03/04/2012
Mistik di Layar Kaca
Menyoal "kedewasaan" dan barang gaib lainnya di televisi
03/04/2012
Mistik di Layar Kaca
Menyoal "kedewasaan" dan barang gaib lainnya di televisi

Saya sempat resah ketika menjadi objek Trans 7 setiap Minggu malam. Pada jam “khusus dewasa" tersebut, tayangan berbau mistis disuguhkan secara maraton kepada saya: Mister Tukul Jalan-Jalan dan [Masih] Dunia Lain.

Meskipun dibawakan oleh pelawak Tukul, Mister Tukul Jalan-Jalan tidak menggelitik, tapi malah membuat bergidik. Lawakan Tukul seakan tenggelam oleh kharisma Soleh Pati, Ustaz “Metal” dengan setelan serba hitam—mungkin untuk melambangkan keakrabannya dengan “ilmu hitam”. Oleh Soleh, fenomena gaib tak kasat mata ia artikulasikan lewat ilustrasi verbal maupun visual. Kemahirannya itu ia tunjukkan dengan melukis dunia gaib menggunakan “mata batin”, sementara “mata lahiriah”-nya ditutup kain (Ya, jika Anda bertanya, kain itu juga berwarna hitam).

Usai tayangan berdurasi satu jam lebih ini, saya kembali disajikan dengan fenomena gaib yang lain: [Masih] Dunia Lain. Tayangan ini mengangkat format game show yang menantang kontestan untuk “uji nyali” di sebuah tempat angker selama empat jam, dua hari berturut-turut, dengan diawasi dua orang “sakti” di ruang monitor; selain bertugas untuk menjelaskan fenomena yang terjadi pada si kontestan, mereka juga menjadi ”petugas keamanan” apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Saya sempat bertanya-tanya mengenai klasifikasi “Dewasa” pada kedua tayangan tersebut. Dalam Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3-SPS) yang baru, bab XVII pasal 21 ayat (2) d, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menetapkan “dewasa” sebagai “khalayak di atas 18 tahun”. Di luar pendapat bahwa definisi “dewasa” ini masih bermasalah, aturan ini dengan jelas menunjukkan sasaran, tapi tidak dengan muatanprogram.

Lantas apakah muatan “dewasa” itu sendiri? Sehubungan dengan mistik, topik yang kita bahas kali ini, kita menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut dalam bab XVI pasal 20 yang menyatakan, “Lembaga penyiaran wajib tunduk pada ketentuan pelarangan dan/atau pembatasan program siaran bermuatan mistik, horor, dan supranatural.” Meski demikian, tidak ditemukan pasal lain yang menetapkan bagaimana persisnya pembatasan itu. Tentu kita bisa bilang, tayangan mistik dan supranatural terbatas untuk penonton dewasa. Namun, definisi “dewasa” ini sirkular, muter-muter. Sekadar tautologi. Argumen ini nampak seperti anggapan naïf yang berbunyi, “korupsi itu buruk karena melanggar aturan Tuhan”, tanpa bisa menjelaskan kenapa korupsi itu buruk secara riil. Peraturan KPI pun gagal untuk memberi definisi dan—konsekuensi logisnya—membuat tindakan yang tegas sehubungan dengan tayangan mistik.

Untuk memungkinkan diskusi ini berlanjut, saya mengajukan tiga kriteria untuk menyaring tontonan yang bisa dikategorikan “dewasa”: (1) ketepatan dan keluasan konten informasi, (2) cara menyajikan masalah, serta (3) cara menyikapi masalah. Yang pertama menunjuk pada konten—dalam kasus ini, mistisisme—bagaimana ia didefinisikan, didalami, serta dari sudut pandang apa ia dibedah. Yang kedua menunjuk pemilihan format yang tepat, baik sehubungan dengan topik kajian maupun sasaran penonton. Yang ketiga menunjuk pada bagaimana televisi menempatkan diri, sehingga pemirsa bisa memilih sikap yang tepat, terkait dengan masalah yang dibahas—sebagaimana kita tahu, “dewasa” bukan sekadar masalah umur atau status, melainkan menunjuk pada “sikap”.

Pada poin pertama, kita bisa mengambil definisi ”aman” atas mistisisme sebagai “kepercayaan akan adanya makhluk halus”. Mistisisme inilah yang dipakai [Masih] Dunia Lain sebagai jualannya. Tapi rupanya tayangan ini tergesa-gesa dalam penggarapannya akan mistisisme. Pasalnya ia berniat mengkaji mistik agar seakan tampak ”ilmiah” dengan menggunakan istilah "metafisika" untuk menunjukkan topik bahasannya—bahkan pernah memiliki seorang "ahli metafisika" sebagai co-host. 

Tentu sedari awal Anda mengira bahwa penulis akan memberi kritik atas tayangan mistis di televisi. Anda hampir benar. Masalahnya adalah, seilmiah apapun kritik yang penulis ajukan atas mistisisme secara umum, argumen ilmiah akan lumer di bawah “kebijaksanaan umum”:masalah mistis adalah masalah percaya atau tidak percaya. Yang jelas, dua tayangan itu bikin merinding. Jika kita memakai metode ilmiah, masalahnya akan selalu berakhir pada verifikasi dan replikasi; yakni, apakah suatu hasil penelitian bisa dibuktikan kebenarannya oleh peneliti yang terpisah, dan apakah dengan menggunakan langkah-langkah metode yang sama seorang peneliti independen bisa mendapatkan hasil yang sama dengan penelitian sebelumnya. Sedangkan mistik tidak mungkin benar atau salah karena ia berbicara tentang percaya atau tidak percaya.

Namun masalahnya menjadi lain jika tayangan tersebut berusaha melakukan pendekatan secara ilmiah—gadungan tentunya. [Masih] Dunia Lain mewakili jenis ini dengan memamerkan berbagai gadget untuk menangkap fenomena gaib. Tayangan ini pula yang memperkenalkan istilah “parapsikologi” pada masyarakat luas. Namun, di samping fakta bahwa semakin menurunnya kredibilitas parapsikologi di dunia sains, upaya ilmiah [Masih] Dunia Lain tidak melibatkan keketatan metode ilmiah, untuk kemudian terjebak dalam jualan jargon ilmiah gadungan seperti orbscortex,ektoplasma, atau aura untuk mendukung mistisisme banal.

Poin kedua berhubungan dengan bagaimana tayangan dikemas. Dan tidak seperti kebijaksanaan umum untuk “tidak menilai buku dari sampulnya”, kita sering terganjal dengan format reality show atau pun dokumenter. Kedua format tersebut sejatinya mengklaim memiliki satu benang merah: realitas. Perbedaannya adalah “kesengajaan”. Reality show dengan sengaja “menciptakan” sebuah peristiwa untuk menghasilkan efek dramatis, seperti misalnya, seseorang dengan sengaja ditempatkan di sebuah tempat seram. Realitas yang ingin dicapai reality show adalah bagaimana tanggapan manusia apabila ditempatkan pada situasi tertentu. Sedangkan format dokumenter mengemukakan realitas apa adanya. Fenomena kesurupan, misalnya, dalam reality show merupakan sesuatu yang ”diniatkan”, sedangkan dalam dokumenter hal itu merupakan suatu “kebetulan”.

Apabila kita menghubungkan “realitas” mistisisme yang diusung oleh reality show dan dokumenter, kita akan menyimpulkan bahwa mistisisme adalah realitas, nyata, bukan sebagai pola pikir masyarakat, namun nyata sebagai realitas dunia objektif. Kawin silang realitas dan mistisisme dalam kotak ajaib mentasbihkan “kepercayaan” menjadi “kenyataan”. Dari sini kita masuk pada poin ketiga dan bertanya, di mana posisi televisi atas mistisisme? Jawabannya sangat tidak mengejutkan: televisi beragama mistisisme. Lantas di mana posisi Anda sebagai penonton “dewasa” dalam menyikapi dunia pertelevisian yang ”tidak mendidik” ini?

Anda mungkin merasa tayangan televisi tidak harus mendidik. Kita membutuhkan televisi untuk menghibur diri dari segala kekalahan dan keterbatasan kita. Tentu alasan ini masuk akal dan bisa diterima. Namun, kita juga bisa berhenti berpikir pendek dalam memilih “hiburan”. Kita bisa melihat statistik dan bertanya: dari semua tayangan televisi, berapa banyak yang menghibur dan berapa banyak yang mendidik? Apakah tidak mungkin televisi mengajukan program yang menghibur sekaligus mendidik? Lantas,  kita juga bisa mulai bertanya, apakah batasan antara ”mendidik untuk menjadi bodoh” dan ”mendidik untuk menjadi cerdas”?

Maka, apabila kita mampu merumuskan masalah televisi, kita juga bisa berhenti mengharapkan pendidikan dari televisi dan mulai mendidik televisi kita. Karena mereka pandir, sepandir-pandirnya. []

Bacaan Terkait
Yovantra Arief

Peneliti Remotivi. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk belajar memasak dan merawat tiga ekor marmut.

Populer
Di Balik Tren Tayangan Impor
Kompas dan FPI: Kisah Usang Yang Terus Berulang
Spotify dan Tantangan Kajian Media Digital
Amplop untuk Jurnalis
LGBT dalam Media Indonesia