Di satu sisi televisi memang memberi gambaran keberagaman pekerjaan. Namun, berbahayanya adalah kecenderungan televisi untuk menggambarkan kerja dengan tidak mendetail, kabur, mengabaikan kompleksitasnya, dan terkadang jauh dari kenyataan kerja itu sendiri. Hal ini tentu punya potensi menyumbangkan persepsi yang tak lengkap atau bahkan salah bagi pemirsa.

Pengamatan kami terhadap empat sinetron (Yusra dan Yumna dan Karunia di RCTI sertaCinta Salsabilla dan Putih Abu-abu di SCTV) selama seminggu (11-18 Maret 2012) mencatat beberapa hal tentang kerja yang ditampilkan keempat sinetron itu. Tulisan ini ingin mengurai dan menunjukkan bagaimana “logika takdir” mengoperasikan segenap penggambaran dan pemaknaan “kerja” di dalam cerita keempat sinetron tersebut.

Kerja Nirproses

Kerja adalah sesuatu yang meruang-mewaktu. Konsekuensinya, setiap pekerjaaan mengalami proses, di mana di sana berkelindan hal-hal seperti kemampuan, pembelajaran, hubungan sosial, dan sebagainya. Keempat sinetron yang kami teliti memang tidak mengangkat profesi tertentu sebagai jantung ceritanya; keempat-empatnya—dan ini mungkin kecenderungan sinetron Indonesia—mengangkat tema keluarga sebagai jantung cerita. Namun tentu saja hal itu bukanlah tameng untuk abai terhadap penggambaran yang masuk akal atas suatu pekerjaan. Sebuah cerita yang baik, punya tugas menunjukkan segala kompleksitas dunia tempat ceritanya tengah berlangsung, termasuk aktivitas manusia di dalamnya, yang salah satunya adalah pekerjaannya. Karena apa yang dilakukan manusia lewat pekerjaannya, itulah yang menjadi identitas yang sedikit banyak bisa menjelaskan tentang riwayat, budaya, kelas ekonomi, status sosial, pandangan hidup, dan sebagainya. Jelasnya, tentang dirinya secara lebih lengkap.

Tapi di kebanyakan sinetron Indonesia, proses bagaimana suatu pekerjaan dijalankan kerap diabaikan. Bahkan, di hampir keempat sinetron tersebut, seperti menganggap bahwa tak ada proses dalam kerja. Suatu pekerjaaan atau profesi bak sesuatu yang tak mengalami sebuah perjalanan atau upaya untuk mencapainya. Keahlian dalam suatu pekerjaan seperti dianggap sudah melekat secara otomatis dalam diri manusia. Simak contoh berikut.

Pada sinetron Karunia, tokoh Sabrina yang berprofesi sebagai artis mendadak meninggal dalam sebuah kecelakaan di lokasi syuting. Lalu muncullah Shakira yang mengaku sebagai Sabrina (keduanya adalah saudara kembar yang terpisah sejak lahir), dan dengan gampang menggantikan posisi Sabrina sebagai artis, tanpa ditunjukkan proses bagaimana Shakira belajar akting, dan juga bagaimana ia bisa berakting seperti halnya Sabrina. Hal ini tentunya meninggalkan banyak pertanyaan: bagaimana Shakira yang bukan merupakan seorang artis bisa mengatasi peralihan profesi yang begitu mendadak ini? Dari mana ia belajar akting? Andaikanlah ia berbakat alam. Tetapi, tidakkah proses adaptasi tetap dibutuhkan agar bisa berakting persis menyerupai Sabrina? Ini semua tak terjelaskan dalam Karunia, setidaknya dalam seminggu dipantau.

Masih tentang Karunia. Kemudian, sesuai pesannya sebelum meninggal, Sabrina mendonorkan matanya untuk Karunia (Runi), seorang gadis yang mengalami kebutaan sejak lahir. Tapi karena kesalahan rumah sakit, mata tersebut malah ditanamkan kepada Karunia yang lain (Nia), seorang gadis pengantar katering untuk kru film, yang turut mengalami kecelakaan bersama Sabrina di lokasi syuting, dan karenanya mengalami kebutaan.

Semenjak “mengenakan” mata hasil donor Sabrina, Nia mendadak menjadi seperti Sabrina. Nia menjadi sering mengalami deja vu ketika datang ke tempat-tempat yang dahulunya sering didatangi Sabrina bersama Arya kekasihnya, yang adalah seorang aktor. Secara otomatis, Nia bisa melakukan hal-hal yang dulu sering dilakukan Sabrina kepada Arya. Intinya, Nia “mendapatkan” sikap, kebiasaan, dan pemikiran seperti Sabrina. Karena itu, Nia menjadi mampu memahami Arya. Sebab itu, Arya pada suatu ketika meminta Nia untuk menjadi manajernya. Dan di sinilah masalahnya: Nia yang sebelumnya bekerja sebagai pengantar katering, lalu secara tiba-tiba mampu menjalani pekerjaan sebagai manajer artis. Tak diperlihatkan proses belajar Nia untuk mengejar tiadanya pengalaman sebagai manajer artis. Dalam bekerja, juga tak diperlihatkan sikap alamiah seseorang yang baru melakukan sebuah pekerjaan yang baru, misalnya adaptasi, canggung, membuat kekeliruan, dan sebagainya. Semua berjalan mulus. Nia yang pengantar katering berhasil dengan kilat menjadi manajer artis tanpa cela, bahkan tanpa berproses.

Kalau pun dengan amat terpaksa kita menyetujui bahwa “kemampuan” tersebut didapat karena mata yang didonorkan, yang akhirnya membikin Nia memiliki psikologi dan pengetahuan seperti Sabrina, tapi bagaimana ia mendapatkan kemampuan dan keahlian bekerja sebagai manajer artis? Bukankah yang “diwarisi” mata Sabrina hanyalah sebuah kepribadian? Lagi pula, bukankah latarbelakang Sabrina adalah seorang artis, bukan manajer artis? Atau memang kita harus tunduk pada logika ini: bahwa “pendonoran mata” bukan saja memindahkan perangkat fisik, bukan saja psikologi dan jiwa si pendonor, tapi juga memindahkan seluruh riwayat dan pengetahuan yang dimiliki dan tak dimilikinya?

Contoh lain dari kerja nirproses itu muncul juga dalam tokoh Raka yang berperan sebagai guru ekskul dalam sinetron Yusra dan Yumna. Terkuaknya fakta bahwa Raka yang miskin ternyata adalah anak kandung dari seorang pengusaha sukses, membuatnya beralih profesi dengan seketika. Ayahnyalah yang meminta Raka datang ke perusahaannya untuk bekerja di sana, yang belakangan diketahui bahwa Raka bekerja sebagai manajer artis. Namun sama seperti contoh-contoh sebelumnya, pada Yusra dan Yumna juga tidak terjelaskan bagaimana Raka sebagai seorang yang berkecimpung di dunia pendidikan sebelumnya, tiba-tiba bisa paham dan fasih pada dunia hiburan tanpa mengalami proses belajar sama sekali. Dua dunia kerja yang berbeda ini seakan-akan sama saja bagi Raka. Ia tak perlu belajar, tak perlu membangun koneksi (yang tentu butuh waktu) di dunia kerja yang baru ini. 

Hal yang sama terlihat pada tokoh Salsabilla dalam Cinta Salsabilla. Salsabilla adalah seorang pekerja rumah tangga (PRT), yang secara tiba-tiba menjadi semacam sekretaris dan asisten pribadi di kantor majikannya. Siang hari Salsabilla bekerja di kantor dengan mengenakan blazer, sedangkan malam hari ia mengerjakan pekerjaan seorang PRT. Kalau siang hari ia berhadapan dengan berkas, jadwal, dan komputer, maka di malam hari ia berhadapan dengan sapu, ember, dan pengki. Di sini, kedua dunia kerja tersebut seolah-olah tak punya kompleksitasnya masing-masing. Salsabilla yang tak punya pengetahuan dan pengalaman sebagai sekretaris sebelumnya, mampu menjalaninya dengan mulus, tanpa proses belajar sama sekali. Bahkan, dalam kapasitasnya sebagai sekretaris, ia kerap mendapat pujian atas pekerjaannya dari rekan-rekan sekantornya—pujian yang juga tak jelas sedang dialamatkan ke bentuk pekerjaan yang mana.

Memang, pergantian profesi dari yang satu ke yang lainnya adalah hal yang lumrah. Banyak orang mengalaminya. Namun logikanya, perpindahan itu mesti dilandasi oleh kapasitas yang dibangun oleh pendidikan atau pengalaman sebelumnya. Tanpa penjelasan tentang ini, maka sinetron-sinetron tersebut seolah-olah menunjukkan bahwa perpindahan profesi itu terjadi begitu saja tanpa sebuah proses dan tanpa sebuah usaha tertentu. Dengan demikian, sinetron-sinetron tersebut tidak saja tengah memperkosa akal sehat, tapi juga mengabaikan upaya, kerja keras, atau riwayat seseorang dalam mencapai sesuatu, entah itu status sosial, nilai ekonomi, maupun keahlian tertentu. Di sini manusia menjadi makhluk yang tanpa sejarah karena riwayat dirinya tak lagi penting. Hasil adalah yang utama. Tentang bagaimana hasil itu didapat, itu tak penting buat sinetron.

Absennya Kedalaman dan Penalaran

Bukan saja problem “kerja nirproses” yang ditemukan, keempat sinetron tersebut juga punya kecenderungan ini: menghadirkan seseorang yang seakan tengah bekerja tanpa memberi penjelasan lebih jauh mengenai profesinya, apa yang dikerjakannya, bagaimana caranya bekerja, dalam konteks lingkungan atau situasi sosial macam apa ia bekerja, atau di tempat macam apa sesungguhnya ia bekerja. Maka kerap akan kita temukan tokoh-tokoh dengan pekerjaan atau profesi yang tak jelas, namun dengan kehidupan atau taraf sosial yang tinggi. Kita akan menemukan seorang bapak dengan rumah yang bagus, kehidupan yang “wah”, tanpa tahu apa yang ia kerjakan dan bagaimana darinya ia bisa memiliki semuanya ituMereka digambarkan dengan pakaian perlente, tak lupa ruang kerja dengan berkas-berkas, perabotan mewah, dan terkadang bawahan yang berseliweran. Namun, untuk mendapatkan kejelasan di bidang apa usaha mereka, pekerjaan jenis apa yang mereka kembangkan, kita tak akan mendapatkannya.

Misalnya pada Yusra dan Yumna, di mana tokoh Haris adalah seorang petinggi di suatu perusahaan. Dengan beberapa potongan adegan, misalnya pegawai mengantarkan berkas ke ruangannya, duduk berhadapan dengan tumpukan kertas di atas meja, atau memberi perintah kepada bawahan, kita bisa menduga bahwa Haris adalah seorang petinggi atau bahkan pemilik perusahaan tersebut. Tapi apakah dengannya kemudian kita juga tahu apa persisnya jabatannya dan bergerak di bidang apa perusahaan itu?

Pada Cinta Salsabilla, tokoh Madam Shaanaz juga diperlihatkan sebagai pengusaha melalui adegan tengah berunding dengan perusahaan lain dan mempresentasikan sesuatu di hadapan klien. Tapi soal apa yang dirundingkan, kita tidak tahu. Pun mengenai apa yang dipresentasikannya, karena adegan itu hanya memperlihatkan ujungnya, “Demikian presentasi dari saya, semoga berkenan.”

Narasi yang demikian seperti puas dengan berhenti menjelaskan pekerjaan seseorang sebatas pakaian, bahasa sloganistik, properti, dan gestur yang hanya memberikan gambaran bahwa “seseorang sedang bekerja di sebuah tempat tertentu”. Sinetron-sinetron tersebut memperlihatkan bahwa problematika, kompleksitas, maupun dinamika seseorang dengan pekerjaannya tak diperlukan. Personalisasi pekerjaan seseorang cukup diwakili oleh hal yang sifatnya atributis. Bahwa seseorang dengan kemeja licin, berjas, berdasi, dan fasih dengan terminologi tertentu, layak dikategorikan sebagai pengusaha. Bahwa seseorang dengan atribut sedemikian, tak perlu disangsikan lagi pencapaiannya, bahkan tak perlu diketahui lagi apa yang ia perbuat sebenarnya, dan bagaimana persisnya ia memperoleh semua atribut itu.

Dengan demikian, sinetron macam ini sedang mengajak kita untuk biasa menilai seseorang dari luar. Identitas atributis dan pencitraan yang dikenakan merupakan keputusan final dalam mendefinisikan diri seseorang. Logika ini berhenti pada pengenalan personal yang sifatnya ketokohan, dan kita diajak berhenti pula untuk mengkritisi—apalagi melucuti—apa yang ada pada dirinya. Artinya, yang terpenting bagi sinetron bukanlah apa yang dikerjakan, tapi siapa yang bekerja.

Namun bukan hanya berhenti pada ketidakjelasan pekerjaan, sinetron-sinetron ini juga ceroboh pada penalaran. Banyak sekali adegan yang menempatkan profesi dan atau pekerjaan tertentu pada konteks atau kebiasaan yang ganjil. Pada Karunia, contohnya, tokoh Wira digambarkan sebagai seorang bapak yang kaya raya. Hal ini bisa kita ketahui dari rumah, mobil, dan juga keadaan keluarganya. Tapi sebaliknya, tak ditunjukkan sama sekali aktivitas yang menyangkut pekerjaan si tokoh. Aktivitas Wira hanya berpusar di rumah. Kita tidak tahu apa pekerjaan sesungguhnya sehingga mampu memberikan kepada keluarganya sebuah rumah yang mewah dan kehidupan yang berkecukupan. Jika saja kita andaikan bahwa manajemen pekerjaannya sudah teratasi dengan sebuah sistem dan para bawahannya, tapi hal ini pun tak tergambarkan pula. Tak ada adegan ia tengah mengkoordinasi bawahan atau menelepon seseorang perihal bisnis. Masalah yang kerap melandanya pun adalah masalah keluarga, bukan masalah yang menyangkut pekerjaan. Hal yang serupa pada tokoh Wira bisa kita temukan pada tokoh Taufik dalam Putih Abu-abu.

Permisalan lain bisa juga kita temukan pada tokoh Satria di Yusra dan Yumna. Pemuda ini selalu berada di lingkungan sekolah dengan kemeja necis. Ia mondar-mandir di koridor depan ruang kelas, tapi kita tak pernah tahu apa perannya di sana. Pada akhirnya kita tahu bahwa ia adalah seorang penjaga perpustakaan sekolah, yang diketahui lewat ungkapan verbalnya, “Untung gue penjaga perpustakaan,” ketika ia sedang berlagak sebagai seorang investigator demi mengusut sebuah hal. Hal itu ia lakukan dengan cara membongkar koran-koran lama di perpustakaan sekolah. Kalau ini tidak cukup ganjil, maka berbanggalah kita karena ternyata perpustakaan sekolah kita mempunyai kerja pengarsipan surat kabar yang rapi dan baik. Namun di hal lain kita mesti kecewa, karena bila Satria adalah seorang penjaga perpustakaan, kenapa ia selalu terlihat berseliweran ketika jam istirahat tiba, sekadar agar bisa bertemu dengan Yusra?

Apakah dengan demikian konteks sosial menjadi sesuatu yang tak perlu ditimbang sinetron-sinetron ini? Apakah latar tempat, bahasa, atau idiom-idiom lain yang dikenakan, juga tak serta merta memberlakukan logika yang terkandung di dalamnya? Maksudnya, Bandung sebagai latar tentu dibarengi dengan logika yang beroperasi di Bandung. Bahasa Indonesia sebagai pilihan bahasa dengan sendirinya juga menuntut logika yang beroperasi pada nalar para penuturnya. Kalau tidak, berarti sinetron sedang memisahkan diri dengan realitas. Ia menjadi kedap sosial dan asik dengan absurdisitas logikanya sendiri.

Lagi pula, fiksi tak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan logika dan realita. Karena sejauh apa pun sebuah cerita fiksi dikembangkan, narasinya juga mengambil bahan-bahan dari kenyataan-kenyatan sosial keseharian. Jadi, ia tidak boleh begitu saja mengatakan sesuatu tanpa menjawab pertanyaan “mengapa bisa demikian?”. Dengannya, fiksi bukanlah lampu hijau untuk mengabaikan rasio. Kalau pun ia menolak hukum rasio objektif dalam keseharian, ia tetap perlu memberi penjelasan dengan logika tersendiri tentang bagaimana cerita tersebut dikembangkan.

Faktor Biologis Sebagai Jawaban

Dengan kedua problem di atas, yakni “kerja nirproses” dan “absennya kedalaman dan penalaran” pada penggambaran pekerjaan di sinetron, maka modus penjelasan model apa yang ditawarkan keempat sinetron tersebut? Beberapa potongan cerita berikut akan menggambarkannya.

Cerita pada Karunia, seorang pengantar katering bernama Nia mendadak mampu menjadi manajer artis setelah sebuah mata milik seorang artis didonorkan kepadanya. Sama sepertiKarunia, pada Yusra dan Yumna, tokoh Raka, seorang guru eksul, secara tiba-tiba beralih menjadi manajer artis, setelah terkuak sebuah rahasia bahwa ternyata ia adalah anak kandung dari seorang pengusaha kaya. Pun, pada sinetron yang sama, tokoh Yumna yang berasal dari keluarga miskin, mendadak menggantikan pekerjaan artis dan penyanyi saudara kembarnya bernama Yusra, yang terpisah sejak kecil karena Tsunami. Sebagai catatan, sebab musibah itu, Yumna yang hilang kemudian dibesarkan oleh seorang ibu penjual nasi, sedangkan Yusra tetapdibesarkan oleh keluarga aslinya yang kaya raya. Dan pada Cinta Salsabilla, seorang PRT bernama Salsabilla mendadak merangkap pekerjaan sebagai seorang sekretaris di sebuah perusahaan, di mana Salsabilla sebenarnya adalah anak dari keluarga kaya yang jatuh miskin.

Donor mata dan hubungan darah, adalah kunci dari modus penjelasan yang ditawarkan keempat sinetron ini dalam menggambarkan perihal pekerjaan para tokohnya. Dengan kata lain, faktor biologis (mata yang didonorkan dan hubungan darah) adalah jawaban atas absurditas logika pada kompeksitas pekerjaan yang kita pertanyakan di atas. Bahwa dengan adanya hubungan biologis, seseorang menjadi mungkin menjalani sebuah kehidupan atau pekerjaan yang sama sekali berbeda dengan yang ia jalani sebelumnya. 

Bayangkanlah perubahan lingkungan, kebiasaan, dan kemampuan yang harus terjadi pada tokoh-tokoh tersebut. Tanpa ditunjukkan bagaimana proses semua perubahan itu terjadi, mereka bisa dengan begitu baik menjalankan tugas barunya. Maka, tak ada alasan apa pun yang bisa kita dapatkan kecuali karena mereka adalah pewaris biologis dari seseorang yang diandaikan punya kemampuan-kemampuan tersebut. Hubungan biologis dengan demikian mengunci keterampilan dan kemampuan sebagai sesuatu yang terberi, mengalir dalam darah, sehingga tidak menjadi sebuah hal yang penting benar untuk mencapai sebuah posisi dalam pekerjaan tertentu.

Bagaimana tidak? Seseorang yang tak punya pengalaman sebelumnya, tiba-tiba saja mampu menggantikan saudara kembarnya sebagai artis yang tak sedikit pun mengalami kecanggungan di atas panggung. Penjelasan apa yang memungkinkan hal demikian terjadi selain dikarenakan ia sebenarnya adalah anak seorang kaya yang adalah saudara kandung dari si artis? Pun pada seorang guru ekskul yang mendadak menjadi manajer artis dan seorang PRT yang mendadak menjadi sekretaris, di mana keduanya tak mengalami proses belajar. Ketika tiada penjelasan yang memadai, mau tak mau penjelasan yang tersedia hanyalah fakta bahwa mereka memiliki darah seorang kaya, trah yang “dari sananya” ditakdirkan bekerja dengan kedudukan yang tinggi.

Bahkan pada Salsabilla, seorang PRT dalam Cinta Salsabilla, faktor darah bukan saja menjelaskan bahwa ia mampu melompat dimensi kehidupan sebagai seorang sekretaris, tapi juga ia digambarkan sebagai PRT yang kritis dan berani berdebat dengan majikannya—sebuah penggambaran yang tak ditemukan pada tokoh PRT lain yang tak memiliki kisah hubungan darah dengan seorang kaya. Faktor biologis sebagai jawaban juga kentara pada Putih Abu-abu, di mana tokoh Indira sebagai kepala sekolah nasib jabatannya ditentukan oleh ayahnya yang merupakan pemilik yayasan sekolah tersebut. Di sana terlihat, bagaimana Suroso, ayahnya, mengancam untuk memberhentikannya dari jabatan kepala sekolah dan akan menyerahkan jabatan tersebut kepada kakaknya. Di sini sekali lagi kita mendapat penjelasan, bahwa yang paling utama dan memungkinkan Indira menduduki jabatan kepala sekolah adalah kenyataan bahwa ia adalah anak dari pemilik yayasan sekolah, sehingga ketika ia sedikit tak kooperatif terhadap ayahnya, kuasanya di sekolah bisa usai.

Pekerjaan, pada keempat sinetron tersebut, dengan demikian hanyalah pemanis cerita. Kedudukan atas suatu pekerjaan menjadi sesuatu yang dianggap terberi begitu saja; sebuah takdir yang sudah sewajarnya terjadi. Sejarah dan proses mencapainya dengan demikian ternina-bobokan di bawah panji takdir. Lantas kita pun terpaksa mengamini bahwa di dalam sinetron, kedudukan sosial yang mapan adalah perkara takdir, bukan perkara pecapaian suatu proses tertentu atau sejarah tertentu. Dengan demikian, oleh sinetron, kedudukan sosial tertentu tidaklah diraih melalui suatu pekerjaan tertentu, melainkan bahwa sebuah kedudukan sosial tertentulah yang membutuhkan jenis pekerjaan tertentu.

Pada akhirnya, fakta bahwa kerja bersifat nirproses, memberi argumentasi pada klaim yang selama ini dituduhkan pada sinetron yang dianggap menjual “mimpi”. Mimpi itu adalah suatu gagasan mengenai pencapaian sebagai sesuatu yang terberi, ketimbang apa yang mungkin diraih melalui proses yang meruang dan mewaktu. Upaya menjadi tidak berarti di hadapan narasi yang hanya peduli pada siapa yang bekerja, dari pada apa yang dikerjakan.(REMOTIVI/Berto Tukan/Roy Thaniago)