22/10/2012
Komedi Televisi dan Asosiasi yang Didangkalkan
22/10/2012
Komedi Televisi dan Asosiasi yang Didangkalkan

Olga Syahputra, Raffi Ahmad, dan teman-temannya memain-mainkan sebuah replika tiang. Raffi membenturkannya ke kepala Olga. Olga pun lantas menarik tiang tersebut hingga runtuh menimpa Raffi. Raffi bangkit sambil menendang Olga. Di layar tampak sebuah teks: properti terbuat dari bahan yang tidak berbahaya.

Demikian salah satu adegan dalam tayangan Pesbukers (ANTV) pada 17 September 2012yang “diandaikan lucu” sebagai komedi. Sepanjang tayangan, nyaris seluruh adegannya dipenuhi tawa, baik tawa para pelaku maupun penonton di studio. Tapi, saya dan anak-anak sebagai penonton  di luar layar tidak habis pikir, apa sebenarnya yang mereka tertawakan. Tampaknya, mereka tertawa oleh dan untuk mereka sendiri. Penonton di studio sendiri tidak dihadirkan di layar. Sepertinya mereka diundang hanya untuk ditugasi tertawa dan berteriak-teriak aneh. Entah apa yang diteriaki dan ditertawakannya.

Ketimbang bisa tertawa, di kepala saya malah muncul semacam asosiasi yang menakutkan tentang tiang yang runtuh menimpa seseorang. Keterangan di layar tentang properti yang dibuat dari bahan tidak berbahaya tadi, ternyata tidak mampu menghapus asosiasi demikian. Hal ini terjadi karena adegan tersebut hadir secara vulgar; ia tidak menjadikan tiang sebagai properti komedi yang mestinya mendapat rujukan di luar dirinya. Dengan kata lain, tiang dihadirkan sebagai material belaka, bukan sebuah metafor atau alat yang ingin saya sebut sebagai “retorika komedi”: sesuatu yang mempersuasi penonton agar membayangkan sebuah kelucuan.

Bandingkan dengan Opera Van Java (Trans 7), khususnya episode “Cinta Palang Kereta Api” pada 20 September 2012. Episode ini dibuka dengan sebuah adegan Sule sedang berada di dalam sebuah kios sempit—hanya pas untuk satu tubuh—yang tampak reyot. Sebagaimana tiang bangunan yang diruntuhkan pada Pesbukers, kios penunggu pintu kereta itu akhirnya juga diremukkan dan menimpa beberapa tokohnya. Akan tetapi, dalam komedi ini, properti tersebut—yang juga diberi keterangan dibuat dari bahan yang tidak berbahaya—mampu membangun asosiasi tertentu. Ia mengingatkan kita pada situasi di setiap palang pintu kereta api yang umumnya tidak terawat, bahkan sering tampak kumuh. Dengan demikian, properti tersebut muncul sebagai “benda panggung” yang retoris, bahkan kemudian menjadi kritik. Kita melihat yang lucu, sekaligus merasakan yang tragis. Kepiawaian Sule dan kawan-kawan mengolah bahasa dan mempertentangkan berbagai asosiasi (bisosiasi) membuat adegan tersebut menjadi benar-benar lucu. Kita tertawa dan juga diundang untuk berpikir.

Sayangnya, tidak semua adegan dalamOpera Van Java (OVJ) dikemas sedemikian. Adegan berikutnya dari episode yang sama juga terjebak pada “akting anarkis” tokoh-tokohnya, khususnya dalam memperlakukan properti dan menyikapi tubuh. Dua tokoh preman yang muncul kemudian (Mpok Nori dan Vincent Rompies) merusak adegan awal, antara lain dengan menendang palang pintu dan memukul kios penunggu kereta dengan tongkat. Bagi saya tindakan ini “tidak menolong” narasi menjadi lucu, kecuali jika makna kelucuan dipersempit sebagai stimulus untuk “mengocok perut” belaka. Alih-alih menjadi lucu, ia malah mempertontonkan kekerasan.

Padahal, narasi mengenai preman justru akan menjadi lucu jika dihadirkan sebaliknya. Saya pikir, umumnya penonton telah mengetahui informasi tentang perilaku preman. Artinya, penonton telah memiliki asosiasi tersebut, bahkan hal itu telah menjadi denotasi: sekali kata preman diucapkan, yang terpikir adalah dunia kekerasan. Dengan demikian, seharusnya yang dilakukan adalah mempertentangkan asosiasi di benak penonton tersebut dengan yang sebaliknya. Misalnya, membuat karakter preman menjadi “lembut, tapi tetap sebagai preman”. Adegan melakukan penghancuran properti, dengan begitu, di samping tidak menjadikannya lucu, juga telah meneguhkan perilaku kekerasan di atas panggung. Saya melihat komedian OVJ sering melakukan hal ini dalam banyak episodenya.

Tubuh Yang Dilecehkan

Pun demikian dalam menyikapi tubuh. Di dalam komedi, tubuh yang dianggap jelek dan tubuh “memperempuan” umumnya selalu dilecehkan (ditertawakan). Dan hal ini kelihatannya memang telah menjadi sejarah dalam komedi Indonesia. Lihatlah, nyaris seluruh komedi di Indonesia menyikapi tubuh sedemikian. Pada kasus OVJ misalnya, hidung pesek Sule menjadi subject matter olok-olok, bahkan sejak kemunculan tokoh ini di dunia komedi. Kasus yang sama pun terjadi pada Tukul Arwana. Namun, anehnya, Sule dan Tukul sendiri tampak “mensyukuri” hal tersebut. Alih-alih menolak—seperti Balotelli yang menolak bermain bola di Piala Eropa kalau dikatakan negro—Sule dan Tukul malah sering menjebak lawan bicaranya untuk masuk ke wilayah pelecehan tubuhnya sendiri.

Bagi saya, sikap yang telah menjadi lazim dalam komedi Indonesia dalam menyikapi tubuh sedemikian, merupakan cermin mentalitas bangsa ini secara umum, yakni mentalitas bangsa terjajah. Hidung mancung sebagai salah satu identitas kegagahan seorang laki-laki, tubuh yang tinggi, rambut lurus dan kulit putih (perempuan) adalah identitas hegemonik yang telah menjadi mitos yang kita imani. Ciri-ciri tersebut justru merupakan negasi dari fakta antropologis yang kita miliki. Ini adalah soal perspektif yang menempatkan diri sendiri di tengah-tengah “bahasa dominan”; perspektif mental yang kalah dan pasrah. Ketika komedi menjadikan hal tersebut menjadi materi utama kelucuan, jelas komedi telah berubah menjadi tragedi yang sesungguhnya: kita hanya bisa merayakan kekalahan, tanpa disadari. Dengan demikian, melampaui sekadar kelucuan, komedi telah menghina diri sendiri. Sungguh, mestinya kita belajar pada Balotelli.

Kasus lain adalah penyikapan terhadap tubuh perempuan atau sifat keperempuanan (feminin). Lihatlah, untuk ditertawakan, nyaris seluruh komedian di negeri ini telah berperan menjadi “bencong”. Komedian bertubuh atletis dan tegap seperti Tora Sudiro pun (ingat Extravaganza, Trans TV), tidak luput dari peran tersebut. Laki-laki berpenampilan feminin sedemikian lantas menjadi bahan olok-olok. Hanya pada sedikit kasus perempuan ditampilkan menjadi laki-laki (maskulin). Itu pun tidak terlalu bisa menimbulkan kelucuan. Mpok Nori yang berperan sebagai preman pada OVJ episode “Cinta Palang Kereta Api”, misalnya, tidak menjadi subject matter komedi. Alih-alih maskulinitas yang diperolokkan, fisik Mpok Nori yang dianggap jeleklah yang jadi sasaran. Ini tampak ketika Sule menawarkan setrika untuk merampingkan wajah Mpok Nori.

Sikap menertawakan tubuh keperempuanan tersebut, saya pikir berbanding lurus dengan sikap yang rasis terhadap tubuh yang dianggap jelek, sebagaimana diuraikan di atas. Sikap tersebut lahir tanpa sadar dari mentalitas yang telah terhegemoni oleh suara dominan, dalam hal ini ideologi laki-laki. Para komedian tampak tidak memiliki visi dan konsep yang melahirkan kesadaran tersebut. Komedi televisi, dalam hal ini, tampak hanya mengabdi pada industri sehingga dengan demikian apa pun dijadikan bahan tertawaan, bahkan olok-olok.

Padahal, komedi sebagai bagian dari sarana retorika memiliki peluang besar untuk membalikkan berbagai mitos identitas hegemonik. Penonton dapat dipersuasi tanpa sadar karena unsur  gembira yang diproduksi komedi. Itu sebabnya pula, dalam teori kreativitas, humor (di dalamnya tentu saja komedi), merupakan interaksi komunikasi yang sarat dengan unsur kreativitas. Di dalam humor, berbagai asosiasi (bisosiasi) dipertentangkan sampai pada batas maksimal, sehingga menimbulkan ketegangan yang tidak memiliki penyelesaian kecuali dengan tertawa (Arthur Koestler, dalam Heraty, 1983). Hal ini berarti, bahwa komedian yang kreatif adalah ia yang mampu merangkai berbagai asosiasi, dan mempertentangkannya hingga ke tingkat ekstrem sedemikian. Meskipun belum maksimal, apa yang dilakukan Sule dan Andre pada adegan pembuka OVJ yang disinggung di atas kiranya dapat dijadikan sebagai contoh.

Kreativitas Minimal

Namun, secara umum, ketimbang mencerminkan unsur kreatif dalam pengertian Koestler di atas, komedi televisi kita justru malah banyak membekukan asosiasi, bahkan mematikan daya kretavitas itu sendiri. Deskripsi sepenggal adegan komedi Pesbukers yang dikutip di awal tulisan ini menunjukkan hal tersebut. Kasus lain bisa kita lihat, misalnya, pada komediMakin Jail (Trans TV), Iseng Banget (Trans 7)dan Sketsa Tawa (Global TV)Komedi yang disebut pertama, Makin Jail, bahkan hanya menjiplak bulat-bulat  komedi TV asing, Just Kidding. Sementara itu, komedi Iseng Banget yang ditokohi oleh komedian Komeng dapat dibilang sebagai versi lain Just Kidding.

Makin Jail dan Iseng Banget merupakan jenis komedi yang melibatkan publik. Pada Makin Jailpublik dijadikan objek yang diganggu hingga menimbulkan rasa takut, marah, geli, dan seterusnya. Karena diganggu sedemikian, publik tidak berada dalam suasana senang, sampai kemudian mereka diberitahu bahwa “si jail” hanyalah utusan televisi. Mereka pun tertawa. Sedangkan di luar layar, isi perut penonton dikoyak justru ketika publik di dalam televisi tengah menjadi korban. Dengan kata lain, penonton diajak menertawakan penderitaan orang lain.

Berbanding lurus dengan Makin Jail adalah Iseng Banget. Bedanya, jika pada Makin Jail yang menetralisir suasana adalah kamera, pada Iseng Banget adalah komedian Komeng,  yang muncul ketika gangguan terhadap publik berada pada klimaks. Publik yang telah mengetahui sosok Komeng sebagai komedian popular, dengan sendirinya merasa maklum bahwa mereka sedang berada “di dalam televisi”. Agak sulit bagi kita untuk menemukan substansi komedi yang diolah di dalamnya, karena mereka hanya mengganggu publik. Jika untuk mengidentifikasi materi kelucuannya sendiri susah, bagaimana, misalnya, kita bisa menemukan sedikit saja nilai pendidikan, kritik, renungan, dan lain-lain? Tayangan ini hanya memproduksi tawa pada lapis paling luar dan dangkal; sebuah kamuflase komedi. Tawa yang diproduksi seolah-olah untuk publik itu, justru lebih banyak diperuntukkan bagi kepentingan industri televisi sendiri.

Contoh kasus lain adalah Sketsa Tawa. Bagi saya, ketimbang mengusung kreativitas, komedi ini justru malah melecehkan kreativitas itu sendiri. Komedi ini mematikan fungsi kamera atau memanfaatkan kamera pada fungsi minimalnya di satu sisi, sedang di sisi lain menunjukkan ketakmampuan komediannya sendiri untuk bermain komedi. Perhatikan adegan berikut:

Seorang ibu berteriak-teriak karena kemalingan dan hendak mengejar maling tersebut. Lalu muncul tiga orang hansip. Mereka kemudian berdialog tentang bagaimana cara menangkap maling tersebut. Seorang hansip bersikeras bahwa maling tersebut tidak akan bisa dikejar, sementara dua hansip yang lain berpikir sebaliknya. Ia memaksa untuk mengejar. Hansip pertama lantas memberikan alasan kenapa maling itu tidak akan bisa dikejar, seraya menunjuk pada satu sudut. Kamera lantas mengikuti sudut yang ditunjuk si hansip. Di situ tampak seorang maling yang melayang-layang, seolah-olah terbang, yang digantung di pohon. “Petugas tertawa” dalam acara itu pun lantas tertawa (edisi 13 September 2012).

Tampak pada adegan tersebut bahwa sumber tawa ada di ujung kamera. Artinya, komedi ini tidak mengidentifikasi para pemainnya sebagai komedian, sebab “siapa pun” bisa melakukan hal tersebut. Walhasil, kecuali memainkan kamera, kita tidak menemukan kreativitas pada tayangan tersebut. Sekali lagi, bagaimana kita bisa memetik manfaat dari acara sedemikian? Sebab, sebagai komedi yang hanya memproduksi tawa pun ia telah gagal.

Banyaknya komedian yang bagus macam Sule, Andre, Parto, Vincent, dan lain-lain, sebenarnya memungkinkan  munculnya sebuah komedi yang bagus: lucu sekaligus mengandung hal-hal berfaedah di dalamnya. Utile et dulce, bermanfaat dan nikmat, demikian mengutip Horatius. Akan tetapi, tentu saja semuanya kembali pada pemilik dan pengelola televisi: sebatas mana mereka memiliki keberpihakan pada kepentingan publik; dalam hal ini ikut mencerdaskan publik, sekecil apa pun. Di sisi lain, para komedian berbakat juga agaknya tidak memiliki daya di hadapan industri. Mereka pekerja industri itu sendiri. Mereka eksis menjadi subjek komedian, tapi sekaligus menjadi objek industri.

Ah, komedi televisi, semoga masih ada makna tersisa di sana! []

Bacaan Terkait
Acep Iwan Saidi

Sehari-hari bekerja sebagai peneliti dan dosen di FSRD ITB. Juga aktif dalam penulisan sastra.

Populer
Kesejahteraan Pengemudi Gojek dan Liputan Media yang Kontradiktif
Memoles Citra Polisi di Televisi
Yang Tak Dibicarakan dari Perseteruan Tsamara dengan RBTH Indonesia
Mengapa Pekerja Media Tak Menyadari Dirinya Buruh?
Peran Media dalam Politik Omong Kosong: Studi Atas Headline Lima Surat Kabar